
Dear D
Jangan marah. Kamu tau? Ketika kamu marah rasanya duniaku hancur, aku takut rasa marahmu itu membuatmu memutuskan untuk meninggalkanku. Aku takut...
Ya walau ku tau, memang itu lah akhirnya. Tapi percayalah, aku selalu berusaha untuk memperbaikinya. Jangan marah lagi, kumohon.
Vey mengetik sesuatu pada aplikasi *******, namun kemudian menekan tombol backspace lagi untuk yang kesekian kalinya, ini sudah 3 jam lamanya dan ia baru menulis satu paragraf itu pun pada akhirnya ia hapus lagi.
Vey mengacak-acak frustasi rambutnya sendiri, "Aahh! Gue harus menulis apa?"
Cling
Dengan gerakan malas, Vey bangkit dari ranjang dan mengambil ponselnya yang terletak diatas nakas, mengecek notif pesan di aplikasi whatsapp.
Adik Ipar tergansss
Vey, jadi ketemuan sama Reta kan?
Gue tunggu di depan apartement.
Vey hampir saja lupa jika hari ini ia ada janji dengan Artha. Ia buru-buru keluar dari apartement, setelah mengenakan jaket tebal berwarna hitam dan celana jeans, ditambah dengan syal hitam melingkar dilehernya. Sedangkan rambutnya ia biarkan tergerai.
Sekarang Vey sedang malas berdandan. Lagipula untuk apa berdadan kalau sudah cantik?

"Ayok kak" cicit Vey sesaat memasuki mobil Artha.
"Lu udah ijin sama bang Dean kan?" Artha takut kakak satu-satunya itu akan marah, jika sampai tau Vey pergi bersamanya secara diam-diam.
"Udah kok" Desis Vey, berbohong. Saat ini Vey memang sedang merasa kesal pada Dean. Ia kesal gara-gara semalam Dean mengganti bajunya tanpa ijin. Rasa kesalnya semakin memuncak, ketika mendapati leher mulusnya yang mendadak dipenuhi dengan kissmark.
Siapa lagi kalau bukan Dean pelakunya.
Ketika Vey meminta penjelasan, Dean malah berdalih bahwa Vey yang melepaskan bajunya sendiri dan yang Dean lakukan hanya memakaikan Vey baju kembali.
Untuk masalah kissmark, Dean berkata bahwa Vey sendirilah yang memintanya. Dan yang Dean lakukan hanya menurutinya.
Vey benar-benar tidak mempercayai ucapan suaminya itu, pasti Dean sengaja melakukannya. Lelaki memang suka modus.
"Oke beb, kita jalan" Artha melajukan mobilnya menuju rumah Reta, jaraknya cukup jauh dari apartement Vey. Butuh waktu sekitar 2 jam untuk sampai kesana, tapi bagi Artha itu tidak masalah. Yang terpenting Reta mau menerimanya kembali.
Mobil Artha berhenti tepat didepan sebuah rumah yang sangat sederhana, bahkan mungkin bisa dikatakan memprihatinkan. Dindingnya terbuat dari kayu, terlihat rapuh dan agak doyong. Sedangkan alasnya masih berupa ubin "Ini rumah Reta?" Tanya Vey, ragu-ragu.
Artha mengangguk lalu tersenyum parau. "Dia bukan berasal dari keluarga yang berkecukupan Vey. Dia orangnya sederhana banget dan apa adanya".
"Dan itu yang bikin Reta spesial di mata lu?"
"Iya mungkin. Dia beda dari semua cewek yang pernah gue pacarin, dia gak pernah minta apa-apa ke gue, bahkan dia sering nolak barang-barang mewah yang gue kasih". Tutur Artha.
"Itu artinya dia cewek yang baik. Yaudah yuk turun, gue dah gak sabar pengin ketemu Reta" Ucap Vey seraya melepas safety beltnya.
"Ayok" Artha keluar dari mobil dan segera berlari ke sisi kiri mobil, membukakan pintu untuk Vey.
Vey tertawa kecil, "gue bisa buka sendiri kak".
"No no no... Lu tuh udah bagaikan majikan di hidup gue, jadi gue harus melayani lu" Artha mengedipkan sebelah matanya.
"Dan lu udah bagaikan budak di hidup gue" Balas Vey sembari cekikikan.
"Jadi budak pun gue mau. Apapun demi nyonya Geraldo" Perkataan Artha membuat tawaan Vey lepas. Entah bagaimana Artha selalu bisa membuatnya tertawa, dan membuatnya lupa dengan semua rasa kesal yang sedang ia rasakan.
"Andai aja sifat Dean kayak lu kak, yang sweet dan humoris pasti gue bakalan bahagia banget deh" Vey berandai-andai, pasti akan sangat menyengkan jika Dean memiliki sifat sweet dan humoris.
"Buat dia jatuh cinta ke lu. Karna asal lu tau ya dia itu punya sisi sweet yang sweetnya melebihi gula. Kalau humoris dia mah gak bisa, selera humor dia rendah Vey"
Vey mendengus lemah, "caranya gimana?"
"Kasih jatah tiap malem, entar lama-lama juga luluh" Artha terkekeh geli.
"Dia aja belum mau nyentuh gue kak"
"Haha berarti lu masih perawan? Aduh abang gue beneran gak normal deh kayaknya"
Vey mengedikkan bahu acuh. "Au ah".
"Coba deh lu pakai baju seksi di depan abang gue, gue bener-bener meragukan kenormalan dia" Saran macam apa ini? Entahlah tiba-tiba saja tercetus di otak Artha.
"Tapi dia kemarin nyium gue kak, terus leher gue juga dicupangin sampe merah merah gini. Masa sih gak normal?" Vey memengang lehernya yang tertutup syal.
"Halah banci juga bisa nglakuin itu kali. Lu harus mengetest dia Vey" Maafkan Artha yang telah berbohong. Sebenarnya Artha tau alasan Dean belum mau menyentuh Vey, Dean takut Vey hamil diusia muda dan alasan lainnya karena Dean belum mencintai Vey.
Sebenci-benci Dean pada Artha, jika ada sesuatu pasti Artha lah yang akan Dean cari sebagai pendengar dan motivatornya.
Seblangsak-blangsaknya Artha, ternyata dia juga orang yang sangat bijak dalam memberi motivasi. Bahkan kadar kebijikannya mungkin melebihi Mario Teguh.
"Iya deh, ntar gue coba"
Artha bersorak dalam hati. "Akhirnya bentar lagi gue punya keponakan"
"Sip" Artha mengacungkan dua jempolnya.
.
.
"Nyaman kok" Vey tersenyum tulus, lalu ia duduk diatas kursi kayu, bersebelahan dengan Artha.
"Hmm kak Vey sama kak Artha ada urusan apa kesini?" Tanya Reta, sopan.
"Jadi gini Ret, ada yang pengin gue jelasin. Kamu tau kan gue istri kakaknya Artha?" Reta terlihat mengangguk.
Vey pun melanjutkan ucapannya, "jadi gak seharusnya lu cemburu sama kedekatan gue dan Artha, gue udah anggap Artha kayak saudara gue sendiri. Jadi gue mohon lu mau ya balikan sama Artha".
Reta tersenyum simpul, "aku gak pernah cemburu sama kak Vey, dan aku putusin Artha karena alasan lain, gak ada sangkut pautnya sama kak Vey".
"Terus karna apa Ret? Apa aku udah nglakuin kesalahan? Bilang apa kesalahanku... Aku pengin memperbaiki itu" Nada bicara Artha terdengar menekan.
Artha benar-benar tidak mengerti apa alasan Reta memutuskannya, awalnya Artha pikir itu karena ia mengepost foto Vey. Secara Reta memutuskannya tepat setelah beberapa jam ia mengepost foto Vey.
Alasan lain? Jika Artha telah membuat kesalahan, tolong beritahu dia.
Vey menyentuh bahu Artha, mengisyaratkan agar Artha tetap tenang. "Terus karena apa Ret? Tolong kasih tau gue, emang lu gak kasihan gitu sama Artha?"
Reta kembali tersenyum, senyuman yang terlihat begitu menyakitkan. "Maaf kak Vey, tapi aku rasa sebaiknya aku sama kak Artha emang harus putus".
"Ya tapi kenapa Ret? Kamu harus kasih aku alasan yang logis, biar aku bisa terima ini semua"
"Se---/" Perkataan Reta terpotong saat seorang wanita cantik tiba-tiba datang. Wanita itu nampak terkejut dengan keberadaan Vey dan Artha.
"Kalian ngapain disini?" Sentak wanita berambut pirang sebahu itu dengan tatapan tidak suka.
"Mereka cuma main kok kak" Titah Reta pada sang kakak.
Vey berusaha bersikap sebiasa mungkin, lalu ia tersenyum sinis pada wanita paling menyebalkan yang pernah ia kenal itu. "Hai Rena, kita ketemu lagi yah".
Vey sangat tau siasat buruk Rena. Rena ingin menghancurkan rumah tangganya dan mendapatkan Dean kembali. Dan sekarang Vey juga tau apa alasan Reta memutuskan Artha, itu pasti karena perintah Rena.
"Tolong pergi dari sini, gue lagi males liat muka lu" Ketus Rena.
"Makannya jauh-jauh dari rumah tangga gue". Sahut Vey, tidak kalah ketus.
Artha yang seolah memahami situasi yang terjadi, langsung menarik tangan Vey dan membawanya ke mobil. "Paan sih kak?" Vey melepaskan tangannya dari genggaman Artha saat sampai di depan pintu mobil.
"Vey maafin gue yah, gara-gara gu----/"
Vey menginterupsi kalimat Artha, "bukan gara-gara lu kak. Lu tau alasan Reta mutusin lu?"
Artha menggeleng. Vey melanjutkan ucapannya, "itu karena perintah Rena kak. Rena itu mantan pacar Dean, dan dia pengin balikan lagi sama Dean. Jadi menurut gue wajar aja kalau si Rena minta Reta buat mutusin lu".
"*****, tuh tante-tante ternyata pelakor? Dan itu artinya Reta juga jahat dong?"
"Tau ah. Tapi gue yakin 100% kalau Reta gak jahat kak, dia gak tau apa-apa soal ini. Dia tuh cuma ngikutin perintah Rena doang". Cerocos Vey.
"Gue harus lapor sama bang Dean" Artha merogoh ponselnya yang ada didalam saku celana.
Vey langsung mencegah niatan Artha tersebut, "jangan".
"Kenapa Vey?" Tanya Artha, bingung.
"Gue bakal lawan tuh pelakor, gue jamin dia bakalan nyesel dan ngusik rumah tangga gue. Gue mohon sama lu, jangan pernah bilang ke Dean tentang masalah ini" Vey menatap Artha dengan tatapan memohon.
"Gue gak akan bilang ke Dean. Asalkan lu mengizinkan gue buat bantu lu, gimana?" Artha merasa khawatir pada Vey.
"Oke" Vey mengangguk, setuju.
***
Hari ini Dean sedang berada diluar kota, jadi Vey santai-santai saja memasuki apartementnya. Mungkin Dean akan marah jika tau sang istri berpergian di hari minggu tanpa ijin dan pulang hingga larut malam.
Jangan salahkan Vey, salahkan Artha yang mengajaknya bermain terlalu lama dirumah eyang Yena~neneknya Artha.
"Habis darimana?" Suara bariton itu membuat jantung Vey berdegup sangat kencang. Tak salah lagi, itu adalah suara Dean.
Vey merunduk takut. Ia tidak tau jika Dean akan pulang hari ini, ah padahal suaminya itu bilang akan pulang besok.
Dean menghampiri Vey dengan kedua tangan yang bersedekap didepan dada. "Lu gak denger?" Sentak Dean.
"Ha-habis dari rumah eyang Yena kak" Jawab Vey, ia masih merunduk. Tidak berani menatap wajah Dean.
"Main inget waktu dong! Lu tau ini udah jam berapa? Lu tuh udah jadi istri, gak seharusnya kelayapan sampe malem gini, dan parahnya gak ijin ke gue. Lu sebenernya anggap gue suami lu gak sih?!" Bentak Dean.
Sebulir air mata menetes dari pelupuk mata Vey, perkataan Dean sangat menusuk hatinya. Vey menyeka air matanya dengan punggung tangan, lalu menengadahkan kepalanya dan memandang wajah Dean yang terlihat geram. "Gue gak kelayapan! Lagian gue perginya juga sama Artha".
Dean tertawa sarkastik. "Pergi tanpa ijin lu bilang itu bukan kelayapan? Gue gak peduli lu mau pergi sama siapa, tapi yang jelas sekarang lu tanggung jawab gue. Harusnya lu ijin sama gue, lu tuh bikin gue khawatir tau gak?!"
"Maaf" Rintih Vey, merasa bersalah.
Dean tidak menghiraukan ucapan Vey, ia sangat kecewa dan emosi. Ia memilih untuk pergi sejenak untuk menenangkan pikirannya.
"Kak Dean! Mau kemana?" Pekik Vey. Namun tidak mendapatkan jawaban, karena suaminya itu terus berjalan menjauh, dan membuat tangisannya semakin mengeras.