Dear D

Dear D
Episode 164



"Ah tidak usah tante..."


"Eh mama dong sama seperti Ryhan, Begitupun kau memanggil papa" potong Andra dengan senyum nya seakan akan tengah mengejek istri nya.


Merri menatap ke arah suami nya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, Jika di katakan dia kesal bibir nya tersenyum tapi jika di katakan dia senang tatapan mata nya nampak kesal. "I-iya m-maksud saya ma, Tidak usah ma biarkan Nana saja yang memasak" jawab Nana dengan senyum nya.


"Eh bukan juga kau, Tapi bibi" jawab Ryhan akan jawaban istri nya tersebut.


"Eh tapi...."


"Yasudah sayang tidak apa apa, Biarkan bibi saja yang memasak kita duduk saja di sana ya menunggu makanan tiba" potong Merri dan mengajak menantu nya tersebut duduk dengan memundurkan tempat duduk untuk menantu nya tersebut. Nana menganggukkan kepala nya ada rasa tidak enak di hati nya saat Merri menarik kan kursi untuk nya.


"Ayo sayang duduk" ucap Andra saat melihat Nana yang masih saja tegang. Nana menganggukkan kepala nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang di mundurkan oleh Merri untuk nya.


"Siapkan makanan yang banyak untuk menantu mu" ucap Merri dengan senyum nya kepada bibi.


"Baik nyonya" jawab bibi dan langsung berlalu dari sana menyiapkan makanan untuk keluarga itu.


"Jangn biarkan sedikit saja hal yng bisa membuat menantuku terluka, Jika aku mendapatkan nya akan aku habisi kalian" Kata kata itu selalu terngiang ngiang di kepala seluruh pelayan tersebut akan Andra yang sangat menyayangi seluruh menantu nya tanpa melihat status nya sama sekali.


Setelah selesai makan mereka berjalan menuju ke pintu utama dan Ryhan dan juga Nana keluar dari rumah. "Sayang kalian benar benar tidak mau menginap di sini?" tanya Merri yang tidak mau melepaskan tangan Nana.


"Ma tidak bisa, Kami tidak akan tinggal di sini" jawab Ryhan dengan wajah datar nya.


"Tapi mama dan papa tenang saja, Kami akan sering sering main kemari" balas Nana dengan menatap tajam ke arah suami nya yang menurut nya sudah menyinggung hati mertua nya.


"Benar sayang?" tanya Merri yang nampak girang.


"Iya ma" jawab Nana dengan senyum yang mengembang.


"Ah terima kasih menantuku" ucap Merri dan langsung memeluk erat tubuh Nana hingga Nana tidak bisa menjaga keseimbangan dan hampir saja jatuh untung Ryhan dengan sigap langsung menangkap nya dan melepaskan pelukan ibu nya dari istri nya.


"Mama aku sudah katakan jangan memeluk nya terlalu erat, Hampir saja terjatuh tadi" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan menatap tajam ibu nya tersebut.


"Maaf" jawab Merri dan menundukkan kepala nya.


"Pelukan mama ini seperti hendak mencelaki Delina dan juga bayiku" guman Ryhan dengan menatap tajam ibu nya yang sangat mencurigakan di ta.bah saat ini ibu nya nampak tersenyum.


"Sudahlah, Kami akan pulang" pamir Ryhan dengan mencium kedua punggung tangan ibu dan ayah nya secara bergantian. Nana ikut menyalami ibu dan ayah mertua nya dengan di balas ciuman di dahi oleh Merri tapi tidak dengan Andra yang hnya membalas senyuman saja.


"Ayo" Ryhan menarik tangan istri nya tersebut dan kedua nya langsung masuk ke dalam mobil dan Ryhan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang kembali ke tempat mereka.


"Semua nya sudah beres?" tanya Ryhan dengan earphone yang ada di telinga.


"Sudah tuan" jawab orang suruhan nya dari sebrang. Ryhan tidak menjawab nya dan mematikan earphone tersebut dan menatap lekat wajah istri nya yang nampak berkeringat.


"Fokuslah menyetir, Biarkan aku yang menaikkan suhu nya" ucap Nana dengan memukul tangan suami nya tersebut dan menaikkan suhu ac.


Nana menarik beberapa tisyu dan membuka kancing atas baju nya dan mengelap keringat yang bercucuran di dada nya. Ryhan menoleh ke arah nya dan langsung membuangkan pandang nya kembali fokus ke kemudi. "Kau kepanasan karna ketemu mama pastikan?" tanya Ryhan yang tadi memegang tangan istri nya yang hangat dingin.


"Seperti nya begitu, Ak...."


"Kau belum terbiasa bertemu secara langsung makanya kau seperti itu" potong Ryhan saat Nana hendak melanjutkan ucapan nya.


"Yasudah ayo turun, Kita sudah sampai" ucap Ryhan yang sudah berada di pekarangan rumah nenek nya. Nana menatap ke luar mobil dan benar saja dia dan suami nya sudah sampai.


"Ayo" ajak Ryhan yang sudah melepaskan sabuk pengaman tapi dia masih melihat istri nya yang nampak kebingungan.


"Em" Nana mengiyakan nya dan turun bersamaan dengan suami nya keluar dari mobil tersebut. Nana membalikkan tubuh nya dengan cuaca yang cukup panas siang hari ini dia menatap ke rumah nya.


Tatapan mata yang nampak sedih tidak tinggal di sana tapi hati nya cukup senang saat suami nya mengajak nya kembali ke area rumah nya meskipun tidak tinggal di rumah nya kembali. "Tuan, Nona" sapa bodyguard rumah tersebut.


"Ayo sayang kita masuk" ajak Ryhan kepada istri nya tersebut.


"Barang barang di sana?" tanya Nana dengan menunjuk ke rumah nya.


"Seluruh barang barang di sana sudah di pindahkan ke sini, Nanti tinggal menunggu alat jahit sampai, Rumah juga sudah di rombak menjadi luas kecuali gudang yang tidak di rusak untuk tempat mu, Kau tidak perlu hawatir tentang rumah itu, Rumah itu akan menjadi tempat usaha mu yang akan selalu kau kunjungi" jelas Ryhan dengan senyum nya menatap istri nya tersebut.


"Hem" Nana hanya menganggukkan kepala nya dan setelah itu menundukkan pandang nya.


Ryhan masih belum bisa membujuk istri nya tersebut dan memasang wajah bingung dan setelah itu menatap ke arah beberapa bodyguard dan juga pelayan yang memperhatikan nya dan juga istri nya. "Yasudah ayo kita masuk dulu, Besok baru ke rumah" ajak Ryhan dengan menutup kepala istri nya menggunakan tangan nya dan berjalan masuk bersama.


"Kamar kita berada di bawah tidak apa apa kan?" tanya Ryhan kepada istri nya dengan berhenti tepat di kamar bawah yang di mana banyak pelayan berdiri di sana.


Nana memasang wajah aneh saat melihat banyak nya orang di rumah tersebut dengan menggunakan seragam khusus. "I-iya tidak apa apa, Ayo masuk" ajak Nana dan menarik baju suami nya tersebut dan masuk ke dalam kamar yang di katakan suami nya tadi.


Ryhan mengikuti nya dan membiarkan istri nya menarik baju nya. Nana langsung menutup pintu kamar tersebut dengan mengunci nya dan setelah itu menatap tajam ke arah suami nya yang saat ini tengah berada di hadapan nya.


"Kenapa begitu banyak orang di rumah? Bukan nya kau hanya bilang pelayan dan bodyguard saja?" tanya Nana dengan wajah sedikit kesal dan juga bingung akan banyak nya manusia di rumah tersebut.


.


.


.


.


.