
"Pak Bery" ucap Devan dengan senyum nya menatap Beri yang berada di belakang Febri. Beri membalas senyuman itu dan berjalan mendekat ke arah nya.
"Nama nya tidak begitu asing" guman Nana yang belum tau siapa lelaki itu.
"Bapak kesini juga? Mau bertemu dengan papaku juga?" tanya Devan dan turun dari pangkuan Nana dan berjalan mendekat ke arah nya.
"Bapak sudah sering bertemu papa mu, Hanya saja sekarang kau hanya bisa melihat papa mu melalui poto saja, Tidak bisa bertemu secara langsung" ucap Beri dengan senyum nya dan tangan yang mengusap kepala Devan.
"Maafkan anak saya yang sedikit lancang berbicara dengan anda pak" ucap Nana dengan sopan nya kepada Beri.
"Sayang kita pulang ya" ajak Nana dengan menggendong anak nya yang berada di hadapan Beri yang berjongkok itu.
"Tapi Devan belum bertemu dengan papa ma" jawab Devan.
"Devan tidak mendengar kata pak guru tadi? Devan sekarang tidak bisa bertemu dengan papa" ucap Febri dengan senyum nya menatap anak yang sudah di anggap nya sebagai anak sendiri.
"Jangan menyentuh nya" ucap Nana dengan wajah datar nya.
"Nanti kita kesini lagi bertemu papa, Tapi sekarang kita pulang dahulu bagaimana?" tanya Nana dengan melindungi kepala anak nya dari matahari.
Devan terdiam dan menatap lekat wajah ibu nya yang mata nya nampak membakup dan hidung yang memerah namun berusaha tersenyum dan terlihat baik baik saja di hadapan nya. "Yasudah ayo kita pulang" ajak Devan yang menerima ajakan dari ibu nya tersebut.
Nana tersenyum menatap anak nya tersebut. "Sayang aku pamit, Nanti aku berjanji akan kemari bersama dengan Devan" guman Naan dengan mencium batu nisan itu dan kembali menggendong anak nya dan berdiri. Kaki nya mulai melangkah menjauh dari makam tersebut dan keluar dari kuburan itu tanpa berpamitan dengan Andra ataupun Merri dan yang lainnya berada di makam.
Beri mengikuti mereka dari belakang. Nana memasukkan anak nya ke dalam mobil dengan Beri berada di samping nya. "Pak Beri tidak membawa kendaraan?" tanya Devan hingga membuat Nana sadar akan kehadiran guru anak nya dan menoleh ke arah Beri.
"Tidak, Bapak menunggu kendaraan umum saja" jawab Beri dengan senyum nya.
"Naik bersama kami saja pak" ucap Devan menawarkan tumpangan kepada Beri.
"Hey kau ini seenaknya saja menawarkan tumpangan kepada orang" ucap Nana dengan nada rendah dan melototkan mata nya.
"Bapak menunggu kendaraan umum saja, Kalian pulanglah" jawab Beri dengan senyum nya.
"Sangat tidak asing" guman Nana saat melibat Beri.
"Pak ayo masuk, Mama tidak apa apakan jika pak Beri ikut dengan kita?" tanya Devan dengan memegang tangan ibu nya. Devan nampak tersenyum tulus menatap ibu nya, Berusaha memasang wajah menggemaskan agar ibu nya mengizinkan pak Beri menaiki mobil bersama.
"Wajah menggemaskan yang tidak bisa membuatku mengatakan tidak" ucap Nana dengan mencubit wajah menggemaskan itu.
"Ayo pak naik" ajak Devan saat mendapatkan persetujuan dari ibu nya. Beri tersenyum saat Devan dapat membujuk Nana agar memberikan nya tumpangan dan membuka pintu bagian belakang.
"Eh bapak di depan di samping Devan" ucap Devan dengan memegang tangan Devan.
"Devan nampak akrab dengan guru nya itu" ucap Febri. Weny menatap ke arah Febri dan sangat terlihat wajah kecewa yang di keluarkan dari raut wajah nya.
"Kenapa bapak harus di depan?" tanya Beri sedangkan Nana hanya diam saja.
"Bapak bawa mobil, Jika mama yang membawa nya takutnya terjadi apa apa" bisik Devan namun hal tersebut terdengar oleh Nana.
Nana yang tau diri jika diri nya sedang tidak baik baik saja masuk di bagian belakang mobil dan langsung menutup nya di tambah saat melihat kaca mobil terlihat Andra dan yang lainnya. "Ayo pak masuk, Nanti mama tidak jadi mengajak bapak menumpang" ucap Devan.
"Kau baik baik saja? Mau aku antar ke rumah sakit?" tanya Beri. Nana menurunkan tangan nya dan membuang pandang nya keluar jendela.
"Tidak usah, Ke tempat anda untuk mengatar anda saja" jawab Nana dengan wajah datar nya.
"Mama jangan datar seperti itu, Ini adalah wali kelas Devan yang memilih Devan sebagai ketua kelas dan bilang....."
"Apa maksud anda mengatakan jika anak saya sama seperti papa nya yang bertanggung jawab? Memang nya anda mengenal suami saya?" tanya Nana dengan memotong ucapan anak nya dan menatap datar ke arah Beri.
Beri langsung tersenyum saat mendapatkan pertanyaan tersebut. "Jelas saja iya, Dia adalah putra dari Ryhan alexander kusuma dan anak dari Delina narselia yang selalu menjadi pemimpin di sekolah ataupun di bidang bisnis, Kedua orang tua sangat bertanggung jawab bukankah anak nya juga akan seperti itu?" tanya Beri dengan tersenyum menatap spion yang menampakkan wajah bingung Nana.
"K-kau mengetahui namaku dan suamiku? Dan dari mana kau tau tentang...."
"Apa kau masih amnesia?" tanya Beri dengan memotong ucapan wanita itu dan menghentikan mobil tepat di halaman rumah Nana. Nana menatap ke depan dan terlihat dia sudah sampai di rumah nya.
"Kau tinggal di daerah sini?" tanya Nana kembali dengan wajah bingung nya.
"Seperti nya kau masih amnesia, Kau tidak ingat dengan ku, Delina? Lelaki yang selalu kau hajar namun Ryhan memarahimu dan kau menangis mengadu dengan kak Rendi?" tanya Beri. Nana terdiam saat mendengar pertanyaan itu.
"Beraninya kau menghancurkan buku nya" teriak Nana kecil.
"Cih dasar anak nakal, Masih kecil kau sudah belagak seperti orang kuat" Beri kecil.
"Kau menghancurkan buku Ryhan, Dia sudah susah payah menulis di sana" teriak Nana kecil.
"Delina sudah, Ini bukan salah nya, Ini aku yang menumpahkan air ke buku ini dan dia tidak sengaja berlari kemari" ketus Ryhan kecil.
"Tapi dia......"
"Sudah aku bilang sudah" ketus Ryhan kecil kembali.
"Awas saja kau" ketus Nana kecil dengan memukul kepala Beri kecil dan langsung berlari kembali ke rumah nya.
"Hikssss, Hikssss kakak" panggil Nana kecil.
"Hey kenapa sayang?" tanya Rendi.
"Ryhan memarahiku karna aku memarahi Beri yang menghancurkan buku nya" jawab Nana kecil.
"Cih bocah kecil ini mengadu" umpat Beri kecil.
"Bagaimana Delina? Apa kau ingat dengan ku?" tanya Beri kembali dengan senyum nya menatap Nana.
"Ah shit dia masih ingat saja dengan kejadian waktu itu, Apa dia kemari ingin balas dendam kepadaku dan membuat anakku seperti itu?" guman Nana dengan menatap tajam ke arah Beri.
"Tenang aku tidak berniat untuk balas dendam kepadmu, Kau terlalu mencintai Ryhan makanya menyalahkan ku dan tidak terima jika Ryhan salah waktu itu hingga saat ini" ucap Beri dengan senyum nya kembali.
"Hah? Dia mengetahui isi pikiranku? Apakah dia peramal?" guman Nana kembali.