Dear D

Dear D
Episode 80



"Ah apa yang harus aku lakukan?" Ryhan langsung menundukkan kepala nya. Tangan lelaki itu mengacak acak rambut nya. Nana yang melihat itu nampak bingung.


"Aku matikan dahulu" Nana langsung mematikan telpon dan kembali menatap Ryhan.


"Apa yang terjadi? Apa kau tidak setuju dengan pesanan ku tadi?" tanya Nana dengan wajah polos nya menatap Ryhan yang sedang menunduk itu.


Pelayan datang dan meletakkan makanan pesanan Nana tadi di hadapan Nana. "Tidak" jawab Ryhan dan kembali mengangkat kepala nya.


"Selamat menikmati" ucap pelayan dengan sopan nya. Nana mengangguk dan tersenyum dan setelah itu pelayan pun langsung berlalu dari sana.


"Jadi kenapa kau..."


"Aku tidak apa apa, Ayo makan" potong Ryhan dengan menyiapkan makanan untuk istri nya dan juga dia.


"B-baiklah" jawab Nana yang sedikit gelagapan dan langsung mulai melahap makanan dengan cukup lahap. Ryhan menatap ke arah istri nya dan nampak wanita itu tengah melahap makanan dengan sangat lahap.


"Aku berjanji kepada diri ku sendiri agar selalu bersama mu sampai kapanpun" guman lelaki itu dengan tersenyum lebar dan setelah itu kembali melahap makanan nya.


"Tante" Dira yang baru saja sampai di kediaman keluarga Ryhan langsung memeluk erat tubuh Merri dan itu membuat Ferisa yang melihat itu jijik akan nya.


"Ih" terdengar suara yang menandakan tidak menyukai sifat Dira tersebut hingga itu membuat Dira bertambah erat memeluk tubuh Merri.


"Tante, Ryhan memarahi ku karna aku mengatai wanita yang sedang dekat dengan nya jalang dan malah mengataiku jalang padahal dia memang wanita jalang" jelas Dira dengan merengek meminta perhatian akan Merri ibu Ryhan.


"Cih, Kau memang jalang, Berani nya kau mengatai Nana jalang, Memang nya kau tidak sadar dengan diri mu sendiri? Kau tidak memiliki kaca di rumah untuk berkaca untuk membuktikan siapa jalang sesungguh nya?" Ferisa langsung melontarkan pertanyaan dan ucapan kasar untuk di dengar kepada Dira akibat menghina adik ipar nya.


"Ferisa" tegas Merri.


"Jika kau tidak memiliki kaca akan aku berikan uang atu kau mau aku yang membelikan kaca untuk mu hah? Mulut mu juga apa tidak ada memiliki odol di rumah sampai mulut mu itu busuk?" ketus Ferisa yang kesal akan kelakuan Dira. Bagaimana cara nya dia menyetujui akan Dira yang akan menjadi adik ipar nya jika sifat Dira seperti itu.


"Ferisa" Merri melototkan mata nya kepada anak perempuan nya.


"Bagaimana bisa aku Ferisa Peronica menerima mu sebegaia adik ipar sedangkan mulut mu tidak bisa di jaga seenak nya saja berbicara tentang orang lain seperti itu. Kau pikir ada orang yang akan menerima wanita yang memiliki mulut busuk dan kotor seperti mu hah? Kau tau, Kau terlalu seenak nya kepada siapapun begitupun dengan keluarga mu. Mulut busuk dan kotor tidak di terima di keluarga ini" Ferisa berbicara dengan nada tinggi saat mengatakan mulut busuk tidak di terima di keluarga ini dan langsung berlalu dari sana. Kaki yang di hentak kesal akan sipat dan ucapan Dira tadi membuat Merri tidak suka akan anak perempuan nya tersebut.


"Ferisa" teriak Merri akan anak nya. Ferisa tidak memperdulikan nya dan terus saja melangkahkan kaki nya menaiki anak tangga untuk saat ini.


"Tante" Dira kembali merengek kepada Merri dan membuat Merri kembali pokus kepada Dira.


"Shit, Shut" Merri mengusap punggung wanita itu mencoba menenangkan nya.


"Jangn bersedih, Nanti akan tante marahkan Ryhan dan akan tante pisahkan kedua nya" ucap Merri yang masih mengusap punggung Dira.


"Iya" jawab Merri dengan tersenyum dan menghapus bekas air mata buaya yang ada di wajah Dira.


"Kapan tan? Bagaimana jika sekarang saja?" tanya Dira yang semakin mengomporkan Merri untuk segera memisahkan Ryhan dan juga Nana.


"Kau yakin?" tanya Merri.


"Iya tante" jawab Dira meyakinkan jika diri nya yakin.


"Kau saja belum mengganti baju, Bagaimana mau pergi lagi, Kau pasti belum pulang ke rumah mu bukan?" tanya Merri dengan mengusap kepala anak itu.


"Tidak apa apa yang penting Ryhan dan wanita jalang itu tidak lagi bersama" jawab Dira.


Merri diam dan menatap lekat anak itu. Wajah yang nampak tulus memelas dengan wajah itu membuat hati Merri yang belum mengetahui sifat Dira sebenar nya langsung luluh. "Baiklah, Tante akan menuruti kemauan mu" jawab Merri dengan tersenyum.


"Shit, Apa apaan mama selalu saja terpengaruh dengan wanita murahan itu" ucap Ferisa yang kesal akibat sedari tadi mendengar perkataan Dira dan juga ibu nya.


Ferisa menutup pintu kamar nya dan langsung menghubungi adik nya. "Halo Ryhan" teriak Ferisa saat telpon sudah terhubung.


"Shit, Kau baru baru menelpon sudah marah, Apa yang terjadi?" tanya Ryhan yang ikut kesal dan itu membuat Nana yang sedang duduk di atas sepeda bagian belakang menatap nya.


"Kau jangan pulang ke rumah Nana dahulu atau pun ke rumah nenek" ucap Ferisa tanpa menjawab pertanyaan adik nya.


"Kenapa? Aku sebentar lagi akan sampai di rumah" jawab Ryhan dengan wajah dan nada datar nya.


"Dira mengompori mama agar memisahkan kau dan juga Nana makanya kau jangan ke rumah mama ataupun Nana terlebih dahulu, Aku takut nanti jika mereka datang mereka akan berbicara seenak nya kepada Nana nanti" jelas Ferisa dengan nada hawatir, Kesal, Marah itu semua bercampur menjadi satu nada.


Ryhan membalikkan kepala nya sedikit dan terlihat jika istri nya nampak penasaran akan apa yang di ucapkan oleh nya bersama orang yang ada di dalam telpon. "Baiklah" jawb Ryhan dan langsung mematikan telpon itu dan kembali menyimpan ponsel nya ke dalam saku celana nya.


"Kita ke apartemen saja tidak masalah?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya dan tidak bisa menatap sepenuh nya wajah wanita nya.


"Hah? Untuk apa ke apartemen? Sebentar lagi kita akan sampai ke rumah" jawab Nana akan pertanyaan itu.


"Ada hal yang tidak harus kau ketahui dan kau dengar makanya kita harus ke apartemen, Saat keadaan sudah kembali seperti semula kita akan kembali ke rumah" jelas Ryhan. Nana belum menjawab dan menatap lelaki itu dengan tatapan bingung, Penasaran dan tidak mengerti.


"Ah sudahlah tidak usah di jelaskan yang jelas kita akan ke apartemen siang ini" ucap Ryhan yang hendak mengayuh sepeda tapi suara Nana menghentikan nya.


"Ke apartemen siapa?" tanya Nana yanh membuat Ryhan mengurungkan niat nya untuk mengayuh kembali sepeda nya.