
"Hah? Tuan Ryhan tersenyum dan mengatakan terima kasih dengan begitu tulus?" guman salah satu pekerja yang tidak percaya setelah beberapa tahun dia bekerja di Alexander grup dan tidak pernah melihat Ryhan tersenyum seperti saat ini.
"Ah nona benar benar membuat tuan berubah tiga ratus enam puluh derajat" guman pekerja itu kembali dengan senyum yang mengembang menatap kepergian Ryhan dan juga yang lainnya yang baru saja masuk ke dalam butik yang belum resmi itu.
"Wah sudah lengkap saja di sini" ucap Nana dengan senyum nya saat melihat semua nya sudah rapi dan sangat banyak peralatan menjahit di dalam nya. Weny dan juga Yura langsung menoleh ke arah nya.
"Gaun ini kau yang buat Na?" tanya Weny dengan memegang gaun yang di sarungkan ke patung.
Nana dan yang lain nya langsung mengalihkan pandang ke Weny dan terlihat gaun yang di buatkan oleh ayah Nana di letakkan di sana. "Bukan, Kak Rendi bilang ini adalah buatan ayah" jawab Nana dengan senyum nya.
"Shit kenapa mereka meletakkan nya di sini?" umpat Ryhan saat melihat gaun tersebut.
"Kemarikan akan aku simpan di dalam" ucap Ryhan dengan mengambil patung tersebut dari hadapan Weny.
"Kenapa? Bukankah bagus jika menjadi pajangan agar bisa menarik minat pembeli nanti nya?" tanya Yura dengan wajah sedikit bingung.
Ryhan langsung menoleh ke arah istri nya dan terlihat istri nya tersebut langsung mengalihkan pandang nya dari suami nya tersebut. "Kenapa kau malah membuang pandang? Jawab pertanyaan nya" ucap Ryhan dengan wajah datar kepada istri nya hingga membuat wanita itu kembali menatap nya.
"Jawab pertanyaan teman mu ini, Aku tidak wajib menjawab nya" ucap Ryhan dengan wajah datar nya dan membawa pergi patung yang berbalut gaun tersebut ke dalam ruangan istri nya untuk kembali di simpan.
"Hey jawab pertanyaan ku, Ada rahasia apa di balik gaun itu?" tanya Yura kembali dengan wajah datar nya.
"Tidak ada rahasia apapun hanya saja gaun itu di desain khusus oleh ayah dan di buatkan langsung oleh nya dan dia menyuruh ku mengenakan nya saat aku menikah nanti tapi pernikahan ku dan Ryhan tidak di adakan acara besar dan hanya mengucapkan ijab kabul saja kami sudah resmi menjadi suami istri baik itu di mata agama ataupun negara dan tidak di laksanakan sama sekali pesta" jelas Nana dengan senyum nya menatap sahabat nya tersebut.
"Jadi jika tidak di kenakan kenapa masih menyimpan nya?" tanya Weny pula.
"Setelah dia melahirkan aku akan melaksanakan pernikahan dengan nya dan gaun itu akan selalu di simpan hingga dia mengadakan pesta pernikahan" jawab Ryhan dengan wajah datar nya dan berjalan mendekat ke arah istri nya tersebut.
"Ah, Kalian akan melaksanakan pesta pernikahan setelah keponakan ku lahir, Baiklah aku mengerti" jawab Yura dengan senyum nya dan kembali menatap sekeliling.
"Rumah sudah di rombak ya na hingga menjadi seperti butik?" tanya Yura.
"Em, Ryhan yang mengurus semua nya" jawab Nana.
"Berarti di depan kantor mu itu adalah denah menjahit dan di sini kau memajang hasil jahitan mu nanti?" tanya Weny.
"Em" Nana menganggukkan kepala nya sedangkan Ryhan baru sadar ada yang sedikit menjanggal di otak nya tentang penjualan yang akan di sini saja.
"Seperti jika hanya di pajang di sini tidak akan menarik pembeli karna di sini terlalu terpencil, Lebih baik kau membuka butik di pinggir jalan agar bisa di lihat banyak mata dan banyak yang berminat dengan desai desain mu" jelas Weny.
"Iya aku baru ingat tentang ini" ucap Ryhan yang menjanggal tentang hal itu, Bagaimana tidak rumah kedua nya terletak paling ujung dan penghenti jalan tersebut adalah rumah nenek Ryhan dan di sebelah nya rumah Nana bagaimana bisa menarik pelanggan dengan membawa nya masuk ke pekarangan perumahan.
"Iya juga Na, Aku juga baru sadar dengan hal ini, Jika rumah mu berada di tepi jalan raya tidak masalah kau membuka nya di sana tapi rumah ini lihatlah tempat yang kalian tempati ini termasuk paling ujung" balas Yura pula.
"Aku tidak terlalu berniat ingin memajang nya tetapi menggunakan media sosial, Aku bisa melakukan promosi lewat sana dan menyebarkan brosur ke jalanan nanti nya itu yang aku rencanakan, Jika ingin membuka butik sendiri aku tidak memiliki modal ini saja menggunakan uang Ryhan" jelas Nana pula.
"Kau tidak boleh menyebarkan brosur ke mana pun itu akan membuat kau kelelahan" balas Ryhan dengan wajah datar nya yang tidak menyetujui cara promosi kedua.
"Terserah kau saja dan jangan sampai kau kelelahan, Brosur mu bisa aku membantu menyebarkan nya" jawab Ryhan dengan wajah datar nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi di sana.
"Benarkah?" tanya Nana yang nampak gembira dengan memegang tangan suami nya tersebut.
"Tapi kau kan memiliki pekerjaan dan jabatan mu tinggi apa kau tidak malu menyebarkan brosur butik yang belum berkembang ini?" tanya Nana yang nampak langsung kecewa saat mengingat hal tersebut.
"Kau memang nya bekerja sebagai apa?" tanya Yura kepada Ryhan.
"Kau adalah istri ku, Untuk apa aku malu menyebarkan nya? Bukankah suami istri memang wajib membantu?" tanya Ryhan dengan menggenggam tangan istri nya tersebut.
"Aku hanya takut nanti rekan kerja mu malah mengejek mu" jawab Nana tanpa kedua nya memperdulikan Weny dan Yura yang masih berada di sana.
"Jikapun dia tidak mau kami bisa membantu mu menyebarkan brosur nya" ucap Yura dengan wajah senang begitupun dengan Weny yang juga berinisiatif membantu sahabat nya tersebut.
"Kalian ini masih kuliah apa tidak apa apa?" tanya Nana.
"Kau adalah saudara ku, Mama pasti juga akan mengizinkan ku untuk membantu mu dan pasti mereka juga akan membantu mu" jawab Weny dengan senyum tulus nya menatap Nana.
Tingg
Yura langsung mengambil ponsel nya yang berbunyi tersebut. "Astaga sudah jam sepuluh, Aku harus ke kampus, Nanti aku kemari lagi selamat tinggal" teriak Yura dan langsung berlalu dari sana dengan berlari tanpa memperdulikan Weny.
"Kau tidak masuk kuliah?" tanya Nana kepada Weny.
"Aku libur hari ini, Bagaimana jika mencetak brosur nya?" tanya Weny menawarkan diri kepada Nana.
"Eh tidak usah, Masalah brosur biar nanti aku yang membuat nya dan mencetaknya sendiri setelah itu kalian bantu aku menyebarkan nya saja" jawab Nana dengan senyum nya menolak halus tawaran dari Weny.
"Bagaimana jika aku saja yang membuat nya dan langsung mempostingkan nya ke sosial media?" tanya Weny kembali yang tidak akan mengizinkan Nana melakukan nya sendiri.
"Tidak usah Weny, Aku bisa sendiri, Nanti kalian hanya perlu membantuku menyebarkan nya di sosial media dan juga di tempat tempat lain" tolak Nana kembali.
"Shit, Kau itu sedang hamil tidak boleh melakukan apapun yang membuat kau kelelahan" ketus Weny dengan kesal dan membuangkan pandang nya dari Nana.
.
.
.
.
.