Dear D

Dear D
3. Fitting baju!



Dear D


Bagaimana bisa kamu langsung mencuri perhatian ku? Bahkan sejak awal pertemuan kita, kamu sudah berhasil membuat jantung ku berdesir kencang. Bahkan kini kamu mulai lancang merasuki pikiranku, dan hatiku(?). Aku tidak siap dengan perasaan ini, perasaan yang mulai tumbuh tak beraturan, dan membuatku mengharapkan sesuatu yang lebih darimu.


Kamu menyebalkan, menjengkelkan, tapi aku suka. Gimana dong?


Dean mengangguk. "Gue gak mau kak, pokoknya lu harus nemenin gue....kak temenin" Vey merengek layaknya anak 5 tahun meminta es krim pada ibunya. Vey menarik-narik lengang kekar Dean, "temenin... Lu gak mau nemenin, gue gak mau ke butik", ancam Vey.


"Ter- se- rah" Jawab Dean santai dengan penekanan di setiap kata yang dia ucapkan, lalu memejamkan mata dan menyandarkan kepalanya di jok mobil.


Vey merengut, mata nya berkaca-kaca, ya...sekarang dia sudah siap untuk berakting. Vey kembali menyalakan ponselnya, Dean yang sebenarnya memperhatikan Vey hanya berdecih, apa calon istrinya itu akan melakukan siaran langsung instagram lagi? Atau akan membuat story lebay dengan background full hitam disertai caption fakesmile?


Oh...Dean lupa membawa pisau, mungkin jika Dean membawa pisau, Vey akan meminjamnya dan menyayat tangannya sendiri hingga berdarah, lalu di buat story dengan caption 'Dean, kamu jahat'.


Tapi ternyata hipotesis Dean salah besar. Karena nyatanya sekarang Vey sedang mencari kontak Hana dan menelfonnya, sama seperti anak TK yang baru saja dinakali oleh temannya pasti anak tersebut akan mengadu kepada ibunya, dan mungkin itu juga akan Vey lakukan. Ia akan mengadu pada Hana.


Tidak sampai deringan telfon yang ke tiga, suara Hana sudah terdengar dari seberang sana.


"Mama Hana...." Rengek Vey dengan suaranya yang dibuat seolah-olah sumbang.


"Halo Vey sayang, kenapa?"


Mendengar rengekkan Vey, Dean langsung memberikan tatapan tajam sembari merebut paksa ponsel yang ada tangan Vey. Dan segera berbicara dengan mamanya, "ma kita udah sampe"


"Itu Vey kenapa? Kok kayak lagi nangis?" Suara Hana terdengar panik.


"Gak papa kok ma, yaudah dulu ya ma...Kita mau fitting dulu" Dean segera mengakhiri telfon secara sepihak sebelum Hana bertanya lebih banyak lagi. Dean tau, pasti mamanya itu akan mengomel jika tau ia tidak mau menemani Vey ke butik.


"Jadi lu mau nemenin gue?" Desis Vey antusias, dengan binar penuh kemenangan di wajahnya.


Dean memutar malas bola matanya, selain alay ternyata calon istrinya itu sangat jago berakting. "Dasar tukang ngadu" Ketus Dean, ia lalu keluar dari mobil dan berjalan mendahului Vey menuju butik.


Vey berlari mengejar Dean, sebelum masuk ke dalam butik, Vey tidak lupa mengambil foto halaman depan butik dan menjadikannya story di instagram. "Kak....tungguin napah", teriak Vey seraya berlari mengejar Dean kemudian tanpa ragu bergelantung di lengan lelaki itu.


Dengan gerakan cepat Dean menepis tangan Vey, ia melontarkan tatapan sinis, tatapan yang berarti ia tidak suka dengan apa yang Vey lakukan. Padahal ia baru mengenal gadis itu 2 jam yang lalu itu pun hanya sekedar tau nama, tapi lihatlah apa yang gadis itu lakukan? Gadis itu bergelantung di lengannya seakan-akan telah akrab dan mengenalnya lama.


"Siang tante" Sapa Dean pada wanita cantik bertubuh seksi. Dia adalah Yori, adik kandung Hana. Yori yang sebelumnya tengah merapikan desain gaun pesanan kliennya, beralih menghampiri Dean dan Vey yang masih berdiri di ambang pintu.


"Oh Dean, sini masuk" Yori mempersilakan kedua sejoli itu masuk dan mengarahkan mereka untuk duduk di salah satu kursi tamu yang terletak di ujung ruangan.


"Eh ini Yori si model yang terkenal itu kan?" Mata Vey melotot kaget, dengan kedua tangan yang ia letakan di depan mulut. Vey itu salah satu fans berat Yori, bahkan Vey sering membawakan tutorial make up ala Yori di video instagramnya.


Yori tersenyum tulus, "iyaa, ini calon istrinya Dean ya?" Yori bertanya balik, hanya sekedar berbasa-basi, karena sebenarnya ia juga sudah tau.


Vey mengangguk cepat, "Omaygat, gue gak nyangka bisa ketemu lu kak, gue tuh ngefans banget tau sama kakak....boleh minta foto bareng gak kak?" Vey mendadak histeris. Tapi mau bagaimana lagi, Vey memang sekarang sangat senang karena bertemu dengan idolanya.


Yori mengangguk, "boleh".


Vey menyerahkan ponselnya pada Dean. Dean rasanya sudah benar-benar kesal, bisakah calon istrinya itu berhenti bersikap alay? Sungguh, Dean sudah sangat muak dengan perilaku Vey. "Cepet kak, fotoin" Perintah Vey, yang sudah siap dengan pose terbaiknya bersama Yori.


Dean menghela nafas panjang. " 1..2..3"


cekrek


***


Fitting baju selesai, sekarang waktunya pulang. Vey dan Dean sudah berada di mobil, sebelum mengantar Vey pulang, Dean terlebih dulu membawa Vey ke restaurant. Dean tidak tahan dengan raungan kelaparan Vey yang sudah bagaikan musik pengiring di sepanjang perjalanan. Gadis kecil itu benar-benar tidak bisa diam.


Restaurant bergaya Eropa klasik menjadi pilihan Dean untuk menenangkan mulut Vey. Restaurant ini adalah milik Geraldo~sang ayah, dan akan resmi menjadi milik Dean setelah ia menikah dengan Vey. Sekiranya begitulah isi surat wasiat Geraldo, ia akan memberikan Restaurant Gerald's Winells pada Dean jika anak lelakinya itu sudah menikah.


Seorang waitress langsung mengarahkan Dean dan Vey ke meja VVIP. Vey berdecak kagum melihat desain restaurant yang begitu mewah, dinding-dinding yang berwarna emas tampak begitu menawan dipadukan dengan lampu kristal berukuran cukup besar menggantung di atas langit-langit ruangan.


"Mr and Ms, what do you want to order?" Tanya waitress dengan tangan memegang note dan pulpen untuk menulis pesanan.


Vey bingung, tidak mengerti maksud ucapan waitress itu. Kalau boleh jujur, Vey memang sangat lemah dalam bahasa Inggris, nilai ujian bahasa Inggrisnya saja hanya menyentuh angka 60. "Dia ngomong apa?" Tanya Vey pada Dean, sedikit berbisik.


"Mau pesen apa?"


"Oohh, gue mau pesen..." Vey membuka-buka buku menu, bingung akan memesan apa. Vey hanya bisa menelan ludah, saat melihat harga makanan yang sangat mahal. Menurut Vey, lebih baik ia membeli mie ayam milik Pak Jarwo ketimbang membeli makanan disini. Bayangkan saja berapa banyak porsi mie ayam yang akan Vey dapatkan dengan harga yang dipatok restaurant ini untuk satu porsi menu makanan? Mungkin Vey akan mendapatkan 30 mangkuk mie ayam.


Dean tersenyum tipis, seperti tau apa yang sedang Vey pikirkan. "Pesen apa yang lu mau, gue yang bayar"


"Mahal kak, mending beli mie ayam aja" Ucap Vey, penuh sesal. Harusnya dari awal ia menyuruh Dean untuk mampir ke warung mie ayam Pak Jarwo saja.


"Pesen cepatan" Paksa Dean.


"Mba pesen air mineral dingin 1" Desis Vey pada waitress.


"I'll order for all of the cuisine here" Ralat Dean, sedangkan Vey hanya melongo, tidak mengerti apa yang Dean katakan.


"Okay, please waith and your order will come soon Mr and Ms" Sang waitress pergi meninggalkan mereka berdua.


"Ngomong apa sih?"


"Gue pesen semua menu yang ada disini" Ucap Dean santai.


"Hah! Kak boros banget sih! Cancel aja" Sergah Vey dengan mata melotot dan rahang yang terbuka lebar, seakan-akan rahangnya akan jatuh sampai ke dasar lantai.


"Lu laper kan?"


"I-iya sih ta-tapi.../"


"Tapi gak punya duit?" Goda Dean sambil tertawa lepas. Sesuatu yang sebenarnya harus Vey banggakan karena tawa Dean merupakan hal yang sangat lah langka, bahkan Dean pun tidak ingat kapan terakhir kali ia tertawa selepas ini....mungkin sebelum kejadian 3 tahun yang lalu?? Entahlah.


Tanpa Dean sadari Vey sudah memulai siaran langsungnya di instagram sejak mereka masuk ke dalam restaurant dan saat ini Vey sedang mengarahkan kamera ponselnya ke arah Dean sembari membaca komentar-komentar dari para fans nya.


"Makasih...Jelas dong cakep, dia kan calon suami gue" Ucap Vey tiba-tiba, Dean pun langsung terdiam dan menyadari jika Vey sedang melakukan siaran langsung di instagram dengan kamera ponsel yang dibidikkan ke arahnya.


"Matiin gak?" Ancam Dean.


"Wahh sorry ya guys.... udahan dulu nonton calon suamiku, takut ngambek ih. Mending sekarang nonton gue aja yah" Kata Vey tanpa dosa dan tidak menghiraukan ancaman Dean. Yang kemudian dibarengi dengan datangnya pesanan mereka yang langsung di susun secara rapi oleh para waitress di meja. Termasuk air mineral pesanan Vey.


Vey langsung meraih pesanannya tersebut, "Nih guys, pesanan gue udah dateng lho", sambil menunjukkan botol air mineralnya ke arah kamera, "ehh btw tau gak guys ini harganya berapa? Mahalnya kebangetan...bisa buat beli mie ayamnya Pak Jarwo 3 mangkuk"


Dean menggertakkan rahangnya tanda bahwa ia sudah kehilangan kesabaran. Dengan gerakan cepat ia langsung mengambil ponsel milik Vey dan mematikannya, setelah itu ia memasukannya kedalam saku celana.


Vey membelalakan matanya, "ihh apaan sih kak?! Gue belum selesai...gue juga belum say goodbye sama fans gue.... kembaliin hp gue"


"Makan!" Sarkas Dean, tidak mempedulikan rengekkan Vey.


"Gue kan gak pesen makanan" Vey mengerucutkan bibirnya.


"Yaudah gak usah makan" Cerocos Dean sambil menyuapkan makanan ke mulutnya sendiri.


"Tapi pengin... gak peka banget sih" Jawab Vey dengan raut wajah memelasnya.


Dean kembali tertawa untuk yang kedua kalinya, "yaudah makan..lu gak liat disini banyak banget makanan, gue pesenin ini khusus buat lo tau" , desis Dean tanpa sadar dengan kata-kata yang keluar dari bibirnya


Khusus? Khusus berarti istimewa, bukan? Atau berarti spesial? Kata khusus seperti tercetak tebal di otak Vey dan menciptakan semburat merah di pipinya. "Makasih kak" , titah Vey dengan cengiran kudanya.