
Pancaran sinar mentari yang masuk melalui celah-celah jendela, mengusik seorang gadis cantik yang tengah tertidur. Vey membuka matanya perlahan, mengamati sekeliling ruangan apartement yang masih terlihat sama seperti malam tadi. Tidak ada tanda-tanda keberadaan Dean, sepertinya suaminya itu semalam tidak pulang.
Mata sembab, hidung merah, rambut berantakan, itulah yang menggambarkan keadaan Vey saat ini, ia terlihat kacau dan menyedihkan.
Vey mengusap pipinya yang kembali basah karena air mata, ternyata menangis semalaman suntuk tidak membuat air matanya habis. Air matanya seolah selalu jatuh jika mengingat kemarahan Dean.
"Kak Dean, pulang... Jangan tinggalin gue" Vey menangis sesenggukan.
"Gue udah pulang dari tadi" Ucap seorang lelaki yang baru saja keluar dari dapur, ia masih mengenakan celemek motif polkadot dengan kedua tangannya memegang sebuah mangkuk berisi sup yang kemudian diletakkan diatas meja makan.
Vey terkelonjak kaget, tidak percaya dengan sosok yang dilihatnya sekarang. Ia langsung berdiri dan berlari ke arah lelaki itu. "Kak Dean, maafin gue" Vey memeluk erat tubuh Dean, membenamkan wajahnya pada dada bidang milik Dean yang terasa begitu hangat.
Ia benar-benar takut Deannya itu tidak akan kembali.
"Mandi sana, habis itu makan" Dean melepaskan kedua tangan Vey yang melingkar diperutnya. Lalu berjalan menuju ranjang dan merebahkan diri diatasnya.
Marah? Tentu saja Dean masih marah, tapi ia mencoba untuk bersikap dewasa, ia tidak boleh menuruti egonya. Bagaimanapun ini juga bukan salah Vey, ini salahnya sendiri yang mungkin terlalu protektif dan terlalu berlebihan dalam menghadapi Vey.
Namun, kemarahan Dean semalam juga bukan tanpa alasan. Memang siapa yang tidak marah, jika pasangan pergi tanpa ijin dan pulang larut malam? Tidak mengertikah, jika Dean sangat khawatir? Ia takut terjadi apa-apa pada Vey.
Apalagi semalam Artha memberitahu Dean bahwa Vey bertemu dengan Rena. Mendengar nama Rena saja sudah membuat Dean gemetar, ia takut Rena masuk kedalam rumah tangganya dan menyakiti Vey.
Artha memang tidak bisa merahasiakan apapun pada Dean.
"Masih marah ya?" Vey duduk disisi ranjang sembari menyentuh lengan Dean dengan jari telunjuknya.
Dean memiringkan tubuhnya, membelakangi Vey. "Gak, gue capek mau tidur."
Vey tau jika suaminya itu masih marah. Vey lebih suka dengan Dean yang selalu mengejeknya dan bersikap menyebalkan, daripada Dean yang dingin dan acuh seperti ini. Vey benar-benar tidak suka, "kak..."
"Gue mau tidur."
"Oke deh" Vey mendesah berat lalu beranjak dari ranjang menuju meja makan, Dean memang sedang tidak ingin diganggu.
Aroma sup ayam buatan Dean langsung membuat cacing-cacing di perut Vey meronta kelaparan, ia buru-buru melahap sup tersebut hingga tak tersisa. Vey tidak tau jika Dean pintar memasak, bahkan rasanya sangat enak. Jika sudah begini, julukan suamiable pantas disematkan pada Dean, selain tampan, mapan, dan keren, dia juga jago memasak. Sangat sempurna, bukan?
Vey menatap heran segelas susu hangat yang ada diatas meja makan, apa Dean yang membuatnya?
Tidak peduli siapa yang membuatnya, Vey segera meminumnya hingga tandas. Selesai sarapan, Vey masuk ke dalam kamar mandi, hanya butuh waktu 5 menit bagi Vey untuk menyelesaikan ritual mandinya.
Sekarang Vey sudah cantik, ia kembali menghampiri Dean dan menyentuh pelan bahunya. "Kak Dean udah makan?"
Dean terlihat mengangguk. "Kak Dean udah mandi?" Tanyanya pada Dean yang kembali dijawab dengan anggukan.
Vey sedang berusaha meluluhkan Dean lagi, ia benar-benar tidak sanggup jika Dean terus-terusan mengacuhkannya begini.
"Kak, jangan marah lagi" Vey memeluk Dean dari belakang, "maafin gue kak..." rintihnya pelan, Vey sudah tidak memikirkan rasa gengsi, tidak masalah jika wanita dulu yang meminta maaf. Begitu mungkin lebih baik, ketimbang ia hanya diam saja dan mengharapkan Dean yang meminta maaf duluan.
"Dean juga tidak bersalah, jadi mana mungkin ia akan meminta maaf?" Pikir Vey.
Dean membalikkan tubuhnya sehingga berhadapan dengan Vey, ia sedikit merunkan posisinya agar wajahnya sejajar dengan wajah Vey. "Iya"
"Boong, lu masih marah kan?" Vey mengerucutkan bibir merah mudanya.
"Enggak."
"Tapi dari tadi lu mengacuhkan gue terus".
Dean menatap Vey dengan tatapan sayup, "gue capek, pengin tidur."
"Maafin gue kak" Ucap Vey, "maaf..." lanjutnya lagi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Udah jangan minta maaf terus, gue capek dengernya ckck" Kekeh Dean seraya mencubit gemas pipi chubby milik Vey.
"Jangan marah lagi ya, maaf."
"Lu minta maaf lagi, gua bakal bikin kissmark disetiap inci badan lu" Ancam Dean. Ancaman yang begitu mengerikan dan berhasil membuat Vey bergidik takut.
"Gak mau" Vey menggeleng cepat.
Dean tertawa renyah karena tingkah Vey, padahal ia tidak serius dengan ancamannya itu, namun sepertinya Vey menganggapnya serius. "Gue boleh minta bantuan?"
Vey mengangguk antusias, "iya boleh, apa?"
"Bantu gue biar cepet jatuh cinta sama lu"
"Hah?" Vey terperanjat kaget.
"Gue udah terlalu takut mencintai seseorang, tapi gue sadar kalau selamanya gue gak bisa kayak gitu. Dan kalau emang gue harus mencintai seseorang lagi, gue pengin lu orangnya" Dean tersenyum tipis, entahlah Dean pikir tidak ada salahnya bukan jika ia mencoba mencintai Vey?
Jika bukan Vey, siapa lagi? Dean rasa tidak ada yang boleh ia cintai selain Vey, gadis itu adalah istrinya. Dan hanya Vey yang berhak mendapatkan hatinya.
"Ah lu mah sukanya bikin baper" Gerutu Vey seraya menyembunyikan wajahnya dibalik bantal.
"Lu wajib baperlah ke gue, gue kan suami lu ckck" Dean menyingkirkan bantal dari wajah Vey.
"Kalau gitu, lu juga harus baper ke gue" Timpal Vey. Sedangkan Dean hanya manggut-manggut meng'iya'kan. Ya, Dean akan melakukannya juga.
"Gue bakal berusaha bikin lu jatuh cinta ke gue, jatuh se jatuh-jatuhnya!" Tegas Vey, penuh penekanan.
Dean tersenyum lebar, terlihat begitu tampan dan mempesona. Ia mengacak-acak singkat puncak rambut Vey, "semangat."
"Gue boleh minta tolong lagi gak?" Tanya Dean.
"Hmmm boleh, apa?" Jawab Vey, canggung.
"Bantuin gue biar ceper tidur."
"Oh oke, gue nyanyiin lagu nina bobo ya?" Usul Vey.
Dean langsung menggeleng, tanda bahwa ia tidak setuju. "Gue bukan bayi Vey."
Vey menaikan satu alisnya, "terus gue harus apa dong?"
"Peluk gue" Final Dean. Tanpa menunggu persetujuan dari sang istri, Dean langsung mendorong punggung Vey agar mendekat dan melingkarkan tangannya di pinggul kecil milik Vey.
Vey terlonjak kaget, namun beberapa saat kemudian ia ikut melingkarkan tangannya di leher Dean.
Vey sangat suka memandangi wajah Dean saat tertidur, lelaki itu tampak berkali-kali lebih tampan. Vey dapat merasakan hembusan nafas Dean yang menerpa wajahnya.
Jarak wajah mereka yang sangat dekat membuat hidung mereka nyaris bersentuhan. Vey memainkan telinga Dean, lalu menyentuh alis tebal milik suaminya itu. "Suami gue ganteng banget sih."
Vey bermonolog seraya menatap lekat Dean yang sudah terlelap, " gue sayang sama lu, gue gak akan kalah dari Rena."
***
"Kalian udah 3 minggu menikah lho, gak ada niatan buat honeymoon?"
"Ada sih ma, tapi Dean bingung mau honeymoon kemana" Dean menjawab pertanyaan sang mama. Sambil terus fokus membaca sebuah berkas yang ada ditangannya.
"Udah gak usah bingung-bingung, mama udah pesenin tiket honeymoon ke Korea Selatan, jadwal keberangkatannya besok lusa". Hana sengaja memilih Korea Selatan sebagai tempat honeymoon putra dan menantunya.
Karena Vey pernah bercerita bahwa ia sangat mengagumi EXO, salah satu boyband terkenal di dunia. Ia mempunyai impian menonton konser EXO secara live, dan sebagai mertua, Hana ingin sekali mewujudkan impian Vey tersebut.
Bahkan Hana juga sudah membelikan tiket konser EXO dan sebuah lightstick untuk menantu kesayangannya itu
Hana benar-benar sudah mempersiapkan semuanya. Termasuk sepaket perlengkapan bayi, semoga saja kepulangan mereka dari honeymoon nanti akan membawa kabar cucu untuknya.
"Terus siapa yang ngurus perusahaan ma?" Semenjak kematian Geraldo, Dean lah yang mengurus perusahaan, menggantikan sang ayah.
Dean yang notabanenya adalah sarjana di jurusan pendidikan Matematika, harus mengkandaskan impiannya untuk menjadi guru demi mengambil alih perusahaan.
Tentunya dengan terpaksa. Karena hanya ia dan Artha yang berhak memimpin perusahaan, berhubungan saat itu Artha masih SMP, jadilah Dean yang harus menggantikan Geraldo.
"Serahin sama Artha aja"
Bukannya Dean meragukan Artha, hanya saja Dean rasa terlalu berbahaya menyerahkan alih perusahaan pada Artha yang bisa dibilang masih labil itu. Oh, Dean tidak mau perusahaannya hancur. "Tapi ma.../"
Seorang tiba-tiba muncul dari balik pintu dan menginterupsi ucapan Dean. "Tenang bang, gue bisa diandalkan kok, gue kan calon sarjana astronomi. Jadi kalau masalah ngurus perusahaan gue bisa".
Dean memutar jengah bola matanya, "apa hubungannya astronomi sama perusahaan? Emang lu pikir perusahaan kita jualan meteor?"
"Jangan khawatir De, nanti kan si Frans juga bakal bantuin Artha kok. Mama pengin adekmu belajar memimpi perusahaan, kamu tau kan cabang perusahaan kita banyak? Mama gak tega kalau liat kamu ngurus sendirian".
Ada kurang lebih 10 cabang perusahaan Geraldo Corp yang tersebar di kota-kota besar di Indonesia. Dean terkadang juga kelimpungan dalam mengurusnya, tapi dia bersyukur karena masih ada Frans~sekretaris pribadinya yang sigap membantu.
"Betul tuh bang, gue lagi pengin jadi CEO nih kayak di *******-******* gitu. Biar banyak cewek yang naksir ke gue."
"Ya udah deh. Kalau ada ada kendala, lu minta bantuan aja sama Frans, dia udah ahli" Sahut Dean.
"Jangan tanggepin mitra kerja dari perusahaan manapun tanpa persetujuan gue" lanjutnya lagi.
Artha mengangguk mengerti, "iya bang iyaa."
Mengherankan memang, Artha yang awalnya menolak keras untuk memimpin perusahaan, karena ia ingin meraih cita-citanya menjadi pekerja di NASA. Tiba-tiba saja kini ingin memimpin perusahaan, dan alasannya pun begitu menggelikan.
Artha ingin menjadi CEO seperti di ******* agar banyak wanita yang menyukainya.
"Nah gitu dong, nanti sampai apartement jangan lupa kasih tau Vey suruh kerumah mama ya". Pesan Hana, sebelum meninggalkan ruangan kantor Dean.
"Iya ma."