Dear D

Dear D
Episode 118



"Hawa bos dari diri mu memang nampak" ucap Nana dengan nada pelan dan kembali memperhatikan komputer yang ada di hadapan nya.


"Hah? Apa yang kau katakan?" tanya Ryhan dan meletakkan kedua tangan nya di atas meja kerja istri nya dan mendekatkan wajah nya ke wajah istri nya dengan tubuh sedikit membungkuk.


"Kau sangat mengerikan" jawab Nana yang masih menggunakan nada rendah tapi tegas.


Ryhan mengangkat tangan nya dan memegang dagu istri nya, Dia mengangkat dagu itu hingga mata istri nya yang awal nya menatap komputer jadi menatap nya. "Hey lepaskan" ucap Nana dan menepis tangan lelaki itu tapi tidak terlepas.


"Benarkah aku mengerikan?" tanya Ryhan dengan senyum penuh arti dan mata yang membelalak menatap ke seluruh lekuk wajah istri nya.


"Shit" umpat Nana dan mendorong kepala suami nya menjauh dari wajah nya.


"Kita sedang di kantor kau jangan macam macam" ketus Nana dengan wajah kesal nya menatap komputer.


"Tidak masalah jika di kantor, Jika..."


"Bapak sedang apa?" tanya Fany menghentikan bicara Ryhan yang sedang menggoda istri nya. Ryhan langsung berdiri semula sedangkan Nana sama sekali tidak mengalihkan pandang nya dari komputer yang ada di hadapan nya.


"Ada apa?" tanya Ryhan dengan menatap datar ke arah Fany.


"Ini berkas yang bapak minta tadi" jawab Fany dan menyodorkan berkas tersebut. Ryhan menerima nya dan langsung masuk ke dalam ruangan nya.


"Kalian membicarakan apa tadi?" tanya Fany dengan menatap tajam ke arah Nana.


"Tidak membicarakan apa apa, Dia hanya mengajarkan saya yang saya belum tau" jawab Nana.


"Kenapa tidak tanyakan kepada ku?" tanya Fany.


"Kau tadi nampak sibuk makanya tidak memanggil mu" jawab Nana dengan wajah kesal nya saat melihat wajah Fany yang juga nampak kesal terhadap nya.


"Baiklah lain kali hubungi aku ya jika kesusahan dalam bekerja" ucap Fany dengan tersenyum ramah kepada Nana dan langsung berlalu dari sana.


Nana nampak bingung akan wanita itu yang awal nya nampak kesal sekarang malah tersenyum menatap nya. "Apa dia gila?" guman Nana dengan wajah bingung nya menatap kepergian Fany.


"Ah sudahlah kembali pokus bekerja" ucap Nana yang kembali mengerjakan pekerjaan nya begitu pula dengan karyawan lain nya.


"Makan malam untuk Nana dan Ryhan akan di kirim lagi atau tidak ya?" guman Merri yang ragu untuk memasak langsung untuk Ryhan dan Nana atau hanya untuk nya dan suami nya yang ada di rumah sedangkan Ferisa tidak lagi berada di rumah sudah berangkat beberapa waktu lalu makanya Ryhan dan Nana menaiki pesawat umum bukan jet milik keluarga Ryhan.


"Ada apa ma?" tanya Andra saat melihat istri nya yang bingung. Andra yang merasa Ryhan sudah mampu mengendalikan perusahaan memilih untuk pensiun dengan Kevin yang mengurus perusahaan nya sendiri dan yang masih memegang nama perusahaan nya adalah diri nya dan belum di alihkan ke nama Ryhan putra bungsu nya.


"Ini pa, Mama sedikit ragu untuk memasang langsung untuk Ryhan dan Nana atau hanya untuk kita" jawab Merri dan mengambil alat dan bahan masak.


"Lakukan apa yang membuat mama senang, Papa akan kembali ke atas" ucap Andra. Merri terdiam dan menatap lekat bahan masakan yang akan di masak oleh nya.


"Langsung saja bukan? Papa mengatakan lakukan apa yang aku senang dan memasak untuk anak dan menanntuku membuat ku senang jadi aku harus memasak untuk mereka juga" ucap Merri dengan tersenyum senang dan memulai memasak makanan untuk nya dan juga anak dan menantu nya.


Setelah beberapa detik menggerakkan tubuh nya Ryhan menatap ke depan dan terlihat istri nya juga baru saja selesai bekerja. Ryhan berdiri dari duduk nya dan membereskan bekas kerja nya tadi dengan membawa apa yang perlu di bawa dan setelah itu dia keluar dari ruangan nya. "Kau sudah selesai?" tanya Ryhan kepada istri nya yang nampak masih membereskan barang barang nya.


"Na pulang bersama?" tanya Fany menawarkan diri padahal mereka baru saja kenal. Ryhan dan juga Nana langsung menoleh ke arah nya sedangkan di depan mereka ada Ten yang juga berniat untuk mengajak Nana pulang bersama.


"Dia pulang bersama saya, Ayo" ajak Ryhan dan menarik tangan wanita nya dan membawa nya berlalu dari sana dengan melewati Ten dan banyak nya karyawan yang melihat.


"Kau ini sudah sepakat untuk tidak menunjukkan hubungan kita di kantor" ketus Nana saat sudah berada di lift dan di dalam nya hanya mereka berdua.


"Kapan kita bersepakat tentang itu? aku tidak pernah merasa membuat kesepakatan seperti itu" jawab Ryhan dengan wajah datar nya tanpa menatap istri nya.


"Sebelum...."


"Ah pak" sapa karyawan yang baru saja hendak masuk ke lift dan melihat Ryhan dan Nana di dalam. Nana yang awal nya ingin marah langsung menghentikan niat nya dan menurunkan tangan nya yang kesal itu.


"Masuklah" ucap Ryhan saat melihat pintu lift ingin tertutup.


"Tidak apa apa saya masuk pak?" tanya karyawan itu.


"Tidak apa, Masuk" jawab Ryhan dan menggeserkan tubuh nya mendekat ke istri nya agar banyak nya rombongan di depan masuk semua dan agar istri nya tidak marah lagi.


Gerombolan orang tadi masuk ke dalam hingga membuat lift menjadi sempit hingga tubuh Ryhan langsung berbalik untuk melindungi istri nya agar istri nya tidak terhimpit. "Sabarlah sebentar" bisik Ryhan kepada istri nya yang nampak tidak nyaman akan keadaan yang sedang di hadapi nya.


Nana menganggukkan kepala nya dan memegang jas yang di kenakan suami nya agar dia tidak jatuh. "Maaf ya pak jika kesempitan" ucap salah satu karyawan kepada Ryhan hingga hal tersebut membuat Nana langsung menurunkan tangan nya dan menatap ke sembarang arah.


"Tidak apa" jawab Ryhan dengan wajah datar nya dan mendekatkan kembali tubuh nya ke tubuh istri nya. Ryhan membuka kancing jas nya dan memasukkan kepala istri nya di dalam jas nya tanpa di ketahui oleh siapapun.


"Untung saja bau tubuh nya sedikit bisa menenangkan" guman Nana yang tidak bisa mencium bau yang bercampur aduk saat bersama banyak nya orang apa lagi hari sudah sore dan kecil kemungkinan untuk seluruh karyawan kantor tidak mengeluarkan keringat tapi untung nya bau tubuh suami nya yang tetap sama dari pagi hingga saat ini bisa menenangkan nya dan membuat nya bisa kembali bernafas lega.


Tingg


Lift terbuka tepat di lantai satu. Mereka semua langsung keluar dan Ryhan langsung tegak seperti orang normal kembali dan mengenakan kembali kancing jas nya.


.


.


.


.


.