Dear D

Dear D
Episode 144



"Kita hari ini tidak masuk saja ya? Kita di apartemen saja" ucap Ryhan dengan suara yang tidak terlalu terdengar akibat dia saat ini berbicara di perut istri nya.


"Hey tidak bisa seperti itu, Kau pikir perusahaan itu punya keluarga mu hingga seenak nya saja mau masuk atau tidak?" ketus Nana saat medengar ucapan suami nya tadi.


"Memang iya itu perusahaan keluarga ku, Itu perusahaan papa" Ryhan menjawab dalam hati nya dan belum bisa mengungkapkan secara nyata tentang status keluarga nya terhadap istri nya.


"Sudah ayo bangun, Aku sudah mamasak sarapan" ucap Nana dengan berusaha membangunkan suami nya tersebut yang masih saja menempel dengan nya itu. Ryhan masih belum bangun dan malah semakin mempereratkan pelukan nya terhadap istri nya tersebut.


"Jika kau tidak mau bekerja hari ini biar aku saja, Pasti banyak orang yang menunggu ku di kantor terutama kak Ten, Dia kemarin berjanji untuk....."


"Berjanji untuk apa? Apa yang kau janjikan dengan nya?" tanya Ryhan yang langsung mengangkat kepala nya saat mendengar ucapan istri nya.


"Makanya kau cepat bangun dan hentikan kehendak Ten yang ingin mengajakku kemanapun nanti, Cepat" ketus Nana dan langsung berlalu dari sana saat sudah bisa terlepas dari suami nya tersebut.


Nana terlebih dahulu menuju ke dapur kembali sedangkan Ryhan yang tidak mau istri nya berjanji an dengan siapapun pun langsung menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya dan setelah selesai mandi dia langsung mengenakan pakaian kerja nya dan setelah itu langsung menuju ke dapur ke dekat istri nya.


Nana dengan segera menghabiskan makanan nya yang tersisa sedikit itu dan terlihat Ryhan langsung duduk di atas kursi di hadapan istri nya. "Cepat sekali makanan mu habis" ucap Ryhan saat melihat makanan istri nya yang sudah habis.


"Kau yang terlalu lama di kamar" jawab Nana dan meminum susu yang di buatkan oleh nya tadi.


Nana berdiri dari duduk nya dan menuju ke pencuci piring dan membersihkan piring yang di pakai nya tadi. "Kau pikir dengan kau menyembunyikan saos yang aku beli kemarin aku kehilangan akal untuk memakan makanan pedas?" guman Nana dengan melototkan mata nya menatap suami nya yang sedang membelakangi nya.


"Sama sekali tidak sayang, Aku pintar tidak sama seperti mu" guman nya kembali dengan masih melototkan mata nya menatap suami nya.


Ryhan yang merasa ada yang mengganggu di belakang nya pun langsung membalikkan pandang nya begitupun dengan Nana yang dengan sigap langsung membalikkan pandang nya juga dan kembali mencuci piring yang di pakai nya tadi. "Kau melihat ku tadi?" tanya Ryhan.


"Kau tidak lihat aku sedang apa?" tanya balik Nana dan meletakkan piring ke tempat nya. Ryhan tidak menjawab nya dan dengan segera menyelesaikan makan nya.


Saat rumah sudah beres kedua nya langsung keluar dari apartemen dan menuju lift hingga lift sampai ke bawah kedua nya langsung keluar dan menuju ke mobil. Kedua nya langsung masuk ke dalam mobil dengan Nana yang menatap ke arah kaca melihat apa dia nampak kusut atau tidak dan ternyata tidak. Ryhan langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang menuju ke kantor.


"Kau jangan berani dekat dengan lelaki mana pun, Ingat" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan menghentikan mobil nya tepat di halaman perusahaan nya.


"Kau hanya tau melarang saja, Kau tidak sadar dengan diri mu yang juga selalu dekat dengan wanita hah?" ketus Nana dengan melototkan mata nya menatap suami nya tersebut.


"Aku dekat dengan mereka hanya karna pekerjaan" jawab Ryhan.


"Sama aku juga, Aku dekat dengan mereka juga karna bekerja, Aku permisi" balas Nana dan langsung keluar dari mobil tersebut. saat dia keluar dia berpapasan dengan Fany yang juga baru saja sampai.


"Nana" sapa Fany saat melihat Nana yang baru saja keluar dari mobil.


"Eh kak Fany" sapa balik Nana dengan senyum nya. Ryhan yang melihat Fany sedang berbicara dengan istri nya langsung keluar dari mobil nya juga.


"Pak Ryhan" sapa Fany kepada Ryhan pula. Ryhan tidak menjawab nya dan langsung berjalan masuk ke dalam kantor tanpa memperdulikan sekitar nya.


"Kau kemari bersama dengan pak Ryhan?" tanya Fany dengan menatap lekat wajah Nana.


"Iya" jawab Nana yang nampak ragu saat menjawab jujur.


"Sering bersama?" tanya Nana yang tidak ingat kejadian kemarin yang di mana dia bertemu dengan Fany di minimarket.


"Kau kemarin dan juga pak Ryhan di minimarket bersama bukan? Dan malam waktu kita makan bersama kau dan pak Ryhan......"


"Hey" sapa Ten yang baru saja turun dari mobil nya hingga membuat ucapan Fany terpotong.


"Kau ini mengagetkan saja" ketus Fany dengan wajah kesal nya menatap Ten yang mengagetkan nya.


"Maaf, Kalian berdua terlalu asik mengobrol dan tidak sadar saat aku datang makanya aku menyapa" jawab Ten.


"Aku permisi masuk dahulu ke dalam" pamit Nana.


"Hey bersama" teriak Fany dan juga Ten bersamaan hingga membuat Nana menatap kedua nya secara bergantian.


"Kalian berdua kompak sekali, Apa jangan jangan.kalian ini...."


"Mana mungkin" potong kedua nya saat mengetahui apa yang akan di ucapkan Nana.


"Kau ini, Kenapa kau meniru ucapan ku?" ketus Fany dengan memukul bahu Ten.


"Enak saja, Kau itu yang kenapa meniru ucapan ku" ketus Ten balik.


"Saya permisi masuk terlebih dahulu, Dah" pamit Nana dan langsung masuk ke dalam kantor dengan berlari perlahan akibat malas mendengar perdebatan saat ini.


"Ini gara gara kau Nana pergi" ketus Ten kepada Fany.


"Na tunggu" teriak Ten dan langsung menyusul Nana yang sudah menaiki lift.


"Berani nya kau menyalahkan ku" teriak Fany dan langsung menyusul Ten maupun Nana. Lift yang di naiki Nana dudah mulai naik ke atas hingga membuat Ten dan Fany yang baru sampai tertinggal berdua di luar dan terpaksa kedua nya menunggu lift berikut nya.


Saat lift berikut nya sudah terbuka kedua nya langsung naik dengan tak saling sapa dan Fany memilih membelakangi Ten yang membuat nya kesal pagi ini.


Nana menggelengkan kepala nya mengingat perdebatan antara Fany dan juga Ten tadi dan melangkahkan kaki nya keluar dari lift dan berjalan lumayan jauh menuju ke tempat nya. "Ah" Nana menghentikan langkah kaki nya dengan tangan satu nya memegang dinding dan tangan satu nya lagi memegang kepala nya.


"Astaga kepala ku kenapa tiba tiba sakit seperti ini?" tanya Nana kepada diri nya sendiri dengan wajah yang memerah akibat menahan sakit di kepala nya.


"Nana" teriak Fany saat melihat Nana yang nampak lemah.


.


.


.


.