Dear D

Dear D
Episode 65



"Jika aku mengaku tadi kepada kepada guru bahwa baju praktek ku di Dira sudah pasti aku tidak di hukum dan dia akan di hukum sendirian, Menahan terik nya matahari karna menolak pemberian ku tadi itu tidak adil untuk nya berdiri sendiri dan aku tidak mau dia kenapa kenapa, Jika pun aku akan terus di ruang praktek tadi pasti Dira akan selalu berusaha mendekatiku sama seperti sebelum nya dan itu semakin meyakin anak anak akan aku yang di duga memiliki hubungan dengan wanita murahan itu padahal nyata nya Delina lah istri ku satu satu nya, Wanita ku dan akan sampai kapan pun dia akan menjadi milikku, Huh menyebalkan" ucap lelaki itu yang bingung dengan apa yang di lakukan oleh nya hingga membuat wanita nya bersedih.


Nana yang sudah sampai di tempat nya bekerja pun langsung masuk ke dalam nya hingga membuat Febri yang sedang berada di tempat kasir menoleh ke arah nya. "Tumben kau datang cepat Na" ucap Febri dan itu membuat Nana yang hendak melangkahkan kaki mengambil celemek berhenti, Dia menatap datar ke arah Febri dan setelah itu kembali melangkahkan kaki nya menuju ke niat awal nya tadi.


Febri yang tidak mendapatkan jawaban kembali menatap wanita itu dan melihat kepergian nya. "Eh?" Febri nampak kebingungan akan wanita itu, Biasa nya dia menjawab tapi sekarang tidak dan langsung berlalu.


"Ada apa dengan nya? Apa dia kenapa kenapa?" guman lelaki itu dengan tatapan bingung.


Nana keluar dari tempat nya tadi dengan sudah menggunakan celemek agar tidak kotor baju nya terkena makanan. Febri menatap lekat wanita itu dan nampak dari wajah nya jika wanita itu tidak lah bersemangat.


"Aku tidak bisa berada di rumah saja, Aku juga harus bekerja, Tidak mungkin Del yang bekerja aku di rumah?" ucap Ryhan yang sadar akan tanggung jawab nya sebagai suami.


"Iya aku harus bekerja" ucap nya kembali dan beranjak berdiri dari duduk nya. Ryhan masuk ke dalam kamar dan mengganti pakaian nya dengan kemeja putih dan celana hitam dengan sepatu hitam pula yang tak murah setelah itu dia keluar.


"Mencari kerja cukup susah bukan?" guman lelaki itu.


"Ah iya, Papa pernah menawarkan ku bekerja di kantor nya" ucap Ryhan yang ingat akan tawaran ayah nya.


"Dengan umurku yang masih kecil apa bisa bekerja di perusahaan sebesar perusahaan papa?" guman Ryhan yang sadar akan umur dan kemampuan nya.


"Ah aku coba saja, Orang juga melihat dari kemampuan bukan umur" ucap nya dan mulai melangkahkan kaki nya keluar dari rumah. Di kunci nya rumah itu dan dia tidak lupa membawa kunci nya dan setelah itu keluar dari pekarangan rumah.


"Huh" Ryhan membuang nafas panjang dan menghentikan taxi yang melintas di hadapan nya dan langsung masuk ke dalam nya.


Nana membereskan bekas makan orang di cafe itu dan setelah itu kembali ke belakang. Febri menatap wanita itu yang sama sekali tidak menatap nya dan tak nampak semangat di wajah nya. "Membingungkan" guman Febri dan berjalan mendekat ke arah Nana.


"Kau kenapa datang terlalu cepat? Inikan bukan shif mu dan shif mu nanti malam" ucap Febri dan itu membuat Nana menghentikan langkah kaki nya dan menatap ke belakang ke arah Febri.


"Saya tidak memiliki pekerjaan di rumah makanya saya ke sini" jawab Nana.


"Tapikan kau bisa tidur untuk berjaga nanti malam" ucap Febri.


"Saya sudah selesai tidur tadi" jawab Nana. Febri menatap wanita itu dengan tatapan bingung nya entah apa yang di pikirkan oleh nya saat ini.


Nan yang tidak mengeluarkan suara lagi menatap ke arah Febri yang juga menatap nya. "Saya tidak akan meminta upah lembur nanti karna ini kemauan saya" ucap Nana.


"Saya permisi" pamit Nana dan berlalu dari sana meninggalkan Febri sendiri.


"Aku harus langsung menemui papa bukan kakak" ucap Ryhan dan turun dari taxi. Dia langsung berjalan masuk ke dalam perusahaan, Tidak ada yang mengenali nya tapi tatapan orang yang di sana nampak kagum akan nya akibat ketampanan nya.


"Maaf pak, Anda mencari siapa?" tanya salah seorang kepada nya yang menerima tamu.


"Saya mencari pak Andra, Apa dia ada?" tanya Ryhan.


"Bapak sudah membuat janji dengan beliau? Nama bapak siapa?" tanya orang itu lagi.


"Saya belum membuat janji tapi saya ingin bertemu dengan nya" jawab Ryhan.


"Maaf pak, Jika belum membuat janji anda tidak bisa bertemu dengan nya, Harap membuat janji terlebih dahulu dengan beliau baru anda bisa bertemu dengan nya" jelas orang itu.


"Halo nak, Ada apa?" tanya Andra.


"Aku sedang di bawah dan tidak di bolehkan untuk masuk bertemu dengan mu" ucap Ryhan yang malah kurang sopan di dengar antara ayah dan anak.


"Kau di kantor papa?" tanya Andra.


"Iya" jawab Ryhan.


"Naik saja dan langsung ke ruangan papa" ucap Andra.


"Aku tidak di izinkan masuk" jawab Ryhan.


"Katakan saja jika kau adalah anak papa pasti di izinkan" ucap Andra.


"Masalah nya aku tidak mau orang tau tentang itu" jawab Ryhan.


"Loh kenapa?" tanya Andra dengan nada bingung nya.


"Nanti aku jelaskan setelah bertemu" jawab Ryhan.


"Yasudah naik temui papa" ucap Andra. Ryhan berjalan mendekat ke arah pegawai tadi dan memberikan ponsel nya kepada pelayan itu.


"Untuk apa ini pak?" tanya orang itu.


"Aku menghubungi pak Andra dan berbicaralah dengan nya" jawab Ryhan. Orang itu menerima ponsel itu.


"Halo pak, Ini ada orang yang ingin bertemu dengan anda tapi dia belum membuatkan janji" ucap orang itu.


"Suruh saja dia masuk, Saya yang menyuruh nya untuk datang tadi" jawab Andra.


"Baik pak" jawab orang itu dan memberikan ponsel kembali kepada Ryhan.


"Silahkan pak anda bisa masuk menemui pak Andra" ucap orang itu. Ryhan mengangguk mengiyakan nya dan berjalan menuju ke lift dan memencet tombol 7 dimana itu adalah ruangan ayah nya di temani oleh orang tadi.


Lift terbuka Ryhan dan wanita tadi langsung keluar. "Ini ruangan pak Andra pak" ucap orang tadi. Ryhan mengangguk mengiyakan nya dan membukakan pintu ruangan itu dan berjalan memasuki nya.


"Siapa lelaki itu?" tanya Renia wanita tercantik di sana dan di sukai banyak lelaki tapi tidak dengan CEO nya.


"Hem" orang yang mengantar Ryhan tadi mengangkat kedua bahu nya menandakan tidak tau siapa lelaki itu dan setelah itu dia langsung berlalu untuk kembali ke tempat nya.


.


.


.


.