
"A-aku...."
"Kau sudah tidak mempercayai kami? Kau sudah mulai rahasia rahasiaan dengan kami? Kau tidak menganggap kami ini keluarga mu?" ketus Weny yang memang sakit hati akan itu hingga air mata nya keluar akibat kekecewaan yang mendalam terhadap Nana.
"A-aku..." Nana menghentikan ucapan nya akibat tidak tau apa yang harus di jelaskan nya.
"Kenapa kalian membentak nya?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya dan itu membuat Yura dan Weny menatap ke arah nya tapi tidak dengan Nana yang berusaha mencari alasan untuk di katakan kepada kedua sahabat nya.
"Ini tidak ada urusan nya dengan mu" jawab Weny dn kembali menatap ke arah Nana dengan tatapan tajam nya.
Ryhan berjalan mendekat ke arah wanita nya dan menarik tangan wanita itu dan menyembunyikan nya di belakang tubuh nya. "Dia istri ku jadi urusan nya juga urusan ku, Kau membentak nya memang nya kau pikir kau siapa berani nya membentak wanita ku hah?" ucap Ryhan dengan wajah datar nya menatap Weny dan juga Yura yang sama sama menatap datar ke arah nya.
"Ryhan ini bukan urusan mu, Jangan ikut campur" ucap Nana dengan wajah kesal nya dan itu membuat Ryhan kembali kesal akan istri nya yang malah membela kedua sahabat nya di banding diri nya.
"Sudah ku bilang urusan mu adalah urusan ku. Dia membentak mu dan aku tidak terima itu" jawab Ryhan dengan wajah datar nya. Nana yang kesal akan Ryhan yang keras kepala langsung menarik tangan lelaki itu dan membawa nya masuk ke dalam kamar, Di tutup nya pintu kamar dan di kunci nya agar tidak ada yang bisa mendengarkan ucapan nya di luar.
"Tolong kau jangan ikut campur masalah ini" ucap Nana dengan wajah datar nya.
"Bagaimana aku tidak ikut campur? kau itu istri ku, Kak Rendi mengamanahkan ku untuk menjaga mu dan teman mu tadi membentak mu" jawab Ryhan.
"Dia hanya bertanya kepada ku tidak ada masalah serius antara kami" jawab Nana.
"Dia bertanya apa?" tanya Ryhan.
"Bertanya mengapa aku menyembunyi tentang pernikahan kita dari mereka" jawab Nana.
"Kau menyembunyikan nya dari kedua teman mu itu?" tanya Ryhan.
"Iya" jawab Nana.
"Pantas saja kemarin mereka terlihat bingung saat aku di sini ternyata kau menyembunyikan nya dari mereka" guman Ryhan dengan menatap wanita nya.
"Kau jangan berbuat macam macam lagi hingga membentak nya, Aku akan kembali keluar" ucap Nana dan langsung keluar dari kamar dan kembali ke arah kedua sahabat nya.
"Tidak, Aku hanya menenangkan nya supaya tidak marah marah kepada kalian" jawab Nana dengan nada biasa saja.
"Sekarang kau bisa jelaskan kenapa kau menyembunyikan pernikahan mu dari kami?" tanya Weny kembali.
Nana menarik nafas panjang dan memejamkan sebentar mata nya dan kembali membuka nya, Mencoba menjawab dan menjelaskan dengan jujur sejujur jujur nya pertanyaan itu. "Kau ingat saat pertama kali Ryhan masuk ke sekolah dan satu kelas dengan kita?" tanya Nana. Weny dan Yura tidak menjawab nya dan hanya memasang wajah datar mereka.
"Saat itu aku sudah bilang bukan jika aku tidak mengenali nya saat kalian bertanya, Tapi itu adalah sebuah kebohongan, Aku berteman dari nya sejak kecil dan rumah nya di sebelah rumah ku dia selalu membuat ku tidur hingga larut malam dahulu dan membuat kak Rendi selalu memarahi ku karna tidak belajar saat dia belajar"
Nana kembali menarik nafas akibat nafas sudah habis dan di jeda nya terlebih dahulu penjelasan nya. "Saat aku berada di sekolah dasar aku sudah satu sekolah dengan nya, Dia menjadi pemimpin selalu mau itu ketua kelas saat SD atau pun ketua osis saat SMP dia selalu menjadi pemimpin dan mengatur ku, Dia menyiksa ku dengan menyuruhku belajar giat padahal aku masih ingin bermain, Masa kecil ku terlalu kelam saat itu bersama dan bersekolah dengan nya, Hanya saat SMK aku berpikir masa muda ku akan cerah tanpa nya tapi nyata nya tidak dia kembali sekolah bersama ku, Aku awal nya berniat tidak ingin kenal dengan nya di sekolah karna aku membenci nya dan sangat membenci nya"
"Dia membenci ku?" guman Ryhan dengan wajah nampak kecewa saat mendengar penjelasan demi penjelasan yang keluar dari mulut wanita nya.
"Aku tidak tau mengapa tuhan mentakdirkan aku dengan nya, Aku menikah dengan nya karna kak Rendi yang meminta waktu di rumah sakit tanpa unsur c-ci-cinta sedikit pun" mulut itu sedikit ragu untuk mengatakan hal itu karna hati yang menolak untuk mengatakan itu.
"Tapi sekarang bagaimana perasaan mu kepada nya?" tanya Yura dengan nada meledek nya menatap Nana. Weny hanya menatap datar ke arah nya keyakinan akan kejujuran Nana di ragukan oleh nya.
"A-aku..."
"Kau mencintai nya bukan?" Weny ikut mengejek Nana yang nampak sedikit ragu untuk menjawab dan itu membuat Nana langsung menatap ke arah nya, Nampak suasana yang awal nya dingin membantu sekarang sudah mencair, Senyum di wajah Weny nampak mengembang meskipun itu ejekan tapi tidak terlalu di masukkan ke hati oleh Nana dan malah itu membuat nya senang.
"Kedua sahabat ku seperti nya memang tulus kepada ku, Senyum mereka nampak menghibur entah karna saat aku mengucapkan nama kak Rendi atau memang mereka ingin mengejekku menyukai Ryhan, Tapi tidak apa yang penting suasana kembali mencair tidak masalah di ejek yang penting keadaan kembali seperti semula" guman Nana dengan senyum yang mengembang menatap kedua teman nya yang tertawa lepas sambil berbincang mengenai diri nya.
Di antara ketiga senyuman itu ada satu senyuman yang tersembunyi saat mendengar ucapan itu siapa lagi jika bukan Ryhan yang tersenyum mendengar hal tersebut. "Tidak ingin kehilangan nya apakah itu cinta? Apakah aku mencintai nya?" guman lelaki itu dengan tersenyum lebar menatap punggung wanita nya.
"Hey mengaku, Jawab pertanyaan kami, Apa benar kau menyukai Ryhan hah?" ucap Weny dengan nada meninggi dan menyenggol kaki Nana.
Nana belum menjawab nya dan membalikkan tubuh nya menatap ke belakang, Ryhan yang melihat kepala wanita nya berputar langsung masuk dan menyembunyikan diri nya dan kedua sahabat Nana ikut melihat ke dekat kamar. "Pertanyaan bodoh, Jelas saja...." Nana mengangguk menyambung ucapan nya karna dia tau kamar nya tidak kedap suara makanya dia mengangguk.
Ryhan kembali tersenyum saat melihat anggukan itu meskipun tadi sempat bersembunyi dia langsung menongol kembali saat mendengar suara istri nya dan bisa mendengar sekaligus melihat anggukan dari wanita nya. "Ehem" Ryhan berusaha kembali seperti semula dan kembali memasang wajah datar nya dan langsung keluar dari kamar.
"Kalian masih memarahi nya?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya.