Dear D

Dear D
Episode 140



"Ah biarkan saja dari pada perut nya kosong" guman nya kembali dan kembali melahap makanan nya yang tersisa.


"Enak ya hingga kau makan dengan lahap?" tanya Ryhan dengan menatap lekat wajah istri nya tersebut.


"Em, Enak sekali" jawab Nana dan meminum minum di hadapan nya dengan wajah yang biasa saja dan tidak merasakan pedas sedikit pun.


"Beri aku mencicipi nya sedikit" ucap Ryhan dan mengambil satu sendok spageti yang di makan oleh istri nya tersebut.


Wajah yang awal nya nampak tersenyum bisa mencoba makanan istri nya langsung berubah menjadi merah. "Bagaimana? Enak bukan?" tanya Nana dengan tersenyum menatap suami nya.


"Hah" teriak Ryhan dan langsung mengambil gelas yang sudah berisikan air di hadapan nya dan langsung meminum nya hingga habis.


"Kau kenapa?" tanya Nana saat melihat suami nya yang minum beberapa gelas air sekaligus.


Ryhan langsung menghentakkan gelas ke atas meja makan dan menatap tajam ke arah istri nya. "Kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya Nana.


"Kau yang kenapa memakan makanan sepedas itu? Kau mau diare memakan makanan sepedas itu, Hah?" ketus Ryhan dengan wajah masih memerah akibat kepedasan.


"Ini tidak pedas" jawab Nana dan kembali memakan makanan nya.


"Sudah hentikan memakan makanan ini" ketus Ryhan kembali dan mengambil piring makanan istri nya.


"Tunggu sebentar" teriak Nana menghentikan suami nya yang hendak membuang piring makanan nya.


"Tanggung" ucap Nana dan menghabiskan disa makanan yang ada di dalam piring itu. Ryhan nampak di buat tambah kesal akan istri nya yang malah menghabiskan makanan pedas itu.


"Kau..." ucap Ryhan dengan menunjukkan jari telunjuk nya ke istri nya akibat kesal terhadap wanita yang di cintai oleh nya dia tidak bisa marah saat melihat wajah polos wanita nya yang nampak baik baik saja dan menggepalkan tangan nya hingga urat urat tangan nya tersebut terlihat.


"Akan aku buang seluruh saos iblis ini" ketus Ryhan dan mengambil seluruh stok saos yang di ambilkan istri nya tanpa di sadari oleh nya.


"Jangan" ucap Nana dan menghentikan suami nya yang hendak membuang saos milik nya.


"Apa nya yang jangan? Kau tidak kepedasan memakan saos tadi hah? Kau masih menginginkan ini?" teriak Ryhan yang semakin kesal akan istri nya.


"Kenapa kau malah marah? Aku menyukai nya, Aku mau makan itu, Itu sama sekali tidak pedas di lidah ku, Kau saja yang lemah tidak bisa makan pedas dan malah menyalahkan saos. Kau buang saos itu aku tidak akan makan selama nya" ancam Nana dan langsung berlalu dari sana dengan menghentakkan kaki nya kesal akan suami nya sedari tadi memarahi nya gara gara saos.


"Seenak nya saja dia membuang makanan ku, Makanan nya saja tidak pernah aku imut campur, Mau dia makan batu, Makan kayu aku tidak pernah ikut campur, Ini aku hanya memasukkan sedikit saos ke dalam makanan dia marah marah, Dasar menyebalkan" teriak Nana yang sangat kesal akan suami nya yang sedari tadi melarang nya memakan makanan pedas.


"Kau yang menyebalkan, Sudah tau ini pedas masih saja di makan" teriak balik Ryhan yang tidak mau kalah.


"Aku sama sekali tidak merasakan pedas bodoh, Kau anak kecil yang tidak bisa makan pedas" teriak Nana pula.


"Umur mu saja yang sudah besar, Otak mu kecil" balas Ryhan dan membereskan bekas makan nya dan juga istri nya.


"Seenak nya saja kau berbicara seperti itu, Otak mu itu yang kecil" teriak balik Nana.


Ryhan diam dia tidak mau lagi berdebat nanti jika dia melanjutkan nya dia akan di usir dari apartemen. "Kau dengar tidak Ryhan alexander? Kau tidak memiliki telinga? Atau kau tidak memiliki otak untuk mendengar?" teriak Nana kembali yang masih saja kesal.


"Bodoh, Memang nya kau pikir otak untuk mendengar?" umpat Ryhan dengan suara rendah dan tidak terdengar oleh istri nya yang sedang mengoceh sendiri di kamar.


"Kau sudah cukup mengaturku sejak kecil, Kau mengatur jam tidur ku, Kau juga menambah jam belajar ku, Kau ingat itu? Kau itu menyebalkan, Kau selalu saja menyebalkan"


"Mengoceh saja terus" ucap Ryhan yang masih saja menggunakan nada rendah agar istri nya tidak membalas ucapan nya.


"Dan sekarang kau melarangku makan, Kau mau aku mati tidak makan hah? Kau suka bukan jika aku mati nanti agar kau bisa menikah dengan wanita yang kau suka? Kau mengatakan mencintai ku hanya untuk... Uhukkk, Pake acara batuk lagi" ketus Nana dengan ucapan nya yang terpotong oleh batuk.


Ryhan tertawa kecil saat mendengar ucehan yang menyebalkan awal nya dan langsung terkekeh saat mendengar akhir nya. Nana meminum minuman yang selalu ada di samping ranjang hingga rasa gatal di kerongkongan nya hilang.


"Sudahlah aku lelah, Aku ingin istirahat" ucap Nana dengan nada rendah dan langsung menghempaskan tubuh nya di atas ranjang.


"Jangan berani kau mengatai ku dari belakang Ryhan, Jika kau berani langsung di hadapan ku, Jangan menjadi pengecut, Kau dengar?" teriak Nana kembali dengan mata yang menatap ke langit langit kamar nya.


Ryhan masih tidak menjawab nya dan membuka kulkas nya dan mencari makanan yang berbau pedas untuk di simpan oleh nya dan hanya tersisa makanan ringan yang tidak terlalu pedas di dalam kulkas. Nana yang kelelahan seharian di luar, Di minimarket dan juga mengoceh dengan suami nya tadipun langsung tertidur dengan satu tangan yang terlipat di perut dan satu nya lagi terlentang.


Ryhan masih saja mengerjakan pekerjaan yang seharus nya di kerjakan istri nya di dapur. Bukan pekerjaan istri nya melainkan dia memisahkan makanan yang sangat pedas dari kulkas dan menyembunyikan nya. Setelah beberapa puluh menit akhir nya Ryhan memilih untuk masuk ke dalam kamar nya melihat apa yang di lakukan oleh wanita nya.


"Pantas saja tidak lagi terdengar ocehan nya, Ternyata sudah tidur" ucap Ryhan dengan membuang nafas panjang saat melihat istri nya yang sudah terlelap tidur di atas kasur yang berantakan begitupun dengan posisi tidur nya.


Ryhan membenarkan sprei dan juga selimut yang berantakan itu sedikit dan membenarkan posisi tidur istri nya. Nana yang tidak nyaman pun langsung merangkul leher suami nya yang di kira nya guling dan mencium nya.


"Nana sudah besar kak" ucap Nana dan mengeratkan pelukan nya dengan mengusapkan kepala nya ke leher suami nya hingga wajah nya tenggelam di leher suami nya tersebut.


Nana menghirup aroma wangi yang ia cium saat ini hingga membuat bibir nya tersenyum manis dan tangan nya kembali memperat rangkulan nya.


.


.


.


.