Dear D

Dear D
Episode 155



"Kenapa belum bisa di pastikan tan?" tanya Dira.


"Dia belum di periksa tapi kau tenang saja tante akan mencari cara agar bisa membawakan makanan untuk nya dan memberikan obat penggugur kandungan ke makanan itu" jelas Merri dengan senyum nya dengan menunjukkan obat yang sudah di siapkan oleh nya.


Andra menatap tajam obat yang di pegang oleh istri nya tersebut dan benar saja itu benar obat penggugur kandungan. "Jika dia tidak hamil bagaimana tan?" tanya Dira.


"Ini akan menyebabkan infeksi terhadap rahim nya dan juga akan membuat perut nya sakit" jawab Merri dengan senyum nya yang sudah tau apa aja pengaruh obat tersebut.


"Sudah aku duga, Kau benar benar tidak tulus untuk meminta maaf dan memperbaiki kesalahan mu" ucap Andra yang cukup kecewa akan istri nya.


Andra mengambil ponsel nya dan langsung menghubungi asisten nya. "Kau siapkan penerbangan besok" ucap Andra dan langsung mematikan telpon tersebut dan kembali menatap tajam kamera yang tengah tengah mengawasi istri nya.


"Tidak akan aku bairkan kau menghalangi cucuku melihat dunia" ucap Andra dengan wajah datar dan menyeramkan nya menatap istri nya di layar komputer nya.


"Kapan tante akan memulai nya?" tanya Dira.


"Menunggu waktu nya saja, Mungkin besok atau nanti malam" jawab Merri yang kembali tersenyum menatap Dira.


"Ah kenyang sekali" ucap Nana dan membersihkan sekeliling mulut nya menggunakan tisyu yang sudah di sediakan.


"Kau benar benar sudah kenyang?" tanya Ryhan kepada istri nya dengan tangan nya dan membantu mengeringkan bekas air di tangan istri nya.


"Em" Nana menjawab nya dengan wajah datar pertanyaan suami nya tersebut dan menarik tangan nya dan membersihkan nya sendiri.


Ryhan tidak mengusik dan tidak mempermasalahkan hal tersebut dan mengangkat tangan nya memanggil pelayan untuk meminta bayaran makanan yang ia makan bersama istri nya saat ini. Pelayan langsung menghampiri Ryhan dengan membawa total pembayaran dan Ryhan membayar nya menggunakan kartu kredit nya.


Setelah selesai pelayan kembali memberikan kartu tersebut kepada sang pemilik dan berlalu dari sana. "Sudah mau pulang? Atau kau masih menginginkan makanan di sini untuk di bungkus dan di makan di rumah?" tanya Ryhan dengan menyibak rambut istri nya yang menutup mata nya menatap seluruh bagian wajah cantik itu.


"Mereka berdua nampak sangat dekat, Ada hubungan apa antara mereka?" guman Dara saat melihat Ryhan yang mengusap wajah Nana apa lagi tadi saat dia mengingat Ryhan yang mencium leher Nana.


"Aku tidak membutuhkan semua nya, Aku ingin cepat pulang" jawab Nana dengan wajah kesal nya menatap suami nya dan tangan yang menepis tangan suami nya tersebut.


"Hah? Kenapa jadi marah seperti ini? Kau kan baru selesai makan" ucap Ryhan saat melihat istri nya yang marah kepada nya.


"Cepat aku mau pulang" jawab Nana dan berdiri dari duduk nya.


"Iya iya, Ayo kita pulang" ajak Ryhan dan ikut berdiri dari duduk nya. Kedua nya langsung melangkahkan kaki nya keluar dari restoran tersebut dengan Ryhan yang hendak menggenggam tangan wanita nya tersebut tapi dengan segera Nana mengelak dan mempercepat langkah kaki nya menuju ke jalan.


"Shit" umpat Ryhan yang tidak dapat menggapai tangan istri nya dan langsung menyusul wanita nya yang sudah mengehntikan taxi dan sudah masuk pula ke dalam nya.


"Kau ini kenapa hah?" tanya Ryhan. Nana tidak menjawab nya dan bergeser menjauhkan duduk nya dari suami nya tersebut. Ryhan membuang nafas panjang dan menggeserkan pula tubuh nya mendekat ke dekat istri nya tersebut.


"Kau kenapa?" tanya Ryhan dengan nada melembut akan istri nya yang tiba tiba kehilangan mood baik.


"Aku tidak tau kenapa bisa dia ke kantor dan bukan itu alasan aku memecat mu" jawab Ryhan.


"Dia bilang ada kerja sama dengan kantor mu kenapa kau bisa tidak tau? Kau tadi juga nampak tidak nyaman akan kehadiran nya apa kau sebelum nya pernah memiliki hubungan dengan nya?" tanya Nana dengan melototkan mata nya menatap suami nya tersebut.


Ryhan membuang nafas panjang dan menatap ke depan dan terlihat sopir taxi tengah memperhatikan mereka. "Aku tidak..."


"Jangan macam macam kau dengan ku, Kau ingat kau itu sudah memiliki istri jangan dekat dekat dengan wanita manapun, Mentang mentang aku tidak melihat kelakuan mu lagi di kantor kau pikir kau bisa seenak nya bersama dengan wanita hah? Kau harus ingat dengan status mu yang sudah menjadi suami orang kau dengar?" teriak Nanw yang mengencangkan ucapan kau dengar hingga membuat Ryhan menjauhkan kuping nya dari teriakan tersebut.


"Oh mereka sudah menikah, Aku pikir mereka pacaran" guman sopir taxi.


"Sayang jangan berteriak, Di sini tidak hanya kita berdua" ucap Ryhan dengan nada perlahan dengan mengusap kepala istri nya tersebut.


Nana menatap ke depan hingga membuat sopir taxi langsung membuang pandang nya kembali pokus ke kemudi. Nana ikut membuang pandang nya akibat tau dengan sopir yang melihat dan menyaksikan pertengkaran dia dan suami nya.


"Sudah sampai pak, Bu" ucap sopir kepada Nana dan juga Ryhan yang sudah sampai di depan apartemen yang mereka tempati.


Ryhan membayar taxi yang ia dan istri nya naiki tadi sedangkan Nana dia sudah keluar terlebih dahulu dan masuk ke dalam apartemen dan juga lift terlebih dahulu. "Delina" teriak Ryhan saat melihat lift yang hampir tertutup.


Nana menatap datar ke arah nya dan lift tetap saja tertutup . "Shit" umpat Ryhan yang sudah susah payah berlari agar lift tidak tertutup tapi nyata nya lift juga tertutup.


Saat lift terbuka Nana langsung keluar dari lift dan berjalan menuju ke apartemen nya. Nana membuka tas nya mengambil kartu apartemen tapi tidak ada untuk membuka penutup pin agar dia bisa memasukkan pin ke dalam nya tapi ternyata tidak ada. "Shit aku lupa mengambil nya dari Ryhan" umpat Nana saat ingat jika kartu tersebut di dompet suami nya.


Ryhan langsung keluar dari lift saat lift terbuka dan langsung menuju ke apartemen nya. "Huh, Huh tidak bisa membuka pintu?" tanya Ryhan dengan nafas ngos ngosan akibat berlari memastikan jika istri nya baik baik saja.


"Mana kartu nya" ketus Nana dengan tangan yang menengadah meminta kartu itu dari suami nya. Ryhan tidak menjawab nya dan mengeluarkan kartu tersebut.


"Kemarikan" ucap Nana yang hendak merampas tapi tidak bisa akibat Ryhan yang mengangkat kartu itu.


Ryhan menatap tajam wanita yang ada di hadapan nya saat ini hingga membuat Nana semakin kesal. Rahang nya mengeras akibat sangat kesal dengan suami nya tersebut.


.


.


.


.


.