Dear D

Dear D
Episode 234



"Sayang" panggil Andra kembali saat tidak mendapatkan tolehan ataupun jawaban dari Nana. Nana langsung menoleh ke belakang dan terlihat Andra berada di belakang nya.


"Papa? Kenapa kemari? Ingin menemui anak kalian?" tanya Nana dengan wajah datar nya menatap Andra.


"Sayang kita pulang ya, Di sini sangat panas" ajak Andra dengan memegang bahu Nana.


"Tidak usah memperdulikan ku" jawab Nana dengan wajah datar nya dan kembali menatap ke makam suami nya.


"Mama" teriakan yang tidak terlalu terdengar di telinga nya membuat Nana tidak memperdulikan nya.


"Sayang" Merri langsung mengambil Devan yang berada di gendongan Febri membuat Febri hanya menatap datar dan berjalan mendekat ke arah Nana.


"Delina di makam Ryhan juga?"


"Kalian tau, Akibat kebohongan kalian aku tidak dapat bertemu suamiku untuk terakhir kali nya, Aku tidak dapat mendengar kata kata terakhir dari mulut nya, Dia meninggalkan ku tanpa memberikan pesan satu patah pun, Kalian membodohiku dengan mengatakan pak Febri adalah suamiku, Padahal Ryhan adalah suamiku satu satu nya, Saat kalian berbohong seperti itu apakah kalian pernah berpikir Ryhan akan marah kepadaku? Aku hanya mencintai Ryhan, Kalian tau apa akibat dari kebohongan kalian ini?" tanya Nana dengan masih saja menatap makam dengan mata yang berbinar tanpa menatap ke belakang dan tidak sadar akan beberapa orang yang baru saja datang.


"Nana" suara Weny yang terdengar ngos ngosan mendekat ke arah Nana namun tidak ada yang memperdulikan nya.


"Yang menyukai pak Febri bukanlah aku, Melainkan Weny, Aku hanya mencintai dan menyukai Ryhan tidak pernah menyukai siapapun, Apa kalian tidak pernah berpikir tentang perasaan Weny? Weny yang tidak pernah jatuh cintai itu menyukai pak Febri, Namun kalian dengan sangat mudah memberikan aku kepada pak Febri, Apa kalian menjualku kepada nya? Berapa uang yang kalian ambil dari nya? Apa Ryhan meninggalkan hutang sampai setega itu membiarkan ku menantu kalian, Istri dari anak kalian di berikan kepada lelaki lain? Apa kalian berpikir bagaimana perasaan Devan saat tau jika diri nya di bohongi dengan mengatakan ayah nya adalah pak Febri?" tanya Nana dengan menghentikan perkataan nya saat menarik nafas mencoba berbicara lagi.


"Biarpun hati anakku akan sedih saat tau bahwa ayah nya....."


"Mama" panggil Devan yang langsung merangkul leher ibu nya membuat mata Nana membulat dan langsung menatap anak nya.


"Sayang kau kenapa bisa di sini?" tanya Nana dengan wajah bingung nya.


"Om Febri membawaku kemari, Tadi aku mencari mama namun aku tidak menemukan mama" jawab Devan yang langsung memanggil Febri om.


"Kenapa kau memanggil pak Febri om?" tanya Nana. Devan langsung menatap ke depan menyapu sekeliling kuburan itu mencari ayah nya.


"Di mana papa? Wali kelasku bilang tadi jika mama menemui papa, Apakah mama akan membawaku bertemu papa?" tanya Devan dengan wajah penuh harap menatap wajah ibu nya. Sangat berharap jika ibu nya menemukan nya dengan ayah kandung nya.


"Wali kelasmu? Siapa?" tanya Nana dengan menatap lekat wajah anak nya.


"Papa di mana? Aku ingin bertemu dengan nya, Apa mama tidak mengizinkan ku bertemu dengan papa karna terus terusan memanggil om Febri papa dan menganggapnya sebagai papaku?" tanya Devan kembali tampa menjawab pertanyaan ibu nya tersebut.


"Papa?" tanya Nana.


"Ah papa" ucap Nana dengan membuang wajah nya dan menarik nafas panjang dan setelah itu langsung tersenyum kembali menatap anak nya.


"Iya ma" jawab Devan.


"Ini papa sayang" ucap Nana dengan senyum mencoba menahan sesak di dada nya.


"Mana ma? Devan sedari tadi di sini tapi tidak menemukan papa" ucap Devan dengan kembali menyapu sekeliling mencari papa nya yang sedari tadi ia coba mencari nya.


"Yatuhan" ucap Andra yang langsung mengalihkan pandang nya saat hati nya tidak kuat saat melihat apa yang terjadi di hadapan nya.


Dada yang sesak membuat ibu satu anak itu menarik nafas sesak namun berusaha tersenyum. "Ini sayang" jawab Nana dengan mengusap batu nisan lelaki nya.


"Ini bukannya kuburan ma?" tanya Devan dengan suara sangat rendah membuat hati ibu nya terasa di panah, Sakit sekali saat hendak mengatakan yang sebenar nya kepada anak nya yang masih sangat kecil itu.


"Papa sudah berada di sini tuhan, Papa terlebih dahulu di panggil oleh tuhan" jawab Nana dengan senyum nya dan mata yang berbinar.


"Maksud mama? Apa tuhan tidak mengizinkan papa untuk bertemu Devan sebentar? Devan ingin melihat papa juga dan tidur bersama nya, Apa tuhan tidak mengizinkan nya?" tanya Devan dengan mata yang sangat tulus hendak bertemu ayah nya yang sudah tiada.


Mata yang berbinar menatap lekat anak nya dengan dada yang sesak akhir nya meneteskan air mata juga. "Mama kenapa menangis? Devan bertemu dengan papa karna tadi waktu pemilihan ketua kelas Devan di pilih sebagai ketua nya karna kata wali kelas Devan papa adalah pemimpin yang bertanggung jawab dan yang sangat baik, Papa juga pintar kata pak wali kelas tadi namun Devan memikir itu adalah on Febri, Tapi Devan ingat tadi malam mama memegang poto papa dan pak wali kelas juga mengatakan mama bertemu dengan papa, Devan ingin bertemu dengan nya dan melihat apakah dia benar benar sangat hebat" jelas Devan dengan senyuman yang mengembang sangat berharap di temukan dengan ayah nya.


"Sayang, Mama minta maaf, Mama hanya bisa mengajakmu ke tempat papa, Namun mama tidak bisa menemukan mu dengan papa, Papa sudah tiada, Papa terlalu di sayangi oleh tuhan dan tidak bisa bertemu dengan kita" jawab Nana dengan senyum nya saat mendengar penjelasan dari anak nya.


"Apa papa benar benar sibuk sampai tidak mau bertemu dengan Devan?" tanya Devan dengan tatapan sedih nya saat tidak bisa bertemu ayah kandung nya.


"Saat anakku sudah tiada aku baru sadar betapa berharga nya dia di kehidupan istrinya yang selama ini aku benci, Jika mungkin Nana yang meninggalkan nya dan Devan sendiri bagaimana nasib anakku, Namun saat seperti ini Devan sangat merindukan Ryhan....."


"Hatiku sakit sekali tuhan, Apakah bisa aku mengulang kejadian lalu dan membiarkan anakku bahagia dengan istri dan anak nya?" guman Merri yang air mata nya sudah deras menetes di wajah nya.


"Papa bukan tidak mau bertemu dengan mu, Hanya saja kita sudah tidak bisa bertemu dengan nya dan melihat nya, Hanya dia yang bisa memperhatikan dan melihat kita tanpa kita ketahui" suara yang terdengar asing terdengar jelas di telinga seluruh orang yang berada di makam hingga membuat semua orang menatap ke arah suara.


"Pak Bery" ucap Devan dengan senyum nya menatap Beri yang berada di belakang Febri. Beri membalas senyuman itu dan berjalan mendekat ke arah nya.


"Nama nya tidak begitu asing" guman Nana yang belum tau siapa lelaki itu.