
Nana langsung tersenyum menatap putra kecil nya itu. "Mama tidak menangis sayang, Air mata ini jatuh karna mungkin mama masih sedikit mengantuk makanya mata mama mengeluarkan air mata" jawab Nana akan pertanyaan anak nya dengan tersenyum lebar.
Berusaha untuk menguatkan hati yang saat ini sedang rapuh akibat di tinggalkan oleh lelaki tercinta nya tanpa di ketahui oleh nya di tambah lagi orang orang sekitarnya bukan memberitahu yang sebenarnya terjadi malah membodohi nya. "Kau sekolah hari ini?" tanya Nana dengan mengusap kepala anak nya tersebut.
"Iya ma, Ini hari senin" jawab Devan akan pertanyaan ibu nya tersebut.
"Yasudah sekarang Devan mandi biar mama menyiapkan baju Devan sama sarapan di bawah" ucap Nana dengan senyum nya dan menggendong anak kecil nya itu turun dari ranjang.
"Mandi di bawah saja, Ayo sayang" ajak Nana dan menggendong anak nya. Mereka keluar dari kamar tersebut dan menuju ke bawah.
Setelah selesai mandi, Mengganti baju dan juga sarapan kedua nya langsung keluar dari rumah dan masuk ke dalam mobil. Nana langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke sekolah anak nya.
Saat sampai dan mobil terparkir tepat di depan sekolah anak nya. Kedua nya langsung turun dari mobil. "Ayo masuk sayang" ajak Nana dan menggendong anak kecil nya tersebut masuk ke dalam sekolah nya.
"Jika Ryhan ada di sini pasti dia yang akan menemani Devan sekolah bukan hanya aku sendiri yang menemani Devan" guman Nana saat melihat banyak nya seluruh orang tua murid yang ada di depan banyak nya lokal di sekolah itu.
"Tapi selama ini......"
"Sayang papa akan menemani mu ya bersama dengan mama mu disini" Febri.
"Mama dan papa akan menunggu di sini, Kau nanti belajar yang bagus ya sayang mama" Nana. Teringat saat bersama dengan Febri yang menemani anak nya di sekolah membuat Nana membenci hal tersebut.
"Kebohongan itu cukup besar" guman Nana dan melangkahkan kaki nya kembali menuju ke kelas.
"Mama menunggumu di luar ya sayang" ucap Nana dan menurunkan anak nya tersebut ke bawah.
"Mama jangan kemana mana ya" ucap Devan dan mencium punggung tangan ibu nya dan juga mencium wajah ibu nya tersebut dengan di balas ciuman pula dari Nana.
"Iya sayang" jawab Nana dengan senyum nya.
"Devan masuk ma" pamit Devan dan langsung berlari masuk ke dalam kelas nya. Nana tersenyum menatap kepergian anak nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi yang ada di depan kelas itu.
"Aku baru tau tentang kehidupan nya sudah lama begitupun dengan hubungan nya dan Ryhan"
"Aku....Aku merindukan Ryhan, Sedang apa dia sekarang? Apa dia sudah bertemu dengan ayah?" guman Nana.
"Aku ke makam nya saja terlebih dahulu, Sebentar saja setelah itu kembali kemari" ucap Nana yang kembali berdiri dari duduk nya.
"Mau kemana dia?"
"Butik?" ucap nya dengan nada pelan saat melihat butik milik masih terbuka.
"Lain waktu saja aku akan kemari" ucap nya dan kembali melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke pemakaman.
Hanya beberapa waktu akhirnya sampai di makam. Nana langsung turun dari mobil nya dan berjalan masuk ke dalam makam itu. Dengan membuang nafas panjang dia berjalan mendekat ke arah makam suami nya. Tubuh itu perlahan berjongkok tepat di hadapan makam itu, Tangan yang naik ke batu nisan yang di atas namakan suami nya mengusap usap batu tersebut dengan tatapan tajam melihat batu nisan itu.
"Aku datang, Apa kau merindukan ku?" tanya Nana dengan mengusap batu nisan tersebut.
"Kau tidak menjawab, Apakah aku memiliki salah sehingga kau meninggalkan ku untuk selama nya?" tanya Nana kembali.
"Kau sudah berjanji tidak akan meninggalkan ku, Namun kau meninggalkan ku untuk selama nya, Kau juga berjanji untuk menemaniku membesarkan Devan, Namun kau pergi begitu saja tanpa berpamitan pula, Apakah pamitmu waktu itu adalah pamit terakhirmu?" tanya Nana dengan mata berbinar menatap batu nisan itu.
"Kau tau, Semua orang berbohong tentang kehidupan ku di saat ingatanku menghilang, Mereka membodohiku dengan mengatakan jika aku adalah istri pak Febri padahal jelas jelas suamiku adalah kau bukan? Devan dia sudah terpengaruh dengan keadaan, Dia tidak mengingat ayah tampan nya ini dan menganggap bahwa pak Febri adalah ayah nya padahal tidak." ucap Nana.
"Kau tau, Papa mu juga yang mengatur rencana ini, Padahal dahulu dia sangat merestui kita dan terus melindungi kita dari mama mu yang mencoba memisahkan kita, Namun dengan kebodohanku ini aku langsung percaya dengan satu ucapan nya yang mengatakan bahwa pak Febri adalah suamiku, Haha" wanita itu sedikit tertawa mengingat kebodohan yaang sangat bodoh di lakukan oleh nya.
"Kau sudah sepatutnya marah kepadaku tentang hal ini, Aku waktu itu....."
"Hiksss kau hanya tersenyum melihatku tanpa memanggilku waktu itu" Nana langsung menangis dengn kepala yang menunduk mengingat saat terakhir lelaki nya yang tersenyum kepada nya.
"Kau tidak memanggilku waktu itu, Namun kematian mu....."
Kecelakaan beberapa tahun yang di sebabkan oleh kecelakaan kembali teringat oleh nya. "Ryhan" diri nya yang memanggil lelaki nya yang berada di sebrang jalan teringat jelas di benak wanita itu.
"Jika tidak aku yang memanggilmu dan menyusulmu ke depan rumah itu, Kecelakaan ini tidak akan mungkin terjadi, Maaf, Maafkan aku, Hikssss" wanita itu kembalu menangis, Air mata yang sangat deras menetes di wajah itu dengan kepala yang masih menunduk dan tangan yang memeluk makam lelaki nya.
"A-aku mohon kembali kepadaku, Aku sudah kehilangan ayah dan kakak, Aku tidak mau kehilangan siapapun lagi, Aku mohon bangunkan aku dari mimpi buruk ini, Hikssss" menangis dengan memeluk erat makam itu dan sangat berharap jika saat ini ia tengah berada di dalam mimpi. Memejamkan mata agar nanti bangun semua nya kembali seperti semula.
"Nak" suara terdengar sangat jelas dan familiar di telinga nya membuat Nana membuka perlahan mata nya.
"Aku sudah bangun dari mimpi buruk itu?" tanya Nana yang langsung bangkit dan menatap sekitar namun dia masih berada di makam.
"Apakah tuhan tidak memikirkan kebahagiaan ku hingga semua orang di sekitarku di ambil oleh nya?" tanya Nana dengan air mata yang terus saja menetes tanpa mengedipkan mata nya menandakan hati nya benar benar sedih saat ini.
"Sayang" panggil Andra kembali saat tidak mendapatkan tolehan ataupun jawaban dari Nana. Nana langsung menoleh ke belakang dan terlihat Andra berada di belakang nya.
"Papa? Kenapa kemari? Ingin menemui anak kalian?" tanya Nana dengan wajah datar nya menatap Andra.