
"Akhir nya meating berjalan dengan lancar" ucap Ryhan yang nampak senang dan langsung melangkahkan kaki nya berlalu dari sana.
Ryhan langsung menuju ke dekat ruangan nya tapi dia sudah tidak lagi menemukan istri nya. "Mana Delina?" guman Ryhan saat tidak menemukan istri nya atau siapapun di depan ruang kerja nya.
"Pak ini makanan yang di pesankan tadi" ucap Jony dengan menydorkan makanan kepada Ryhan.
"Delina mana?" tanya Ryhan kepada Jony tanpa sadar akan kehadiran tanya yang masih saja berada di dekat nya.
"Delina?" tanya Fany yang tidak terlalu ingat akan nama asli Nana.
"Ah tidak, Maksud saya seluruh karyawan di mana? Kita memenangkan proyek besar ini dan harus di rayakan bersama bukan? Ini juga kerja keras mereka" ucap Ryhan yang memasang senyum paksa menatap Fany dan juga Jony.
"Ah itu, Iya pak itu wajib seharus nya" jawab Jony yang cukup panik saat Ryhan mencari istri nya di depan Fany.
"Mungkin mereka sedang di kantin makan siang pak. Ini sudah jam makan siang" jawab Fany.
"Baiklah" jawab Ryhan dan mengambil makanan milik nya yang ada di tangan Jony. Ryhan langsung melangkahkan kaki nya masuk ke dalam ruangan nya dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi kerja nya.
"Aku duluan kembali ke atas" ucap Nana yang tidak menemukan suami nya dan makanan nya sudah habis.
Ten menatap ke tempat makan Nana yang sudah kosong. "Memang nya tidak apa apa?" tanya Ten.
"Tidak apa apa, Aku sudah besar" jawab Nana dengan memukul bahu Ten. Ten hanya membalas nya dengan senyuman dan Nana pun langsung berlalu dari sana membayar dan meletakkan bekas makan nya tadi.
"Kau sudah selesai makan?" tanya Fany yang baru saja hendak memasang makanan.
"Iya, Ini sudah mau kembali ke atas" jawab Nana.
"Baiklah aku masih mau makan dahulu" ucap Fany dan mengambil makanan untuk nya. Nana tidak menjawab nya dan langsung berlalu dari sana.
"Seperti nya aku menginginkan teh" ucap Nana dan masuk ke dalam lift dan memencet tombol sepuluh.
Saat lift terbuka dia langsung keluar dan menuju ke tempat pembuatan teh yang tidak jauh dari sana. "Mau apa kau?" tanya salah satu karyawan wanita saat melihat Nana.
"Membuat teh" jawab Nana dan mengambil gelas dan memasukkan gula ke dalam gelas dan juga teh celup.
"Shit di mana Delina?" umpat Ryhan yang sedari tadi menunggu istri nya.
"Aku umumkan sekarang saja masalah nanti malam aku mengajak karyawan makan" ucap Ryhan dan berdiri dari duduk nya. Ryhan langsung keluar dari ruangan nya dan terlebih dahulu menuju ke belakang tempat pembuatan teh.
Brukk
"Astaga pak tolong hati hati, Untung saja tidak tumpah, Panas ini" ucap Nana yang menabrak tubuh orang yang berada di depan nya akibat mata nya yang menatap ke teh sedari tadi.
"Pak" sapa karyawan saat mendengar Nana mengomel dan melihat Ryhan yang di omeli nya. Nana mendongakkan kepala nya saat tidak mendengar jawaban dari orang yang menabrak nya sedangkan Ryhan sedari tadi menatap nya.
"Maafkan saya, Saya tidak hati hati tadi" ucap Ryhan. Nana menatap tajam wajah lelaki nya dan Ryhan langsung memindahkan tubuh nya agar istri nya bisa lewat.
"Saya ke sini ingin memberitahukan bahwa proyek yang kita kerjakan berhasil, Jadi dengan mendapatkan proyek besar ini kita akan merayakan nya dengan makan malam bersama seluruh karyawan kantor" jelas Ryhan dengan wajah datar dan suara tegas hingga membuat Nana menatap lekat wajah suami nya itu.
"Jika di kantor saja datar dan ganas, Coba saja..."
"Tidak ada yang keberatan bukan?" tanya Ryhan memotong gumanan istri nya saat dia tidak mendengar jawaban dari semua orang yang ada di hadapan nya.
Ryhan tersenyum mendengar nya dan setelah itu menatap tajam ke arah istri nya yang masih saja berada di samping nya. "Yasudah beritahu kepada karyawan lain dan hari ini kalian boleh pulang lebih cepat, Permisi" ucap Ryhan dan langsung berlalu dari sana.
"Senang sekali aku saat pak Ryhan mengatakan seperti itu"
"Iya aku juga"
"Sama, Kita tidak pernah di ajak makan malam oleh bos jika memenangkan proyek apapun, Tapi pak Ryhan baru beberapa hari menjadi manager dia sudah memenangkan proyek sebesar itu dan mengajak kita makan bersama"
"Iya, Pak Ryhan memang tau seberapa bekerja keras nya kita beberapa waktu ini"
"Hem, Pak Ryhan memang idaman, Tampan, Baik hati dan memiliki banyak kelebihan dan kemampuan di umur nya yang masih sangat muda"
"Iya, Aku juga dari dahulu mengagumi nya sejak pertama kali dia mulai bekerja, Aku sudah sangat kagum kepada nya"
"Shit, Seenak nya saja kalian memuji suami ku di hadapan ku" umpat Nana dan langsung berlalu dari sana dengan wajah kesal dan tangan yang masih memegang teh yang di buat nya tadi.
"Huh" Nana membuang nafas panjang dan memundurkan kursi untuk duduk di atas nya.
"Kemari kau" ucap Ryhan dengan wajah datar dari dalam dan itu terdengar oleh Nana. Nana menatap ke sekitar dan hanya terdapat diri nya sendiri.
"Memanggil saya?" tanya Nana yang nampak profesinal.
"Iya sayang, Kau" jawab Ryhan dengan senyum nya. Nana tidak menjawab nya dan mengurungkan niat nya yang hendak duduk dan berjalan masuk ke dalam ruangan Ryhan dengan teh masih berada di tangan nya.
"Kau dari mana?" tanya Ryhan dengan menatap tajam istri nya.
"Dari kantin" jawab Nana dan meletakkan teh nya di hadapan suami nya. Ryhan mengambil teh yang di letakkan istri nya tadi dan langsung meminum nya.
"Itu teh ku" ucap Nana saat melihat suami nya meminum teh bekas nya.
"Aku tau" jawab Ryhan.
"Jadi kenapa kau meminum nya? Itu bekas ku" tanya Nana.
"Kenapa memang nya? Merasa jijik? Kau menyukai bibir ku dan bibir mu jauh lebih manis dari pada teh itu, Ingat" ucap Ryhan saat mendengar ucapan istri nya.
Nana tidak menjawab nya dan memegang bibir nya. Ryhan menatap ke arah wanita nya tersebut dan nampak dia sedang memegang bibir nya. "Ini makanan untuk mu" ucao Ryhan dan menyodorkan kotak makanan kepada istri nya.
"Aku sudah makan tadi" jawab Nana.
Ryhan menatap ke istri nya dan nampak wanita itu memang tidak kuat memakan makanan yang ia sodorkan. "Baiklah, Duduk disana dan temani aku akan" ucap Ryhan dengan senyum nya menatap istrinya.
"Baik" jawab Nana dan mendudukkan tubuh nya di atas kursi sofa yang ada di dalam ruangan tersebut.
.
.
.