Dear D

Dear D
Episode 232



"Kau masih mengira jika pak Febri adalah papa mu sayang?" tanya Nana dengan mengusap pipi anak nya tersebut.


"Dia memang papa Devan kan?" tanya balik Devan kepada ibu nya tersebut.


"Jelas saja bukan, Papa mu hanya Ryhan bukan yang lainnya, Kau sudah terpengaruh dengan kebohongan mereka, Mereka semua membohongi kita tentang kepergian papa termasuk....." Nana menatap tajam ke arah Anggi yang ada di hadapan nya.


"Maksud mama?" tanya Devan dengan mengerutkan dahi nya menatap ibu nya.


"Tidak apa apa sayang, Nanti jika mama sudah tenang mama akan menceritakan semua nya kepada mu, Mama berjanji" jawab Nana dengan senyum nya hingga menghilangkan mata nya saat tersenyum menatap anak nya itu.


"Bolehkah kakak keluar dan pergi dari rumah ini?" tanya Nana dengan menatap tajam ke arah kakak nya itu saat ingat semua nya tentang seluruh orang terdekat nya membohongi nya.


"Tapi kau...."


"Aku sudah besar tidak memerlukan penjagaan lagi, Kakak bisa pulang dan...." Nana menatap ke pintu kamar dan terlihat banyak sekali orang itu yang ada di depan kamar nya.


"Lancang sekali kalian masuk ke rumah suamiku, Apa ada yang mengizinkan kalian masuk?" tanya Nana dengan wajah datar dan tatapan tajam nya menatap banyak nya orang yang ada di depan kamar itu.


Tangan wanita itu langsung mengusap wajah dan sudut mata nya yang sedikit berair dan menarik nafas panjang. Dia langsung berdiri dari duduk nya tadi dan menggendong putra kecil nya itu. "Mohon untuk kalian semua pergi dari sini" ucap Nana dengan wajah datar nya namun berusaha untuk sopan.


"Tapi Na kau...."


"Aku tidak membutuhkan kalian, Sudah di bodohi oleh kalian aku rasa sudah cukup" potong Nana dengan masih saja memasang wajah datar nya menatap semua orang yang ada di dalam rumah nya.


Ferisa berjalan masuk ke dalam dan berlindung di belakang Anggi. "Lebih baik kita tinggalkan dia dahulu, Emosi nya sedang tidak baik baik saja, Dia masih marah terhadap kita" bisik Ferisa sedangkan Nana sedari tadi memasang wajah datar nya.


"Tapi...."


"Sudah ayo" ajak Ferisa dengan menarik lengan Anggi dan membawa nya keluar.


"Nanti jika..."


"Keluar" tegas Nana dengan wajah datar nya.


"I-iya kami akan keluar, Ayo" Ferisa kembali menarik tangan Anggi dan membawa nya keluar dari kamar tersebut. Nana mengikuti nya dengan Devan yang berada di gendongan nya. Ferisa kembali membalikkan tubuh nya begitupun dengan Anggi.


"Kenapa berhenti? Hanya ingin keluar dari kamar saja?" tanya Nana dengan wajah datar dan tatapan tajam melihat semua orang yang ada di rumah nya.


Mata wanita itu terhenti saat melihat Merri berada di tangga. "Ingin memastikan aku dan anakku belum mati mama?" tanya Nana dengan tersenyum lebar menatap Merri.


Andra dan yang lainnya menoleh ke belakang dan terlihat ada Merri di sini. "Apa yang kau bicarakan?" tanya Merri yang bingung akan ucapan Nana.


"Hanya karna ada papa Andra mama tidak mau mengatakan tujuan mama?" tanya Nana yang masih saja tersenyum menatap Merri.


"Apa maksudmu?" tanya Merri yang tidak mengerti ucapan nya.


"Mama jangan berpikir aku tidak tau tentang kebaran butik itu, Jika mama bisa membakar butik dengan menyuruh orang bukankah kecil kemungkinan mama juga berani menyuruh orang untuk...."


"Ah" wanita itu langsung memegang kepala nya yang kembali sakit saat hendak mengingat hal yang merenggut nyawa lelaki nya dengan Devan yang masih kuta ia tahan di gendongan nya.


"Dara" ucapan yang pertama kali keluar dari mulut wanita itu.


"Lepas, Kalian keluar" tegas Nana kembali dengan wajah datar nya dan melepaskan tangan nya dari kepala nya.


"Kau...."


"Aku meminta kalian keluar, Apa tidak mendengar?" potong Nana saat Merri hendak kembali membantah.


"Ayo" ajak Andra dan menarik tangan istri nya dan membawa nya turun ke bawah begitupun dengan Anggi yang di tarik oleh Ferisa dan bi Ana yang di tarik oleh pak Beny. Nana mengikuti mereka turun ke bawah dan saat mereka sudah keluar dari rumah dia langsung mengunci pintu rumah nya.


Mata wanita itu langsung terpejam. Dia menarik nafas panjang dan membuang nya membuat Devan yang masih berada di gendongan nya kebingungan. "Are you oke ma?" tanya Devan dengan memegang kedua wajah ibu nya.


"Iya, Kita tidur di kamar papa di atas ya sayang" ajak Nana yang kembali berjalan menuju anak tangga dan menaiki nya. Dia masuk bersamaan dengan anak nya yang berada di gendongan nya dan kembali merebahkan tubuh di atas ranjang.


"Nana kau harus menenangkan diri mu, Jangan sampai nanti Devan ikut bersedih" guman Nana dengan memejamkan mata nya mencoba untuk tenang dan melupakan sejenak masalah hidup nya.


"Tidur ya sayang" ucap Nana dengan mencium pucuk kepala anak nya dan memeluk erat tubuh kecil itu dan memejamkan mata nya untuk mengistirahatkan pikiran, Hati dan tubuh nya.


Devan menatap lekat wajah yang nampak membengkak akibat menangis, Dengan raut wajah bingung dan hati yang penasaran akan apa yang terjadi dengan ibu nya anak kecil itu memeluk erat tubuh wanita yang sudah melahirkan nya itu. "Devan akan selalu menemani mama" guman nya dan memejamkan mata nya untuk menyusul ibu nya ke alam mimpi.


Keesokan pagi nya.


Nana mengerjapkan perlahan mata nya mengumpulkan nyawa nya yang hilang sekejap hingga akhirnya dia menoleh ke samping nya sangat berharap suami nya kembali ke sisi nya. "Dia memang sudah meninggalkan ku tanpa pamit" guman Nana yang kembali memejamkan perlahan mata nya dan membuang nafas panjang.


Devan yang mendengar dengusan ibu nya perlahan membukakan mata nya. "Mama sudah bangun?" tanya Devan dengan menenggelamkan wajah nya di bahu ibu nya.


Nana kembali membuka mata nya dan terlihat kaki anak nya naik ke atas perut nya dan kepala anak nya yang berada di bawah dagu nya. "Em iya sayang mama sudah bangun, Kau masih mengantuk sayang?" tanya Nana dengan mengusap kepala itu.


"Setiap pagi selalu aku yang seperti ini kepada suamiku namun....."


"Lelakiku sudah tiada dan dia sudah meninggalkan ku untuk selama nya dan berkumpul dengan kakak dan ayah di sisi tuhan" guman Nana dengan mengusap rambut anak nya itu dengan mata yang kembali memejam.


Dada yang kembali sesak saat mengingat kepergian suami nya yang tidak di ketahui oleh nya membuat sedikit air mata menetes di sudut mata itu. "Mama menangis lagi? Apa ada hal yang membuat mama sedih sehingga dari kemarin mama selalu menangis?" tanya Devan dengan mengusap sudut mata ibu nya.


"Aku tidak boleh menangis di hadapan Devan, Dia akan bingung jika melihatku menangis" guman Nana dan menghapus air mata yang sempat menetes itu.


Nana langsung tersenyum menatap putra kecil nya itu. "Mama tidak menangis sayang, Air mata ini jatuh karna mungkin mama masih sedikit mengantuk makanya mata mama mengeluarkan air mata" jawab Nana akan pertanyaan anak nya dengan tersenyum lebar.


.


.


.


.


.


.


.