Dear D

Dear D
Episode 23



"Aku mohon jangan pisahkan aku dengan nya, Aku juga mohon jngan menyakiti nya atau memarahi nya tentang pernikahan yang tiba tiba ini" ucap Ryhan yang memohon kepada kakak nya itu karna dia takut sekali jika di pisahkan dari wanita nya itu.


Ferisa menatap adik nya yang sedang memohon di hadapan nya, Jujur dia tidak pernah melihat adik nya memohon seperti ini sejak dahulu tapi sekarang dia memohon untuk tidak di pisahkan dengan Nana. "Kapan kau menikah dengan nya?" tanya Ferisa kepada adik nya itu dengan menatap lekat adik nya itu.


"Kemarin" jawab Ryhan dengan nada rendah dan masih menundukkan kepala.


"Kenapa tidak memberitahu kakak atau mama dan kak Kevin, Papa?" tanya Ferisa dengan menatap lekat adik nya itu.


"Itu karna pernikahan di laksanakan di rumah sakit dan tergesa makanya aku belum mengabari mu dan juga keluarga, Tapi aku mohon dengan mu, Jangan pisahkan aku dengan Del, Aku mohon" jelas Ryhan lagi yang kembali memohon kepada kakak nya itu.


"Kenapa pernikahan nya di lakukan di rumah sakit? apa permintaan Rendi?" tanya Ferisa lagi dengan menatap adik nya. Ryhan langsung menganggukkan kepala nya mengiyakan pertanyaan itu dengan kepala yang masih menunduk.


"Aku akan memberitahu masalah pernikahan ini dengan keluarga kita saat Del sudah baik baik saja tapi untuk saat ini dia belum baik baik saja, Aku berjanji kepada mu" ucap Ryhan dengan menatap lejat wajah kakak nya itu. Ferisa tersenyum


"Kau mencinta Nana hingga kau memohon seperti ini bukan?" tanya kakak nya itu karna dia tau betul adik nya itu tidak pernah memohon apa lagi sampai bertekuk lutut seperti itu sungguh itu bukan Ryhan.


"Aku tidak mencintai nya, Aku hanya menjaga amanah dari kak Rendi yang tidak boleh aku meninggalkan nya dan selalu menjaga nya" jawab Ryhan akan pertanyaan itu. Nana bisa mendengar jelas ucapan itu karna dia berada di dekat pintu dan berniat untuk menemui Ferisa.


"Tidak ada yang menyayangi ku di dunia ini" guman Nana dan kembali masuk ke dalam kamar nya dan langsung merebahkan tubuh nya di atas sofa.


"Jujur aku sangat senang mendengar kabar kau menikah dengan Nana karna memang itu keinginan ku yakni kau mendapat wanita seperti Nana yang tulus mencintai dan menyayangi sesuatu dan baik meskipun sikap nya masih seperti anak anak tapi pemikiran nya seperti orang dewasa dan memiliki rasa empati yang tinggi dengan sesama makhluk hidup termasuk hewan." jelas Ferisa yang sudah mengenal siapa itu Delina narselia. Ryhan berpikir tentang apa yang di katakan oleh kakak nya itu ada benar nya, Nana memang sangat mencintai apa yang ada di sekitar nya dan selalu membantu orang lain meskipun dia masih kesusahan.


"Tapi aku juga sedikit kecewa akan kau yang menikah secara diam diam dengan nya tapi aku mengerti akan keadaan yang kau katakan tadi" sambung nya lagi yang sangat mengerti akan apa yang di pilih adik nya itu.


"Aku tidak akan memisahkan kalian" sambung nya lagi dengan mengusap kepala adik tercinta nya itu. Ryhan mengangkat kepala nya dan tersenyum menatap kakak nya itu. Ferisa tersenyum bahagia saat melihat senyuman yang sangat langka itu dan itu membuat hati nya yakin akan Ryhan yang mencintai Nana meskipun Ryhan tidak mengatakan nya secara langsung tapi raut wajah nya tidak bisa di bohongi.


"Bagaimana aku akan membawa Del ke mama dan keluarga Sedangkan mereka tidak menyukai Del" tanya Ryhan kepada kakak nya itu.


"Aku akan mencoba membujuk mama supaya menerima Nana, Kau jaga saja dia saat ini dan perlakukan dia dengan baik" jawab Ferisa dengan tersenyum menatap adik nya itu. Ryhan hanya bisa mengangguk mengiyakan nya dan setelah itu dia mendudukkan tubuh nya di atas kursi sofa itu kembali.


"Yasudah aku akan kembali karna nanti takut mama mencari ku sampai ke sini dan melihat kau berada di rumah ini" pamit Ferisa kepada adik nya itu. Ryhan mengangguk mengiyakan nya dan mengantar Kakak nya itu hingga keluar dari pekarangan rumah itu. Setelah selesai mengantar kakak nya keluar dia kembali masuk ke dalam kamar dan kembali mengecek kamar Nana sang istri dan terlihat wanita itu tengah tertidur. Ryhan tersenyum melihat itu dan setelah itu dia langsung berlalu dari sana dan menyiapkan tempat tidur nya pula di ruang tengah. Nana belum tertidur dan kembali membuka mata nya saat mendengar pintu kamar nya di tutup, Air mata wanita itu kembali menetes mengingat tidak ada yang menyayangi nya di dunia ini.


"Aku tidak memiliki harapan untuk hidup" guman Nana kembali dengan air mata yang menetes perlahan mungkin karna air mata nya sudah sedikit dan lelah dan lelah nya itu membuat nya langsung tertidur.


Keesokan pagi nya.


"Kau mau kemana? tidak sarapan?" teriak Ryhan kepada istri nya itu persis seperti Rendi meneriaki nya. Nana langsung menggelengkan kepala nya supaya tidak sedih dan langsung menaiki sepeda menuju ke sekolah. Ryhan bisa melihat kepergian wanita nya itu dan memilih untuk menjadikan makanan yang ia masak tadi sebagai bekal untuk nya dan dia memasukkan nya banyak dan berharap nanti sang istri ingin makan di sekolah nanti. Setelah selesai semua nya Ryhan langsung keluar dari rumah itu dan langsung mengayuh sepeda nya keluar dari pekarangan rumah itu.


"Itu Ryhan, Apa Nana sudah berangkat?" tanya Weny yang melihat Ryhan keluar dari gang rumah Nana.


"Ayo kita lihat saja" jawab Yura dan Weny pun langsung membelokkan mobil menuju ke rumah Nana. Saat sampai mereka melihat pagar rumah sudah di kunci dan itu biasa nya di kunci oleh Rendi.


"Pasti dia sudah berangkat" ucap Weny dan kembali melajukan mobil itu dengan kecepatan sedang menuju ke sekolah.


Nana sudah sampai di sekolah dan saat dirinya masuk dia langsung melihat Qori di dalam kelas dan hanya Qori seorang, Dia tidak memperdulikan itu dan berjalan ke sudut dan mendudukkan tubuh nya di bangku paling depan dan paling sudut. "Kenapa dia duduk di sana? bukankah dia tidak suka duduk di depan?" guman Qori saat melihat pujaan hati yang sudah memiliki suami itu duduk di bagian depan.


"Loh Na, Kok duduk di sini? bukannya tempat mu di belakang?" tanya lelaki yang tempat duduk nya yang di duduki oleh Nana dan dia berdiri di samping Nana bersama teman nya. Nana tidak menjawab nya ataupun memperdulikan nya dan dia pun hanya pokus akan apa yang ia baca.


"Na" bentak lelaki satu nya lagi kepada Nana yang hanya membisu. Nana masih belum menjawab ataupun menoleh ke arah mereka dan membuat Qori beranjak berdiri dari duduk nya. Qori berjalan ke arah kedua lelaki itu dan memegang bahu kedua nya.


"Duduk kalian di belakang, Di belakang masih banyak kursi kosong" ucap Qori dengan wajah datar nya kepada kedua pria itu. Kedua pria itu yang takut akan Qori pun hanya bisa menganggukkan kepala mereka dan langsung mencari tempat di belakang dan mendudukkan tubuh mereka di sana. Qori menatap wanita yang sama sekali tidak mengalihkan pandang dari buku itu. Ryhan baru saja masuk ke dalam kelas dan melihat Qori berdiri tepat di samping duduk Nana bagian depan.


"Kenapa kau Duduk di sini?" tanya Ryhan kepada Nana dengan menatap lekat Nana, Nana tidak menjawab nya ataupun menoleh ke arah nya dan masih pokus akan apa yang dia baca.


"Jangan mengganggu nya" ucap Qori dengan wajah datar nya kepada Ryhan. Ryhan menoleh ke arah lelaki itu dan ikut menatap datar lelaki itu.


"Ayo duduk di belakang" ajak Ryhan kepada wanita itu dengan menarik tangan nya.


"Aku tidak mau" bentak Nana kepada lelaki itu dan membuat tangan Ryhan melepaskan tangan nya. Qori masih menatap lekat wajah Ryhan dan Ryhan pun langsung duduk di samping istri nya itu.


"Duduklah di belakang" ketus Nana kepada Ryhan yang duduk di samping nya.


"Aku ingin di depan" jawab Ryhan dengan wajah datar nya. Nana beranjak berdiri dari duduk nya dan berpindah ke bangku yang di samping Ryhan dan menyuruh orang yang duduk di sana duduk di belakang.


"Jangan ikuti aku" ucap Nana tanpa menatap Ryhan yang ingin duduk di samping nya lagi itu. Ryhan tidak menjawab ucapan wanita itu.


"Duduklah kalian di sini" ucap Ryhan dengan wajah datar nya kepada kedua lelaki yang ingin menuju ke belakang, Ryhan langsung membawa tas nya dan menuju ke belakang dan mendudukkan tubuh nya di tempat nya dahulu. Qori juga kembali ke tempat nya yang berjarak dua meja dari meja Nana itu.


"Kenapa kau duduk di depan? bukannya kau tidak suka duduk di depan?" tanya Yura yang baru saja sampai bersama dengan Weny.