
"Aku ini" bentak Safha yang ingin menarik rambut Nana tapi dengan segera Nana yang menarik tangan wanita itu.
"Kenapa kau malah marah? aku hanya berniat ingin membantu tadi" jawab Nana dengan wajah datar nya.
"Perasaan ku kenapa jadi tidak enak?" guman Qori dnegan memegang dada nya karna Nana tidak kembali ke ruangan saat izin keluar tadi.
Qori langsung beranjak berdiri dari duduk nya dan ingin keluar tapi suara ibu guru yang mengajar di kelas itu menghentikan langkah kaki nya. "Mau kemana kau Qori?" tanya ibu itu.
"Ke toilet" jawab Qori dan langsung berlalu dari sana dan sedikit berlari menuju ke toilet.
"Kau ini jangan berpura pura bodoh" bentak Safha dan ingin melayangkan tangan nya dan menampar wajah Nana tapi dengan sigap Nana menghempas tubuh wanita itu. Nana masih menatap heran dan masih belum membalas apa yang ingin di lakukan Safha tadi kepada nya karna dia masih belum mengerti.
"Wanita ini" guman Grenli dan berjalan mendekat ke arah Nana. Nana tidak memperhatikan Grenli dan masih menatap Safha yang seharus nya menangis dan mengadu malah marah kepada nya.
Plakkk
Pel yang ingin di pukuli oleh Grenli kepada Nana terkepada Nana malah terkena bahu Qori. Nana menatap ke depan dan melihat Qori berada di hadapan nya. Pel tadi nampak patah akibat keras nya pukulan yang di layangkan oleh Grenli dan untung saja tidak terkena kepala atau tubuh Nana. "Qori?" ucap Nana saat melihat Qori di hadapan nya.
"Qori?" ucap Safha dengan nada pelan saat melihat Qori berada di dalam toilet itu.
"Kau tidak apa?" tanya Qori kepada Nana. Nana menggelengkan kepala nya karna memang dia tidak kenapa kenapa.
"Apa yang kalian lakukan kepada Nana hem?" tanya Qori dengan menatap kedua manusia itu.
"Bukan urusan mu" jawab Grenli yang ingin menarik tangan Nana tapi dengan segera Qori mencengkram tangan lelaki Itu.
"Jangan menyentuh nya" ucap Qori dengan wajah datar dan tangan yang mencengkram erat lengan lelaki itu.
"Ah" ucap Grenli yang merasa sakit akan tangan nya yang di cengkram oleh Qori.
"Pergi kau, Jangan mengganggu nya lagi" ucap Qori dengan wajah datar nya dan langsung menghempas tangan lelaki itu. Grenli tidak menjawab nya dan langsung berlalu dari sana tapi tidak dengan Safha yang masih duduk di atas lantai di sana. Qori membalikkan tubuh nya dan menatap lekat wajah Nana yang biasa saja itu, Nana yang di tatap pun langsung memasang wajah datar nya.
"Ayo kita kembali ke kelas" ajak Qori tanpa menyentuh Nana karna dia tau jika Nana itu sudah menikah. Nana tidak menjawab nya dan beranjak berdiri dari duduk nya dan langsung menuju ke kelas begitupun dengan Qori yang berjakan terlebih dahulu dari nya.
Nana dan Qori masuk bersamaan di dalam kelas dan itu membuat seluruh orang heran akan mereka berdua yang masuk ke dalam kelas bersamaan apa lagi Ryhan yang sedari tadi menunggu wanita nya. "Kenapa mereka bersamaan?" guman Ryhan saat melihat Nana dan Qori masuk ke dalam kelas secara bersamaan. Nana tidak memperdulikan sekitar dan langsung mendudukkan tubuh nya di tempat duduk nya begitupun dengan Qori, Qori menoleh ke arah wanita itu dan menatap wanita itu yang hanya memasang wajah datar nya dan sama sekali tidak menatap nya.
Kringgg
Bel pulang berbunyi dan Nana langsung membereskan barang barang nya dan langsung berlalu keluar dari kelas itu bersama teman teman lainnya. Nana sampai di bawah dan dia langsung menghampiri sepeda nya dan dia langsung naik ke atas nya. "Huh" Nana mendengus kasar dan langsung mulai mengayuh sepeda nya itu menuju ke tujuan nya yakni rumah nya. Ryhan bisa melihat wanita itu berlalu dan setelah itu dia segera menyusul wanita nya itu menuju kembali ke rumah dan ada Qori yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua.
Nana nampak tidak pokus akan sepeda nya hingga akhirnya dia terjatuh, Ryhan langsung turun dari sepeda nya dan meletakkan sepeda nya entah di tempat apa dan langsung menghampiri istri nya itu. "Kau ini ceroboh sekali" ucap Ryhan dengan membantu wanita itu bangkit dari jatuh nya. Nana masih belum menjawab nya.
"Kenapa bisa jatuh hem? apa yang kau pikirkan?" tanya Ryhan dengan membersihkan lutut sedikit kotor itu. Nana masih belum menjawab nya dan mendengar ocehan demi ocehan yang keluar dari mulut lelaki yang ada di hadapan nya itu.
"Apa kau memikirkan Qori sampai kau jatuh seperti ini hem?" tanya Ryhan.yang masih merapikan rok yang sedikit terlipat itu.
"Aku memang ceroboh makanya tidak ada yang bertahan dengan ku dan meninggalkan ku" jawab Nana akan ocehan lelaki yang ada di hadapan nya itu. Ryhan menghentikan aktivitas nya saat mendengar ucapan itu dan langsung mendongakkan kepala nya menatap sang istri. Nana yang melihat Ryhan mendongakkan kepala pun langsung mengalihkan pandangan nya dari sana dan kembali menegakkan sepeda nya tapi Ryhan yang sigap pun langsung mengambil alih sepeda itu dan langsung menegak nya. Nana tidak mengucapkan terima kasih ataupun menatap Ryhan dan setelah itu dia langsung berlalu dengan mendorong sepeda nya itu. Ryhan hanya bisa membuang nafas saat melihat itu sungguh dia menyesal karna mengatakan Nana ceroboh yapi kecerobohan itu tidak bisa di pungkiri karna memang Nana sangatlah ceroboh. Ryhan kembali ke belakang dan mengambil sepeda nya dan setelah itu langsung menyusul wanita kembali ke rumah.
Sesampai di rumah Nana langsung masuk ke dalam pekarangan rumah nya itu dan meletakkan sepeda nya di tempat dan setelah itu langsung masuk ke dalam rumah dan menuju ke kamar. Nana langsung mengganti pakaian nya dan setelah itu mendudukkan tubuh nya di atas meja belajar nya. Ryhan juga sudah mengganti pakaian nya dan singgah sebentar ke kamar sang istri dan melihat istri nya itu tengah duduk di atas kursi dengan kedua kaki yang naik ke atas kursi itu.
Jderrrr
Petir menyambar dan hujan pun turun, Ryhan masih belum beranjak dari dekat kamar istri nya itu karna takut sang istri ketakutan, Nana menatap hujan yang jatuh itu. "Masuk tidak ya?" guman Ryhan karna dia ingin sekali masuk ke dalam kamar itu.
Tok..tok
"Apa boleh aku masuk?" tanya Ryhan dengan ketukan pintu.
"Em" jawab Nana tanpa menoleh. Ryhan tersenyum karna mendapatkan izin dan setelah itu dia langsung masuk ke dalam kamar itu. Ryhan memilih mendudukkan tubuh nya di atas ranjang dan menatap lekat wanita yang sedang duduk dengan lutut yang memangku dagu nya.
"Kau sedang apa?" tanya Ryhan yang tidak tau harus bertanya apa padahal dia tau jika Nana tidak melakukan apa apa.
"Menikmati suara hujan, Bukankah indah dan merdu?" tanya Nana dengan menatap hujan yang jatuh di hadapan nya.
"Kau menyukai suara hujan?" tanya Ryhan dengan menatap lekat wanita itu.
"Awalnya aku tidak menyukai nya tapi sekarang aku sangat menyukai nya" jawab Nana dan meletakkan kedua tangan nya di sela sela kedua kaki nya.
"Memang nya kau pernah tidak menyukai hujan?" tanya Ryhan dengan menatap lekat wanita itu.
"Hem" jawab Nana mengangguk mengiyakan nya dengan menatap lelaki itu.
"Kenapa?" tanya Ryhan lagi.
"Ayah meninggal karna dia mengendarai motor saat hujan makanya aku membenci hujan dahulu" jawab Nana dan kembali menatap air yang menetes membasahi bumi. Ryhan tidak menjawab nya dan menatap lekat wajah wanita itu dari samping.
"Nenek juga meninggal saat hari hujan bukan? sungguh saat itu sangat membenci hujan karna kehilangan Orang yang aku sayangi secara berturut turut" sambung nya lagi tanpa menatap Ryhan, Dia juga sangat kehilangan akan nenek Ryhan yang meninggal waktu itu karna dia sangat menyayangi wanita itu dan sifat nek Hasnah sangat lah baik dan itu pengganti ibu menurut nya begitupun dengan ayah Nana yang juga sudah menganggap wanita itu seperti ibu sendiri.
"Kesedihan di masa lalu mungkin bisa aku tutupi karna aku masih memiliki penyemangat yakni kak Rendi dan juga kau, Tapi saat kehilangan kak Rendi aku rasa aku tidak bisa baik baik seperti dahulu saat kehilangan ayah dan nenek" jelas Nana yang jujur mengungkapkan perasaan nya secara tidak langsung itu.
"Kak Rendi juga pernah mengtakan kepada ku supaya aku tidak membenci hujan karna hujan adalah anugrah tuhan dan sangat dia sukai makanya aku saat beberapa bulan itu sudah mandi hujan bersama mu waktu itu, Kau ingat? saat itu kak Rendi menemani kita bukan? sungguh itu sangat menyenangkan" jelas Nana dan menundukkan kepala nya karna dia tau air mata nya akan jatuh.
"Kak Rendi juga pernah bilang jika hujan itu tenang dan saat hujan kita juga bisa melakukan dan mengeluarkan apa isi hati kita karna tidak ada yang tau dan tidak ada yang mendengarkan nya" sambung nya lagi dengan tawa kecil setiap ucapan nya tadi. Ryhan hanya bisa diam dan mendengarkan ucapan wanita itu karna menurut nya ucapan yang keluar dari mulut wanita itu adalah isi hati yang sudah lama ia pendam makanya dia membiarkan nya.
.
Maaf baru bisa up karna sibuk sama urusan sekolah