Dear D

Dear D
Episode 148



"Berikan aku berbicara kepada Ryhan" ucap Merri dengan tangan yang menengadah meminta ponsel kepada Andra sang suami.


Andra tidak menjawab nya dan memberikan ponsel yang masih terhubung telpon dengan Ryhan kepada istri nya. "Halo Ryhan, Kenapa Nana bisa sakit?" tanya Merri dengan nada hawatir nya.


"Karna kelelahan" jawab Ryhan dengan wajah datar nya.


"Kau kenapa membiarkan nya bekerja, Akibat bekerja itu dia menjadi kelelahan" omel Merri di sebrang telpon.


Ryhan tidak menjawab nya dan menatap ke istri nya yang masih saja tidur. "Mama akan ke sana sekarang, Kau jangan kemana mana" ucap Merri.


"Tidak usah, Kami sedang tidak di apartemen, Aku tutup dulu" ucap Ryhan berbohong dan langsung mematikan telpon nya tersebut. Ryhan membuang kasar nafas nya dan kembali memeluk erat tubuh wanita nya yang masih saja tertidur itu.


"Aku tidak akan membiarkan siapapun menyakiti mu" bisik Ryhan dan mencium pucuk kepala nya. Hati yang masih janggal untuk menerima ibu nya yang pernah mematahkan sepatah patah nya hati istri nya membuat Ryhan sangat berhati hati membiarkan ibu nya mendekati istri nya.


"Kenapa ma?" tanya Andra kepada istri nya tersebut.


"Ryhan mematikan telpon nya" jawab Merri dan menyodorkan ponsel yang di tangan nya kepada suami nya. Andra menerima ponsel nya tersebut.


"Apa yang di katakan Ryhan sebelum dia mematikan telpon?" tanya Andra yang nampak penasaran akan jawaban istri nya.


"Dia mengatakan jika dia tidak sedang di apartemen" jawab Merri.


"Hah? Jadi mereka berada di mana jika tidak di apartemen?" tanya Andra yang nampak bingung. Merri langsung menggelengkan kepala nya menandakan dia tidak tau di mana anak dan menantu nya saat ini.


"Yasudah kita coba lihat ke apartemen nya apa benar mereka tidak ada di sana atau Ryhan hanya berbohong kepada mu" ajak Andra saat melihat istri nya yang nampak bersedih.


"Iya" jawab Merri dengan senyum nya menandakan jika dia senang bertemu anak anak nya nanti.


Kedua nya langsung turun ke bawah dengan Merri yang terlebih dahulu mengganti baju nya. "Aku akan ke dapur sebentar membawakan makanan agar nanti bisa makan bersama" ucap Merri kepada suami nya tersebut dengan senyum nya. Andra menganggukkan kepala nya dan memilih untuk keluar dari rumah.


"Saya dan istri saya akan pergi ke luar, Tolong siapkan mobil dan temani kami" ucap Andra kepada sopir yang berada di depan.


"Baik tuan" jawab sopir.


Merri nampak menyiapkan makanan ke dalam rantang seluruh makanan yang di buatkan oleh bibi tadi semua nya di masukkan nya ke dalam rantang dan setelah itu dia keluar dari dapur dan menuju ke suami nya. "Sudah?" tanya Andra kepada istri nya.


"Sudah" jawab Merri dengan senyum nya.


"Yasudah ayo" ajak Andra dan masuk ke dalam mobil begitupun dengan Merri.


Sopir langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke apartemen yang di tempati oleh Ryhan dan juga Nana.


Membutuhkan puluhan menit sampai akhir nya mobil berhenti tepat di hadapan gedung apartemen yang sangat besar itu. Merri dan juga Andra turun dari mobil itu dan berjalan masuk dan menuju ke lift. Saat lift terbuka kedua nya langsung masuk ke dalam dan lift membawa kedua nya naik ke lantai kamar anak nya tinggal.


Saat lift terbuka kembali kedua nya langsung keluar dari lift tersebut dan berjalan menuju ke apartemen anak nya yang paling ujung.


Tingg...Tong


Ting..tong


Bel kembali berbunyi. "Sebentar" teriak Nana dan langsung membuka pintu apartemen tersebut.


Wajah kedua orang tua suami nya yang tersenyum pertama kali di lihat nya saat dia membuka pintu apartemen tersebut sedangkan dia diam membisu dan nampak ketakutan melihat ibu mertua nya. "Nana" sapa Merri dengan senyum nya menatap Nana dan hendak memegang tangan nya.


Nana yang takut menjauhkan tangan nya dari tangan mertua nya tersebut hingga membuat kedua senyuman di wajah kedua nya langsung menghilang dan Andra nampak kebingungan akan menantu nya tersebut. Kaki wanita itu perlahan memundur dengan tangan yang bergetar dan keringat dingin yang bercucuran di wajah nya.


"Sayang siapa yang datang?" teriak Ryhan dari dalam kamar saat tidak mendengar suara siapapun dari luar.


"Nak kau kenapa?" tanya Merri yang hendak memegang tangan menantu nya tersebut tapi Nana mengelak. Ketakutan yang seharus nya sudah hilang akibat beberapa hari membujuk suami nya agar berbaikan dengan ibu mertua nya ternyata belum hilang sepenuh nya. Betul apa yang di katakan oleh Ryhan, Mulut dan hati wanita itu sangatlah tidak sama, Sama seperti saat ini hati nya yang masih belum bisa terbiasa dengan ibu mertua nya tapi mulut nya selalu berkata baik baik saja.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Ryhan dan memilih berdiri dari duduk nya takut terjadi apa apa terhadap istri nya tersebut.


"O-om, Ta-tante" sapa Nana yang mencoba memberanikan diri nya kepada Merri dan juga Andra.


Merri yang mendengar sapaan itu langsung tersenyum lebar menatap menantu nya tersebut. "Sayang kau tidak perlu takut kepada mama" ucap Merri yang berjalan mendekat ke arah Nan dan menggapai tangan nya.


"Sayang siapa yang..." mata Ryhan membulat saat melihat ibu dan ayah nya yang berkunjung.


"Jangan menyentuh nya" teriak Ryhan yang menghentikan ibu nya yang hendak menyentuh tangan istri nya. Merri langsung menoleh ke arah anak nya begitupun dengan Andra yang juga menoleh ke arah nya.


Ryhan yang sudah berhasil menghentikan hal tersebut pun langsung berlari mendekat ke arah istri nya. Dia langsung menggenggam tangan wanita nya tersebut dan sangat terasa dingin tangan wanita itu. Ryhan menatap tajam ke arah ibu nya dan langsung berdiri di hadapan istri nya melindungi pandangan istri nya yang menatap ibu nya.


"Apa yang kalian lakukan ke sini?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya dengan tangan yang menggenggam tangan istri nya yang masih saja dingin itu.


"Nak mama sudah beberapa lama tidak mendatangi kalian dan tidak bertemu dengan kalian makanya mama dan papa....."


"Aku sudah bilang tidak usah mengunjungiku, Aku tidak memerlukan kunjungan kalian, Kunjungan kalian hanya membuat istri ku takut" potong Ryhan dengan menatap kesal ayah dan ibu nya saat merasakan tangan istri nya yang masih saja gemetaran.


"R-Ryhan jangan berbicara seperti itu..."


"Kau itu takut, Tidah usah berpura pura di hadapan mereka bahwa kau baik baik saja saat bertemu mereka" potong Ryhan yang cukup kesal akan istri nya yang mencoba membela ibu dan ayah nya.


.


.


.


.


.