
"Mama ke bawah dahulu sayang, Jika ada sesuatu tolong panggilan mama atau pelayan" ucap Zea dengan mengusap kepala nya hingga membuat Nana menganggukkan kepala nya mengiyakan ucapan Zea itu.
Zea turun ke bawah bersama dengan Syahrul yang mengikuti nya. Febri kembali mendorong kursi roda itu masuk ke dalam kamar. "Terima kasih" ucap Nana dengan senyum nya menatap Febri.
"Aku adalah suami mu, Tidak perlu sungkan" jawab Febri dengan membalas senyuman dari Nana. Febri membantu Nana pula untuk naik ke atas ranjang.
"Panggil aku jika membutuhkan apa apa" ucap Febri yang hendak mencium dahi Nana.
"Baik" Nana dengan segera mengelak dengan mengambil air putih di samping ranjang. Febri tidak terlalu mempermasalahkan hal tersebut dan terus saja tersenyum.
"Aku akan kembali ke kamar ku" pamit Febri.
"Meskipun ingatan nya sudah hilang namun dia masih belum menerima ku, Ikatan nya dan juga Ryhan benar benar sangat erat, Kedua nya saling mencintai sampai sampai tadi waktu di makam......" Febri mengingat apa yang terjadi di makam tadi.
Kaki nya perlahan melangkah menuju ke kamar nya yang berjarak beberapa langkah dari kamar Nana. "Bahkan saat dia tidak mengenali Ryhan dia masih ingin memberikan siuman terakhir untuk Ryhan, Apakah hati nya sadar jika hanya mencintai Ryhan saja?" guman Febri kembali.
"Ini seperti nya terjadi kesalahan, Bukan karna aku hilang ingatan aku bisa di bodohi, Siapa sebenarnya aku? Apakah benar aku sudah menikah?" guman Nana dengan menatap langit langit kamar yang di tempati nya saat ini.
"Jika Ryhan sudah mengizinkan Febri untuk menjaga Nana aku tidak bisa apa apa, Acara pernikahan yang seharus nya di adakan beberapa waktu lagi harus di batalkan atau aku ganti pasangan lelaki nya saja bagaiamana?" guman Andra yang sudah merencanakan seluruh nya namun tidak terlaksana akibat kehilangan putra tercinta nya.
"Pa kenapa kau membiarkan Febri mengaku suami Nana?" tanya Merri dengan nada sedikit meninggi membuat Kevin, Dhea dan juga Ferisa menoleh ke arah Andra.
"Kenapa? Kau mau membiarkan dia berkeliaran tanpa ada pelindung agar kau mudah membunuh nya?" tanya Andra dengan wajah datar nya.
"Apa maksud papa?" tanya Ferisa.
"Kau tanyakan kepada ibu mu" jawab Andra dan berjalan masuk ke kamar nya dan mengunci pintu kamar itu.
"Mama jelaskan ucapan papa tadi" ucap Kevin dengan wajah datar nya.
"Kebenaran sesungguh nya sudah di ungkap sendiri oleh Ryhan, Semua bukti ada pada nya apakah kecelakaan ini juga ada kaitan nya dengan Merri?" guman Andra kembali.
Keesokan pagi nya.
"Om kemarin sudah datang?" tanya Nana yang saat ini duduk di kursi roda di bantu oleh beberapa pelayan.
"Sebentar lagi dia akan sampai, Kau tidak ingin bertemu dengan Devan?" tanya Febri dan mendorong kursi roda yang di duduki oleh Nana menuju ke bawah.
"Jelas saja iya, Mana dia? Apa masih tidur?" tanya Nana.
"Pagi sayang" sapa Zea dengan Devan berada di gendongan Syahrul suami nya.
"Mama sudah menyiapkan sarapan, Ayo kemari sayang" ucap Zea dan mendorong kursi roda yang di duduki Nana ke meja makan.
"Mamma" panggil Devan yang memberontak dari pelukan Syahrul untuk ke Nana.
"Iya sayang" jawab Nana dan mengambil putra kecil nya itu.
"Kau berumur berapa tahun?" tanya Nana.
"Dia hampir dua tahun" jawab Febri.
"Ah pantas saja sudah bisa memanggil mama" ucap Nana dengan senyum nya.
"Ini makanlah sayang, Dokter mengatakan jika kau harus banyak memakan sayuran" ucap Zea.
"Baik" jawab Nana dengan senyum nya dan menerima dengan senang hati makanan yang di berikan oleh Zea.
Semua orang yang ada di dapur menyantap makanan masing masing dengan Devan yang meminum susu. "Aku dari kemarin tidak pernah mendengar anak ini memanggil papa, Apa papa nya bukan orang ini?" guman Nana dengan menatap ke arah Devan dan juga Febri secara bergantian.
"Permisi nona, Di depan tuan Andra mencari anda" ucap pelayan menyampaikan bahwa Andra sudah sampai.
"Om yang kemarin?" tanya Nana kepada pelayan. Pelayan nampak bingung untuk menjawab akibat tidak tau siapa om kemarin.
"Ah iya sayang" jawab Syahrul saat melihat wajah bingung pelayan.
"Nana nampak sangat menginginkan cerita dari om Andra" guman Febri.
"Jelas saja, Ayo sayang" ajak Zea saat melihat suami nya hanya diam. Nana menganggukkan kepala nya dan Zea mendorong kursi roda menuju ke ruang utama dengan Devan yang berada di pangkuan Nana.
"Biarkan Devan bersama papa" ucap Syahrul dengan mengambil alih Devan. Nana tidak memperdulikan nya dia terus saja menatap ke depan berharap bisa bertemu om kemarin lagi.
"Om yang kemarin" sapa Nana saat melihat Andra datang sendirian.
"Sayang kau bisa memanggil ku papa Andra" ucap Andra dengan senyum nya menatap Nana.
"Kak Anggi" sapa Nana pula saat melihat Anggi baru saja datang hingga membuat seluruh orang menatap ke arah nya.
"Om Andra?" ucap Anggi saat melihat Andra.
"Jika aku telat saja sedetik mungkin mereka akan menciptakan kebohongan baru dan tidak mengatakan hal sebenar nya kepada Nana" guman Anggi.
"Nak duduklah kami tidak memiliki hutan dengan mu" ucap Zea.
"Iya ma" jawab Anggi dan mendudukkan tubuh nya di samping Andra.
"Om...."
"Kau nampak sangat berharap jika om akan bercerita dengan mu" potong Andra. Nana langsung terdiam saat mendengar ucapan tersebut.
"Apa kau akan mempercayai semua ucapan papa jika papa bercerita?" tanya Andra.
"Iya, Aku akan percaya" jawab Nana langsung yang yakin.
Febri hanya diam dan memperhatikan Andra. "Kau nampak masih bingung ya dengan identitas mu?" tanya Andra. Nana langsung menganggukkan kepala nya mengiyakan pertanyaan dari Andra.
"Nama mu adalah Delina biasa di panggil Nana oleh orang sekitar, Kau menikah tiga atau empat tahun lalu karna perjodohan hingga kau memiliki anak......."
"Siapa suami ku?" potong Nana.
"Suami mu adalag Febri, Lelaki yang selalu menemani mu, Dia adalah ayah dari Devan dan suami mu" jawab Andra dengan senyum nya membuat Anggi langsung menatap tajam ke arah nya.
"Apa yang sedang anda jelaskan kepada nya?" ketus Anggi membuat Nana menatap ke arah nya.
"Anggi adalah sahabat dari almarhum kakak mu, Dia sangat menyayangi mu sama seperti kakak kandung mu" ucap Andra kembali.
"Hah? Memang nya kakak kandung ku sudah meninggal? Ayah dan ibu ku di mana?" tanya Nana dengan wajah bingung nya.
"Kau sudah tidak memiliki siapapun makanya kau di jodohkan dengan Febri, Kalian saling mencintai satu sama lain, Kalian selalu hidup rukun dan bahagia semenjak pernikahan kalian dan......"
"Ah" Nana memegang kepala nya yang sakit membuat ucapan Andra terpotong.
"Sayang kau kenapa?" tanya Febri yang langsung mendekat ke arah wanita yang saat ini menjadi istri nya.
.
.
.
.
.
.
.
.