
Ryhan menatap lekat wajah ayah nya itu dan Andra pun tersenyum meyakinkan anak nya. "Aku dan Nana sudah menikah" jawab Ryhan dengan menundukkan kepala nya. Mata Andra membulat saat mendengar jawaban itu tapi hati nya senang meskipun sedikit kecewa akan anak nya yang menikah tidak mengundang nya ataupun meminta restu kepada nya.
"Kapan kalian menikah? dan kenapa tidak memberitahu papa?" tanya Andra dengan menatap lekat anak nya itu.
"Aku menikah waktu itu mendadak saat sebelum kak Rendi meninggal" jawab Ryhan akan pertanyaan itu.
"Maksud nya kau menikah dengan Nana saat sebelum Rendi meninggal?" tanya Andra dengan menatap anak nya itu. Ryhan langsung menganggukkan kepala nya menandakan jika memang benar dia menikah dengan Nana sebelum Rendi meninggal.
"Pa aku tidak bisa lama lama, Nana sendiri di ruangan nya" ucap Ryhan dan langsung berlalu dari sana, Andra menatap kepergian anak nya itu dengan tatapan bingung nya.
Ckleek
Pintu ruangan itu terbuka dan keluarlah Nana dari dalam nya, Ryhan menatap wanita itu karna dia baru saja ingin masuk ke dalam nya. "Mau kemana?" tanya Nana dengan menatap istri nya itu. Nana tidak menjawab nya dan menerobos pergi dari sana tapi Ryhan yang tidak mendapatkan jawaban pun langsung menarik tangan nya.
"Mau kemana?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya tanpa menatap istri nya itu. Nana masih belum menjawab dan berusaha melepaskan tangan nya dari tangan Ryhan tapi tidak bisa.
"Lepaskan aku" ucap Nana karna tangan nya tidak bisa lepas.
"Jawab pertanyaan ku, Mau kemana kau?" tanya Ryhan dengan mencengkram tangan wnita itu.
"Ah" ucap Nana yang kesakitan akan cengkraman Ryhan itu.
"Jawab pertanyaan ku" ucap Ryhan dan menatap lekat wajah wanita itu.
"Bukan urusan mu kemana aku ingin pergi" jawab Nana dan langsung menepis kasar tangan lelaki itu dengan kasar dan langsung berlalu dari sana.
"Kau itu belum terlalu mendingan, Jangan kemana mana" teriak Ryhan kepada wanita itu dan membuat seluruh orang menatap nya. Nana tidak menjawab nya dan hanya memasang wajah datar nya tanpa menghentikan langkah kaki nya. Nana langsung keluar dari ruangan itu dan mencari kendaraan tapi dia tidak menemukan nya di tambah lagi uang nta tidak ada, Nana pun memilih untuk berjalan kaki pergi dari sana.
"Wanita ini" guman Ryhan dan langsung menyusul istri nya itu dengan sedikit berlari. Ryhan mencari keberadaan wanita itu dan terlihat wanita itu tengah berjalan kaki sendiri menuju ke arah rumah yang lumayan jauh. Ryhan kembali berlari dan langsung menangkap tangan wanita itu, Nana menghentikan langkah kaki nya karna ada yang memegang nya dan membuat nya menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memegang nya dan ternyata itu adalah suami nya, Ryhan tidak memperdulikan itu dan menghentikan satu taxi untuk dia taiki bersama dengan Nana sang istri.
"Masuklah" ucap Ryhan menyuruh wanita itu masuk ke dalan taxi. Nana tidak menjawab nya dan kembali melepaskan tangan Ryhan dari tangan nya dan kembali berlalu.
"Del" teriak Ryhan.
"Jadi tidak mas?" tanya taxi itu kepada Ryhan.
"Ini pak, Maaf sudah menganggu" ucap Ryhan dan menyodorkan uang tanpa menaiki taxi itu dan langsung berlalu dari sana menyusul istri nya. Nana sesegera mungkin berlari untuk menghindari Ryhan akibat ucapan ibu Ryhan yang tidak menyenangkan dan itu membuat hati wanita itu hancur.
"Na" sapa Anggi sahabat almarhum Rendi. Nana menoleh ke arah nya dan melihat itu adalah Anggi sang teman kakak nya.
"Kak antarkan aku pulang" ucap Nana dan langsung naik ke atas motor yang di kendarai oleh Anggi itu. Anggi masih belum melajukan motor nya dan masih menatap heran akan wanita itu, Nana menoleh ke belakang dan terlihat Ryhan masih mengejar nya.
"Kak ayo antarkan aku" ucap Nana.
"Baik" jawab Anggi dan langsung melajukan motor nya dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman Nana dan almarhum Rendi.
"Shht wanita ini" umpat Ryhan kesal dan langsung mengehntikan taxi lagi, Ryhan langsung masuk ke dalam taxi itu dan taxi itu mengantarkan nya ke alamat tujuan nya yakni rumah nenek nya.
"Terima kasih kak" ucap Nana kepada Anggi.
"Hem, Kenapa memang nya kau tadi hem?" tanya Anggi kepada adik sahabat nya itu yang sudah ia anggap sebagai adik sendiri.
"Ada apa dengan anak itu? apa karna kehilangan Rendi dia berubah?" guman Anggi dengan tatapan heran menatap punggung adik nya itu.
"Sudahlah, Ini motor orang" guman Anggi dan kembali menghidupkan mesin motor nya dan langsung berlalu dari sana.
Ryhan baru saja sampai di depan rumah nenek dan juga istri nya, Dia langsung turun dari taxi itu dan membayar taxi itu dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam pekarangan rumah itu. Ryhan berjlaan mendekat ke arah pintu rumah itu dan mencoba membuka nya tapi tidak bisa karna masih di kunci. "Del" panggil Ryhan dengan mengetuk pintu itu. Tidak ada jawaban dari dalam dan membuat Ryhan kembali mengetuk dan memanggil nama wnita itu dengan gonta ganti kadang Nana, Kadang Del kadang Delina.
"Hey kau ada di dalam bukan? bukalah pintu nya" ucap Ryhan yang yakin akan Nana yang ada di dalam rumah karna ada cahaya dari dalam.
"Aku akan kembali ke rumah sebelah, Nanti aku akan kembali" ucap Ryhan dan langsung berlalu dari sana. Nana bisa melihat kepergian lelaki itu dan langsung merebahkan tubuh nya di atas ranjang kamar nya itu.
"Huh, Aku sudah tidak memiliki uang dan aku harus bekerja" ucap Nana dan melihat jam dinding yang masih menunjuk pukul sepuluh pagi.
"Apa aku keluar cari pekerjaan saja?" guman Nana.
"Ah aku keluar saja" ucap Nana dan langsung beranjak duduk dari tidur tidur nya dan langsung berdiri. Nana langsung mengganti pakaian nya dan setelah selesai mengganti pakaian nya dia langsung keluar dari rumah itu dengan membawa ponsel saja.
"Mau kemana?" teriak Ryhan dari kamar nya saat melihat Nana keluar dari pekarangan rumah nya. Nana tidak menjawab nya dan langsung berlalu dari sana dan dia juga tidak menatap lelaki itu.
"Ada apa dengan nya?" guman Ryhan dengan tatapan bingung nya melihat sifat Nana yang berubah.
"Apa aku mempunyai masalah dengan nya?" guman Ryhan lagi yang sangat bingung akan sikap wanita itu.
"Ah entahlah lebih baik aku mengikuti nya" ucap nya dan langsung mengenakan sepatu nya dan langsung turun dari kamar nya menuju ke bawah dan langsung menyusul istri nya itu.
Nana mencari cari tempat di mana tempat yang membutuhkan pekerja paruh waktu karna diakan masih sekolah makanya mencari pekerjaan yang bisa paruh waktu.
"LOWONGAN KERJA PARUH WAKTU DARI JAM 20:00-00:00"
"Ini yang aku butuhkan" guman Nana saat melihat bacaan itu dan dia pun langsung masuk ke dalam cafe yang tidak terlalu mewah itu. Saat masuk ke dalam nya terlihat biasa saja dan Nana pun langsung menghampiri kasir.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya kasir itu kepada Nana.
"Saya ingin melamar bekerja di sini menjadi pekerja paruh waktu" jawab Nana akan pertanyaan itu.
"Ah iya, Mari ikuti saya" ucap kasir itu dan mengajak Nana menuju ke ruangan bos, Kasir tadi mengetuk pintu ruangan itu dengan sopan nya.
"Siapa?" tanya bos saat mendengar orang mengetuk pintu ruangan nya.
"Tina pak" jawab kasir itu.
"Masuk" ucap bos itu. Tina pun membuka pintu ruangan itu.
"Silahkan ikuti saya" ucap Tina dengan ramah nya keada Nana, Nana mengangguk mengiyakan nya dan masuk ke dalam ruangan itu mengikuti Tina.
"Ada apa?" tanya bos itu. Febri pratama, Pemilik cafe itu dia memiliki wajah blasteran china indonesia dan membuat seluruh wanita yang melihat nya jatuh hati karna memiliki hati yang baik, Keluarga yang kaya dan di tambah lagi otak yang pintar dan ketampanan yang luar biasa.
"Ini pak ada yang ingin melamar menjadi pekerja paruh waktu" jawab Tina dan meminggirkan sedikit tubuh nya supaya Febri melihat Nana. Febri menatap Nana dari atas hingga bawah dengan tatapan datar nya karna memang dia terkenal datar dengan wanita dan susah untuk jatuh cinta akibat pernah di sakiti oleh mantan kekasih nya. Nana sedikit tak nyaman akan tatapan itu tapi dia berusaha tersenyum menatap lelaki itu.
"Kau boleh keluar" ucap Febri menyuruh Tina keluar, Tina mengangguk mengiyakan nya dan setelah itu dia pun langsung berlalu keluar dari ruangan itu.