
"Em, Jika di ketahui oleh banyak orang akan menjadi hal yang buruk, Orang orang akan memburu keturunan dan pewaris tahta Kusuma" ucap Ryhan yang ingat dengan kata kata ayah nya.
"Marga keluarga mu?" tanya Nana.
"Em, Kusuma nama kakek, Nama belakang ku, Ayah dan juga kak Kevin tidak ada yang tau tentang aku dan bagaimana bentukku makanya identitas ku masih menjadi misteri seluruh orang, Jika tidak akan terjadi hal buruk" jelas Ryhan.
"Ah jadi papa dan kakak mu sudah di ketahui publik tentang mereka yang keturunan kakek mu? Sedangkan kau belum makanya kau menyembunyikan seluruh ini dari ku?" tanya Nana dengan menatap tajam wajah suami nya tersebut.
"Aku sudah bilang, Aku tidak bermaksud menyembunyikan nya dari mu hanya saja itu tidak perlu di bahas dan kau nampak nya juga tidak memperdulikan itu dan menerima ku apa ada nya" jawab Ryhan dan langsung memeluk istri tercinta nya tersebut.
"Hem, Seperti ini saja sudah cukup tidak usah hidup bermewah mewahan" ucap Nana dan membalas pelukan tersebut. Suasana yang awal nya dingin akibat Nana yang serius kembali mencair dengan pelukan yang di mulai dari Ryhan.
"Aku hanya tidak mau orang di sekitar ku kenapa kenapa makanya aku masih menyembunyikan nya, Apa lagi kita sejak kecil sudah bersama begitupun dengan rasa suka ku padamu yang juga sejak lama" guman Ryhan dan mencium pucuk kepala wanita nya tersebut. Menyayangi dan sangat mencintai wanita nya membuat Ryhan takut orang orang menyakiti nya kembali.
Bukan sekali dua kali orang menyakiti nya melainkan berulang kali. "Tentang mama aku juga masih belum terlalu yakin apa lagi dia tadi nampak tidak senang dengan kabar kehamilan mu" guman Ryhan kembali yang menyadari keanehan terhadap ibu nya.
"Jangan sampai dia kenapa kenapa saja, Apapun yang berhubungan dengan nya aku harus tau" guman nya kembali.
"Masalah beberapa kali kita ke tempat tempat mewah seperti restoran, Vila, Rumah sakit dan juga pelabuhan apakah itu milik keluarga mu juga? Atau hanya memang kebetulan mereka memanggil ku nona?" tanya Nana dengan mendongakkan kepala nya menatap suami nya.
"Em, Semua nya itu memang milik keluarga kami" jawab Ryhan dengan senyum nya.
"Tapi kenapa dia bisa tau dengan kau?" tanya Nana kembali.
"Sebelum.bertemu dengan mu aku sudah sering bermain di tempat tempat itu makanya mereka tau jika aku anak papa" jawab Ryhan dengan senyum nya.
"Enak ya kau dari kecil sudah di penuhi dengan kekayaan" ucap Nana dan melepaskan pelukan nya.
"Tidak terlalu enak, Aku malah iri terhadap kehidupan mu" jawab Ryhan.
"Tidak boleh iri, Itu penyakit hati" balas Nana.
"Sekarang sudah tidak karna alasan kau bahagia adalah aku" jawab Ryhan dan memperat pelukan nya dengan tangan yang mengusap kepala istri nya.
"Jangan erat erat memelukku" ketus Nana. Ryhan melonggarkan pelukan nya tersebut dan memejamkan mata nya.
"Aku lega sekarang karna sudah tidak menyembunyikan apapun lagi dari mu" ucap nya dan mencium pucuk kepala wanita nya tersebut.
"Aku harap memang begitu" guman Nana.
"Teman teman mu tadi kenapa kemari?" tanya Ryhan kepada istri nya.
"Em" Nana mengangkat kedua bahu nya menandakan jika dia tidak tau apa tujuan dari Yura dan juga Weny yang berkunjung menemui nya.
"Shit, Papa sudah tau tentang kehamilan wanita jalang itu, Bagaimana ini?" guman Merri yang nampak berputar kesana kemari akibat bingung dengan apa yang harus di lakukan nya.
"Jika aku memulai besok tidak ada yang terlalu mencurigaiku tentang keguguran wanita jalang itu, Karnakan dokter juga sudah bilang sendiri jika kandungan wanita jalang itu sangat lemah dan rentan keguguran. Jika aku melakukan nya besok tidak akan ada yang curiga kepada ku, Jikapun gagal akan aku cari lagi cara lain, Tapi ini tidak mungkin gagal, Iya tidak akan gagal" ucap Merri dengan senyum nya yang yakin terhadap rencana nya yang tidak akan gagal.
Andra tersenyum di belik pintu kamar saat mendengar rencana istri nya tersebut dan masuk ke dalam nya. "Ma" panggil Andra akan istri nya hingga membuat Merri yang membelakangi nya langsung menoleh ke arah nya.
"Papa? Paa sejak kapan masuk?" tanya Merri yang nampak memasang wajah tegang takut ketahuan.
Andra tersenyum saat mendapatkan pertanyaan tersebut dan berjalan mendekat ke arah istri nya tersebut dan langsung memeluk nya dari belakang. "Baru saja, Kau sedang apa?" tanya Andra dengan mengusapkan bibir nya di bahu istri nya.
"A-aku sedang memikirkan nanti kita akan mendapatkan cucu prempuan atau lelaki dari menantu kita Nana pa" jawab Merri dengan senyum nya mencoba tidak membenci Nana saat berada di hadapan suami nya.
"Benarkah?" tanya Andra dan membalikkan tubuh istri nya hingga menatap nya pula.
"I-iya pa" jawab Merri yang sedikit takut melihat tatapan serius suami nya.
"Jika benar kau menginginkan cucu perempuan atau lelaki dari mereka?" tanya Andra dengan senyum nya layak nya tidak mengetahui apapun rencana dari istri nya.
"Em, Mama lebih menginginkan cucu p-perempuan karna kan kita sudah memiliki cucu lelaki Zylan, Jadi tidak masalah bukan jika berharap anak yang di perut Nana saat ini perempuan?" tanya Merri dengan senyum nya.
"Em, Papa juga berharap seperti itu tapi jika lelaki juga tidak apa apa" balas Andra dengan senyum nya.
"E-em y-yasudah ayo kita istirahat" ajak Merri dengan senyum nya.
"Iya sayang" jawab Andra dengan membalas senyuman tersebut dan Merri mengajak suami nya tersebut menuju ranjang untuk beristirahat.
"Shit menjijikkan membahas jenis kelamin apa anak dari jalang itu, Aku harap tidak mendapatkan cucu dari nya dan tidak akan pernah karna Ryhan hanya cocok dengan wanita yang sederajat dengann nya bukan sama seperti wanita jalang itu yang tidak jelas asal usul nya dan tidak memiliki ibu" guman Merri dengan wajah kesal nya membelakangi suami nya hingga Andra mengetahui apa yang di umpat istri nya tersebut.
"Ma, Selama aku hidup tidak ada yang bisa mengusik kehidupan anak anakku termasuk kau, Mereka akan hidup bahagia dengan pilihan mereka sendiri dan Delina bukan lah wanita jalang melainkan beberapa wanita yang kau dekatkan dengan nya itu wanita jalang" guman Andra dengan senyum nya melindungi seluruh anak anak nya dari ibu nya yang memiliki hati yang kotor.
"Sayang sudah larut, Kau masih menggambar?" tanya Ryhan kepada istri nya yang masih duduk di atas kursi dengan lampu belajar yang hidup.
"Em" Nana tidak menoleh ke arah nya dan terus saja menggambarkan desain yang belum selesai itu.
.
.
.
.
.
.