
"Baju saya juga tertinggal di rumah pak" jawab Ryhan dengan santai nya.
"Demi wanita nya tidak di hukum dia rela membela" guman Nana dengan raut wajah yang sedikit kecewa akan Ryhan yang membela Dira.
"Kalian berdua ini...." ucap pak wali kelas dengan geram tapi ucapan nya terpotong oleh Nana.
"Saya akan menjalankan hukuman nya pak" potong Nana dengan nada rendah dan itu membuat pak wali kelas dan juga Qori menoleh ke arah nya.
"Kau sudah tau apa yang hukuman nya?" tanya pak wali.
"Sudah pak" jawab Nana tanpa mengangkat kepala nya.
"Kenapa masih diam? Cepat bergerak" bentak pak wali yang membuat Nana kaget begitupun dengan yang lainnya yang nampak pokus akan pekerjaan mereka juga ikut kaget.
Nana tidak menjawab nya lagi dan langsung berlalu dari sana, Dia melewati pak wali dan kedua teman nya yang baru saja masuk. "Loh mau kemana na?" tanya Yura. Nana tidak menjawab nya dan terus saja melangkahkan kaki nya berlalu dari sana.
Ryhan yang melihat pak wali kelas yang nampak kesal pun langsung melangkahkan kaki nya keluar menyusul wanita nya. Nana menuruni anak tangga di susul oleh Ryhan dan berjalan ke lapangan, Pak wali kelas melihat dari atas melihat apa Nana dan Ryhan menjalankan hukuman dengan baik.
Nana berdiri tepat di depan tiang bendera dan mendongakkan kepala nya terlihat pak wali melototkan mata nya kepada dia dan itu membuat nya langsung hormat di hadapan bendera itu. Ryhan melihat jika hari sangatlah panas dan membuat nya langsung berlari ke arah istri nya.
"Matahari terlalu panas, Kau memang nya tidak apa apa?" tanya Ryhan. Nana tidak menjawab nya dan pokus saja mendongak ke atas.
"Ryhan mengapa kau mengobrol, Jalani hukuman nya sekarang" teriak pak wali dari atas.
"Tidak ada hukuman lain selain berjemur?" teriak Ryhan.
Pak wali mengeluarkan toa dan menyalakan nya. "Tidak ada ini sudah menjadi peraturan, Berjemur sampai jam pelajaran bapak habis" jawab ppak wali dengan menggunakan toa.
"Ryhan memang sangat menyayangi kekasih nya"
"Iya sampai sampai dia..."
"Kalian kenapa di sini? Kembali ke tempat dan lanjutkan pekerjaan kalian" teriak pak wali yang nampak kesal akan beberapa murid yang berkumpul melihat Ryhan dan juga Nana yang di hukum.
"Ini terlalu panas" ucap Nana yang kelelahan berjemur beberapa menit. Ryhan bisa mendengar jelas ucapan wanita itu dan menatap ke arah nya.
Wajah yang memerah, Keringat yang bercucuran kekuar dari tubuh wanita itu sangat nampak jika wanita itu kepanasan. Ryhan melepaskan almamater nya meskipun baju nya tidak terlalu tebal, Di letakkan nya almamaternya di atas kepala wanita nya supaya sedikit menghilangkan panas di tubuh wanita itu.
Nana yang merasakan sedikit teduh dan merasakan ada sesuatu menutupi kepala nya langsung melihat ke samping dan terlihat Ryhan menatap nya. "Ini akan sedikit mengurangi panas mu" ucao Ryhan. Nana diam dan belum mengeluarkan suara apapun hingga beberapa detik dia tersadar akan pikiran nya.
Nana langsung melepaskan almamater itu dari kepala nya dan memberikan nya kepada Ryhan. "Aku tidak membutuhkan nya" jawab wanita itu dengan wajah datar dan kembali pokus ke depan.
"Kenakan saja, Aku tidak apa apa" ucap Ryhan.
"Aku tidak perduli kau kenapa kenapa atau tidak, Aku juga tidak bertanya tentang itu dan aku tidak mau menggunakan barang mu" ketus wanita itu dengan wajah datar yang memerah. Menahan kesal, Menahan marah akan suami nya itu yang di rasakan hati nya, Dia belum bisa meluapkan emosi nya di sekolah dan tidak akan pernah bisa meluapkan emosinya dimana pun dan kapan pun.
"Tapi kau akan kepanasan nanti, Pakailah" ucap Ryhan yang kembali mengenakan almamaternya di kepala istri nya.
"Tapi Del...."
"Sudah ku bilang aku tidak mau, Kau tidak memiliki telinga untuk mendengar? Kau tidak memiliki pencernaan pikiran untuk mencerna percakapan orang lain? Kau mengerti tidak apa arti tidak mau Hah?" bentak wanita itu dengan membuang almamater milik lelaki nya ke sembarang arah dan langsung berlalu dari sana, Meskipun hukuman belum selesai dia tetap saja tidak memperdulikan itu dan terus saja melangkahkan kaki nya berlalu, Bukan pergi ke kelas ataupun kantin melainkan keluar dari pekarangan sekolah.
"Delina" teriak Ryhan dan langsung menyusul wanita itu.
"Buka pintu" teriak Nana kepada satpaam.
"Kau mau kemana?" tanya satpam dengan wajah kebingungan.
"Buka pintu nya" teriak Nana. Satpam langsung membukakan pagar itu dan Nana langsung keluar dari pekarangan sekolah. Ryhan tidak tinggal diam dan terus mengejar wanita itu dengan alamamter yang sudah di ambil oleh nya tadi.
Nana menghentikan taxi yang melintas di hadapan nya dan memberikan alamat rumah nya. Taxi langsung melaju ke rumah nya, Wanita itu masih bisa menahan tangis nya saat di dalam taxi. "Del" teriak Ryhan. Teriakan itu percuma, Tidak menghentikan taxi.
Dengan segera lelaki itu mengambil sepeda nya dan mengayuh nya dengan kencang hingga bisa menyusul taxi yang di tumpangi wanita nya. Nampak wajah kelelahan mengayuh sepeda. "Del kau mau kemana? Jangan melakukan hal aneh" ucap Ryhan. Nana membalikkan tatapan nya dan melihat Ryhan menyusul nya menggunakan sepeda.
"Halangi dia" perintah Nana. Sopir mengangguk mengiyakan nya dan menggeserkan sedikit mobil hingga Ryhan terjatuh.
Brakk
Ryhan terjatuh dari sepeda dan mobil langsung melaju dengan kecepatan tinggi. "Ah" Ryhan kesakitan akan tangan yang terbentur ke aspal begitupun dengan kaki.
"Apa yang terjadi dengan nya?" guman Ryhan yang kebingungan dan kembali berdiri, Dia kembali menaiki sepeda dan menyusul istri nya dengan sekuat tenaga.
"Terima kasih" Nana memberikan uang bayaran kepada sopir dan langsung keluar. Air mata nya langsung menetes saat keluar dari mobil itu.
"Del apa yang mau kau lakukan?" teriak Ryhan kepada Nana. Nana tidak memperdulikan nya dan langsung masuk ke dalam rumah. Ryhan meletakkan sembarangan sepeda nya dan langsung masuk tapi tidak bisa akibat pintu rumah sudah di kunci oleh Nana.
Tok..tok
"Del buka" Ryhan berusa membuka pintu itu dan mengetuk nya supaya wanita nya membuka pintu.
"Del buka pintu nya...."
Brakkk
Terdengar suara hempasan dari dalam entah itu apa Ryhan belum mengetahui nya. Ryhan yang hawatir langsung berbelok dan melihat jendela. "Delina, Apa yang kau lakukan?" teriak Ryhan yang nampak kesal.
"Aku membenci mu"
Prang
Nana menghempaskan gelas dan menghancurkan apa yang bisa di hancurkan oleh nya, Nampak buku berserakan di dalam rumah itu dan banyak serpihan gelas. Wajah yang sudah basah akibat tangis sakit hati dan kepurus asaan membuat Ryhan yang tidak mengerti kebingungan, Meskipun dia kebingungan dia terus berusaha untuk membuka pintu nya.
"Tidak ada pilihan lain" Ryhan langsung mendobrak pintu rumah itu sekuat tenaga. Untuk percobaan pertama dia gagal, Pintu belum terbuka, Hal kecil itu tidak membuat nya putus asa dan terus berusaha untuk membuka pintu.