
Dear D
Aku rindu kamu, rindu dengan masa kebersamaan kita dulu. Mengingat kejadian demi kejadian itu selalu membuatku tersenyum, tertawa dan selalu diakhiri dengan tangisan. Kenapa? Kenapa harus begitu?
"Kak..." Vey mengguncangkan pelan tubuh Dean.
Dean hanya mengerang tapi tetap tidak membuka matanya.
"Kak...bangun" Vey kembali mengguncangkan tubuh Dean. Lebih kencang dari sebelumnya.
Dean menggeliat kesal, lalu menepis tangan Vey dari tubuhnya secara kasar. "Apaan sih?!"
"Gue laper, tapi di dapur gak ada makanan"
"Bodoamat, beli makanan sana" Dean melemparkan dompetnya pada Vey, lalu kembali memejamkan mata dan menaikkan selimutnya hingga sebatas leher.
Vey membuka dompet suaminya itu dengan ragu, ada banyak jejeran kartu kredit yang tentunya dengan limit yang tidak sedikit dan lembaran uang ratusan ribu yang membuat dompet suaminya menjadi sangat tebal. Inilah definisi dompet tebal yang sesungguhnya.
Vey hanya mengambil dua lembar uang berwarna merah, lalu meletakkan dompet berwarna hitam itu di atas nakas, walaupun ia sempat tergoda dengan kartu platinum milik suaminya itu.
Akal liciknya berkata untuk mengambil kartu itu dan membawanya ke mall, membeli barang-barang mewah yang sebelumnya hanya bisa ia lihat lewat layar ponselnya, lagi pula Dean tidak akan jatuh miskin hanya karena kehilangan satu kartu kredit keramatnya itu.
Tapi jiwa hemat dalam diri Vey masih berkobar, ia tidak mau membuang-buang uang begitu saja, apalagi itu bukan miliknya sendiri.
Vey melangkah menuju kafe dengan langkah berat. Jam masih menunjukkan pukul 7, dan suasana kafe masih sepi, hanya ada beberapa orang disana.
Vey memilih nasi goreng dan sup iga untuk menu sarapannya pagi ini, tidak lupa ia juga memesan segelas susu kambing murni.
10 menit kemudian pesanan Vey datang, ia langsung memakannya dengan lahap. Sebagai penutup, ia meminum susu kambing murni yang tadi ia pesan, ini adalah kali pertama bagi Vey meminum susu kambing murni sebelumnya ia hanya meminum susu kaleng biasa yang di jual di warungan.
Lumayan enak, tapi Vey tidak terlalu menyukainya. Ia sudah terlanjur di buat kecewa dengan harga susu kambing murni tersebut yang harganya setara dengan harga 3 susu kaleng.
"Vey?"
Suara itu membuat kepala Vey yang tengah terpangku di atas meja mendongak ke arah sumber suara, "Artha!"
Ya, lelaki itu adalah Artha Braynne Geraldo, adik kandung suaminya yang sekaligus sekarang sudah menjadi adik iparnya. Walaupun belum lama saling mengenal, namun Vey sudah sangat akrab dengan Artha, mungkin karena mereka seumuran jadi obrolan mereka nyambung dan tidak kaku seperti saat bersama Dean.
Vey mengamati penampilan Artha dari ujung rambut sampai ujung kaki, Artha mengenakan pakaian santai yaitu sebuah kaos oblong biasa yang dipadukan dengan celana pendek selutut. Sangat santai dan terkesan malu-maluin apalagi dikenakan di area apartement bintang lima seperti ini, "lu mainnya jauh amat kak?"
Artha mengambil posisi duduk di samping Vey. Kemudian menatap Vey dengan tatapan serius, kalau sedang begini Artha terlihat sangat mirip dengan Dean, mungkin Artha adalah versi Dean saat muda.
Canggung, gadis yang tengah ditatap itu mendadak merasa canggung. "Jangan kesurupan disini dong ogeb" Cerocos Vey seraya menoyor kepala Artha cukup keras, buktinya Artha kini tengah merintih kesakitan sambil mengelus-elus kepalanya.
"Sakit ****!"
"Maap deh maap, lagian lu kenapa nglamun gitu?"
"Vey gue kurang apa coba? Gue kan dah ganteng, kaya, baik, manis, keren, tapi kenapa Reta putusin gue?" Keluh Artha.
Reta, gadis kelas 2 SMA yang masih berusia 16 tahun itu sudah Artha pacari selama 6 bulan belakangan ini, Reta memang benar-benar membuat Artha hampir gila. Bagaimana tidak? Reta secara tiba-tiba memutuskan hubungan secara sepihak dengan alasan cemburu. Yaa, ia cemburu dengan kedekatan Artha dan Vey.
"Masalah awalnya apa?" Tanya Vey, sedang berada dalam mode serius.
"Dia cemburu sama lu" Jawabnya, murung.
"Kok bisa?" Vey terlonjak. Bukankah Reta sudah tau kalau Vey adalah kakak ipar Artha?
"Gue post foto lu di instagram trus captionnya 'kesayangan' " Artha merengut sedih. Ia tidak mengira, hanya karena itu Reta memutuskannya. Ya, meskipun Artha seorang playboy yang hobinya mengencani banyak wanita, membuat baper para wanita tanpa memberi kepastian, tapi cintanya pada Reta tidak main-main.
Ia baru kali ini merasakan jatuh cinta, bahkan setelah puluhan kali berpacaran semasa hidupnya.
"***** sih lu, yaudah besok lu ajak Reta ketemuan, entar biar gue yang jelasin"
"Gue sayang banget sama dia Vey, gue gak mau putus" Rengek Artha.
Sekalinya playboy jatuh cinta, ia akan terus mempertahankan apa yang dia punya dan tidak akan melepaskannya begitu saja. Jika memang harus dilepaskan, ia tidak akan mau menjadi korban yang 'ditinggalkan'.
Ia ingin menjadi pelaku yang 'meninggalkan'.
"Udah-udah, besok gue bantu jelasin ke Reta, gue yakin dia mau dengerin dan balik lagi ke lu"
Artha tersenyum lebar, lalu langsung memeluk Vey, entah karena refleks atau memang dasarnya ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. "Makasih dedek Vey tersayang"
Ekhem
"Main peluk-peluk aja lu bocah, sana kuliah yang bener" Ketus Dean, yang tiba-tiba datang bagai panu.
Tidak seperti di sinetron atau novel, dimana sang lelaki sengaja mengikuti gadisnya lalu tiba-tiba datang saat gadisnya tengah bermesraan dengan lelaki lain. Dean sama sekali bukan tipe orang yang senang mengikuti orang lain, apalagi mengikuti Vey? Mungkin itu adalah hal yang mustahil Dean lakukan.
Dean baru saja bertemu dengan sekretarisnya, membahas sedikit masalah yang terjadi di perusahaan, dan saat akan kembali ke apartement ia secara tidak sengaja melihat Vey dan Artha tengah berpelukan.
Pemandangan yang menyebalkan di pagi yang indah ini.
"Ciee cemburu hahaha, ketahuan nih" Goda Artha, cekikikan.
"Cemburu? Sorry lah yah, gue gak se menyedihkan itu....sampe-sampe gue cemburu sama adek sendiri" Elak Dean.
Memang benar Dean tidak cemburu, hanya saja ia tidak suka apa yang sudah menjadi miliknya disentuh oleh orang lain. Termasuk oleh adik kandungnya sekalipun.
Protektif? Begitulah Dean, ia memang tidak suka berbagi.
"Cemburu bilang aja bang, lagian gue cuma mau curhat ke Vey doang kok"
"Jangan cemburu dong kak" Kekeh Vey dengan nada menggoda.
"Serah deh, Vey balik sekarang, lu harus ikut gue ke acara reunian SMA" Dean menarik lengan istrinya itu secara paksa.
"Ehhh bentar-bentar gue belum bayar" Vey menarik lengannya dari genggaman Dean.
Ia berlari menuju kasir sedangkan Dean mengekorinya. "Total berapa mba?"
"150 ribu mba" Ucap waitress sembari menyodorkan nota.
"Mahal amat mba, padahal di warung-warung juga palingan cuma 50 ribu" Cibir Vey.
Dean menghela nafas kasar, betapa memalukannya Vey saat ini. Bagaimana bisa Vey menyamakan harga makanan warungan dengan harga makanan di hotel bintang lima?
Percuma dong Dean kaya raya kalau sang istri masih hemat kelewat irit begini? Siapa yang akan menghabiskan uangnya kalau bukan Vey?
Dean menyodorkan dua lembar uang ratusan ribu pada waitress lalu segera membawa Vey pergi, "ambil aja kembaliannya mba".
Sampai di apartement, Vey berdecak kesal. "Lu mah buang-buang duit aja".
"Lu jadi istri orang kaya agak boros napah? Jangan terlalu hemat, lu tadi bikin malu tau gak?"
"Harusnya kakak bersyukur punya istri kayak gue, emang lu mau punya istri yang sukanya shopping-shopping ngabisin duit suami?" Dengus Vey.
Dean tertawa terbahak-bahak, "Heh duit gue tuh banyak, jangankan buat shopping buat beli mall nya sekalipun duit gue masih sisa banyak kali" Tuturnya, dengan nada menyombongkan diri.
"Sombong lu! Kena karma baru tau rasa!" Vey mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Dean, dengan tatapan mata yang tajam.
"Lu yang bakalan kena karma karena udah durhaka sama suami"
Vey mendadak diam. Se marah dan se kesal apapun ia, ia tetap tidak boleh membentak Dean, Dean adalah suaminya dan membentak suami itu termasuk durhaka. Orang yang durhaka akan mendapatkan dosa, dan orang yang berdosa akan masuk neraka.
Begitulah pemikiran Vey. Selain itu Sang mama juga sudah berpesan pada Vey untuk berbakti pada suami.
"Maaf deh maaf, lagian sih lu ngeselin" Titah Vey, dengan kepala merunduk.
Melihat istrinya yang tengah merasa bersalah itu, membuat Dean gemas.
Padahal Vey tidak bersalah, Dean malah suka dengan sifat Vey yang menurutnya unik dan langka. Memang jaman sekarang masih ada wanita yang irit mlintir seperti Vey?
Dean menahan tawanya, lalu mengelus lembut puncak kepala Vey. "Jangan diulangi lagi ya".
Bahu Vey naik turun, gadis itu menangis tersedu-sedu. Tanpa disuruh, ia langsung memeluk Dean, membenamkan wajahnya pada dada bidang milik suaminya. "M-maaf yaa".
Dean mengernyitkan alisnya, heran dengan tingkah istrinya yang sangat aneh dan lebay itu. Sebenarnya apa yang harus ditangisi? Ayolah, bahkan Dean tidak serius dengan ucapannya tadi.
"Iya sayang" Dean membalas pelukan Vey.
Dean mulai tau sifat Vey, Vey adalah gadis yang perasa dan mudah tersinggung atau istilah kerennya BAPERAN, dan itu artinya ia harus berhati-hati dalam menghadapi Vey. Ia tidak boleh mengucapkan kata-kata yang bisa melukai hati Vey mengingat sang istri mudah terbawa perasaan dan juga cengeng.