Dear D

Dear D
Episode 228



Nana menghentikan mobil tepat di depan minimarket itu dan langsung turun begitupun dengan Devan yang turun dengan sendiri nya dari mobil. Nana langsung menggendong putra kecil nya itu. "Mama aku bisa berjalan sendiri" ucap Devan dengan wajah datar nya yang tidak mau di gendong oleh Nana.


"Justru kau bisa berjalan sendiri mama menggendong mu agar tidak kemana mana" jawab Nana dan berjalan masuk ke dalam minimarket.


Seperti banyak orang pada umum nya saat awal masuk minimarket, Nana langsung mengambil troli dan memasukkan putra kecil nya di dalam troli itu. "Ah" minimarket yang ramai membuat orang berdesakan di dalam nya hingga membuat Nana hampir terjatuh dan keranjang hampir terpental.


"Shit tolong berhati hati"


"Menggemaskan sekali suami ku" guman Nana saat terus saja mengingat kenangan yang tidak pernah pahit di hidup nya bersama lelaki nya.


Nana menyusuri minimarket untuk kebutuhan nya di rumah yang sudah lama tidak di huni dengan Devan yang hanya memasang wajah datar nya akibat di letakkan oleh ibu nya di dalam keranjang.


Sudah hampir tiga jam berada di minimarket akhir nya Nana mengakhiri belanja nya dan menuju ke kasir. Antrian yang cukup panjang membuat wanita itu bosan dan memperhatikan anak nya. Raut wajah tidak senang sangat terlihat jelas di wajah anak kecil nya itu. "Hey kau ini selalu saja memasang wajah seperti ini, Apa tidak takut nanti wanita tidak akan melirikmu karna takut hah?" tanya Nana dengan mencubit wajah anak nya itu.


"Mama lepaskan, Aku tidak memerlukan wanita lain kecuali kau, Seenak nya saja mencubit wajahku" ucap Devan dan mengalihkan pandang nya dari ibu nya yang mencubit nya itu. Nana melangkahkan kaki mendekat ke kasir saat giliran nya membayar.


"Kau ini memang anak...."


"Nona bisakah saya terlebih dahulu mengantri nya? Istri saya sedang hamil dan tidak bisa berdiri terlalu lama" ucap lelaki dengan sopan di belakang nya hingga membuat Nana menoleh ke arah suara itu.


Nana menoleh ke arah ibu hamil yang ada di samping lelaki yang berbicara kepada nya tadi. "Mohon untuk berhati hati, Istrku sedang hamil" pengorbanan lelaki nya saat kehamilan nya melintas di pikiran nya saat melihat pasangan itu membuat hati nya kembali sedih dan terdiam mematung di hadapan lelaki yang masih menunggu jawaban nya.


"Mama kenapa kau termenung?" tanya Devan hingga membuat lamunan Nana hilang.


"Ah iya, Silahkan" ucap Nana menjawab pertanyaan lelaki tadi dan memundurkan tubuh nya tanpa memperdulikan anak nya yang nampak kesal.


Lelaki tadi berjalan maju bersama istri nya yang di gandeng oleh nya. "Hati hati" ucap lelaki itu dan mengeluarkan barang barang dari troli.


"Ryhan juga memperlakukan ku seperti ini dahulu" ucapan yang tanpa di sadari keluar begitu saja dari mulut nya membuat Devan menatap bingung ke arah ibu nya itu.


"Siapa Ryhan?" guman Devan yang sangat bingung saat mendengar ucapan ibu nya itu.


"Terima kasih nona" ucap lelaki tadi dengan menundukkan sedikit tubuh nya dengan barang barang yang di bawa nya dan masih bisa menggandeng istri nya.


"Sama sama" jawab Nana dengan senyum nya dan melangkahkan kaki lebih dekat ke kasir. Dia mengeluarkan seluruh belanjaan nya dan meletakkan nya di hadapan kasir.


"Sini sayang keluar" ucap Nana dan menggendong kembali anak nya saat semua barang sudah di keluarkan nya.


Nana membayar total belanjaan nya dengan Devan yang masih saja berada di gendongan nya. "Mama aku turun saja" ucap Devan saat melihat belanjaan ibu nya cukup banyak.


"Tidak" jawab Nana dan mengambil belanjaan yang banyak itu dan membawa anak nya keluar dari minimarket itu dengan Devan yang masih ada juga di gendongan nya.


Nana meletakkan belanjaan nya di dalam bagasi mobil dan masuk ke dalam mobil dengan Devan di letakkan nya di samping kemudi. "Nenekmu" guman Nana dan menyala mesin mobil nya dan langsung melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman suami nya.


"Besok kau sudah mulai sekolahkan sayang?" tanya Nana.


"Iya, Ada apa?" tanya Devan dengan wajah datar nya.


"Tidak apa apa, Mama hanya bertanya" jawab Nana dengan senyum nya dan menghentikan mobil tepat di halaman rumah lelaki nya.


"Loh kenapa lampu rumah menyala?" guman Nana saat melihat lampu rumah menyala.


"Kemari sayang" Nana yang awal nya hendak mengizinkan anak nya untuk berjalan kaki mengurungkan niat nya saat melihat lampu rumah menyala dan langsung menggendong anak nya itu.


"Mama kenapa kita kemari? Bukannya mau ke rumah papa?" tanya Devan saat kembali ke tempat asing itu. Nana tidak menjawab nya dan menurunkan barang belanjaan nya dan membuka perlahan pintu rumah itu. Dia megambil besi yang ada di belakang pintu dan berjalan perlahan dengan Devan yang masih berada di gendongan nya.


Brakkk


Suara terdengar nyaring keluar dari dapur membuat nya melangkahkan kaki menuju ke dapur dengan perlahan. Saat melihat orang yang mencurigakan di rumah tangan nya langsung terangkat hendak memukul orang tersebut. "Berani nya kau masuk......"


"Ah, N-nona" ucap bi Ana orang yang bekerja sejak dia tinggal di sana bersama dengan Ryhan.


Brakkk


"B-bibi?" tangan wanita yang tengah memegang besi langsung melemah hingga besi yang di tangan nya langsung terjatuh.


Devan menatap ke bawah dan setelah itu menatap ke arah orang yang di katakan oleh ibu nya bibi tadi. "Nona akhirnya kau kembali kemari" ucap bi Ana dan langsung memeluk erat Nana yang sudah cukup lama tidak ia lihat.


"Bibi apa yang kau lakukan di sini?" tanya Nana dengan wajah datar nya dan melepaskan pelukan bi Ana dari nya.


"Saya selalu kemari setiap minggu nya hanya saja hari ini hampir malam saya kembali ke rumah" jawab bi Ana.


"Oh, Setelah selesai urusan bibi di sini, Bibi bisa meninggal tempat ini" ucap Nana dengan wajah datar nya dan kembali melangkahkan kaki nya meninggalkan dapur untuk menuju ke kamar nya.


"Sayang kau tunggu di sini sebentar ya, Belanjaan masih di luar, Mama lupa membawa nya ke dalam tadi" ucap Nana. Devan tidak menjawab nya dan hanya memasang wajah datar nya hingga membuat Nana merasa anak nya menyetujui nya dan dia kembali keluar dari kamar.


"Pak Beny" ucap Nana saat belanjaan nya di bawa ke dalam oleh bodyguard nya dahulu.


"Nona, Senang bertemu anda lagi" ucap Beny dengan senyum nya dan membawa belanjaan Nana ke dapur ke istri nya.


"Letakkan barang barang ku di sana" ucap Nana dengan wajah datar dan hati sesak nya. Beny menghentikan langkah kaki nya dan mengikuti perintah dari istri bos nya. Bi Ana yang mendengar ucapan Nana langsung keluar dari dapur dan terlihat suami nya berada di dalam.