
"Saya memiliki urusan lain, Jika tidak ingin di antar ke bawah saya permisi" pamit Ryhan dengan wajah datar nya dan melangkahkan kaki ke arah pintu tapi Dara menghalangi nya.
"Ryhan, Aku sudah mencari mu beberapa hari ini" ucap Dara.
"Maaf anda boleh minggir" ucap Ryhan yang masih dengan wajah datar nya dan menatap tajam ke arah Dara.
"Ryhan, Aku...."
Dritttt
"Halo" Ryhan langsung mengangkat ponsel nya yang berbunyi itu.
"Nak kau di kantor?" tanya Andra.
"Iya" jawab Ryhan dengan wajah datar nya dan menepis tangan Dara yang menghalangi nya dan keluar dari ruang tersebut dan terlihat Jony dan yang lainnya masih ada di depan ruangan tersebut.
"Bawakan seluruh barang barang ku ke bawah" printah Ryhan.
"Baik pak" jawab Fany.
"Biarkan saya saja bu" ucap Jony. Ryhan tidak memperdulikan nya dan langsung berlalu dari sana.
"Pak Ryhan baru masuk sudah ingin pergi saja?"
"Untung saja dia tidak pernah meninggalkan pekerjaan nya selama dia tidak masuk"
"Iya, Pak Ryhan sangat profesional dia akan mengerjakan dengan tepat waktu pekerjaan nya dan memperlajari nya di rumah"
"Tapi kadang sedikit melelahkan untuk kita, Masa iya kita di kantor dia bekerja di rumah"
"Itu terserah dia" jawab Jony yang mendengar ucapan para pegawai yang mengatai bos nya yang adalah pemilik perusahaan yang mereka duduki saat ini.
Jony yang sudah berada di bawah langsung menghampiri Ryhan yang nampak menunggu nya sedangkan Fany dia mengantar Dara ke bawah dan bertemu juga dengan Ryhan. "Seluruh pekerjaan kirimkan saja ke email saya, Akan aya kerjakan dan pahami di rumah, Saya sibuk akhir akhir ini mohon untuk kalian mengerti" ucap Ryhan kepada Jony dan juga Fany yang nampak ia lihat.
"Kau sibuk apa Ryhan?" tanya Dara.
Ryhan tidak menjawab nya dan mengambil barang barang nya yang ada di tangan Jony. Dia membuka paperbag coklat tersebut dan mengambil sedikit brosur di dalam nya. "Tolong bagikan ke seluruh karyawan mana tau ada yang berminat" ucap Ryhan dengan senyum tulus nya menatap Jony.
Jony menatap brosur tersebut dan setelah itu menatap ke Ryhan pula yang tersenyum menatap nya. "Hah?" Fany dan juga Dara nampak melongo saat melihat Ryhan tersenyum memberikan brosur kepada Jony begitupun dengan Jony tapi tidak terlalu nampak.
"Apa kau mau membantuku?" tanya Ryhan kembali saat tidak mendapatkan jawaban dari Jony.
"A-ah i-iya tuan, S-saya bisa" jawab Jony saat mendengar nada bicara biasa dari Ryhan dan menerima brosur yang di berikan oleh Ryhan itu.
"Terima kasih, Aku akan memberikan mu upah setelah ini" ucap Ryhan dengan senyum nya dan kaki nya kembali melangkah menuruni beberapa anak tangga untuk turun dari area perkantoran.
"Ryhan" teriak Dara. Ryhan kembali menghentikan langkah kaki nya.
"Ada apa?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya.
"Brosur apa itu?" tanya Dara dengan sedikit berusaha untuk mengintip.
"Kenapa? Apa kau mau membantu ku membagikan nya?" tanya Ryhan dengan mengeluarkan brosur tersebut dan menyodorkan nya kepada Dara.
"A-ah t...."
"Jika tidak yasudah" jawab Ryhan yang hendak kembali memasukkan brosur tersebut ke dalam paperbag tapi Dara dengan segera mengambil nya.
"Terima kasih" jawab Ryhan dan langsung masuk ke dalam mobil dan langsung melajukan mobil dengan kecapatn sedang menuju ke tempat ramai.
"Shit hanya terima kasih" umpat Dara sedikit kesal.
"Tapi tidak apa apa, Dengan ini aku bisa mengobrol dengan nya" ucap wanita itu kembali dengan tersenyum lebar.
"Boleh saya minta satu pak?" tanya Fany dengan menengadahkan tangan nya meminta brosur yang di berikan oleh Ryhan tadi.
"Boleh, Kau juga boleh mambantu saya menyebarkan nya" jawab Jony dan memberikan separuh brosur kepada Fany.
"Ah baiklah" jawab Fany yang juga tidak keberatan. Jony langsung berlalu dari sana dan kembali masuk ke dalam lift dan menuju ke lantai tempat nya bekerja.
"Butik ya?" ucap nya saat melihat beberapa baju tertempel di sana.
"Pak Ryhan mempunyai butik? Aku pikir apa tadi, Tidak terlalu buruk baju baju nya" ucap Fany dengan senyum nya saat melihat brosur tersebut.
"Ryhan dia sama sekali tidak malu untuk menyebarkan brosur di kantor seperti ini, Pekerja keras sekali" guman Dara dengan senyum nya menatap brosur yang di berikan Ryhan kepada nya tadi.
Ryhan menghentikan mobil nya tepat di tempat ramai dan langsung turun dari mobil dengan membawa brosur brosur yang di bawa oleh nya tadi. "Huh, Bisa" ucap nya dan mengeluarkan beberapa brosur dari paperbag.
"Pak, Jika berminat datanglah di sini menerima pembuatan seluruh jenis pakaian maupun gaun" ucap Ryhan dengan senyum nya dan tangan yang menyodorkan brosur.
"Ibu, Jika berminat datanglah di sini menerima pembuatan seluruh jenis pakaian maupun gaun" ucap nya kembali dan terus saja berbicara seperti itu hingga seluruh brosur di tangan nya habis dan orang orang hanya membalas dengan senyuman saja dan menerima brosur pemberian Ryhan tadi.
Setelah hampir tiga jam barulah brosur tersebut habis ada beberapa yang ia tempelkan dan selebih nya dia berikan kepada pejalan kaki yang melintas di hadapan nya. "Ah" Ryhan mendudukkan tubuh nya di atas kursi di sana dan menyandarkan tubuh yang kelelahan dan wajah yang di penuhi oleh keringat itu.
"Melelahkan sekali hari ini" ucap nya dan melepaskan jas yang di kenakan oleh nya dan meletakkan nya di sebelah nya.
"Tuan mau air?" tanya Jony yang mengikuti nya.
"Em, Kenapa kau di sini?" tanya Ryhan dan menerima minuman yang di sodorkan oleh Jony tadi.
"Bagaimana brosur yang aku berikan kepada mu tadi? Apa sudah kau sebarkan di kantor?" tanya Ryhan dan membuka minuman yang di sodorkan Jony tanpa mendapatkan jawaban awal dari Jony.
"Iya tuan hanya beberapa terbagi di kantor setelah itu saya keluar membagikan nya dengan orang yang melintas di depan kantor begitupun dengan Fany yang mengikuti saya" jawab Jony yang masih berdiri di samping temat duduk.
Ryhan mengambil jas nya. "Duduklah pasti kau lelah" ucap Ryhan dengan meletakkan jas nya di pangkuan nya.
"Maaf tuan saya ingin bertanya, Memang nya anda membuka usaha butik pula?" tanya Jony yang sedikit tidak enak bertanya seperti itu kepada bos nya.
"Bukan aku tapi istriku" jawab Ryhan dengan wajah datar nya dan menutup minuman yang ia minum baru saja dengan nafas sedikit ngos ngosan.
"Nona membuka butik?" tanya Jony.
"Hem, Itu adalah keinginan kakak dan ayah nya makanya dia membuka butik dan tidak bekerja lagi di kantor, Lagi pula sebenar nya aku tidak mengizinkan nya untuk bekerja apapun dan hanya mengizinkan nya untuk menemani ku dan istirahat dengan kondisi nya yang masih lemah" jelas Ryhan dengan nafas masih saja ngos ngosan.
.
.
.
.