
"Aku akan keluar" ucap Nana kepada Ryhan dan langsung berlalu dari sana, Ryhan menatap kepergian wanita itu dan senyum yang jarang ia keluarkan pun langsung terlukis di wajah tampan nya itu.
"Aku sangat menyukai perhatian nya" guman Ryhan dengan tersenyum lebar menatap kepergian istri nya itu.
Nana membalikkan tubuh nya dan itu membuat Ryhan kembali memasang wajah datar nya. "Panggil aku jika membutuhkan sesuatu" ucap Nana yang ingat akan hal itu dan setelah itu dia kembali berjalan keluar dari kamar nya itu.
"Aku harus meminta izin untuk tidak masuk bekerja" guman Nana dan langsung mengambil ponsel nya di dalam saku baju nya tapi tidak ada.
"Di mana ponsel ku?'' tanya Nana yang tidak menemukan ponsel nya.
"Di dalam mungkin" ucap nya kembali dan langsung berdiri dan kembali ke dalam kamar nya. Nana membuka pelan pintu kamar nya itu dan terlihat Ryhan sedang tertidur, Nana masuk ke dalam kamar nya itu dengan sangat pelan supaya tidak membangunkan Ryhan.
"Mana ponsel ku?" guman Nana yang tidak menemukan ponsel nya.
"Ah ini" ucap Nana dan langsung mengambil ponsel yang terletak di atas meja itu, Ponsel yang di mainkan oleh Ryhan tadi adalah ponsel milik nya tapi dia tidak sadar akan itu. Nana menatap lekat lelaki yang tengah tertidur itu dan dia pun melekatkan tangan nya di dahi lelaki itu.
"Masih panas juga" guman Nana saat merasakan tubuh Ryhan tidak kunjung turun panas nya. Nana berjalan sedikit menjauh dari lelaki nya itu dan langsung menghubungi Febri sang bos.
"Halo" ucap Febri saat telpon sudah terhubung.
"Halo pak, Ini saya Nana" jawab Nana.
"Oh ada apa?" tanya Febri.
"Saya ingin meminta izin untuk tidak bekerja beberapa hari, Apa boleh pak?" tanya Nana dengan sopan nya dan itu terdengar oleh Ryhan yang tidak tidur itu, Ryhan membuka mata nya dan melihat istri nya tengah menelpon.
"Memang nya kenapa?" tanya Febri kepada Nana.
"Ini pak, Ryhan sakit jadi saya tidk mungkin meninggalkan nya sendiri di rumah karna..." ucap Nana yang terpotong oleh Febri.
"Ryhan suami mu? baiklah saya izinkan" jawab Febri dengan membuang nafas.
"Ah terima kasih pak, Nanti jika dia sembuh saya akan segera kembali bekerja" jawb Nana yang girang di berikan izin.
"Hem" jawab Febri dan langsung mematikan telpon itu.
"Huh" Febri mendengus panjang dan menyenderkan tubuh nya di sandaran kursi nya itu.
"Padahal aku ke cafe selain untuk mengawasi cafe untuk menemui nya" ucap Febri yang memang sudah menyukai Nana entah karna apa dia bisa jatuh cinta kepada wanita itu, Febri keluar dari ruangan nya itu dan berniat untuk kembali ke rumah.
"Mau kemana?" tanya wanita saat Febri keluar dari ruangan itu karna wanita itu ingin mengetuk pintu makanya dia langsung bertanya ingin kemana kepada Febri.
"Aku hanya berkunjung" jawab Jenaini akan pertanyaan itu. Febri tidak menjawab nya dan berlalu dari sana keluar dari cafe itu dan masuk ke dalam mobil. Dia juga keturunan china sama seperti Febri dan dia menuju ke indonesia karna merindukan Febri.
"Dia selalu dingin dengan ku" guman Jenaini yang sadar akan sedari dulu diri nya di acuhkan oleh Febri.
Nana menoleh ke belakang dengan ponsel yang sudah ia turunkan dan Ryhan pun dengan segera memejamkan kembali mata nya. Nana menghampiri Ryhan yang sedang tidur itu dan mendudkkan tubuh nya di atas kursi yang ada di sana.
"Pasti kau sakit karna terlalu sering menunggu ku bekerja" guman Nana dengan mengusap dahi yang sedikit mengeluarkan peluh itu.
"Tidak apa aku sakit, yang penting kau tidak sendiri" guman Ryhan dengan mata yang masih terpejam.
"Sengsara sekali hidup mu saat bersama ku" ucap Nana lagi dengan menatap lelaki itu.
"Maaf karna diri ku kau menjadi seperti ini" guman Nana dan menyenderkan kepala nya di tangan nya sedangkan tangan satu nya lagi masih mengusap wajah lelaki nya yang sedang tertidur nyenyak itu. Nana mengusap seluruh wajah yang sama sekali tidak pernah ia sentuh itu dan itu pertama kali untuk nya menyentuh wajah suami nya. Tangan wanita itu terhenti ke bibir tipis nan seksi milik sang suami.
"Bibir nya seperti bibir perempuan" ucap Nana dengan tersenyum dan tangan yang mengusap bibir itu. Nana terus mengusap dan mengelus bibir itu dan membuat Ryhan yang merasa kan itu sedikit kesal karna dia tidak ingin menyentuh istri nya sebelum selesai sekolah.
"Shht wanita ini, Kenapa dia malah menggoda ku?" guman Ryhan yang ingin sekali menerkam istri nya itu. Nana masih belum berhenti mengusap bibir itu dan malah di cubit nya dengan gemas.
"Menggemaskan sekali" ucap Nana dan beranjak berdiri dari duduk nya dan langsung mencium sekilas bibir itu.
Degg.
Jantung Ryhan berdetak kencang saat istri nya mencium sekilas bibir nya itu meskipun tanpa ******* tapi itu sangat mengagetkan dan istri nya berhasil mengambil ciuman pertama nya. "Astaga" ucap Nana yang tersadar akan apa yang dia lakukan. Nana langsung berdiri tegak saat sadar akan apa yang ia lakukan tadi dan menatap lekat wajah Ryhan terutama bagian bibir dan setelah itu dia memegang bibir nya.
"Ciuman pertama ku" ucap Nana yang terdengar jelas oleh Ryhan yang masih bisa berpura pura tidur itu.
"Syukurlah jika itu ciuman pertama nya karna ini juga adalah ciuman pertama ku" guman Ryhan yang sangat bersyukur akan hal itu.
"Ah tapi tidak apa, Toh dia juga sudah menjadi suami ku dan dia juga tidak sadar akan apa yang aku lakukan tadi" guman Nana yang mencoba tenang dan kembali mendudkkan tubuh nya di atas kursi di di bawah nya.
"Aku sedikit mengantuk" ucap Nana dan mencoba untuk tidur karna sudah terbiasa tidur siang dan tidur tengah malam. Nana pun tertidur dengan tangan yang menggenggam tangan Ryhan yang awal nya erat sudah sedikit kendor akibat Nana tertidur dan wajah nya tetap menghadap ke arah Ryhan.
Ryhan yang tidak mendengar ocehan istri nya pun langsung membuka mata nya dan melihat istri nya sudah memejamkan mata. "Untunglah dia sudah tertidur" guman Ryhan yang lega akan itu. Ryhan menggerakkan tangan nya tapi dia sadar akan tangan istri nya yang masih memegang tangan nya itu dan dia pun mengurungkan niat nya untuk mengangkat tangan kanan nya itu dan mengangkat tangan kiri nya untung menggaruk dahi nya yang sedikit gatal itu.
Setelah selesai menggaruk dahi nya Ryhan kembali menurunkan tangan nya dan kembali menoleh ke arah istri nya itu. Dia menatap lekat wajah itu hingga akhirnya mata nya terhenti di bibir yang tidak terlalu tebal milik istri nya itu. Ryhan langsung memegang bibir nya menggunakan tangan kiri nya dan kembali mengingat kelakukan istri nya itu. "Lancang sekali dia mencium ku" guman Ryhan dengan menatap kesal ke arah istri nya. Wajah yang awal nya kesal pun langsung melunak saat melihat wajah istri nya yang sedang tertidur itu.
"Tapi tidak apa, Aku menyukai nya" ucap Ryhan dan mengusap kepala istri nya itu dengan lembut. Ryhan memindahkan tangan nya yang di pegang eh istri nya itu dengan sangat pelan supaya tidak membangunkan wanita nya itu.
"Mari kita ulangi" ucap Ryhan dan mendekatkan kepala nya ke kepala sang istri dan langsung mencium bibir yang sudah mencium nya terlebih dahulu itu.