Dear D

Dear D
20. Cemburu?



Dear D


Karena pada kenyataannya, bukan PERPISAHAN yang ku takutkan, melainkan rasa KESEPIAN dan hampa tanpa adanya dirimu.


"Bantu apa?"


Ting


Bel apartement berbunyi, Dean mendengus pelan, "siapa sih? Ganggu aja."


"Minggir dulu kak, gue mau ngecek siapa yang dateng." Ucap Vey, seraya melepaskan tangan Dean yang masih melilit di pinggangnya.


Vey tersenyum sumringah saat mendapati sosok yang muncul dari balik pintu, dan tanpa aba-aba Vey langsung memeluk erat sosok tersebut, "Kris!!!"


Kris membalas pelukan Vey, lalu mengusap lembut puncak kepala Vey, ia bahkan lupa kapan terakhir kali Vey memeluknya, sungguh! Ia sangat merindukan Vey. "Dih main peluk aja lo hahaha..."


"Gue kira lo udah gak di Korea," desis Vey, sembari mempersilakan Kris agar masuk ke dalam apartement.


"Belum lah, gue masih ada urusan di Korea."


"Oh iya kan lo seniman yang very very famous, pasti urusan bisnis kan?" Walau sudah lama berpisah dan hilang kabar dengan Kris, Vey tidak benar-benar lupa pada Kris.


Vey sebenarnya masih suka mencari tau tentang Kris atau istilah kerennya stalking, dulu Vey tidak pernah absen meng-stalking semua media sosial Kris.


Vey tau jika cinta pertamanya itu telah menjadi seorang seniman terkenal.


Dulu beberapa kali, Vey pernah mencoba untuk menghubungi Kris melalui DM instagram, dan kalian tau bagaimana hasilnya?


Tentunya tidak menghasilkan apa-apa, karena hingga saat ini pun sepertinya DM tersebut belum Kris buka.


Akhirnya pun Vey menyerah, dan beranggapan bahwa Kris telah melupakannya.


Kris menggeleng, "enggak..."


"Ya terus?"


"Gue cuma pengin ketemu lo aja," titah Kris.


Entah bagaimana, ucapan Kris tadi berhasil menarik ujung bibir Vey membentuk sebuah senyuman. "Idihh..."


"Vey gue bawa sesuatu buat lo," Kris menyodorkan kotak hitam berukuran kecil pada Vey, yang sebelumnya Kris sembunyikan di balik jas abu-abu yang ia kenakan.


"Apa ini?" Vey mengamati kotak hitam tadi, lalu menatap Kris, meminta agar pria dihadapannya itu memberikan penjelasan.


"Buka aja," Vey pun membuka kotak tersebut secara perlahan, khawatir jika Kris tengah mengerjainya, dengan memasukkan katak atau hewan menjijikkan lainnya didalam kotak hitam tersebut.


Mata Vey membulat lebar, mulutnya turut ternganga lebar bagai ditimpa beban 1 ton. "Omaygad Kris..."


Sebuah liontin berbentuk hati, sangat indah dan nampak bersinar. Sudah sangat lama Vey ingin membeli liontin hati tersebut, namun karena harganya yang selangit Vey terpaksa mengkandaskan keinginannnya itu.


"Buat lo Vey, anggap aja ini sebagai kado ulang tahun lo yang ke 17 tahun. Maaf telat," ucap Kris.


Kris tersenyum tipis, ia menatap lekat wajah cantik Vey yang masih dalam mode terkejut. Lalu mengambil liontin tersebut dan memasangkannya di leher Vey, "sumpah lo tambah cantik Vey."


"Makasih Kris..." Vey mengalungkan tangannya di leher Kris.


"Bagus Vey! Lanjutkan!" Suara baritonĀ  milik seorang pria yang tak lain adalah Dean itu, membuat Vey dan Kris terkejut.


"K-kak Dean? E-eh kak ke-/"


PRANKKK!!


Belum sempat Vey menyelesaikan kalimatnya, suara vas bunga yang pecah sudah bergema keras didalam ruangan.


Ya, Dean sengaja menjatuhkannya. Beberapa pecahan vas yang mengenai kakinya, Dean biarkan begitu saja. Sakit sebenarnya, namun itu tak lebih menyakitkan dari hatinya saat ini.


Dean tersenyum kecut kearah Vey dan Kris, "lanjutkan."


"Kak... Gue gak ngapa-ngapain sama Kris, lo jangan salah paham deh," jelas Vey, memang benar ia dan Kris tidak melakukan hal-hal aneh.


Dean melangkahkan kakinya keluar dari apartement, entahlah... Ia rasa ada setitik rasa aneh di dalam hatinya kini, kecewa, sakit, dan marah. Semua rasa itu bercampur menjadi satu, "lo gak seharusnya mencoba jatuh cinta ke dia..." Gumam Dean dalam hati.


"Lo lagi apa disini?" Dean menolehkan kepalanya ke arah sumber suara. Rena, wanita itu kemudian duduk di samping Dean, menyerahkan segelas kopi yang ia bawa pada Dean.


Dean ingin bertanya mengapa Rena ada di Korea, namun Dean terlalu malas untuk bertanya, toh tidak penting juga. "Thanks..."


"Lo ngapain disini Dy? Kok sendirian? Mana istri lo?" Tanya Rena lagi.


"Bukan urusan lo,"ketus Dean. Ia sedang malas menjawab pertanyaan tidak penting seperti itu, apalagi berhubungan dengan Vey.


Rena tidak menyerah. "Gue temenin ya Dy?"


"Terserah lo aja."


"Dy lo inget masa-masa pas kita masih pacaran gak?" Rena menerawang langit biru yang mulai berubah menjadi menjadi orange.


"Hmm inget..." Dean tiba-tiba tersenyum, kalau di ingat-ingat lagi masa itu memang sangatlah indah, meski berakhir dengan rasa sakit yang mendalam.


"Lo gak pengin mengulang masa-masa itu lagi?"


Tidak, bukan berarti Dean tidak mau merasakan masa-masa indah itu lagi. Hanya saja Dean ingin merasakan masa indah itu bersama orang lain, bersama orang yang tepat.


"Lo kenapa dulu tega ninggalin gue sih Na? Padahal lo tau gue sayang banget sama lo." Pertanyaan ini secara tak terkontrol mencuat dari mulut Dean.


"Dan sekarang gue kembali buat lo Dy, buat nebus kesalahan masa lalu gue." Rena menyesal telah menyia-nyiakan pria berhati tulus seperti Dean.


"Sorry... Hati gue udah tertutup buat lo Na, gue udah gak bisa," akhir Dean.


Prinsip Dean, apa yang sudah ia dapatkan, tak akan pernah ia lepas. Dan sekali ia lepas, tak akan pernah ia kejar lagi.


Rena memeluk Dean, "beri gue satu kesempatan lagi Dy, gue mohon."


Dean melepas tangan Rena yang memeluk tubuhnya, "udah berapa kali gue kasih lo kesempatan Na? 3 tahun gue kasih lo kesempatan, gue nunggu lo kembali, tapi lo kemana? Maaf Na sekarang gue udah gak bisa."


"Gue tau, gue emang udah gak pantes buat lo Dy. Tapi pliss... Ijinin gue buat milikin lo lagi," Rena menangis, seraya memeluk Dean lagi.


Kali ini Dean hanya diam, tidak berusaha melepaskan pelukan Rena. "Maaf Na..."


.


.


.


"Kak lo abis darimana?" Tanya Vey, saat Dean memasuki apartement.


"Bukan urusan lo," singkat Dean tanpa menatap Vey, ia langsung pergi ke kamar dan mengemasi bajunya ke dalam koper.


Dean keluar dari kamar sambil menarik kopernya, langkahnya terhenti karena sebuah tangan kecil yang melingkar di perutnya. "Kak jangan tinggalin gue."


"Lepasin Vey!" Pekik Dean, yang malah membuat Vey mengeratkan pelukannya.


"Lo mau ninggalin gue sendirian disini? Lo tega kak..." Isak Vey, sesenggukan.


"*****! Selingkuhan lo kemana?" Dean tertawa bak Joker.


"Gue gak selingkuh hiks, lo salah paham kak. Kris sahabat gue..."


"Bodo gue gak peduli! Minggir lo! Lepasin!!"


"Gamau!! Pokoknya gamau!" Tangisan Vey semakin mengeras.


"Lo yang selingkuh, lo juga yang nangis." Dean masih kesal saja dengan kejadian kemarin, ya walau ia tak yakin 100% jika Vey selingkuh tapi tetap saja ia kecewa pada Vey.


Bodoh, kenapa kemarin Dean diam saja? Mengapa ia tidak menghajar Kris?


"Gue gak selingkuh kak..."


"Lho kalian lagi ngapain?" Ucap seorang wanita tua yang entah datang dari mana.


"Mama?!"