Dear D

Dear D
Episode 184



"Iya, Ada apa?" tanya Nana dengan sedikit senyuman nya.


"Ah tidak, Aku tadi membaca tulisan di punggung Ryhan, Apa kalian sudah benar benar menikah? Dan hamil anak Ryhan?" tanya Dara dengan menatap lekat wajah Nana dan juga Ryhan secara bergantian.


Nana yang kebingungan menatap ke suami nya dan Ryhan langsung membuang pandang nya dan mengenakan kembali jaket nya tapi belum seluruh nya di kenakan sudah di tarik oleh istri nya. Nana membalikkan tubuh lelaki itu hingga menghadap ke Dara dan membaca tulisan di punggung suami nya.


Sedangkan Ryhan dia sama sekali tidak mau melihat Dara dan menatap ke sembarang arah. Wanita itu melepaskan tangan nya dan tidak membenarkan jaket lelaki nya dan kembali membalikkan tubuh lelaki nya menatap ke arah nya. "Kau terlalu berlebihan" ucap Nana dengan senyum nya menatap suami nya sedangkan Dara masih saja bingung akan kedua nya.


"Akan pertanyaan mu tadi, Kami memang sudah menikah" jawab Nana dengan senyum ramah nya menatap Dara.


"Sejak kapan? Anak itu?" tanya Dara dengan menatap ke perut Nana.


"Sudah sangat lama, Ini adalah bayi kami jadi kau sebagai teman tidak perlu hawatir ya" jawab Ryhan pula dengan senyum malas nya dan setelah itu kembali memasang wajah datar nya.


"Terima kasih sudah membertahu ku tadi" ucap Nana dengan senyum nya.


"Sudah tidak ada lagi yang ingin kau beli?" tanya Ryhan kepada istri nya. Nana langsung menggelengkan kepala nya menandakan tidak ada lagi yang ingin di beli nya.


"Yasudah ayo kita pulang" ajak Ryhan yang kembali merangkul pinggang istri nya.


"Eh tunggu, Kalian masih tinggal di tempat dulu kan?" tanya Dara setelah melamun cukup lama akibat memikirkan Ryhan dan juga Nana yang sudah menikah.


"Kenapa? Kau mau berkunjung?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya.


"Jika di izinkan" jawab Dara dengan senyum nya sedangkan Nana nampak tidak senang akan suami nya yang berbicara dengan wanita lain siapapun itu.


"Aku tidak mengizinkan nya, Ayo sayang kita pulang" ucap Ryhan dan membawa wanita nya berlalu dari sana meninggalkan Dara sendiri.


"Bagaimana keadaan mu?" tanya Andra yang saat ini berada di rumah Satya orang suruhan nya untuk menjaga anak dan menantu nya.


"Saya tidak apa apa tuan, Hanya saja mobil...."


"Tidak usah menghawatirkan mobil, Yang terpenting adalah keselamatan mu adalah yang terpenting" jawab Andra. Satya menundukkan kepala nya dan memegang tangan nya yang sediki sakit itu.


"Kenapa kau bisa menyerempet hingga menyebabkan kecelakaan?" tanya Andra.


"Mobil yang saya serempet tadi hendak menabrak mobil yang di naiki tuan Ryhan dan juga nona Delina tuan makanya saya terpaksa menyerempet agar mobil itu tidak menabrak mobil mereka tuan" jelas Satya dengan menundukkan kepala nya sedikit takut di marahi oleh tuan nya.


"Hah? Siapa yang berani melakukan itu?" teriak Andra yang nampak emosi mendengar penjelasan dari pengawal anak nya tersebut dan ada beberapa lagi orang yang juga mengawal nya.


"Kami belum mengetahui nya tuan, Yang jelas tuan Ryhan dan juga nona Delina sama sekali tidak menyinggung hati siapapun hari ini saat kami mengikuti mereka kecuali ada satu wanita yang mereka temui di minimarket tadi tapi juga bukan dia orang nya karna wanita itu langsung pergi setelah berbincang dengan kedua nya dan itupun terjadi setelah kejadian kecelakaan kapten Satya tadi jadi tidak ada hubungan nya dengan wanita itu" jelas yang lain pula.


"Apa ini kerjaan Merri?" guman Andra dengan rahang yang mengeras dan tangan yang menggepal mengingat beberapa percobaan istri nya yang hendak mencelakai menantu nya.


"Huh, Terima kasih kau sudah menjaga anak dan menantu ku hari ini, Kau adalah orang yang paling aku percayai untuk menjaga mereka dan tentang kesehatan mu aku yang akan mengurus nya semua nya, Sekali lagi terima kasih banyak karna sudah mengorbankan nyawa mu demi anak dan menantu ku" ucap Andra yang sedikit menundukkan tubuh nya berterima kasih sebesar besar nya kepada Satya.


"Ah tuan, Ini adalah tugas saya, Jika karna tuan keluarga saya juga pasti tidak akan seperti ini jadi tuan tidak perlu sungkan seperti ini" jawab Satya dan menegakkan kembali bahu Andra yang menunduk itu.


"Aku masih membutuhkan bantuan kalian untuk menjaga anak dan menantu ku, Karna jika sudah ada yang berani mencoba mencelakai kedua nya sudah pasti orang itu tidak akan berhenti sampai sekarang" ucap Andra kembali.


"Baik tuan, Kami akan selalu menjaga tuan dan nona" jawab Satya.


Sesampai nya Nana dan Ryhan di kediaman mereka, Mereka langsung turun. "Pak Febri?" ucap Nana saat melihat Febri di depan butik nya.


"Kau kemari...." ucap Febri dan mata nya teralih kepada perut Nana yang sangat membuncit saat ini.


"Sayang kau tidak boleh ke sini, Ayo kita kembali ke rumah" ucap Ryhan dengan merangkul pinggang wanita nya tanpa memperdulikan Febri yang ada di hadapan wanita nya.


"Ah iya, Sebentar" jawab Nana.


"Kak Anggi di mana pak? Saya sudah lama tidak melihat nya" ucap Nana yang cukup merindukan kakak nya tersebut.


"Anggi dia sibuk dengan urusan nya" jawab Febri.


"Ah" Nana mengangguk mengerti mendengar jawaban tersebut dengan tersenyum kecil.


"Kau merindukan nya? Apa perlu aku sampaikan kepada nya?" tanya Febri dengan menatap lekat wanita itu meskipun sedikit bingung dan heran akan perut wanita itu yang sudah membesar.


"Ah tidak usah pak, Jika dia sibuk biarkan saja" jawab Nana dengan senyum nya.


"Oh iya, Ini bukan nya rumah mu? Kenapa menjadi butik? Apa usaha mu?" tanya Febri dengan menatap lekat wanita itu.


"Em, Iya pak" jawab Nana kembali.


"Sayang kau sudah cukup lama berada di luar, Kau harus istirahat ayo masuk" ajak Ryhan kembali yang sedari tadi melihat wanita nya melemparkan senyuman nya kepada Febri.


"Pak saya permisi" pamit Nana, Febri mengangguk mengiyakan nya dan Nana berlalu dari sana bersamaan dengan Ryhan yang menggandeng pinggang nya.


"Hati hati" ucap Ryhan saat istri nya hendak menaiki tangga kecil masuk ke rumah.


"Mereka berdua suami istri?" guman Febri dengan mengerutkan dahi nya kebingungan melihat Nana dan Ryhan yang dekat.


"Tapi kapan mereka menikah? Dan kapan Nana hamil?" guman nya kembali yang masih sangat bingung dengan apa yang di lihat nya baru saja.


"Mereka tinggal di sana?"


"Tapi aku selalu melihat lelaki itu dulu tinggal bersama dengan Nana, Apa benar mereka sudah menikah sejak lama?" pikirian Febri di penuhi tanda tanya akan kehamilan Nana dan juga rumah yang sudah berubah jadi butik saat ini.


"Akhir nya sampai" ucap Weny dengan senyum nya dan memarkirkan mobil di samping mobil Ryhan dan turun bersamaan dengan Yura.


"Apa Nana di butik?" tanya Yura.


"Kita lihat saja, Jika tidak ada di butik di rumah nya, Ayo" ajak Weny dan melewati Febri yang masih berdiri tepat di depan butik tersebut.


.


.


.


.


.