
"Nana kau dengar mama kan sayang? Kau benar benar di kurung oleh lelaki itu? Atau kau tidak di izinkan bertemu mama mu sendiri oleh suami mu itu sayang? Jika benar begitu akan mama cincang dia nanti berani nya melarang mu bertemu dengan mama" teriak Hanah kembali yang masih saja terdengar oleh Ryhan dan juga dokter.
"Mama berhentilah berteriak dengan Nana" teriak Wu Qi ayah Weny yang berasal dari hongkong. Teriakan Wuqi tadi terdengar jelas di telinga Nana.
"Shit seenak nya saja dia berbicara aku menyiksa istriku sendiri" umpat Ryhan.
"Apa jangan jangan kau benar benar menyiksa nya ya Ryhan hingga ibu nya marah seperti itu?" tanya dokter dengan wajah meledek namun dengan tatapan penuh penyelidikan.
"Seenak nya saja kau berbicara seperti itu, Wanita yang bersama ku adalah wanita yang paling beruntung, Dia paling banyak mendapatkan kasih sayang dari ku, Dia akan aku jadikan ratu di istanaku meskipun hanya rumah nenek dahulu namun aku tidak pernah menyakiti nya ataupun membuat nya menangis apa lagi menyiksa nya seenak nya saja kau ini" ketus Ryhan dengan wajah kesal nya dan berdiri dari duduk nya dan berjalan mendekat ke arah istri nya.
"Mama Weny yang menghubungi mu?" tanya Ryhan dengan menatap lekat wanita nya tersebut.
"Iya" jawab Nana yang masih saja menjauhkan ponsel dari telinga nya saat mendengar perdebatan antara Hanah dan juga Wuqi.
"Kau di mana sekarang? Kau di kurung atau...."
"Maaf tante ini saya suami nya, Kami sedang di rumah sakit saat ini" ucap Ryhan dengan lembut.
"Kau di mana anakku? Kau mengurungnya dan menyiksa nya selalu hah?" bentak Hanah hingga membuat Ryhan menjauhkan ponsel tersebut dari telinga nya hingga membuat dokter kembali tertawa begitupun dengan Nana.
"Kami sedang di rumah sakit dan ini kami baru saja ingin keluar dari rumah sakit dan menuju ke rumah tante" jawab Ryhan yang masih menggunakan nada lembut nya.
"Oh syukurlah, Cepatlah kemari mama menunggu kalian" ucap Hanah dan langsung memutuskan telpon tersebut dari sebelah pihak hingga membuat Ryhan menurunkan ponsel itu dan masih saja tersenyum paksa menatap istri nya dengan tangan yang menyodorkan ponsel ke wanita nya.
"Apa telinga mu baik baik saja?" tanya dokter dengan senyum meledek menatap Ryhan. Ryhan langsung menatap ke arah nya dan langsung menatap tajam ke arah dokter itu sedangkan Nana terdengar tertawa kecil hingga membuat Ryhan menatap tajam ke arah nya pula.
"Kau menertawai ku?" tanya Ryhan dengan tatapan tajam nya itu.
"Kau jangan menyiksa nya atau aku akan katakan kepada mama Nana nati" ucap dokter saat melihat Ryhan menatap tajam Nana.
Nana menghentikan tawa kecil tadi dan turun dari ranjang. "Dia tidak pernah menyiksa ku dok" ucap Nana dengan senyum nya.
"Ayo kita berangkat nanti mama Hanah kembali menelpon dan mengomel" ajak Nana dengan menggandeng tangan suami nya dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.
Saat hendak keluar Ryhan hampir saja melupakan poto bayi nya dan mengambil poto tersebut dan langsung berlalu dari sana. "Dokter terima kasih" ucap Nana dengan senyum nya.
"Sama sama nona" jawab dokter dengan senyum nya.
Ryhan dan Nana masuk ke dalam mobil dan Ryhan langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman Weny yang sudah di beritahu oleh istri nya tadi.
"Itu mobil mereka?" tanya Hanah yang menunggu di gerbang hingga membuat Nana menatap ke arah nya dan menurunkan kaca mobil.
"Ini rumah mereka?" tanya Ryhan saat melihat Weny dana kedua orang tua nya yang berdiri di dekat pagar.
"Iya" jawab Nana.
"Kenapa mereka berdiri di sana? Apa mereka hanya pelayan di rumah itu?" tanya Ryhan dengan wajah bingung nya hingga membuat Nana menatap tajam ke arah nya.
"Bukan, Itu benar benar rumah mereka bodoh" ketus Nana dan membuat Ryhan menghentikan mobil nya dan Nana langsung turun dari mobil.
"Kalian lama sekali" teriak Hanah hingga membuat Ryhan dan seluruh orang yang ada di sana menutup telinga mereka begitupun dengan para penjaga.
"Mama jangan kebiasaan berteriak" ketus Weny pula akibat mama nya yang selalu saja berteriak itu.
"Berani nya kau membentak ku, Kau pikir kau itu lebih tua dari ku hah?" teriak Hanah lagi.
"Kalian pulang saja ke rumah dan tidak usah datang ke sini lagi, Jika orang ini terus terusan berteriak akan membuat keponakan ku tuli sebelum lahir" ucap Weny dengan wajah kesal nya namun menatap ke arah ibu nya.
"Kau..."
"Mama sudahlah, Ini ada Nana dan juga suami nya apa kalian tidak malu terus terusan berdebat di mana pun dan di depan siapapun hah?" ucap Wuqi dengan wajah kesal dan melototkan mata nya menatap anak dan istri nya itu.
"Shit apa benar seperti ini cara keluarga ini berbicara? Jika terus terusan berteriak akan membuatku tuli" guman Ryhan dengan mengusap telinga nya.
"Ah iya sayang, Mama lupa dengan mu"
"Pak bawakan mobil ini masuk ke dalam"
"Ayo sayang" ucap Hanah yang berbicara terhadap Nana terlebih dahulu setelah itu ke satpam dan setelah itu kembali ke Nana dan mengajak nya untuk masuk ke dalam rumah.
"Kau kenapa masih berdiri di sana?" tanya Hanah dengan wajah datar nya.
"Tidak ada yang mengajak saya masuk" jawab Ryhan dengan wajah polos nya.
Hanah hendak mengeluarkan suara dalam nya namun Wuqi melototkan mata ke arah nya membuat nya membuang nafas dan setelah itu langsung tersenyum menatap Ryhan. "Ayo sayang ikut masuk, Kau adalah menantu ku" ucap Hanah dengan senyum nya yang tulus menatap Ryhan.
Ryhan membalas senyuman itu dan mengikuti mereka berjalan bersamaan masuk ke dalam rumah yang cukup besar tersebut. "Sayang kau benar benar hamil, Selama ta sayang atas kehamilan mu ini" ucap Hanah dengan mengusap perut Nana yang buncit tersebut.
"Terima kasih ma" jawab Nana.
"Sebentar" Hanah mendudukkan tubuh nya begitupun dengan yang lainnya yang juga duduk di ruang utama saat ini.
"Kenapa ma?" tanya Weny dengan wajah datar nya hingga membuat Hanah menatap tajam ke arah nya.
"Kau kapan menikah? Dan kenapa sudah hamil saja?" teriak Hanah yang kembali membuat seluruh orang yang ada di sana menutupkan telinga mereka saat mendengar teriakan tersebut.
"Mama jangan kebiasaan berteriak" teriak Weny pula membuat Ryhan menatap pula ke arah nya.
Hanah membuang nafas panjang mencoba menenangkan diri yang masih hendak berteriak saat ini. "Sayang, Kau kapan menikah dengan lelaki ini? Apa dia lelaki baik dan apa kalian menjalin hubungan dahulu hingga bisa menikah?" tanya Hanah dengan senyum yang mengembang dan nada bicara yang sangat lembut.
.
.
.
.