Dear D

Dear D
5. ketemu mantan



Dean memijat pelipisnya, kepalanya terasa pening dan berat. Punggungnya juga terasa sakit kerena semalam ia harus tidur di sofa dan merelakan ranjangnya di tiduri oleh Vey.


Hari ini Dean sengaja berangkat lebih pagi ke kantor alasannya sederhana, ia malas berlama-lama dengan Vey, meski sebenarnya Dean ingin menanyakan apa yang dialami gadis itu semalam. Tapi ya sudahlah, Dean tidak mau terlalu memikirkan hal itu. 


Lagi pula untuk apa Dean memikirkan hal itu? Buang-buang waktu saja.


Dean melirik jam tangan berwarna silver yang terpasang di pergelangan tangan kirinya, sudah pukul 2 siang.


Dean hampir lupa jika ia ada janji dengan seseorang yang sangat ia rindukan, dan mungkinkah seorang itu juga merindukkannya? Entahlah, Dean bahkan sudah tidak peduli. 


Dean memasuki kafetaria yang ada di depan kantornya, mencari seseorang yang sudah tidak dilihatnya selama 3 tahun.


  Suasana kafetaria yang cukup sepi memudahkan Dean menemukan seseorang itu, dia adalah Rena, wanita itu tersenyum ke arah Dean.


Senyuman yang masih terlihat sama, senyuman yang dulu begitu Dean kagumi, senyuman yang selalu Dean pikirkan sebelum tidur, dan senyuman yang pernah membuat Dean menangis setiap malam. 


Tepat di meja bernomor 10 ini Dean mengungkapkan rasa cintanya pada Rena 6 tahun lalu dan tepat di meja ini juga Rena tiba-tiba mengakhiri hubungan dengan Dean 3 tahun lalu. Semua kenangan itu kembali teringang di otak Dean. 


"Apa kabar?" Rena mengulurkan tangannya saat Dean duduk di hadapannya dengan meja bundar bernomor 10 sebagai pembatas.


"Tentunya tidak seperti 3 tahun lalu" Dean menerima uluran tangan Rena, dengan senyum parau menghiasi bibirnya.


"Maafin aku Didy" Titah Rena. 


Didy? Mendengar nama itu Dean rasanya muak sekali. "Didy" adalah panggilan sayang yang Rena berikan pada Dean ketika mereka masih berpacaran. Sedangkan Dean memanggil Rena "Riri".


"Jangan panggil aku dengan nama itu lagi Na" Dean sudah tidak mau mengenang masa lalunya dengan Rena lagi, itu terasa begitu menyakitkan. 


Kamu pernah terlalu mempercayai seseorang? Bahkan kamu mempercayai seseorang itu lebih dari kamu mempercayai diri sendiri.


Lalu dengan teganya seseorang itu mengkhianatimu, menghancurkan kepercayaanmu.


Kamu pernah merasakannya? Jika pernah, bagaimana rasanya? Kecewa, bukan? Dan itu yang Dean rasakan. 


"Aku kembali untukmu Dy" Tegas Rena, "ada yang harus aku jelasin disini, biar gak ada salah paham diantara kita".


"Gak ada yang perlu dijelasin Na, maaf aku harus balik ke kantor lagi" Dean berniat pergi namun niatannya harus kandas karena Rena sudah terlebih dulu mencekal tangannya. Dean pun kembali duduk.


"Jadi aku dulu ninggalin kamu karena aku harus ikut papa ke Inggris, papa ku sakit berat... Dan aku harus jagain dia, mama ninggalin aku sama papa, aku bener-bener gak tau harus gimana lagi. Disana aku harus kerja siang sampai malem untuk biayain rumah sakit papa..." Kata Rena, suaranya serak karena menahan tangis.


"Kenapa kamu dulu gak cerita ke aku Na?" Cecer Dean.


Andai saja Rena menceritakan ini semua sejak dulu, pasti Dean akan membantunya, Dean tidak mungkin tega melihat wanita yang ia cintai menanggung beban berat sendirian. Andai saja Rena menceritakan ini semua sejak dulu, mungkin mereka masih bersama.


"Aku gak mau ngrepotin kamu Dy" Ucap Rena dengan tangisan yang sudah tidak mampu ia bendung. "Dy, aku masih sayang sama kamu....plis kembali", pinta Rena sesenggukan.


Hati itu ibaratkan kaca. Saat kaca itu pecah, maka seperti apapun caranya untuk mengembalikan kaca itu seperti semula, maka tak akan berhasil. Kaca itu akan tetap cacat, retak, dan tak bisa kembali seperti sebelumnya. 


Dean sudah tidak bisa menerima Rena lagi, meskipun mungkin masih ada rasa cinta yang tersisa di hatinya untuk Rena. Biarlah Rena menjadi bagian dari masa lalunya. "Maaf Na aku gak bisa".


"Kenapa Dy? Kenapa? Kamu masih cinta aku kan?"


"Maaf Na...besok lusa aku nikah, aku harap kamu bisa dateng" Dean menyodorkan sebuah undangan berwarna biru pada Rena. Diatas undangan tertulis dengan tinta gold nama kedua mempelai yaitu Dean & Veyraa.


***


"Taraaaaa.... kejutan!" Yori membuka penutup mata Vey. 


"Ini beneran gaun nikah gue kak?" Mata Vey membulat sempurna, bagaimana Yori bisa tau jika Vey sangat ingin mengenakan gaun cinderella di hari pernikahan? Tidak ada yang tau keinginan Vey itu selain Hana.


Atau jangan-jangan memang mama mertuanya itu yang memberitahu keinginannya pada Yori?


"Iya Vey, lu suka gak?"


Vey mengangguk senang, ia tidak bisa berhenti mengaggumi gaun berwarna biru itu, gaun itu sangat indah. "Suka banget kak...makasih ya". 


"Iya sama-sama, lu mau nyobain pake gaun itu gak?"


"Mau kak, tapi si Dean udah nungguin di luar tuh". Vey nampak kecewa, ia ingin sekali mencoba memakai gaun cinderella itu, tapi disisi lain ia tidak mau membuat Dean menunggu. 


Selain itu Vey juga ingin mempertanyakan pada Dean atas menghilangnya ribuan fotonya di instagram.


Gara-gara Dean, Vey kehilangan hampir separuh dari followersnya dan otomatis Vey juga kehilangan penghasilannya karena efek dari menurunnya followers adalah ia tidak mendapatkan permintaan untuk endorse. 


Rasanya Vey ingin membelai wajah tampan Dean dengan pisau tajam atau memberi Dean kopi bercampur sianda. Ah...Intinya Vey marah. 


"Yaudah, besok aja pas nikahan makainya. Kasihan tuh Dean udah nunggu lama" Kekeh Yori.


"Gue pulang dulu ya kak, bye" Pamit Vey seraya bercipika-cipiki dengan Yori.


Vey langsung menyetel mode ngambeknya, dengan kedua tangan ia lipat di depan perut dan bibir yang dimayunkan. "Lu yang menghapus foto-foto gue di instagram kan?" Dengus Vey, to the point.


Dean hanya mengangguk, ia masih memikirkan kejadian siang tadi di kafetaria.


Apakah keputusannya tepat? Jika memang tepat, tapi mengapa sekarang ia merasa tidak tenang? 


"Ishh kenapa kak? Tau gak gara-gara lu followers gue turun drastis tau" Omel Vey.


"Maaf" Dean hanya bisa mengucapkan kata 'maaf', sekarang Dean sedang tidak mood untuk melayani bocah bau kencur itu bertengkar.


Vey menatap Dean, ia mulai mengerti jika Dean sedang tidak baik-baik saja. Wajah lelaki itu nampak muram dan gelisah seperti ada luka yang sedang ia sembunyikan.


Vey menyentuh bahu Dean, lalu menepuk-nepuknya pelan. "Kamu bukanlah superman....kamu juga bisa nangis, jika kekasih hatimu pergi meninggalkan kamu".


Suara Vey saat menyanyikan lagu milik anak Ahmad Dhani itu terdengar  sangat nyaring seperti suara kodok kecepit dan membuat Dean tidak bisa menahan tawanya.


Selera humor Dean memang rendah, Dean bisa tertawa karena hal-hal garing yang menurut sebagian orang tidak lucu.


"Gak lucu Vey" Dean masih tertawa.


"Katanya gak lucu, tapi ketawa elahh, dasar bambank" Cerocos Vey. 


"Suara lu kayak kodok kecepit hahahaha...bikin ngakak *****" Ejek Dean. 


Seukir senyuman merekah dari bibir Vey, melihat Dean tertawa lepas seperti ini membuat hatinya damai, tak apa meskipun Vey sendirilah yang harus menjadi bahan tawaan.


Setelah puas tertawa Dean melajukan mobilnya menuju rumah Vey. Hanya butuh waktu 20 menit karena keadaan jalanan kota Jakarta malam ini tidak terlalu macet.


Di depan rumah sudah ada Alika. Vey langsung berhambur ke pelukan mamanya, "ma Vey kangen".


"Malem mama" Ucap Dean sembari mencium punggung tangan Alika.


"Ooh Dean... kamu udah ganteng, sopan lagi. Pantesan Vey tergila-gila" Alika mencubit pelan hidung Vey. Pipi Vey memerah, "apa sih ma, gak ih", cerocos Vey yang terlihat salah tingkah.


Dean tersenyum tipis lalu menatap Vey, "bener gitu Vey?", tanya Dean yang berniat membuat Vey makin salah tingkah, pasalnya ekspresi gadis itu ketika sedang salting begitu menggemaskan dan Dean menyukai itu.


"E-enggak kak..." Elak Vey.


"Yaudah deh, aku pulang dulu ya. Sampai ketemu besok,mama Dean pulang dulu yah" Kata Dean. Salahkah dia jika berpura-pura ramah? 


"Eh bentar..." Cegat Alika, "Vey tolong ambilin kotak warna putih yang ada dikamar mama" Perintah Alika pada puteri kesayangannya itu.


Vey mengangguk kemudian masuk kedalam rumah untuk mengambil kotak yang dimaksud oleh Alika.


"Vey kemarin nangis-nangis histeris ya dirumah Dean?" Tanya Alika tenang, seolah itu adalah kejadian yang sudah sering terjadi.


Dean berdeham, "Vey sebenarnya kenapa ma?".


"Vey punya trauma berat. Dia dulu pernah jadi korban bullying berat. Sudah ratusan psikiater mama datengin buat nyembuhin trauma Vey tapi gak berhasil juga, bahkan sampai sekarang trauma Vey belum hilang. Kamu tau Vey akan nangis-nangis histeris kalau traumanya kambuh, dan butuh waktu yang lama buat dia tenang lagi. Dan yang bikin mama heran....kamu Dean, kamu bisa semudah itu bikin Vey tenang...." Ucapan Alika tercekat oleh sebulir air mata yang mulai berjatuhan. 


Dean tersentak dengan penuturan calon mertuanya itu, ia tidak menyangka dibalik sifat ceria Vey ternyata menyimpan sejuta penderitaan.


Senyum ceria gadis itu ternyata hanya dijadikan topeng untuk menyembunyikan kesedihan. Gadis itu terlalu kuat untuk menghadapi cobaan hidup yang begitu mengerikan ini. "Ma.../"


Alika mengintrupsi kalimat Dean, "Vey sering mengalami autophobia,  mama mohon jangan biarin Vey sendirian, jangan bikin Vey sedih......jaga dia, dia butuh kamu nak" Pinta Alika sembari menyeka pelupuk matanya.


Autophobia : adalah rasa takut yang berlebihan ketika harus sendiri. Orang-orang yang mengalami phobia ini akan mengalami rasa takut kesepian dan juga insecure berlebih ketika sendirian. Walaupun berada di lingkungan yang aman, nyaman, dan sudah dikenal seperti di rumah sendiri, para pengidap autophobia akan tetap merasa cemas yang berlebihan saat ditinggal sendiri.


"Iya ma, Dean janji akan selalu ada buat Vey" 


"Wahhh ada apa nih? Kalian lagi ngomongin aku yah?" Ucap Vey yang muncul tiba-tiba dari balik pintu. Kedua tangannya memegang sebuah kotak berwarna putih dengan ukuran yang cukup besar. Isinya adalah pakaian milik Vey, setelah menikah Vey tidak tinggal dengan kedua orang tuanya lagi.


"Eh mama kenapa? Kok mama nangis?" Tanya Vey, khawatir.


"Mama sedih karena setelah ini Vey gak tinggal sama mama lagi" Jawab Alika, berbohong.


"Tenang aja ma, Vey bakalan sering-sering main kesini kok" Vey menyerahkan kotak berwarna putih itu kepada Dean yang lalu dimasukkan kedalam mobil untuk dibawa ke apartementnya.


"Ma, Dean pamit pulang dulu" Ucap Dean sebelum masuk ke mobil.


"Hati-hati ya nak..."


"Hati-hati calon suami...bye, love you" Cicit Vey, lebay.


"Bye" Jawab Dean singkat.