
Plakkkk
"Ah" Nana langsung menundukkan kepala nya saat kepala nya terkena dengan alat rias yang ada di ruang dandan tersebut dan benturan nya cukup keras mengenai kepala nya.
"Nona, Anda tidak apa apa?" tanya perias yang merias diri nya.
"Ah tidak" jawab Nana dengan senyum nya dan kembali menatap ke kaca yang ada di hadapan nya dan perias kembali merapikan apa yang sedikit berantakan.
"Nona sangat sangat cantik" ucap perias dengan senyum nya. Nana membalas senyuman tersebut dan berdiri dari duduk nya.
Gaun impian kakak nya untuk di kenakan saat hari pernikahan nya saat ini tengah di pakai oleh nya dengan polesan make up membuat wanita itu semakin terlihat sangat cantik. "Mama, Apa kau sudah selesai?" teriak Devano.
Nana langsung menatap ke anak nya dan langsung melebarkan senyuman nya dengan kepala yang mengangguk. "Na kau sudah selesai?" tanya Weny dengan senyum nya menatap Nana.
Nana kembali melebarkan senyuman nya dan menganggukkan kepala nya. Devano dan juga Weny berjalan mendekat ke arah nya dan menggandeng Nana dan membawa nya menuju ke tempat acara.
Pintu besar terbuka, Sinar cahaya lampu menyodorti nya sang mempelai wanita hingga membuat Febri yang tegak di ujung sana bersama dengan Verel suami Yura menoleh ke arah nya. Febri nampak tersenyum dan senyuman itu di balas dengan senyum bahagia pula oleh Nana dan kedua orang yang menemani nya di samping siapa lagi jika bukan anak dan sahabat nya.
"Ayo ma" ajak Devano. Nana menganggukkan kepala nya, Kaki nya mulai melangkah.
"Ah" Nana menghentikan langkah kaki nya hingga membuat seluruh orang di sana nampak hawatir terhadap nya.
"Mama, Are you oke?" tanya Devano.
"Kau harus berjanji agar tidak meninggalkan ku"
"Sayang hati hati"
"Kau tidak boleh kemana mana, Kau tidak ingat jika kau itu sakit hah?"
"Sayang maaf aku telat"
"Ah" Nana langsung terduduk dengan bunga yang di pagang nya yang sudah lepas. Bayangan lelaki nya yang selalu mewarnai hidup nya kembali di ingat oleh nya. Febri yang melihat Nana terduduk langsung berlari ke calon istri nya tersebut.
"Na kau kenapa?" tanya Weny dengan memegang bahu wanita itu.
"Sayang kau kenapa?" tanya Febri dengan memegang bahu yang di pegang oleh Weny.
"I am Ryhan and you is my wife"
"Jangan menangis lagi ya cantik, Air mata mu terlalu berharga menangisi dunia, Lebih baik kau menangisi ku"
"Aku tidak akan menangis lagi"
"Kemari tidur bersamaku"
"R-Ryhan" cinta pertama dan terakhir nya kembali di ingat oleh nya.
"Hah?" Febri nampak bingung saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut calon istri nya tersebut.
Nana langsung mengangkat kepala nya dan menatap ke depan tapi dia tidak menemukan suami nya. "Di mana Ryhan?" tanya Nana kepada Weny.
"R-Ryhan?" tanya Weny.
"Jawab pertanyaan ku di mana..."
"Ah" Nana kembali memegang kepala nya yang kembali sakit itu.
"Sayang aku pergi sebentar, Kau urus butik bersama kak Anggi saja tidak apa apa?"
"Mau kemana memang nya kau?"
"Aku ada urusan, Aku akan pulang dengan selamat"
"Tapi kau sudah berjanji untuk menemani ku membeli susu Devan"
"Ryhan bilang dia akan pergi sebentar karna ada urusan tapi aku tidak melihat nya di sini, Kenapa dia tidak ada?" tanya Nana kembali dengan masih bingung akibat belum terlalu ingat seluruh nya.
"Dia pasti...."
Nana langsung berlari dengan bunga sudah tidak berada di tangan nya, Dia keluar dari gedung tersebut dan berlari keluar dan langsung menaiki mobil menuju kediaman nya dahulu dan juga suami nya. "Nana" teriak Febri dan langsung masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang mengikuti mobil yang di kendarai Nana.
"Mama" teriak Devano pula yang ikut berlari mengejar ibu nya.
Hanya beberapa puluh menit akhir nya dia sampai di rumah itu. Dia langsung keluar dari mobil dan terlihat gerbang rumah itu terkunci.
"Ryhan" teriak Nana dengan menggoyangkan gerbang rumah tersebut.
"Ryhan keluar kau, Jangan biarkan aku menemui mu tanpa kau menemui ku" teriak Nana kembali yang terus saja mengguncang gerbang tersebut.
"Ryhan cepat keluar" teriak Nana kembali.
"Jika aku yang masuk akan aku bunuh kau hidup hidup Ryhan, Cepat buka" teriak Nana yang masih saja belum ingat di mana dia meletakkan kunci gerbang.
"Ah" kepala wanita itu kembali sakit. Bayangan lelaki nya yang tengah berdiri di depan gerbang kediaman kusuma kembali di ingat nya.
"Di sana, Dia pasti di sana" ucap Nana dan kembali masuk ke dalam mobil dan kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi menuju ke kediaman keluarga suami nya.
"Ah cepat sekali dia" ucap Febri yang kembali melajukan mobil menyusul calon istri nya tersebut.
"Nana kembali mengingat masa lalu nya?" tanya Zea ibu Febri.
"Kita ikuti mereka" jawab Syahrul ayah Febri.
"Huh, Huh" Nana nampak ngos ngosan dan keluar dari mobil saat sudah sampai.
Dia menarik nafas panjang. "Ryhan keluar" teriak Nana hingga membuat satpam yang menjaga tempat tersebut keluar dan melihat siapa yang berteriak.
"Nona Nana" ucap satpam saat melihat Nana yang menggunakan gaun pengantin.
"Di mana Ryhan? Dia menyembunyikan diri dari ku?" teriak Nana dengan wajah kesal.
Merri dan Andra yang baru saja hendak berangkat ke acara pernikahan Nana mengurungkan niat mereka saat mendengar orang yang berteriak di gerbang. "Siapa itu?" tanya Merri.
"Saya belum mengetahui nya tuan" jawab sopir.
"Ryhan keluar, Jangan berani berani kau mencoba melarikan diri dan membiarkan ku menikah dengan orang lain" teriak Nana kembali dan mengguncang gerbang rumah itu hingga membuat Merri dan Andra sedikit kaget dan langsung berlari ke arah gerbang yang cukup jauh dari rumah.
"Nana?" ucap Merri saat melihat menantu nya berada tepat di hadapan nya menggunakan gaun pengantin yang seharus nya di kenakan di hari pernikahan nya dan juga anak nya.
"Shit kau berani bersembunyi dari ku Ryhan? Kau mau mati hah?" teriak Nana kembali dengan menendang gerbang tersebut akibat kesal dan langsung membalikkan tubuh nya.
Jalanan yang sangat ramai membuat wanita itu kembali kesakitan kepala nya. "Ah" Nana kembali memegang kepala nya yang sangat pusing saat melihat ramai nya jalanan di hadapan nya.
Brakkk
Tabrakan beberapa tahun lalu langsung di ingat oleh nya. "R-Ryhan?" ucap nya dengan bibir yang bergetar mengingat apa yang di alami nya dan suami nya beberapa tahun lalu.
"Nana" panggil Merri dan memegang bahu menantu nya tersebut.
"Tidak, Ryhan masih hidup, Dia berjanji tidak akan meninggalkan ku" ucap Nana dengan tubuh yang gemetaran mengingat hak tersebut.
"Tidak, Ryhan tidak mungkin meninggalkan ku" ucap nya kembali yang berusaha berdiri dari duduk nya tersebut.
"Sayang" panggil Febri yang baru saja sampai hingga membuat Nana langsung menoleh ke arah nya. Febri bisa melihat wajah yang lemas dari calon istri nya tersebut dan mata yang berbinar.
"Sayang ayo kita kembali, Acara akan......"
Plakkkk
Zea dan banyak nya orang yang mengikuti Nana kaget melihat Nana yang menampar Febri sedangkan Devano mata nya di tutup oleh Hanah. "Berani nya kau membohongi ku" teriak Nana dengan kesal nya dan air mata yang langsung menetes.
"Berbohong? m-maksud mu?" tanya Febri.
"Kau tidak mengatakan kepada ku yang lupa ingatan tentang Ryhan yang meninggalkan ku dan kau malah mengambil kesempatan di kondisi seperti ini" bentak nya dengan air mata yang terus saja menetes.
.
.
.
.