
"Perempuan itu cukup cantik" guman Ten saat sedari tadi memperhatikan Nana.
Ryhan menatap tajam lelaki yang ada di hadapan nya dan terlihat lelaki itu tersenyum menatap istri nya. "Aku ingin berkenalan dengan nya, Tapi apa dia mau berkenalan dengan ku?" guman Ten yang merasa tidak percaya diri ingin berkenalan dengan Nana.
"Hey apa yang anda lihat?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya saat sadar jika Ten menatap istri nya. Ten langsung menoleh ke arah nya, Tatapan mematikan yang di lontarkan oleh Ryhan untuk menatap nya membuat nya sedikit takut.
"Tidak melihat apa apa pak" jawab Ten dengan sopan nya akan pertanyaan Ryhan dengan tersenyum menatap nya. Ryhan nampak jijik akan lelaki itu yang malah tersenyum menatap nya.
Nana mencuri curi pandang untuk melihat suami nya dan terlihat lelaki yang sedang duduk bersama suami nya tersenyum menatap suami nya tapi suami nya malah memasang ekspresi wajah jijik menatap lelaki itu. Nana yang awal nya hendak tertawa langsung menahan tawa nya saat sadar jika dia sekarang sedang berada di kantor dan dia memilih untuk menundukkan kepala nya dan kembali melanjutkan makan nya.
"Kau sudah selesai makan nya?" tanya Fany kepada Nana yang nampak sudah selesai makan.
"Iya" jawab Nana dengan senyum ramah. Nana berdiri dari duduk nya dan membereskan bekas makan nya begitupun dengan Fany, Setelah membereskan bekas makan mereka kedua wanita itu langsung berlalu dari sana.
Ryhan ikut menyelesaikan makan makanan nya yang belum habis tersebut dan membereskan bekas makan nya tadi dan dia langsung menyusul istri nya. Dia takut ada yang menjahili istri nya makanya dia selalu mengawas nya untuk satu hari ini. Sepanjang jalan Ryhan hanya memasang wajah datar nya tidak dengan Nana yang mencoba ramah kepada banyak orang yang lewat di dekat nya.
"Pak Ryhan seperti nya dari tadi mengikuti Nana" guman Ten saat mengikuti Ryhan dan Nana dari belakang.
"Mungkin hanya kebetulan karna dia ingin ke ruangan nya" guman nya kembali menghilangkan pikiran aneh dari kepala nya.
"Aku ke tempat ku dulu" ucap Fany dengan tersenyum lebar menatap Nana.
"Iya" jawab Nana dengan tersenyum membalas senyuman dari Fany.
Fany kembali ke tempat nya dan Nana mendudukkan tubuh nya di atas kursi tempat nya. Ryhan melintas di hadapan wanita itu hingga membuat nya menoleh sekilas ke arah suami nya tersebut begitupun dengan Ryhan yang juga menoleh sekilas ke arah nya dan melebarkan senyuman nya sekilas pula. "Ih" ucap Nana yang merasa jijik akan perlakuan suami nya yang centil itu.
"Nana?" sapa Ten kepada Nana tepat di hadapan Nana hingga hal tersebut membuat Ryhan tidak bisa melihat istri nya.
"Iya saya?" tanya Nana saat lelaki yang tengah berdiri di hadapan nya menyebut nama nya.
"Benar nama mu Nana, Kenalkan nama ku Ten" ucap Ten dengan menyodorkan tangan nya menginginkan bersalaman dengan Nana.
Nana menatap ke tangan itu dan setelah itu menatap ke depan dan terlihat suami nya tengah pokus bekerja. "Nana" ucap Nana dengan menundukkan sedikit kepala nya akibat tidak mau bersalaman.
"Ah" ucap Ten dan menurunkan tangan nya saat Nana tidak menerima jabatan tangan dari nya.
"Umur mu berapa?" tanya Ten kepada Nana.
"Menanyakan umur?" tanya balik Nana yang cukup tidak nyaman di tanyakan umur oleh lelaki.
"Sedikit tidak sopan ya? Maaf aku bertanya agar aku bisa lebih sopan dengan mu jika kau lebih tua" ucap Ten dengan tersenyum. Senyuman itu memancarkan ketampanan wajah lelaki itu hingga siapapun yang melihat nya akan terpukau tapi tidak dengan Nana yang merasa biasa saja karna bagi nya suami nya lah yang paling tampan setelah ayah dan kakak nya.
"Ah mungkin anda lebih tua dari saya, Umur saya masih delapan belas tahun" jawab Nana dengan mencoba tersenyum meskipun cukup berat untuk nya tersenyum dengan orang yang baru di kenali oleh nya.
"Wah masih muda sekali" ucap Ten yang kaget mendengar umur Nana.
"Iya, Saya baru lulus sekolah SMK" jawab Nana.
"Di umur mu yang masih sangat muda itu kau dengan cepat mendapatkan pekerjaan ini?" tanya Ten yang kaget mendengar hal tersebut.
"I-iya teman saya yang membantu saya melamar kerja di sini" jawab Nana dengan senyum nya mencoba tenang.
Nana dan Ten langsung menoleh ke arah nya dan nampak wajah Fany sangat penasaran akan jawaban Nana. "Siapa teman mu itu?" tanya Fany kembali saat tidak mendapatkan jawaban dari Nana.
"Teman saya...." ucap Nana yang nampak ragu dan menatap ke suami nya di depan yang nampak masih pokus bekerja.
"Ryhan" jawab Nana dengan berbisik kepada Ten dan juga Fany agar tidak ada yang mendengarkan nya lagi.
"Hah?" teriak Fany namun dengan segera Ten langsung membekap mulut wanita itu takut Ryhan atasan mereka terganggu dan menyuruh mereka untuk bubar dan kembali ke tempat masing masing.
Fany yang di bekap pun langsung menepis tangan lelaki itu dan melototkan mata nya kepada lelaki tersebut. "Berani nya kau" ketus Fany dengan mata yang masih melotot menatap Ten.
"Kau benar hanya berteman dengan pak Ryhan?" tanya Ten tanpa menjawab ucapan Fany tadi.
"Em, Iya" jawab Nana yang sedikit ragu untuk menjawab, Dia takut jawaban nya salah.
"Syukurlah karna di sini tidak di bolehkan memiliki pasangan" ucap Ten.
"Pantas saja kau tadi nampak dekat dengan pak Ryhan, Ternyata kau teman nya, Aku pikir kau kekasih atau istri pak Ryhan tadi" ucap Fany hingga hal tersebut membuat Nana langsung tersenyum agar terlihat baik baik saja dan berbicara jujur.
"A-ah tidak aku dengan nya memang berteman sejak kecil" jawab Nana dengan tersenyum.
"Jika kau...."
"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Ryhan yang kembali muncul secara tiba tiba mengagetkan ketiga orang itu yang sedang berbicara. Nana, Fany dan juga Ten langsung menoleh ke arah Ryhan.
"T-tidak pak, Tadi Nana sedikit kesusahan mengerjakan pekerjaan nya makanya kami ke sini untuk membantu iyakan pak Ten?" tanya Fany dengan melototkan mata nya kepada Ten setelah menjawab pertanyaan Ryhan.
"I-iya pak" jawab Ten yang juga ikut gelagapan akibat Fany yang nampak ketakutan.
"Kembali ke tempat masing masing" ucap Ryhan dengan wajah datar nya.
"I-iya pak" jawab kedua nya bersamaan dan langsung bubar dan kembali ke tempat masing masing.
"Hawa bos dari diri mu memang nampak" ucap Nana dengan nada pelan dan kembali memperhatikan komputer yang ada di hadapan nya.
"Hah? Apa yang kau katakan?" tanya Ryhan dan meletakkan kedua tangan nya di atas meja kerja istri nya dan mendekatkan wajah nya ke wajah istri nya dengan tubuh sedikit membungkuk.
.
.
.
.
.
.