
"Terima kasih tante" ucap Ryhan dengan senyum nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang di siapkan Rania.
"Sayang kalian menikah sudah berapa lama? Kenapa papa dan mama tidak tau?" tanya Crish ayah Yura.
"Iya sayang, Bahkan kau tidak mengenalkan suami mu ini kepada mama dan papa dan malah Yura yang menceritakan seluruuh nya hingga kami tau" sambung Rania pula dengan memasukkan makanan untuk Nana dan juga Ryhan.
"Tentang pernikahan, Kak Rendi mengamanahkan Ryhan untuk menjaga ku sebelum dia meninggal waktu itu, Pernikahan kami juga tidak ada yang mengetahui awal awal hingga..."
"Iya ma, Aku tau saja saat pernikahan mereka menginjak tiga bulan" potong Yura.
"Ryhan dan Nana ada di rumah?" tanya Ferisa yang saat ini berada di rumah Nana dan juga Ryhan.
"Maaf anda siapa? Nona dan tuan juga sedang tidak ada di rumah" ucap penjaga yang belum pernah melihat Ferisa.
"Kemana mereka?" tanya Ferisa.
"Keluar tadi, Maaf anda siapa nya mereka dan ada keperluan apa mencari mereka?" tanya penjaga kembali yang belum mendapatkan jawaban.
"Saya Ferisa, Kakak perempuan Ryhan" jawab Ferisa dengan senyum nya.
"Hey jangan kebiasaan kau memotong ucapan orang yang belum selesai berbicara itu tidak sopan" ucap Crish dengan melototkan mata nya kepada Yura.
"Tidak apa apa om...."
"Bukankah Yura adalah saudara mu? Kenapa kau malah memanggil ku om? Coba panggil aku papa" ucap Crish dengan senyum nya dan sangat berharap kata kata itu keluar dari mulut Nana.
"I-iya pa" jawab Nana dengan senyum dan sedikit ragu. Rania yang mendengar itu juga ikut tersenyum dan tidak sadar juga dengan panggilan Nana tadi makanya tidak mengomel.
"Kalian dahulu saling mengenal ya hingga kak Rendi mu menitipkan kau kepada Ryhan?" tanya Rania dengan senyum dan tangan yang memberikan makanan kepada masing masing orang di meja makan.
"Iya tante, Saya sudah berteman dengan nya sejak kecil" jawab Ryhan.
"Ah pantas saja Rendi menitipkan nya dengan mu karna kalian berteman sejak kecil" Rania menganggukkan kepala nya mengerti alasan Rendi menitipkan dan menikahkan Ryhan dan juga Nana.
"Pasti Ryhan menjaga mu dengan baik ya sejak dahulu hingga kak Rendi menitipkan kau dengan nya?" tanya Rania dengan wajah menggoda Ryhan hingga membuat Nana menoleh ke arah suami nya tersebut dan Ryhan melebarkan senyuman menyombong nya.
Nana nampak memasang wajah jijik nya saat melihat senyuman sombong itu dari suami nya sedangkan Yura hnya melihat dan mendegar saja. "Jelas saja tidak ma, Dia dahulu selalu menyiksaku dengan menghidupkan lampu kamar tidur nya hingga larut, Karna kak Rendi tidak mengizinkan ku untuk istirahat sebelum lampu kamar nya mati dan dia juga istirahat, Dan juga kak Rendi sering membantingku dengan nya, Cih" umpat Nana yang seketika menjadi anak kecil. Bersedih hati layak nya tidak di belikan keinginan dan menjelaskan layak nya mengadu kepada Rania.
Rania tersenyum mendengar nya tapi tidak dengan Ryhan yang langsung menatap tajam wanita nya hingga Nana membalas tatapan tajam itu dengan pelototan mata nya. "Kau yakin saat itu Ryhan benar benar belajar atau memiliki maksud tertentu?" ucap Rania yang bisa menebak apa yang di niatkan oleh Ryhan kecil.
"Menjebakku agar aku tidak tidur dan...."
"Dan bisa melihat mu sepanjang malam" potong Rania dengan senyum bahagia nya hingga membuat Ryhan mematung begitupun dengan Nana yang sama sekali tidak berpirkir tentang hal itu.
Crish ikut tertawa saat mendengar potongan dari istri nya tersebut sedangkan Yura nampak berpikir. "Benar juga na, Mustahil bukan untuk Ryhan belajar hingga larut jika tidak ada niat tertentu dan niat itu adalah ingin melihat mu sepanjang waktu" ucap Yura pula yang bisa mencerna dengan cepat pembicaraan tersebut.
"Benarkan Ryhan?" tanya Yura dengan menunjuk menggunakan garpu ke arah Ryhan hingga membuat Ryhan yang termenung malu akibat ketahuan langsung mengangkat kedua tangan nya seolah olah Yura adalah polisi yang hendak menangkap nya dan garpu adalah pistol yang hendak menembak nya.
"Hahaha" di meja makan tersebut terdengar gelak tawa yang menandakan seluruh nya gemas akan Ryhan yang nampak seperti anak kecil jika malu.
"Berani nya kau mencoba menyentuh nya" ucap Nana dengan wajah kesal nya menatap Yura hingga kembali memecahkan keheningan beberapa detik itu dengan tingkah nya.
Beberapa menit mereka tertawa lepas. "Ah sudah sudah ayo kita makan, Nanti jika terus terus tertawa makanan akan basa terkena cipratan air ludah tawa kalian" ucap Crish yang menghentikan tawa hingga seluruh nya berhenti tertawa perlahan dan setelah itu langsung melahap makanan masing masing.
"Sayang kalian tidak mau tambah makanan lagi?" tanya Crish.
"Ah tidak pa, Ini sudah cukup" jawab Nana dengan senyum nya.
"Ryhan kau tidak mau tambah sayang?" tanya Rania pula.
"Tidak om" jawab Ryhan yang juga melebarkan senyuman nya menatap Crish. Crish mengangguk mengerti dan melanjutkan makan nya begitupun dengan Ryhan dan juga Nana.
Sudah menghabiskan waktu dengan bercanda gurau di meja makan sambil menikmati makanan dan sedikit bercerita hingga akhir nya mereka selesai makan dan juga bercerita nya. "Oh iya sayang, Jenis kelamin cucu mama apa?" tanya Rania dengan mengusap perut Nana yang saat ini mereka sudah berdiri untuk menuju ke ruang utama.
"Belum di periksa ma" jawab Nana.
"Ah, Nanti jika sudah tau apa jenis nya hubungi mama ya, Mama akan membelikan seluruh peralatan bayo untuk cucu pertama ku ini" ucap Rania dengan senyum bahagia dan tangan yang mengusap perut Nana.
"Em, Baik jika dia menginginkan toko nya bagaimana?" tanya Nana dengan mengusap perut nya dan dia adalah bayi nya.
"Akan mama belikan juga untuk cucu mama" jawab Rania dengan senyum nya kembali. Nana tersenyum membuat membalas senyuman dari Rania itu begitupun dengan Ryhan yang sangat bahagia saat melihat istri nya di perlakukan dengan sangat baik oleh orang tua teman teman nya.
"Yasudah ma, Pa kami akan pamit pulang, Ini sudah sangat larut" pamit Nana dengan menyalami kedua orang tua Yura tersebut. Yura menyodorkan tangan nya juga kepada Nana agar Nana menyalami nya tapi bukan nya di salami Nana malah memukul tangan itu.
"Kau...." Ryhan menatap tajam ke arah Yura hingga membuat Yura mengurungkan niat nya untuk memarahi Nana.
"Hati hati ya sayang" ucap Rania kepada Nana dengan mencium pucuk kepala anak itu begitupun dengan Crish.
"Cepat keluar ya sayang supaya bermain dengan nenek" ucap Rania pula dengan mengusap perut Nana.
"Hati hati" ucap Crish kepada Ryhan. Ryhan tersenyum mendapatkan ucapan tersebut dan merangkul pinggang istri nya dan berjalan menuju ke mobil.
"Hati hati sayang sayang mama" teriak Rania yang menyayangi setiga orang itu.
Nana melambaikan tangan nya kepada Rania, Crish dan juga Yura dengan di balas lambaian dan juga senyum tukus dari ketiga nya dan Ryhan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang untuk kembali ke kediaman nya.
.
.
.
.
.