Dear D

Dear D
Episode 206



"Benarkah aku sudah menjaga wanita ku dengan baik?" guman Ryhan dan menatap istri nya yang nampak tersenyum menatap anak nya yang tengah berada di gendongan Anggi saat ini.


"Kenapa kau hanya diam?" tanya Nana akan suami nya yang hanya diam sedari tadi.


"Tidak, Kau sudah boleh makan....."


Ckleekk


Pintu kamar itu kembali terbuka dan masuklah perawat ke dalam dengan membawakan makanan untuk Nana. "Maaf mengganggu, Ini sarapan untuk nona" ucap suster dan menyodorkan roling makanan tersebut ke samping Nana.


"Bubur?" ucap Nana yang sangat tidak menyukai bubur.


"Bubur apa ini sus?" tanya Ryhan yang tau saat mendengar ucapan wanita tadi.


"Nasi dengan sayuran tuan" jawab Ryhan.


"Tidak boleh makanan makanan lain?" tanya Nana dengan tatapan menjijikkan nya menatap bubur tersebut.


"Maaf nona, Anda baru selesai operasi dan asi yang harus di berikan kepada bayi adalah asi dari ibu yang sehat, Jika anda memakan makanan lain takut nya nanti akan berpengaruh kepada asi dan juga hal hal lain nya nona" jelas suster.


"Daging tidak boleh sus?" tanya Febri pula.


"Maaf tuan tidak boleh" jawab suster itu kembali. Nana terdiam dan menatap bubur tersebut sedangkan suster berpamitan keluar.


"Kau tetap mau memakan nya?" tanya Ryhan saat melihat raut wajah wanita nya.


Nana nampak menatap bubur tersebut dengan wajah sedikit tidak suka. "I-iya aku akan memakan nya" jawab Nana dan mengambil bubur tersebut.


"Biarkan aku yang menyuapi mu" ucap Ryhan dengan mengambil alih mangkok bubur tersebut. Ryhan menyodorkan sedikit bubur di dalam sendok kepada istri nya dan Nana nampak ketakutan memakan nya.


"Buka mulut nya" ucap Ryhan dengan nada rendah dan mengangakan mulut nya. Nana tidak menjawab nya namun mengikuti ucapan itu dan melahap bubur tersebut.


Mulut kecil itu mengunyah perlahan. Terlihat sekali raut wajah tidak menyukai makanan tersebut dengan tangan yang memegang mulut nya agar makanan itu tidak tumpah. "Ingat Nana ini untuk bayi mu" guman Nana yanh hendak sekali memuntahkan makanan tersebut namun dia ingat jika itu adalah untuk kepentingan bayi nya.


Ryhan bisa melihat dengan jelas raut wajah itu begitupun dengan Anggi dan juga Febri. Ryhan kembali menyuapi sedikit bubur itu lagi dengan di lahap oleh Nana secara normal meskipun sedikit lama namun beberapa sendok bubur yang di sodorkan Ryhan di habiskan oleh nya hingga saat hendak melahap sendokan ke lima Nana sudah tidak kuat dengan rasa bubur tersebut.


Hueekkkk


Nana memuntahkan bubur yang baru saja masuk ke dalam mulut nya tersebut hingga terkena baju yang di kenakan oleh Ryhan. "Kau tidak apa apa?" tanya Ryhan dengan menarik beberapa tisyu dan membersihkan bibir istri nya yang kotor tersebut.


"Aku sudah tidak kuat memakan nya" jawab Nana sedangkan Ryhan dia terus saja membersihkan bagian barang istri nya yang kotor seperti tangan, Baju, Selimut tanpa memperdulikan baju nya.


"Yasudah tidak usah makan lagi, Kau duduk sebentar tidak apa apa kan?" tanya Ryhan dan berdiri dari duduk nya.


"Baju mu kotor" ucap Nana tanpa menjawab pertanyaan suami nya tersebut.


"Jangan memperdulikan nya" jawab Ryhan dan memposisikan bantal agar istri nya dapat bersandar.


"Jangan berbaring terlebih dahulu" ucap Ryhan dengan mendorong bahu istri nya perlahan hingga bersandar. Ryhan berjalan menjauh setelah mengurus wanita nya, Dia membuang seluruh tisyu yang di kenakan nya tadi dan setelah membuka pintu ruangan tersebut.


"Tidak pantas lagi aku berharap akan memiliki nya, Dia sudah memiliki anak dan juga suami" guman Febri yang sadar diri.


"Mundur perlahan, Mereka tidak akan terpisahkan mereka saling mencintai sedangkan aku hanya bos nya itupun dahulu, Karna Nana yang terlalu baik membuat lelaki seperti ku yang tidak pernah jatuh hati luluh terhadap nya, Namun aku salah mencintai wanita yang sudah memiliki suami, Astaga Febri" guman Febri dengan memukul kepala nya.


"Terima kasih" ucap Ryhan yang menunggu sedari tadi di pintu menunggu baju datang. Dia kembali masuk ke dalam ruangan tersebut dan masuk ke dalam kamar mandi nya untuk mengganti baju.


Setelah selesai dia kembali keluar dan kembali mendekat ke arah istri nya. "Sudah cukup lama kau duduk, Tidak ingin istirahat?" tanya Ryhan.


"Em" jawab Nana. Ryhan membantu nya untuk istirahat.


"Tetap di sini" ucap Nana dengan menggenggam tangan suami nya.


"Iya" jawab Ryhan dengan senyum nya.


Beberapa hari berlalu.


"Kita pulang ke rumah ya sayang" ucap Nana dan mencium anak nya tersebut.


"Ayo" ajak Ryhan dengan membawa tas berisikan baju istri nya. Nana menganggukkan kepala nya dan melangkahkan kaki nya keluar dari ruangan tersebut menuju ke parkiran.


Bodyguard yang menunggu mengambil tas yang di pegang oleh Ryhan dan membukakan pintu untuk Ryhan dan juga Nana. Kedua nya masuk ke dalam mobil bagian belakang dan bodyguard pun langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman majikan nya. "Kemari biar aku yang menggendong nya" ucap Ryhan dan mengambil alih Ryhan kecil dari istri nya.


"Ryhan kecil" ucap Ryhan dengan mengusapkan ujung hidung nya ke hidung anak nya tersebut. Kebahagiaan kecil yang di dapatkan nya dari wanita nya membuat Ryhan tidak henti henti nya tersenyum, memberikan banyak ciuman ke anak lelaki nya yang di beri nama nya itu.


"Nama nya adalah Devano bukan Ryhan" ucap Nana.


"Terserah kau mau memanggil apa tapi aku akan tetap menganggil nya Ryhan" ucap Ryhan dengan senyum nya.


"Bagaimana keadaan butik selama aku di rumah sakit?" tanya Nana kepada bodyguard yang berada di depan. Ryhan langsung memasang wajah datar nya saat mendengar pertanyaan tersebut.


Sedikit tidak suka saat istri nya membahas hal tersebut. Bodyguard menatap ke spion dan terlihat Ryhan menatap datar ke arah nya. "Kau ingin menggendong Devan?" tanya Ryhan dengan menyodorkan anak nya tersebut kepada istri nya.


Nana menerima nya dengan senang hati dan wajah yang nampak tersenyum tulus menerima anak kecil nya itu. "Jika memanggil Devan tidak apa apa namun jangan memanggil Ryhan karan itu adalah nama mu dan aku hanya memanggil Ryhan kepada mu, Kau mengerti?" tanya Nana dengan senyum dan tatapan tajam nya menatap suami nya tersebut.


Ryhan membalas senyuman tersebut dan mencium pucuk kepala wanita nya. "Jelas saja aku mengerti, Sedikit tidak nyaman untukku memanggil nama ku kepada anak kita, Devan lebih nyaman" jawab Ryhan dengan senyum tulus nya merasa berhasil mengalihkan percakapan dengan hal kecil itu.


.


.


.


.


.