
"Kau tidak bekerja besok?" tanya Nana kepada suami nya.
"Sebentar" jawab Ryhan dan mengambil ponsel nya untuk melihat jadwal nya besok dan terlihat jadwal nya sedang kosong.
"Tidak" jawab Ryhan dengan senyum tulus nya.
"Baik jam sepuluh aku akan ke rumah" balas Nana akan pesan Weny dan setelah itu langsung mamatikan ponsel nya dan meletakkan nya di atas meja rias di belakang nya.
Nana langsung menatap tajam suami nya yanh sedari tadi sangat ramah terhadap nya. "Kenapa kau menetapku seperti itu?" tanya Ryhan dengan dahi yang mengerut kebingungan akan istri nya yang menatap tajam diri nya.
"Kau sedikit berbeda hari ini, Apa kau ingin mengelak dari sesuatu?" tanya Nana yang masih berpikir mengelak untuk apa suami nya saat ini.
"Me-mengelak? Maksud mu?" tanya Ryhan dengan gugup dan wajah memerah.
"Ah aku ingat" guman Nana.
"Tentang perkataan ibu Yura tadi, Apa kau tidak mau menjelaskan nya? Apa itu semua....."
"Huaaa" Ryhan langsung menguap menandakan lelaki itu mengantuk hingga membuat Nana membuang tatapan tajam nya dan memasang wajah iba.
"Kau mengantuk?" tanya Nana dengan memegang dahi suami nya.
"Shit jikapun aku memang mengantuk mengapa mau memegang dahiku? Kau pikir aku demam?" tanya Ryhan yang sedikit menggunakan nada meninggi dengan mata yang berair akibat menguap tadi.
Nana menghapus air mata tersebut dan turun dari pangkuan suami nya. "Yasudah kau nampak benar benar kelelahan, Ayo istirahat" ajak Nana dengan senyum nya.
"Mama Hanah tidak mungkin hanya berbicara sedikit besok jadi Ryhan harus istirahat lebih awal dan masalah ucapan mama Rania nanti saja, Jika terus di lanjutkan takut nya besok Ryhan tidak akan kuat mental ataupun fisik menghadapi mama Hanah yang lebih dari mama Rania" guman Nana dengan wajah tersenyum layak nya tidak memimikirkan apapun saat ini.
"Ayo sayang kita istirahat" ucap Nana dengan manrik tangan suami nya dan membawa nya keluar dari ruang ganti dan menuju ke ranjang untuk istirahat.
"Mudah sekali mengalihkan topik pembicaraan, Jika begini akan terus aku lakukan untuk mengalihkan topik pembicaraan saat dia mengatakan hal itu" guman Ryhan yang merasa sangat mudah mengelabui wanita nya namun nyata nya tidak.
"Tidak usah bersenang hati Ryhan, Kau pikir aku dengan mudah melupakan hal yang aku penasaran? Jelas saja tidak" guman Nana seolah olah membalas guman suami nya yang tidak bisa di dengar nya.
"Kau belum mengganti baju mu" ucap Nana yang baru ingat akan hal tersebut.
"Tidak apa apa ini juga baru beberapa jam mengenakan nya ayo kita istirahat, Aku benar benar mengantuk" ucap Ryhan dan membaringkan tubuh nya dengan menarik perlahan istri nya agar masuk ke dalam pelukan nya agar istirahat bersama.
"Baiklah" jawab Nana yang menerima nya. Ryhan langsung menenggelamkan kepala wanita nya tersebut du dada nya dengan kaki dan perut kedua nya berjauhan namun tangan Ryhan saat ini tengah meletakkan beberapa bantal di belakang istri nya dan setelah itu meletakkan tangan nya pula di pinggang wanita nya agar dia sadar saat istri nya beranjak nanti.
Keesokan pagi nya.
"Kita ke rumah sakit terlebih dahulu?" tanya Ryhan dengan menatap wanita nya yang sudah siap berangkat ke rumah Weny.
Nana menatap ke jam dinding yang ada di dalam kamar nya dan jam baru menunjuk pukul delapan. "Em, Boleh sekalian untuk melihat jenis bayi kita apa agar aku dengan mudah membuatkan baju untuk nya" jawab Nana dengan senyum nya dan tangan yang mengusap perut nya.
"Bayi kecil ini pasti adalah perempuan yang akan mewarisi kecantikan ibu nya" jawab Ryhan yang menginginkan anak perempuan.
"Tidak, Dia adalah lelaki yang akan menjaga adik adik nya nanti" ucap Nana yang memiliki kehendak bertentangan dengan suami nya.
"Wanita juga bisa mengurus adik adik nya nanti" jawab Ryhan.
"Setelah lelaki baru perempuan, Jika bisa...."
"Anak ini adalah kembar" ucap Ryhan dengan senyum nya memotong ucapan istri nya.
"Semoga" jawab Nana dengan senyum bahagia nya yang jug berharap memiliki dua anak sekaligus.
"Tuan, Nona" sapa dokter saat kedua nya sudah berada di rumah sakit.
"Dokter" sapa Nana sedangkan Ryhan hanya memasang wajah datar nya.
"Ini adalah hari jadwal mengecek kandungan ku bukan?" tanya Nana yang langsung mendudukkan tubuh nya di atas ranjang.
"Ah iya nona, Nona juga sudah hapal dengan apa yang harus di lakukan" jawab dokter dan berjalan mendekat dan mulai memeriksa Nana yang saat ini tengah bersandar menatap monitor yang menunjukkan bayi nya.
"Lihat dia bergerak" teriak Ryhan yang sangat bahagia melihat hal tersebut hingga membuat dokter dan juga Nana sedikit kaget mendengar teriakan itu.
"Sayang apa kau baik baik saja di dalam perut mama?" tanya Ryhan dengan menatap lekat monitor tersebut hingga membuat Nana tersenyum akan tingkah nya.
"Kau perempuan ya?" tanya Ryhan yang belum bisa menemukan apa bentuk kelamin anak nya.
"Ah tuan, Bayi anda adalah lelaki" ucap dokter dan mengambil foto hasil yang sudah di cetak.
"Ini adalah kelamin nya dan anak anda dan nona sudah pasti lelaki" ucap dokter dengan menunjukkan foto tersebut kepada Ryhan.
"Ah lelaki" ucap Ryhan yang sedikit kecewa.
"Tapi tidak apa apa agar nanti dia bisa menjadi seperti ku yang bijaksana ini" ucap Ryhan yang menerima dengan senang hati apapun jenis kelamin anak nya.
"Masih ingin berdebat dengan ku?" tanya Nana dengan wajah sombong karna berhasil menebak jenis kelamin anak nya.
"Tidak, Jika lelaki dia yang akan menjaga mu kelak jika aku tiada dan memperlakukan mu seperti aku memperlakukan mu" ucap Ryhan dengan senyum tulus nya.
"Kau selalu menyiksa ku, Apa kau mau anakku juga menyiksa ku nanti?" tanya Nana dengan melototkan mata nya menatap suami nya tersebut.
"Mana ada aku menyiksa mu, Aku tidak pernah menyiksa mu" jawab Ryhan yang tidak terima akan ucapan istri nya.
"Jelas saja kau....."
Dritttt
"Shit" umpat Nana yang saat ini tengah berdebat namun terhenti oleh ponsel nya yang berdering. Nana langsung mengambil ponsel nya tersebut yang ada di dalam tas dan terlihat nama yang tertera adalah nama mama Hanah.
"Siapa?" tanya Ryhan dengan menatap lekat wanita nya tersebut.
"Mama Hanah" jawab Nana dan langsung mengangkat telpon tersebut.
"Halo ma, Ada apa?" tanya Nana.
"Kau di mana? Mama sudah menunggu mu sejak tadi tapi kau belum sampai, Apa suami mu itu mengurungmu hingga kau tidak jadi datang ke rumah ku dan aku tidak bisa mengusap perut buncit mu yang berisi cucu ku itu hah?" teriak Hanah hinggga membuat Nana menjauhkan ponsel dari telinga nya hingga suara tersebut bisa terdengar oleh Ryhan dan juga dokter dan hal tersebut membuat dokter tertawa kecil melihat nya.
"Nana kau dengar mama kan sayang? Kau benar benar di kurung oleh lelaki itu? Atau kau tidak di izinkan bertemu mama mu sendiri oleh suami mu itu sayang? Jika benar begitu akan mama cincang dia nanti berani nya melarang mu bertemu dengan mama" teriak Hanah kembali yang masih saja terdengar oleh Ryhan dan juga dokter.
.
.
.
.