
"Tenang aku tidak berniat untuk balas dendam kepadmu, Kau terlalu mencintai Ryhan makanya menyalahkan ku dan tidak terima jika Ryhan salah waktu itu hingga saat ini" ucap Beri dengan senyum nya kembali.
"Hah? Dia mengetahui isi pikiranku? Apakah dia peramal?" guman Nana kembali.
"Bagaimana ingat? Apakah kita akan tetap di dalam mobil ini?" tanya Beri.
"Kau tidak ingin pulang kerumahmu?" tanya Nana.
"Kau tidak merindukanku hingga segera menyuruhku pulang kerumah?" tanya Beri dengan senyum menggoda Nana yang masih di rasanya masih kecil itu.
"Tidk ada orang di rumah, Tidak mungkin aku mengajak lelaki masuk ke dalam" jawab Nana dengan wajah datar nya.
"Yasudah aku akan menunggu di luar, Sudah cukup lama tidak mengobrol dengan anak bodoh seperti kau ini" ucap Beri dengan senyum nya.
"Baiklah, Ayo turun" ajak Nana dan turun terlebih dahulu. Nana turun dari mobil dan mengambil anak nya dan setelah itu berjalan masuk ke dalam pekarangan rumah nya.
"Nona" sapa bi Ana saat melihat Nana dan Devan sudah kembali.
"Ah tuan" sapa pak Beny dengan sopan nya.
"Aku akan masuk terlebih dahulu" ucap Nana dengan wajah datar nya dan berjalan masuk ke dalam rumah dan setelah itu kembali mengunci rumah nya tersebut agar tidak ada siapapun yang masuk.
"Tuan mengenali nona Nana?" tanya bi Ana.
"Kalian sering izin keluar apakah kemari?" tanya Beri dengan wajah biasa saja.
"I-iya tuan" jawab pak Beny.
"Oh" jawab nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang ada di depan rumah itu.
"Eh, Tuan tidak marah?" tanya pak Beny.
"Jangan memancing amarah nya" bisik bi Ana.
"Kenapa? Mau aku memarahi kalian?" tanya Beri dengan wajah datar nya.
"Ah t-tidak tuan" jawab bi Ana.
"Kenapa Delina lama sekali di dalam?" tanya Beri yang belum mendapati Nana keluar dari rumah nya.
"Eh itukan panggilan tuan Ryhan kepada nona, Apakah nda dan nona Nana saling mengenal sebelum nya tuan?" tanya pak Beny dengan wajah bingung nya di tambah mendengar panggilan yang selalu di panggilkan oleh Ryhan kepada Nana.
"Maaf menunggu lama" ucap Nana dengan Devan yang berada di gendongan nya dengan baju yang berbeda dari tadi menandakan kedua nya sudah selesai bersih bersih.
"Kalian kenapa masih disini? Bukankah aku bilang jangan pernah kemari lagi?" tanya Nana dengan wajah datar nya.
"Tapi nona kami tidak yakin membiarkan anda sendiri di rumah sebesar ini" jawab bi Ana sedangkan Beri hanya memasang wajah datar nya.
"Aku bersama dengan anak dan suamiku tidak yakin apanya kalian meninggalkan ku sendiri?" tanya Nana dengan wajah datar nya.
"Sudahlah biarkan dia kembali bekerja di tempatmu membantu kau di rumah, Dia setia selama ini dengan mu dan selalu kemari meskipun sudah bekerja di rumahku namun selalu menyempatkan waktu kemari" jelas Beri membuat Nana langsung menoleh ke arah nya.
"Kau tau dari mana dia setia terhadap keluarga kecilku? Dia bukannya bersekongkol dengan banyak orang untuk membodohiku?" tanya Nana dengan wajah kesal menatap Beri.
"Duduk dahulu, Bawa Devan kedalam" ucap Beri dengan mengambil Devan dari Nana dan memberikan nya kepada bi Ana.
"Tapi Devan tidak...."
"Devan di dalam dahulu tidak apa apa ya nak, Pak guru ingin berbicara sebentar dengan mama mu" potong Beri dengan senyum nya menatap Devan.
"Devan tidak boleh ikut duduk di sini?" tanya Devan.
"Bukan tidak boleh, Tapi Devan main di dalam dahulu bersama pak Beny dan bi Ana ya" jawab Beri sedangkan Nana hanya termenung saja.
"Baik pak" jawab Devan.
"Ayo tuan" ajak bi Ana dan langsung menggendong Devan dan membawa nya masuk ke dalam rumah begitupun dengan pak Beny yang mengikuti mereka berdua.
"Kenapa hanya termenung? Tidak mau membuatkan ku makan atau memberikanku cemilan?" tanya Beri kepada Nana yang sedari tadi melamun.
"Ambil saja sendiri di dalam" jawab Nana dengan wajah datar nya.
"Kau tidak pernah berubah dari dahulu, Selalu menyuruh tamu yang menyiapkan makan" ucap Beri dengan mengusap kepala wanita itu.
"Jangan lancang" ucap Nana dengan menepis tangan lelaki itu.
"Baik baik" jawab Beri dan menurunkan tangan nya.
"Kau kapa kembali ke indonesia?" tanya Nana dengan wajah datar nya.
"Beberapa tahun lalu" jawab Beri.
"Kau tidak menemuiku dan Ryhan?" tanya Nana.
"Bukan tidak, Saat perjalanan hendak menuju kemari aku terjebak macet karna waktu itu terjadi kecelakaan di jalanan namun......"
"Namun? Namun apa?" tanya Nana saat ucapan Beri yang terpotong.
"Kau sudah tidak masalah mengingat kejadian buruk itu?" tanya Beri yang takut sekali membuat Nana kembali sedih.
"Kenapa? Kau mengetahui siapa pelaku yang menabrak aku dan Ryhan waktu itu?" tanya Nana dengan tersenyum menatap Beri.
"Jelas saja, Aku mengingat semua nya setelah beberapa hari lalu, Aku mengingat dengan jelas pelaku nya, Dia melarikan diri dari mobil dengan cepat sebelum aku lupa semua nya namun setelah itu aku tidak ingat lagi apa yang terjadi dan saat bangun bangun aku sudah berada di rumah sakit dan tidak mengingat apapun, Hingga suamiku pergi meninggalkan ku untuk selama nya, A-aku tidak ingat dengan nya, Bukankah aku ini istri durhaka? Saat suami hendak menghembuskan nafas terakhir malah menatap dengan tatapan bingung bukannya memberi kesan baik, Aku malah sama sekali tidak bertemu ataupun berbicara kepada nya, Hah" kepala wanita itu langsung menunduk setelah bercerita sepanjang itu.
"Kenapa tidak menangis? Takut Devan melihatmu?" tanya Beri.
"Kenapa? Kau menyuruhku untuk menangis?" tanya Nana dengan menatap kesal ke arah Beri.
"Tidak menyuruh, Tapi jika kau mau menangis menangis saja, Jangan di pendam nanti dada mu akan sesak" jawab Beri dengan senyum nya.
"Kau kenapa kembali ke indonesia? Dan apa kau tau tentang kecelakaan waktu itu?" tanya Nana.
"Aku berniat kembali ke indonesia ingin kembali mengejar wanita yang sejak dulu aku cintai, Namun saat aku tau dia yang berusaha membunuh kalian dan aku melihat dia pergi dari mobil waktu itu aku mengubah niat ku" jawab Beri dengan senyum nya.
"Kau cukup setia, Itu sudah sangat lama dan kalian berpisah pun sudah sangat lama dan kau masih saja mengingat dan mencintai nya" ucap Nana dengan nada mengejek nya.
"Apa kau tau saat aku tau Dara yang menghilangkan nyawa Ryhan aku langsung melaporkan nya kepada polisi, Dia sekarang sudah di penjara dan saat itu pula aku selalu mengawasi kau dan Devan, Aku juga tau tentang banyak nya orang berbohong kepadamu dan tidak mengatakan yang sebenarnya" ucap Beri.
"Kenapa kau tidak memberitahuku?" tanya Nana.
"Sekarang aku memberitahunya kepada mu" jawab Beri yang kembali mengusap kepala Nana.
"Cih, Lepaskan tangan mu" ketus Nana yang kembali menepis tangan Beri yang berada di kepala nya.
"Bocah ini berani nya berteriak kepadaku" ketus Beri.
"Semenjak lupa ingatan mama kak Anggi selalu mencoba mendekatiku, Dia bilang dia adalah ibu kandungku namun dengan beberapa percobaan dia yang mencoba melenyapkanku dari dunia ini membuatku tidak yakin dengan dia adalah ibuku" ucap Nana yang kembali menundukkan kepala nya.
"Dia benar benar ibumu dan sekarang dia juga di penjara bersama dengan orang yang sudah mencelakaimu, Mereka yang mencoba menyakiti orang lain akan di hukum dengan setimpal" jawab Beri dengan senyum nya.
"Kau mengetahui tentang ini?" tanya Nana.
"Jelas saja" jawab Beri dengan senyum nya.
"Setelah kepergian Ryhan apa kau tidak sadar dengan ada nya orang yang selalu mengikuti mu?" tanya Beri. Nana dengan segera langsung menggelengkan kepala nya menandakan tidak sadar.
"Lihat itu" ucap Beri dengan menunjuk ke arah mobil yang cukup jauh terparkir dari rumah hingga membuat mata Nana sedikit menyipit untuk melihat nya.
"Itu adalah orangku yang selalu mengikutimu, Mereka juga yang menghabisi para anak buah ibu mu yang mencoba mencelakai mu dan Devan" ucap Beri.
"Kau perhatian sekali kepadaku, Apa kau menyukaiku?" tanya Nana dengan kembali mengejek Beri.
"Jika iya bagaimana?" tanya Beri yang tidak mudah untuk di ejek.
"Cih tidak boleh menyukaiku, Yang hanya boleh menyukai hanya Ryhan begitupun dengan Ryhan yang hanya boleh menyukai nya hanya aku" jawab Nana dengan membuang pandang nya.
"Cih, Siapa yang suka dengan bocah kecil seperti mu ini? Kau tau sendirikan sejak kecil siapa wanita yang paling aku sukai?" tanya Beri dengan menyentil dahi Nana.
"Sakit" teriak Nana.
"Kemari" ucap Beri dengan menarik kepala itu dan mengusap dahi Nana.
"Apakah kau yang menjebloskan Dara ke penjara?" tanya Nana.
"Em" jawab Beri dengan tangan yang masih mengusap dahi Nana.
"Kenapa kau melakukan itu? Bukannya kau sangat mencintai nya?" tanya Nana.
"Cinta bukanlah alasan untuk melindungi mereka yang bersalah" jawab Beri.
"Apa ada perubahan pada otakmu setelah meninggalkan indonesia?" tanya Nana dengan melepaskan kepala nya yang di usap oleh Beri.
"Apa kau mau menemui ibumu?" tanya Beri.
"Tidak, Dia sudah mencoba membunuhku dan Devan" jawab Nana.
"Tidak boleh seperti itu, Kau harus memaafkan ibumu, Biarpun ibumu sudah mencoba mencelakai keluarga kecilmu dia tetaplah ibumu" ucap Beri kembali.
"Dia dari kecil sama sekali tidak pernah menemuiku dan keluarga ku, Apa kau ingat aku selalu di ejek karna tidak memiliki ibu?" tanya Nana.
"Kenangan yang buruk tidak usah di ingat, Ambil pelajran nya saja" jawab Beri. Nana terdiam dan kembali termenung.
"Apa kau tidak memiliki rencana untuk pindah dari sini untuk melupakan......"
"Aku bukan seperti mu yang menghilang untuk melupakan segala nya, Baik itu hal menyakitkan ataupun tidak" potong Nana yang mengetahui arah bicara Beri.
"Kenangan di tempat ini terlalu banyak, Aku tidak akan meninggalkan nya sampai kapanpun meskipun hatiku sedikit sakit mengingat apa yang telah terjadi namun aku tidak akan meninggalkan tempat ini untuk selama nya" ucap Nana kembali dengan pandangan yang kosong menatap ke depan.
"Orang orang di sekitarmu yang sudah membohongi mu apakah kau mau memaafkan mereka?" tanya Beri.
"Memaafkan sangatlah mudah namun jika melupakan aku tidak terlalu yakin, Saat ini aku sudah merasa benar benar memaafkan mereka namun hatiku belum sepenuhnya melupakan apa yang di lakukan oleh mereka kepadaku dengan berbohong hal sebesar ini kepadaku dan Devan" jelas Nana. Beri langsung tersenyum saat mendengar penjelasan tersebut.
"Wajar jika kau masih belum bisa melupakan nya itu tidak jadi masalah, Teruslah berpikir seperti ini, Apapun keputusanmu aku selalu mendukungmu dan berada di belakangmu" ucap Beri dengan senyum nya dan kembali mengusap kepala Nana.
"Aku tidak memperdulikan apapun saat ini, Aku hanya ingin bertemu Ryhan saja, Aku benar benar merindukannya" mata wanita itu seketika terpejam mengingat lelaki yang dicintainya sudah meninggalkannya dan air matanya menetes dengan sendiri.
"Kau menangis seperti ini tidak ada gunanya lebih baik kau mengirimkan banyak doa untuknya" jawab Beri dengan senyumnya.
"Devan bakal gantiin papa buat mama" ucap Devan yang bisa mendengar seluruh percakapan antara wali kelasnya dan juga ibunya.