Dear D

Dear D
Episode 113



"Ah duduk cukup lama membuat pinggang sakit juga" ucap Nana dengan tubuh yang sudah di rebahkan di atas ranjang.


"Kau masih menginginkan liburan?" tanya Ryhan kepada istri nya dengan mendudukkan tubuh nya di samping istri nya yang sedang berbaring.


"Kau ini tidak puas ya berlibur di bali selama satu minggu?" tanya Nana dengan menatap lelaki itu tanpa duduk dan masih berbaring.


"Sebenar nya belum puas" jawab Ryhan.


"Berlibur seperti kehendak mu itu sama seperti mubazir uang, Membuang buang uang demi melihat pemandangan yang bagus hah lebih baik uang nya untukku saja" balas Nana dan membalikkan tubuh nya hingga membelakangi suami nya.


"Kau ini mata duitan juga ya" ucap Ryhan.


"Bukan mata duitan tapi hidup memerlukan uang dan yang kau inginkan itu sungguh sangat membuang buang uang, Umur kita masih muda dan masih panjang perjalanan ke depan jadi berhematlah mana tau nanti tidak memiliki uang masih ada tabungan" jelas Nana.


"Tentang keungan kau cukup bijak" ucap Ryhan dan langsung memeluk istri tercinta nya.


"Aku bijak dalam segala hal kau saja yang tidak tau" jawab Nana dengan nada menyombong.


"Benarkah?" tanya Ryhan.


"Jelas saja" jawab Nana yang terus saja menyombongkan diri di hadapan suami nya.


"Tapi setauku kau hanya bijak tentang uang karna kau itu mata duitan makanya kau bisa sebijak itu" balas Ryhan saat istri nya menyombong di hadapan nya.


"Jaga ucapan mu, Aku tidak....."


Ting Tong.


Bel apartemen berbunyi menandakan ada yang menghampiri apartemen mereka. "Shit siapa yang menganggu?" umpat Ryhan kesal akibat dia baru saja pulang ke jakarta bersama istri nya dan sudah ada saja yang ingin bertamu.


Plakk


"Mengumpat saja terus kau ini" ketus Nana dengan menyentil bibir suami nya yang terus saja mengoceh sedari tadi.


"Ah" Ryhan nampak kesakitan akan wanita nya yang menyentil bibir nya hingga mengeluarkan suara. Nana tidak yang mendengar rengekan kesakitan itu langsung berdiri dari baring nya dan keluar dari kamar dan menuju ke pintu.


"Delina" teriak Ryhan dan imut berdiri menyusul istri nya untuk membalas dendam centilan tadi.


Nana membuka pintu apartemen, Pemandangan yang tidak di duga saat ini berada tepat di hadapan mata nya. Ya kedua orang tua Ryhan datang berkunjung. "Nana" sapa Merri dengan ramah nya dan tersenyum menatap Nana. Nana memundurkan tubuh nya hingga membuat Ryhan yang belum mengetahui siapa yang berkunjung sedikit kebingungan.


"Siapa yang berkunjung?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya dan berjalan mendekat ke arah istri nya.


"Mama, Papa?" ucap Ryhan saat melihat kedua orang tua nya berada tepat di hadapan nya. Nana langsung memundurkan tubuh nya dan bersembunyi di balik tubuh suami nya yang jauh lebih besar dari tubuh nya. Ryhan mengerti akan situasi istri nya yang ketakutan akan ibu nya, Di pegang nya tangan istri nya yang berada di belakang tanpa menatap nya tapi malah menatap tajam kedua orang tua nya.


"Jangan menyentuh nya" ucap Ryhan dengan wajah datar.


"Jangan berbicara seperti itu kepada ibu mu" ucap Nana dengan nada rendah, Nada suara yang ketakutan sangat terdengar oleh Ryhan.


"Ada apa kalian ke sini?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya dan menggenggam erat tangan istri nya yang sedikit gemetar itu.


"Mama dan papa hanya ingin berkunjung melihat keadaan kalian" jawab Merri dengan tersenyum sedangkan Andra sedari tadi berusaha melihat keadaan menantu nya.


"Aku dan Delina baik baik saja dan tidak memerlukan kunjungan dari kalian" balas Ryhan yang masih saja memasang wajah datar nya, Dia takut ibu nya kembali menyakiti istri nya di keadaan rumah tangga nya yang sudah sangat sangat membaik.


"Ryhan kau jangan berbicara terlalu kasar kepada ibu mu, Dia hanya ingin berkunjung dan benar benar ingin berkunjung, Kami tidak ada niat untuk menyakiti dan memisahkan kalian, Percayalah" ucap Andra.


Ryhan menatap tajam ke arah ayah nya sedangkan Nana masih bersembunyi di belakang suami nya. "Itu hanya omong kosong nya yang keluar dari mulut nya supaya agar lebih mudah untuk memisahkan ataupun menyakiti di antara kami, Papa jangan terlalu mudah percaya dengan mama" jawab Ryhan dengan menatap datar ke arah ibu nya.


Merri terdiam begitupun dengan Andra. Ryhan yang melihat kedua nya hanya diam langsung menutup kembali pintu apartemen tanpa memperdulikan kedua orang tua nya. "Ryhan nak berikan mama kesempatan untuk menebus kesalahan mama" teriak Merri dengan menggedor pintu apartemen tersebut saat Ryhan menutup nya.


Nana langsung mendongakkan kepala nya menatap lekat wajah suami nya dengan raut wajah masih sedikit ketakutan. "K-kau tidak boleh terlalu kasar kepada kedua orang tua mu" ucap Nana yang masih sedikit gemetaran.


"Kau saja takut saat melihat mama bagaimana bida aku tidak menolak kedua nya untuk datang dengan perlakuan seperti tadi?" tanya Ryhan dengan menatap tajam istri nya yang malah membela kedua orang tua nya.


"Tapi mau bagaimana pun mereka berdua tetaplah orang tua mu, Mungkin yang di katakan papa mu memang benar jika mama mu benar benar ingin bertaubat dan menerima ku" ucap Nana yang berharap hati yang sedang membeku untuk memaafkan ibu nya akan kembali mencari dan memaafkan ibu nya.


"Tapi kau saja masih gemetar saat melihat mama, Bagaimana mungkin aku membiarkan mama bertemu dengan mu?" ketus Ryhan saat mendengar ucapan istri nya.


"A-aku hanya memerlukan waktu untuk terbiasa dengan mama mu, Jika di biasakan kami bertemu berdua a-aku cukup yakin jika aku bertemu dengan nya layak nya seperti orang normal bukan seperti ini lagi" jawab Nana dengan tersenyum lebar menatap suami nya, Meskipun hati nya berat untuk menerima dan bertemu dengan ibu mertua nya, Merri tetap lah ibu mertua nya dan kapanpun akan selalu menjadi ibu mertua nya.


Ryhan menatap tajam wanita itu, Wajah yang masih sedikit takut cukup nampak di wajah istri nya. "Aku tidak yakin akan ucapan mu, Aku juga takut nanti mama malah akan dengan mudah mencelakaimu dan aku takut mama berbiacr aneh aneh lagi terhadap mu hingga akan mengganggu mental dan jiwa mu, Aku takut itu terjadi" jelas Ryhan yang mengatakan ketakutan nya untuk mendekatkan istri nya dan juga ibu nya.


.


.


.


.


.


.