Dear D

Dear D
Episode 190



"Sudah sampai di indonesia?" tanya Nana.


"Entahlah, Dia belum mengabari" jawab Ryhan.


"Dia ingin kembali ke indonesia mengabari mu kapan?" tanya Nana tanpa menatap suami nya tapi mata nya hendak menatap suami nya tersebut.


"Hem, Tadi saat dalam perjalanan menuju kantor dia menghubungi" jawab Ryhan yang masih mengeringkan rambut wanita itu hingga selesai.


Setelah selesai dia mematikan heardrayer tersebut dan mencium dalam bau rambut wanita nya tersebut. "Berjanjilah untuk tidak meninggalkan ku selama nya" ucap Ryhan dengan nada rendah dan wajah yang di tenggelamkan di sela sela rambut yang sudah kering tersebut.


"Hah? Apa yang kau bicarakan?" tanya Nana dan menoleh ke belakang tapi Ryhan tidak membiarkan nya dan memeluk perut bunci wanita nya tersebut.


"Aku hanya ingin kau berjanji agar tidak meninggalkan ku dan memilih lelaki lain sampai kapanpun karna kita akan selalu bersama" ucap Ryhan kembali.


Nana terdiam, Dahi nya mengerut akibat bingung dengan ucapan lelaki nya tersebut. "Sayang apa kau tidak mau berjanji dan hendak menduakan ku?" tanya Ryhan yang tidak mendapatkan jawaban dari wanita nya.


"Aku tidak suka kau berbicara seperti ini, Kau berbicara seperti ini seolah olah kau ingin meninggalkan ku" ucap Nana dengan wajah datar dan tatapan tajam menatap suami nya.


"Aku tidak mungkin meninggalkan mu, Aku sangat mencintai mu" jawab Ryhan yang kembali memeluk wanita nya tersebut.


"Jadi kenapa kau berbicara seperti tadi?" ketus Nana dengan menatap tajam suami nya dengan mata yang berkaca kaca.


Ryhan menatap lekat wajah wanita nya dan mata nya terpokus kepada mata istri nya yang hendak mengeluarkan air itu. "Sayang aku menyakiti hati mu?" tanya Ryhan dengan memegang kedua bahu wanita nya tersebut.


"Aku bertanya kepada mu, Kenapa kau berbicara seperti tadi? Banyak orang yang mengatakan hal seperti yang kau katakan tadi akan meninggalkan ku makanya aku tidak menyukai ucapan konyol itu" ketus Nana yang sedikit kesal akibat tidak mendapatkan jawaban dari maksud ucapan suami nya namun hati nya sakit mengingat kepergian ayah dan kakak nya yang pernah berjanji kepada nya seperti Ryhan saat ini.


"A-aku hanya takut kehilangan kau makanya aku berbicara seperti tadi" jawab Ryhan. Kepala wanita itu langsung menengadah menarik nafas panjang agar tidak menangis dan setelah itu kembali menatap tajam suami nya.


"Aku tidak suka dengan ucapan mu tadi, Meskipun memiliki maksud tertentu a-aku...."


ucapan wanita terhenti, Dada wanita itu tiba tiba sesak hingga membuat nya menundukkan kepala dan memegang dada nya itu. "Kau kenapa?" tanya Ryhan yang nampak hawatir akan wanita nya tersebut.


Nana menarik nafas panjang dan setelah itu membuang nya dan kembali menatap suami nya dengan senyuman seolah olah tidak terjadi apapun. "Sudah malam, Ayo bersiap untuk berangkat ke rumah Yura" ucap Nana dengan senyum nya.


Ryhan diam dan menatap lekat wajah wanita nya tersebut. Senyuman tulus terlukis sangat indah di wajah itu membuat kehawatiran hilang dengan sendiri nya dari lelaki itu dan membalas senyuman tersebut. "Yasudah ayo" jawab Ryhan dengan senyum nya juga dan berlalu dari sanaa bersamaan. dengan Nana masuk ke dalam ruang ganti untuk mengenakan pakaian mereka.


Setelah selesai bersiap kedua nya langsung keluar dari kamar. "Bi tidak usah memasak makan malam malam ini, Kami akan makan di luar" ucap Nana dengan senyum nya kepada pelayan yang ada di depan kamar tersebut.


"Baik nona" jawab pelayan tersebut dengan membalas senyuman hangat dari Nana.


Kedua nya kembali melangkahkan kaki keluar dari rumah dan penjaga yang menjaga pintu langsung memberikan kunci mobil kepada Ryhan. "Jaga rumah, Awas saja jika ada yang berubah sedikit saja saat aku pulang" ucap Ryhan dengan wajah datar nya menatap tajam bodyguard nya.


"Baik tuan" jawab bodyguard tersebut. Ryhan tidak membalas jawaban tersebut dan melangkahkan kaki menuju ke mobil dengan membukakan pintu mobil untuk istri nya dan setelah itu baru dia masuk ke dalam mobil nya.


Hanya memerlukan waktu setengah nya akhir nya mereka sampai di rumah Yura. "Ini benar rumah nya?" tanya Ryhan kepada wanita nya yang nampak sudah melepaskan sabuk pengaman.


"Em, Ayo turun" ucap Nana dengan senyum nya dan membukakan pintu untuk nya untuk keluar.


"Nana sudah sampai?" teriak Yura dari dalam bertanya kepada penjaga. Penjaga membukakan pintu rumah.


"Iya nona, Nona Nana sudah sampai" jawab penjaga. Yura yang mendengar jawaban tersebut langsung berlari ke arah pintu dan langsung menghampiri Nana.


"Akhir nya kau sampai" ucap Yura yang langsung memeluk Nana. Ryhan yang melihat pelukan itu cukup erat langsung memisahkan nya dan meletakkan wanita nya ke samping nya dan menatap tajam ke arah Yura.


"Sudah berapa kali aku bilang jangan memeluk nya terlalu erat" ucap Ryhan dengan wajah datar nya.


"Cih"


"Ayo masuk, Mama dan papa menunggu kalian di dalam" ajak Yura yang langsung menghilangkan wajah kesal nya saat ingat dengan ibu dan ayah nya yang menunggu di dalam.


Nana menganggukkan kepala nya dengan senang hati dia melangkahkan kaki nya masuk ke dalam rumah tersebut dan menuju ke dapur dengan Ryhan yang mengikuti kedua nya dari belakang.


"Om, Tante" sapa Nana dengan senyum nya hingga membuat Rania langsung berdiri dari duduk nya dan langsung memeluk sahabat anak nya yang suda di anggap nya seperti anak sendiri.


"Sayang mama benar benar merindukan mu" ucap Rania dengan memeluk erat tubuh itu hingga membuat rahang Ryhan mengeras tapi berusaha menahan sedikit emosi nya.


"Sabar Ryhan, Dia jauh lebih tua dari mu" guman Ryhan dan membuang nafas panjang nya.


"Tante maaf, Bisakan anda tidak terlalu erat memeluk nya?" tanya Ryhan dengan sangat sopan dan senyum ramah menatap Rania. Rania yang memejamkan maya akibat menikmati kenyamanan memeluk Nana langsung membuka mata nya dan menatap ke arah Ryhan.


Ryhan kembali melebarkan senyuman nya saat melihat Rania menatap nya dan Rania melepaskan pelukan nya dari Nana. "Maafkan mama sayang, Mama lupa jika kau hamil" ucap Rania dengn senyuman manis dan bahagia nya menatap Nana dengan tangan yang mengusap wajah tersebut.


"Tidak apa apa tan" jawab Nana dengan senyum nya.


"Mama Ryhan benar benar seperti itu orang nya, Dia sangat sensitif dengan orang yang memeluk erat Nana mau dia hamil atau tidak dia selalu saja seperti itu" bisik Yura kepada ibu nya membuat Ryhan menatap tajam ke arah.nya.


"Itu nama nya Ryhan benar benar mencintai Nana hingga menjaga nya dengan sngat baik" jawab Rania.


"Ayo duduk sayang" ucap Rania dengan menyiapkan temat duduk untuk Ryhan sedangkan tempat duduk untuk Nana dia sendiri yang menyiapkan nya.


"Terima kasih tante" ucap Ryhan dengan senyum nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang di siapkan Rania.


"Sayang kalian menikah sudah berapa lama? Kenapa papa dan mama tidak tau?" tanya Crish ayah Yura.


.


.


.


.


.