
"Tapi apa Del mau?" guman Ryhan yang ragu akan Nana yang ingin pergi karna dia yakin Nana tidak akan mau karna dia menyayangi kota ini.
"Aku harus keluar saja terlebih dahulu dari sini" ucap Ryhan yang membuang niat nya untuk membawa Nana pergi dan mencari cara untuk keluar dari rumah itu tanpa di ketahui oleh siapapun.
"Kak Ferisa" ucap Ryhan yang baru ingat akan kakak nya yng menyetujui hubungan nya dengan Nana, Ryhan langsung mengambil ponsel nya dan mengirimkan pesan kepada kakak nya itu yang berada di kamar tepat di samping nya.
"Menujulah ke balkon" isi pesn yang dikirimkan oleh Ryhan kepada Ferisa.
Tingg
Ponsel Ferisa berbunyi menandakan ada yang menghubungi nya, Ferisa langsung membuka Ponsel nya itu dan melihat itu adalah pesan dari adik nya.
"Menujulah ke balkon"
"Shht anak ini enak sekali dia menyuruhku" ucap Ferisa dan langsung berjalan menuju ke balkon kamar nya itu. Ferisa menoleh ke samping dan melihat adik nya ada di samping itu.
"Tolong keluarkan aku dari sini" ucap Ryhan kepada kakak nya itu.
"Bagaimana aku akan mengeluarkan mu?" tanya Ferisa kepada Ryhan.
"Buka pintu depan, Jika tidak ikat kan seluruh pakaian mu supaya aku bisa turun ke bawah" jawab Ryhan akan pertanyaan itu. Ferisa mengerutkan dahi nya akibat tidak mengerti akan apa yang ingin di lakukan adik nya itu dan dia juga takut jika adik nya kenapa kenapa karna turun menggunakan kain.
"Aku akan mencoba membuka pintu kamar mu" ucap Ferisa yang tidak yakin akan permintaan Ryhan itu. Ryhan tidak menjawab nya dan hanya memperhatikan kakak nya itu berlalu dari sana. Ferisa mengendap endap keluar dari kamar nya dan dia tidak menemukan siapapun di luar, Ferisa berjalan ke dekat pintu kamar adik nya itu dan mencoba membuka pintu itu tapi tidak bisa.
"Di mana kunci kamar ini?" guman Ferisa yang tidak bisa membuka pintu kamar itu. Ferisa mencari cari keberadaan kunci di dalam kamar nya dan dia menemukan kunci cadangan pintu kamar adik nya itu. Ferisa kembali keluar dari kamar nya dan menuju kembali ke kamar adik nya dia langsung membuka pintu kamar itu.
"Cepatlah sebelum mama kembali" ucap Ferisa kepada Ryhan yang masih tegak di balkon. Ryhan mengangguk mengiyakan nya dan langsung berlari keluar dari kamar itu, Ferisa langsung mengunci pintu kamar itu kembali dan membantu adik nya untuk menyelinap keluar dari rumah itu dan untung nya Merri ibu mereka tidak ada di ruang tengah, Ruang tamu ataupun di sekitar rumah itu.
"Aku akan kembali" ucap Ryhan kepada Ferisa saat mereka sudah sampai di luar dan Ryhan pun langsung berlari kencang keluar dari pekarangan rumah itu dan mencari taxi hingga menemukan nya. Ryhan memberikan alamat rumah Nana kepada sopir taxi tadi dan sopir taxi tadi pun langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke tujuan. Beberapa menit dia menumpangi mobil akhirnya mobil sampai di tempat tujuan, Ryhan membayar taxi itu dan langsung turun dari taxi itu dan masuk ke dalam rumah. Saat dia masih di luar pekarangan rumah dia masih melihat mobil Anggi terparkir di halaman rumah istri nya itu.
"Ah" teriak Febri yang terdengar jelas oleh Ryhan yang berada di luar, Ryhan langsung masuk ke dalam rumah itu dan melihat istri nya tengah mengobati lelaki yang entah siapa itu karna Ryhan belum melihat siapa lelaki itu.
"Kalian sedang apa?" tanya Ryhan yang membuat seluruh orang menoleh ke arah nya termasuk Nana dengan tangan yang masih berada di punggung Febri.
"Ah, Perih" teriak Febri karna Nana menekan tangan nya itu. Teriakan Febri itu membuyarkan tatapan Nana dan juga Anggi kepada Ryhan, Nana kembali mengobati Febri yang terluka karna menolong nya itu. Ryhan berjalan mendekat ke arah istri nya itu dan menatap lekat apa yang terjadi kepada Febri dan dia membiarkan istri nya itu untuk mengobati Febri.
"Sudah selesai" ucap Nana saat sudah memasangkan plaster ke tubuh Febri yang terluka itu. Nana membereskan kotak obat tadi tanpa memperdulikan Ryhan sama sekali dan tidak menoleh ke arah suami nya itu. Nana mengalihkan pandang nya membelakangi Ryhan dan menatap Anggi. Anggi menatap adik nya itu dan setelah itu menatap Ryhan yang memperhatikan adik nya.
"In..." ucap Ryhan yang terpotong oleh Nana yang mengalihkan pembicaraan.
"Kak Anggi tadi memasak kan?" tanya Nana dengan menatap Anggi. Anggi langsung menganggukkan kepala mengiyakan ucapan adik nya itu.
"Yasudah ayo kita makan" ajak Nana dan langsung beranjak berdiri dari duduk nya dan langsung berlalu ke dapur.
"Ayo" ajak Nana saat diri nya sudah mendudukkan tubuh di atas kursi tapi tidak satupun dari mereka yang bergerak dari sana. Nana langsung mengambil makanan untuk nya supaya diri nya kenyang, Anggi dan Febri beranjak dari duduk mereka dan mendudukkan tubuh mereka di atas kursi yang ada di sana sedangkan Ryhan memilih untuk duduk di atas kursi sofa. Nana menatap ke depan dan tidak melihat suami nya itu menuju ke dekat ruang makan.
"Kau tidak ikut makan?" tanya Nana kepada Ryhan dan membuat Anggi dan Febri menatap ke arah nya dengan tatapan bingung karna seharus nya Nana itu marah tapi ini dia malah biasa saja. Ryhan menoleh ke arah istri nya itu.
Ryhan melebarkan senyuman nya menatap wanita itu. "Tidak, Aku makan saja" jawab Ryhan akan pertanyaan itu. Hati yang awal nya sakit saat mengingat ucapan ibu Merri tadi pun langsung tenang saat melihat senyum yang sangat jarang ia lihat sejak dulu hingga dia tidak sadar akan diri nya yang juga ikut tersenyum lebar melihat senyuman itu.
"Hah?" teriak Febri dalam hati nya saat melihat Nana yang malah tersenyum kepada Ryhan. Nana langsung tersadar dari pikiran nya dan langsung menggelengkan kepala nya. Nana tidak menatap Ryhan lagi dan melahap makanan nya, Ryhan kembali memasang wajah datar nya tapi pandangan nya tetap terarah kepada istri nya itu.
"Astaga ada apa dengan ku?" guman Nana saat merasa detak jantung nya tidak seperti biasa.
"Nana" panggil Qori yang baru saja datang dan berada tepat di dekat pintu rumah itu. Nana dan seluruh orang yng ada di dalam rumah itupun menoleh ke arah pintu dan melihat Qori sedang bertamu ke rumah itu.
"Banyak orang, Aku pulang saja" ucap Qori yang ingin berlalu dari sana tapi suara Nana menghentikan nya.
"Jangan, Masuklah dan kemari makan bersama" ajak Nana kepada Qori.
"Kau memiliki tamu" ucap Qori.
"Tidak apa, Ini kakak kakak ku, Masuklaah" ucap Nana lagi. Qori mengangguk mengiyakan nya dan masuk ke dalam rumah itu dan dia mendudukkan tubuh nya di hadapan Ryhan. Tidak bisa di pungkiri jika Qori masih memiliki rasa kepada Nana di tambah lagi dia belum terlalu dekat dengan Yura dan seperti nya dia memang mencintai Nana.
"Kenapa kau malah duduk di sana? ayo makan" ajak Nana kepada Qori yang duduk di hadapan Ryhan.
"Aku sebelum ke sini tadi makan dan malah aku membawa makanan ke sini" jawab Qori dan memperlihatkan kresek yang berisikan martabak coklat yang memang hampir di dalam nya itu berisi coklat kesukaan Nana.
"Ah baiklah" jawab Nana dan kembali melahap makanan nya.
"Kau kenapa tidak ikut makan?" tanya Qori kepada Ryhan. Ryhan tidak menjawab nya dan memilih mengalihkan siaran televisi yang ada di rumah itu. Ryhan memang sangat tidak menyukai Qori karna Qori menyukai istri nya makanya dia tidak menyukai Qori di tambah lagi saat ini dia mendatangi istri nya malam malam, Siapa yang tidak cemburu akan itu dan marah akan itu.