
Bibir mereka sudah menempel sempurna, hingga detik selanjutnya terdengar ketukan kaca mobil dari luar.
Tuk tuk tuk
"****!" Dean melepaskan tautan bibirnya dari bibir Vey. Lalu membuka kaca mobil, melihat siapa orang yang sudah merusak momen indahnya.
Vey mengerjapkan matanya berkali-kali, jantungnya berdegup sangat kencang. Dean, lelaki itu baru saja mencium bibirnya, ciuman yang terasa begitu nyaman dan menghanyutkan.
"Heyy bro" Sapa seorang pria sesaat jendela mobil terbuka. Pria itu tersenyum lebar hingga menampilkan deretan gigi putihnya.
"Andrey! Lu Andrey kan?" Dean langsung keluar dari mobil, memeluk singkat pria itu. Pria pemilik nama Andrey itu membalas pelukan Dean, "yupss, gimana kabar lu?"
"Baik lah, lu pulang kapan?" Tanya Dean pada pria bernama lengkap Andrey Elvaro Geraldo itu.
Andrey Elvaro Geraldo, pria berdarah campuran Indo-Spanyol itu adalah sepupu Dean, sejak TK sampai dibangku SMA mereka selalu bersama, mungkin sudah seperti saudara kandung.
Mereka sangat akrab, namun sayangnya setelah lulus SMA, Andrey memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Amerika jurusan arsitektur. Kini Andrey sudah menjadi seorang arsitek hebat dan terkenal. Ia sering menggarap proyek-proyek besar dengan penghasilan yang luar biasa fantastis.
"Kemarin lusa, maaf ya bro gue kemarin gak sempet dateng ke pernikahan lu" Sesal Andrey.
"Iya gak papa, santai ajaa. Lu kapan nyusul gue bro?"
Andrey tertawa kecil, "secepatnya, makannya bantuin gue nyari calon istri".
"Astaga, cewek yang ngejar-ngejar lu aja banyak, kok masih minta dicariin haha" Sahut Dean.
"Iya sih, tapi kebanyakan matre. Gue gak suka cewek matre".
Merasa lapar dan bosan menunggu Dean, Vey pun keluar dari mobil, menghampiri suaminya yang tengah mengobrol dengan seorang pria di sisi kanan mobil.
"Kak, gue laper" Vey menarik-narik ujung lengan jas Dean.
Matanya beralih pada sosok pria bertubuh tinggi yang berdiri disamping Dean. Pria itu tersenyum sedangkan Vey hanya mengangguk singkat. Entahlah, Vey merasa jika Andrey bukanlah pria yang baik.
Mungkin karena lukisan tato yang memenuhi tangan kekar Andrey. Padahal tato bukanlah penentu baik buruknya seseorang.
Yang jelas Vey takut dengan pria bertato.
"Gue baru tau kalau lu punya adek cewek secantik ini, siapa namanya?" Andrey mengeluarkan raut mupengnya, membuat Vey takut dan bersembunyi di belakang tubuh Dean.
"Namanya Vey, dia istri gue" Titah Dean seraya menarik tangan Vey agar keluar dari persembunyiannya.
Vey menunduk takut, kedua tangannya memeluk lengan Dean. Mereka berdua lebih terlihat seperti sepasang ayah dan anak ketimbang sepasang suami istri.
"What? Dia istri lu? Huh sayang banget.. Padahal baru aja gue mau nggebet dia" Sentak Andrey. Tidak bisa dipungkiri lagi, Andrey memang sudah tertarik pada Vey sejak pandangan pertama. Tapi setelah tau gadis itu adalah istri Dean. Andrey bisa apa selain mundur?
Ayolah, Andrey bukan tipe lelaki yang akan mengharapkan gadis milik sahabatnya sendiri. Ia tidak sebrengsek itu.
"Enak aja lu, main gebet binih gue ckck" Gerutu Dean, namun lebih terdengar seperti candaan.
"Ckck. Eh kedalem yuk... Kayaknya acaranya dah mau mulai" Ajak Andrey.
"Lu duluan aja bro, gue masih ada urusan" Tolak Dean.
Andrey mengangguk, kemudian berjalan meninggal Dean dan Vey. "Gue tunggu di dalem".
"Urusan apa sih kak?" Vey menengadahkan kepalanya, menatap wajah Dean yang ternyata juga tengah menatapnya. Tatapan yang begitu aneh dan sulit di artikan. Bahkan Vey sempat berpikir jika suaminya itu sedang kerasukan.
Dean seperti tengah melucuti Vey dengan pandangannya. Ia menatap setiap inci tubuh Vey, lalu di akhiri dengan smirk mengerikan yang berhasil membuat bulu kuduk Vey meremang.
"Gue mau kasih kejutan buat lu" Dean memajukan wajahnya yang sontak membuat Vey mundur satu langkah.
Vey merunduk, tidak berani menatap mata Dean. "Ke-kejutan a-pa?" Tanyanya gagap karena saking nerveousnya.
"Lihat mata gue" Perintah Dean, sedangkan Vey hanya menggeleng sebagai jawaban. Dean benar-benar dibuat gemas oleh tingkah Vey, smirk di ujung bibirnya semakin tercetak dengan jelas.
Ia mengangkat dagu istrinya secara perlahan, mengusap bibir tipis berwarna merah darah itu dengan lembut. "Kita lanjutin yang tadi".
"Lanj---hmmphh..." Belum sempat Vey menjawab, Dean sudah ******* rakus bibir nya. Ciuman yang begitu panas dan terkesan memaksa, Vey hampir kehabisan nafas karena ulah Dean.
Vey mendorong dada Dean agar menjauh, namun bukannya menjauh, Dean malah semakin gencar melayangkan serangan demi serangan pada bibir Vey. Ia menekan tengkuk leher Vey dan memperdalam lumatannya.
"Tap---hmpphh.." Dean kembali ******* bibir Vey, berbeda dari ciuman sebelumnya yang terkesan kasar dan memaksa. Sekarang Dean melakukannya dengan cukup lembut.
Vey mulai menikmati ritme yang Dean ciptakan, ia membuka sedikit bibirnya, memberi celah lidah Dean untuk bermain didalam rongga mulutnya.
Dean membopong tubuh Vey dan mendudukkannya diatas kepala mobil tanpa melepaskan ciuman. Vey mengalungkan tangannya dileher Dean.
Sedangkan Dean melingkarkan tangannya di pinggang milik Vey, salah satu tangannya bergerak naik turun membelai punggung mulus Vey yang masih tertutup dress.
"Dean... What are you doing?" Suara melengking itu membuat kegiatan bercumbu antara Dean dan Vey berakhir.
"Lu gak liat?! Gue jelas-jelas lagi ciuman, masih nanya lagi! Ganggu banget njay!" Umpat Dean dalam hati.
Kehadiran Bella lantas membuat Vey gelapan, ia langsung berdiri dan mengeluarkan ekspresi innoncent.
"Biasalah, minta jatah" Jawab Dean asal.
Raut ketidaksukaan terpampang jelas di wajah Bella, namum ia masih mencoba tersenyum. "Masuk gih, acara udah mau di mulai".
Setelah mengucapkan itu Bella langsung berlalu pergi, mungkin dia kesal.
"Yang tadi belum selesai" Bisik Dean tiba-tiba.
Vey tersentak kaget, bohong jika ia tidak paham apa maksud ucapan Dean. "Belum selesai?" Desisnya, pura-pura tidak paham.
"Nanti lanjut di rumah". Tukas Dean
***
Vey menguap lebar, rasa kantuknya benar-benar sudah tidak bisa ditahan lagi. Berkali-kali ia melirik kearah Dean, lelaki itu sedang asyik berfoto ria bersama teman-temannya. Dan Vey tidak mau menganggunya.
"Haii nyonya Geraldo" Sapa seorang wanita bergaun panjang berwarna merah, dengan rambut pirang se bahu yang tergerai.
Kedua tangannya memegang wine. Aroma menyengat yang keluar dari wine tersebut membuat Vey pusing dan mual.
"Hai" Balas Vey. Kemudian wanita itu duduk disamping Vey sembari menyodorkan satu gelas wine yang ia bawa pada Vey. "Buat lu".
Vey menggeleng cepat, "gue gak suka minum, maaf".
"Lu harus coba dulu, cuma segelas... Gak bakal bikin lu mabuk kok" Ucap wanita itu lagi.
Vey menerimanya, "makasih, maaf kalau boleh tau nama lu siapa?"
"Rena Devya Gainesta, lu bisa panggil gue Rena" Jawabnya.
Mata Vey membulat sempurna, apa sekarang ia sedang berhadapan dengan mantan pacar Dean? Entah kenapa Vey merasa minder, Rena sangat cantik dan seksi. Ada satu kegelisahan yang melanda diri Vey, ia takut Dean kembali pada Rena.
Mereka sudah lama saling mengenal, mereka pastinya sudah memahami satu sama lain. Sedangkan Vey? Hanyalah seorang gadis korban perjodohan yang beruntung dijodohkan dengan lelaki sempurna seperti Dean.
"Kenapa? Ada yang salah?" Rena menautkan sebelah alisnya, heran dengan ekpresi wajah Vey yang nampak terkejut.
"E-eh enggak ada kok" Elak Vey seraya menunjukkan cengiran kudanya.
"Minum, gue yakin lu bakalan suka"
Vey menyesap secara perlahan gelas berisi wine tersebut, rasanya tidak terlalu buruk, meski awalnya rasa pahit langsung mendominasi namun lama-lama kelamaan rasa pahit itu menghilang. Tanpa sadar Vey sudah menghabiskan segelas wine nya.
Author : aku gk pernah minum wine:" jdi gtw rasanya yg bener kayak gimana. Tapi katanya sih rasanya pahit-pahit enak gimana gitu. Hehe
Vey mulai merasakan pening dan berat pada kepalanya, pandangan matanya pun mendadak blur. Kesadaran Vey mulai tumbang meski belum sepenuhnya, ia masih bisa mendengar samar-samar perkataan mantan kekasih Dean itu.
"Hey bocah! Gara-gara lu Dean gak mau balikan lagi sama gue, gue benci banget sama lu! Gue pengin lu mati! Tapi gue gak sebaik itu, gue mau bikin lu menderita dulu sebelum lu mati!"
"Gue bakal beri kesempatan lu bahagia sama Dean. Tapi inget, itu hanya sementara! Setelah itu gue bakal bikin lu menderita, gue akan bikin pernikahan kalian hancur! Karna selamanya Dean itu adalah milik gue, camkan itu ******!"
Vey meringis kesakitan sembari mengurut pelipisnya. "Maksud lu apa sih?"
Rena menyunggingkan smirk nya, menatap Vey dengan tatapan meremehkan. "Lu tuh gak level jadi saingan gue, tapi lu udah jadi penghalang antara gue sama Dean, jadi gue terpaksa nyingkirin lu. Bocah ingusan!" Hardirnya, lalu pergi begitu saja. Meninggalkan Vey yang mulai kehilangan kesadaran.