
"Kau mengusir ku Ryhan?" teriak Yura hingga membuat Weny bisa mendengarkan nya dan menoleh ke arah mereka.
"Shit berani nya berteriak di hadapan ku" umpat Ryhan dengan wajah kesal nya dan menatap tajam ke arah Yura.
Nna yang melihat tatapan tajam dari kedua nya langsung berdiri di hadapan kedua nya. "Sudah sudah, Apa apaan kalian ini" ketus Nana dengan mengusap kedua wajah orang itu hingga tidak menatap satu sama lain lagi.
"Tentang Weny kita bahas lain kali, Aku memang harus istirahat karna dari tadi tidak istirahat sama sekali dan aku juga akan ke rumah nanti bersama Ryhan" ucap Nana yang mencoba meredakan emosi Yura sedangkan Ryhan membuang pandang nya.
Yura membuang nafas panjang menandakan emosi nya sedikit mereda saat mendengar ucapan dan nada lembut dari Nana. "Baiklah, Aku permisi, Cepatlah ke rumah, Aku juga akan sering berkunjung kemari" ucap Yura dengan senyum nya.
"Tante pamit ya sayang, Nanti tante ke sini lagi" ucap nya pula dengan mengusap perut Nana. Nana hanya tersenyum dan melihat kepergian Yura yang sudah meninggalkan rumah nya.
"Ayo masuk" ajak Nana dengan nada rendah dan senyum yang mengembang menatap suami nya. Ryhan membalas senyuman yang selalu membuat nya lupa akan amarah nya dan menganggukkan kepala nya dan masuk bersama menuju ke kamar tanpa mematikan televisi hingga akhir nya pelayan lah yang mematikan nya.
"Kau mandilah terlebih dahulu" ucap Nana dengan senyum nya.
"Bersama saja agar tidak terjadi apa apa" jawab Ryhan.
"Tidak, Kau dahulu saja, Aku juga bisa menjaga diri ku nanti" jawab Nana dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi nya.
"Ayo sayang bersama saja" balas Ryhan yang langsung menggendong wanita nya dan membawa nya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuh nya dan melepaskan rindu nya ke istri nya.
Setelah selesai mandi kedua nya keluar dengan sama sama menggunakan baju handuk dengan tangan Ryhan yang selalu berada di pinggang wanita nya. "Harus istirahat tidak boleh menggambar malam ini" ucap Ryhan dengan nada rendah dengan menunggu istri nya duduk setelah itu baru dia pula tapi Nana tidak duduk hingga membuat nya juga tidak duduk.
"Aku mau menganakan baju dahulu" ucap Nana dan berjalan menuju ke ruang ganti. Ryhan tidak menjawab nya dan mendudukkan tubuh nya di atas ranjang akibat sangat kelelahan.
"Sebentar lagi aku akan memiliki anak" guman nya dengan senyum yang mengembang mengusap bantal yang di bayangkan sebagai anak nya kelak.
Nana keluar dari ruang ganti dan melihat suami nya berguling guling di atas ranjang. "Apa yang kau lakukan?" tanya wanita itu dengan wajah datar dan bingung nya akan lelaki dewasa yang di kenal nya dahulu menjadi kekanak anakan.
Ryhan langsung menghentikan tubuh nya yang berguling dan langsung menatap ke arah istri nya. "Duduklah" ucap Ryhan dengan senyum yang mengembang menatap wanita nya.
Nana tidak menjawab nya dan mendudukkan tubuh nya di atas ranjang dan Ryhan langsung meletakkan kepala nya di paha wanita nya tersebut. "Sayang apa kau tidak sabar menunggu bayi ini keluar?" tanya Ryhan dengan memasukkan kepala nya ke dalam baju wanita nya dan mencium perut itu.
"Hey jangan seperti ini, Ini geli" ketus Nana akan suami nya yang terus saja memainkan hidung nya di atas perut nya.
"Aku mencintai kalian" guman nya yang terus saja mengusap dan mencium perut buncit itu hingga dia sedikit menjauhkan tubuh nya untuk melihat apa ada reaksi dari bayi nya atau tidak.
"Kau sedang tidur ya sayang?" tanya Ryhan saat tidak mendapatkan reaksi apapun dari perut istri nya.
Nana membiarkan suami nya berbicara dengan anak nya yang masih di perut itu dan menatap ke sembarang arah. "Nanti jika kau kesepian dan anak kita sudah lahir kau bisa bermain dengan nya selalu" ucap Nana dengan senyum nya. Ryhan mengerutkan dahi nya saat mendengar ucapan wanita nya tersebut dan mengeluarkan kepala nya dan menatap wanita nya.
"Apa maksud mu? Aku tidak pernah merasa kesepian selama bersama mu" ucap Ryhan dengan menatap tajam wanita nya.
"Jika nanti aku tidak ada ataupun sibuk mustahil untuk mu tidak kesepian tapi kau tidak akan pernah kesepian karna ada bayi ini yang akan selalu menemani mu" jawab Nana dengan senyum nya.
Ryhan masih saja menatap tajam wanita nya tersebut. "Begitupun sebalik nya jika aku kesepian ada anak kita yang menemani ku" sambung Nana saat melihat tatapan tajam dari lelaki nya.
Nana yang awal nya tersenyum langsung memasang wajah datar dan sedikit mengsedih. "Sudahlah kemari kita istirahat" ucap Ryhan dengan memeluk pinggang wanita nya.
"Baik" jawab Nana dan membaringkan tubuh nya dan memeluk suami nya. Ryhan tidak memeluk erat tubuh wanita nya dan mengusap kepala wanita nya tersebut.
"Memang nya ucapan ku tadi salah?" guman Nana yang nampak bingung akan suami nya yang langsung menatap tajam tadi ke arah nya.
"Ah sudahlah" guman nya kembali dan memejamkan mata nya mencoba untuk tertidur begitupun dengan Ryhan.
Keesokan pagi nya.
Drittt
Ponsel Ryhan berbunyi menandakan ada yang menghubungi nya pagi pagi ini. Mata yang masih mengantuk dan terpejam terbuka perlahan saat mendengar ponsel berdering. "Shit siapa yang menelpon sepagi ini?" umpat lelaki itu dan berusaha mengambil ponsel nya yang ada di samping ranjang dengan gerakan tangan perlahan dia menjauh agar istri nya tidak terbangun.
"Halo, Ada apa?" tanya Ryhan dengan nada datar dan mata yang menyipit.
"Halo pak, Hari ini ada jadwal meating dengan perusahaan C dan jadwal nya pagi ini tapi saya belum melihat anda di perusahaan, Apa anda sudah berangkat terlebih dahulu?" tanya Jony dari balik telpon.
"Bukan nya tidak ada jadwal hari ini?" tanya Ryhan. yang langsung duduk dari baring nya.
"Ada pak, Jadwal juga bapak sendiri yang membuat nya" jawab Jony.
"Kau gantikan aku, Aku tidak bisa datang hari ini" ucap Ryhan yang hendak mematikan telpon nya.
"Tidak bisa pak, Pemimpin perusahaan itu ingin anda sendiri yang datang tidak boleh di wakilkan ataupun di gantikan dengan siapapun" jawab Jony.
"Shit" umpat Ryhan. Nana yang mendengar suara suami nya sedari tadi membuka perlahan mata nya dan terlihat lelaki nya tengah berbicara.
"Batalkan saja dan buat perjanjian di hari lain, Aku benar benar tidak bisa hari ini" ucap Ryhan.
"Maaf pak, Sudah beberapa kali meating dengan perusahaan ini di batalkan dan jika sekali lagi di batalkan nanti kita akan kehilangan proyek besar ini dan itu akan sangat merugikan perusahaan pak" jelas Jony.
"Kenapa? Kau memiliki urusan di perusahaan?" tanya Nana.
.
.
.
.
.
.