Dear D

Dear D
Episode 198



"Barang barang itu letakkan di kamar itu" ucap Ryhan yang juga sudah menyiapkan kamar untuk anak nya yang terletak di depan kamar nya.


"Baik tuan" jawab penjaga tersebut.


Ryhan kembali masuk ke dalam kamar dan menutup kamar tersebut sedangkan Nana sudah tidak terlihat lagi di kamar namun terdengar suara air di dalam kamar mandi di kamar nya tersebut hingga membuat Ryhan tau di mana istri nya yakni di kamar mandi.


Ryhan mengambil laptop nya dan melanjutkan pekerjaan yang baru saja di kirim oleh Jony kepada nya dengan duduk di meja belajar istri nya.


Nana keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju biasa dan melihat suami nya tengah duduk di meja nya dan nampak tengah bekerja. "Lebih baik jangan menganggu nya, Jika dia mendengar suara ku pasti akan menghentikan pekerjaan nya dan melanjutkan nya saat aku sudah tidur" guman Nana dan memilih tidak mengganggu suami nya dengan menyapa dan menuju ke ruang ganti.


Nana mendudukkan tubuh nya di hadapan meja rias dan menatap wajah nya yang ada di pantulan kaca. Sudut bibir nya langsung terangkat saat mengingat hal yang menyenangkan. "Tuhan cukup baik kepada ku, Di saat aku kehilangan ayah Ryhan datang ke kehidupan ku, Saat aku kehilangan kak Rendi pula tuhan kembali mengutuskan Ryhan untuk menggantikan kakak ku hingga aku tidak terlalau bersedih saat kehilangan mereka, Namun...."


Nana mengusap perut nya dengan wajah sedih namun kembali tersenyum. "Berharap banyak saat kehadiran satu lagi manusia yang membuatku bahagia aku tidak akan kehilangan siapapun, Sangat berharap akan hal itu, Aku sudah merasa cukup dengan kehilangan ayah dan kakak dan aku tidak mau kehilangan siapapun lagi" sambung nya yang masih mengusap perut buncit nya tersebut.


"Tapi aku percaya tuhan sudah memberikan kebahagiaan tersendiri untukku dan Ryhan juga tidak akan meninggalkan ku" ucap nya kembali dengan tersenyum lebar menatap diri nya di kaca.


"Aku bangga kepada diriku sendiri yang bisa melalui seluruh masa sulit yang ada di hidupku" ucap nya kembali.


"Sayang kau sudah selesai mandi?" tanya Ryhan dengan mengintip ke ruang ganti dan terlihat istri nya ada di depan meja rias. Nana bisa melihat lelaki nya tengah mengintip nya dengan hanya kepala saja yang terlihat dan juga jari jari tangan nya.


"Kau ingin maling ya mengintip seperti itu?" tanya Nana dengan wajah datar nya membuat Ryhan kembali tegak seperti semula dan masuk ke dalam ruang ganti tersebut menghampiri wanita nya.


"Iya, Aku benar benar ingin menculik, Menculik kau dan juga anak di sini" jawab Ryhan dan mencium dengan gemas perut buncit tersebut.


"Shit jangan seperti ini, Akan jatuh ke belakang nanti" ketus Nana dengan memukul kepala itu.


"Kau ini suka sekali memukul kepala ku, Jika seperti ini kau yang menyiksa ku bukan aku" jawab Ryhan dengan mengerucutkan bibir nya menandakan dia merajuk.


Mata Nana menyipit saat melihat hal tersebut. Tangan nya naik dan langsung mencubit pipi suami nya tersebut. "Sejak kapan kau menjadi seperti ini hah? Sejak kapan kau suka cemberut seperti ini?" tanya Nana dengan menaik turunkan pipi yang tengah di cubit nya.


"Dari dahulu, Kau saja yang tidak peka" jawab Ryhan tanpa melepaskan tangan istri nya. Nana berdiri dari duduk nya dan langsung melepaskan tangan nya yang mencubit wajah suami nya tersebut.


"Pipi ini memerah, Apa tidak sakit?" tanya Nana dengan sedikit menaikkan kaki nya dan mengusap wajah itu.


Ryhan menundukkan sedikit tubuh nya dan langsung menggendong ibu hamil itu dan membawa nya menuju ke ranjang. Dia membaringkan tubuh itu perlahan dan setelah itu dia pula yang ikut baring namun dia memangku kepala nya menggunakan tangan nya dan menatap lekat istri nya yang tengah berbaring di hadapan nya saat ini.


"Kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya Nana dengan mengerutkan dahi nya akibat sedikit tidak nyaman di perhatikan suami nya saat ini.


"Ah tidak, Ayo kita istirahat saja" jawab Ryhan dan menenggelamkan wajah nya di bahu wanita nya tersebut.


"Shit, Kau ingin mengalihkan pikiran ku ya tentang ucapan mama Rania kemarin?" tanya Nana.


"Shit kenapa malah ingat?" guman Ryhan yang berusaha mengalihkan seluruh pikiran wanita nya dari itu namun wanita nya terus saja mengingat nya.


"Sayang aku sangat kelelahan, Bisakan kita istirahat? Aku juga tidak tau maksud mu itu apa" ucap Ryhan yang menambah eratkan pelukan nya namun masih bisa menjaga jarak dengan perut wanita nya itu.


"Coba jawab jujur pertanyaan ku, Apa benar yang di katakan mama Rania kemarin? Kau sengaja mengerjaiku dahulu?" tanya Nana dengan melepaskan pelukan tersebut.


"Jelas saja tidak, Aku tidak pernah mengerjai mu" jawab Ryhan yang malah kembali memeluk nya.


"Benarkah?" tanya Nana dengan tatapan tajam nya. Ryhan menganggukkan kepala nya mengiyakan pertanyaan istri nya tersebut.


Nana diam dan masih saja menatap tajam suami nya tersebut hingga Ryhan mengangkat kepala nya saat tidak mendapatkan respon ataupun suara dari istri nya tersebut. "Kenapa belum juga tidur? Ayo tidur ini sudah larut" ucap Ryhan.


"Kau tidak menjawab dengan jujur pertanyaan ku, Aku juga berpikir tidak mungkin bukan kau belajar hingga sangat larut seperti waktu itu?" tanya Nana kembali.


"Sayang ini sudah malam, Ayo tidur" ucap Ryhan.


Nana menatap ke jam dinding terlihat baru menunjukkan pukul tujuh malam. "Ini belum larut, Cepat jelaskan dengan jujur" ucap Nana kembali dengan mendorong tubuh suami nya tersebut hingga sedikit menjauh dari nya.


Ryhan menatap tajam ke arah istri nya tersebut dan di balas tatapan tajam pula oleh Nana. Ryhan membuang nafas panjang untuk memulai menceritakan yang sebenar nya kepada istri nya tersebut. "Baik, Baik aku mengaku" ucap Ryhan dan duduk dari baring nya begitupun dengan Nana.


Ryhan meletakkan bantal di sandaran agar nyaman untuk istri nya bersandar dan begitupun dengan nya yang bersandar di tangan istri nya. "M-maaf tentang waktu itu sedikit menyusahkan mu" ucap Ryhan dengan mencium punggung tangan tersebut.


"Tujuan mu melakukan itu apa? Kau bersekolah di sekolahan yang sama dengan ku" ucap Nana dengan menatap lekat suami nya tersebut.


.


.


.


.