Dear D

Dear D
Episode 227



"Sudah aku duga"


Cittttttt


"Ah untuk tidak di tabrak, Jika sempat tertabrak akan jadi seperti itu" ucap Anggi yang langsung keluar dari mobil nya yang sedikit tergeser mobil yang di serempet oleh nya.


"Keluar kau" ucap Anggi. Pengendara mobil belum keluar membuat Anggi sedikit geram.


"Cepat keluar kau" bentak Anggi yang kesal dan berdiri tepat di depan pintu mobil itu.


"Sudah sampai" ucap Nana dengan senyum nya dan langsung turun bersama anak nya. Kedua nya masuk ke dalam restoran tersebut dengan Devan yang di gendong oleh Nana.


Brakkk


"Ah maaf nona" ucap pria yang menabrak Nana dengan memegang tangan Nana yang hampir terjatuh Nana kembali berdiri semula.


"Tidak apa apa, Ini salah saya, Maafkan saya" ucap Nana dengan sedikit membungkukkan tubuh nya dan langsung berlalu dari sana.


"Seperti suara Delina" guman pria tersebut.


Nana mendudukkan tubuh nya di kursi yang kosong dan memanggil pelayan. "Sayang kau mau apa?" tanya Nana kepada anak nya.


"Em, ini" ucap Devan dengan menunjuk makanan yang di inginkan nya. Nana langsung tersenyum saat melihat pilihan anak nya tersebut.


"Ini dua, Minuman ini juga dua" ucap Nana kepada pelayan dengan tersenyum menatap nya.


"Baik nona, Silahkan di tunggu" jawab pelayan dan langsung berlalu dari sana untuk menyiapkan makanan pesanan Nana.


"Kau tau makanan yang kau pesan tadi adalah kesukaan papa mu" ucap Nana dengan senyum nya menatap anak nya dengan tangan yang mencubit wajah itu.


"Bukan nya papa membenci sayur sayuran bercampur daging? Bagaimana bisa papa menyuaki makanan ini?" tanya Devan yang masih mengira Febri adalah ayah nya.


"Kau memikirkan jika papa mu adalah Febri?" tanya Nana kembali kepada anak nya.


"Bukan nya dia memang papa Devano?" tanya Devan pula.


"Ini nona pesanan anda" ucap pelayan dan meletakkan makanan di atas meja yang di tempati Nana.


"Mama ti....."


"Sayang makan ya jangan bicara lagi" potong Nana.


"Em baik" jawab Devan dan mulai melahap makanan kesukaan nya itu.


"Hah, Hah mana Nana dan Devan?" tanya Anggi yang baru saja sampai di restoran yang sama dengan Nana saat melihat mobil Nana yang terparkir di depan.


Devan nampak melahap dengan sangat lahap makanan nya tersebut hingga membuat Nana tersenyum melihat nya.


"Ini kau harus makan sayur yang banyak" Ryhan.


"Tidak, Aku tidak menyukai nya di tambah di campur dengan daging" Nana.


"Kau belum mencoba nya makanya kau tidak tau rasa nya seperti apa, Kau makan burgerpun tidak ada sayuran di dalam nya hanya daging dan roti nya saja, Kemari coba sedikit saja nanti kau akan ketagihan memakan nya" Ryhan.


"Eh kok enak?" Nana.


"Bagaimana?" Ryhan.


Mengingat kembali kenangan masa lalu yang di lupakan nya beberapa waktu ini membuat wanita itu meneteskan air mata nya. Merindukan lelaki yang selalu menemani dan mewarnai hidup nya membuat hati wanita itu menjadi lemah, Mudah menangis tidak sama seperti dahulu.


"Mama, Whay you cry?" tanya Devan dengan mengusap wajah ibu nya menggunakan ibu jari mungil nya.


"Hey mama bukan menangis, Ini cukup pedas makanya mata mama berair" jawab Nana dengan senyum nya dan mengusap sudut wajah nya itu.


"Mama seperti menyembunyikan sesuatu dari ku" guman Devan dengan menatap lekat wajah ibu nya itu.


"Sama seperti Ryhan, Devan lebih mengerti Nana dari pada aku" guman Anggi saat melihat Devan membiarkan ibu nya yang sedang bersedih dan tidak berniat untuk membujuk.


"Apakah enak sayang?" tanya Nana dengan mengusap kepala anak nya.


"Em" jawab Devan dengan wajah datar nya.


"Entah Nana akan memaafkan ku atau tidak atas kejadian ini" guman Andra dan melanjutkan langkah kaki nya masuk ke dalam area pemakaman.


"Sayang papa datang" sapa Andra dan menjongkokkan tubuh nya di samping makam putra nya tersebut.


"Papa tidak dapat mewujudkan keinginan mu nak" ucap Andra dengan mata yang berbinar menatap makam anak nya tersebut.


"Papa tidak berhasil menyatukan Nana dan Febri, Saat pernikahan mereka Nana langsung ingat dengan masalalu nya bersama mu, Kau terlalu berarti untuk nya sayang" jelas Andra dengan mengusap kepala makam itu.


"Apakah kau akan marah kepada papa sayang?" tanya Andra.


"Sudah selesai?" tanya Nana dengan mengambil tisyu untuk anak nya.


"Iya ma" jawab Devan. Nana melambaikan tangan nya agar pelayan datang kepada nya dan pelayan datang dan memberikan nota makanan yang di pesan oleh Nana tadi. Nana membayar nya dan pelayan itupun pergi dari sana.


"Kita pulang sekarang?" tanya Nana kepada anak kecil nya itu.


"Ke rumah papa?" tanya Devan yang mengatakan papa Febri.


"Jelas saja ke rumah papa, Ayo" ajak Nana yang malah mengira Devan mengajak ke rumah suami nya. Nana menggendong kembali anak kecil nya dan membawa nya keluar dari restoran tersebut tanpa memperdulikan siapapun yang ada di sekitar nya.


Nana langsung memasukkan Devan ke dalam mobil terlebih dahulu setelah itu baru dia pula. "Aku tidak pernah menyetir selama aku hidup bersama Ryhan" guman Nana saat duduk tepat di kursi mengemudi.


"Jikapun iya mama sedang memiliki masalah dia tidak akan menceritkan nya kepada ku, Lebih baik aku cari tau sendiri sekalin mencari tau tentang lelaki di poto tadi dan identitas asliku" guman Devan yang memilih diam saja dan menatap ke arah ibu nya.


Nana langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang kembali menuju ke rumah suami nya. "Mama boleh aku meminjam ponsel mu?" tanya Devan kepada ibu nya.


"Jelas saja boleh, Ambil saja" jawab Nana dengan senyum nya menatap anak kecil nya itu. Devan tersenyum saat mendapatkan persetujuan dan langsung mengambil ponsel ibu nya yang ada di dalam tas itu.


"Nama ibu adalah Delina narselia, Ponsel ini sudah beberapa kali aku buka namun aku tidak menemukan apapun, Jika aku mencari nama ibu di internet apakah akan di temukan aku anak nya atau bukan?" guman Devan yang langsung membuka akses internet di ponsel ibu nya.


"Cih tidak ada apapun" ucap Devan dan kembali meletakkan ponsel ibu nya di dalam tas.


"Sudah sore nak, Papa akan pulang ke rumah, Papa berjanji akan menjaga Nana dengan baik sayang" ucap Andra dan langsung berlalu dari sana untuk kembali ke rumah nya.


"Kita ke minimarket dahulu tidak apa apa sayang?" tanya Nana kepada Devan saat melihat minimarket di depan.


"Em" Devan hanya mengeluarkan suara singkat itu dengan wajah datar nya tanpa menatap Nana sedikitpun.


Nana menghentikan mobil tepat di depan minimarket itu dan langsung turun begitupun dengan Devan yang turun dengan sendiri nya dari mobil. Nana langsung menggendong putra kecil nya itu. "Mama aku bisa berjalan sendiri" ucap Devan dengan wajah datar nya yang tidak mau di gendong oleh Nana.