
"Aku sudah gagal, Hikssss" Nana semakin histeris dengan tangis nya hingga membuat Ryhan ikut sedih dan langsung memeluk tubuh istri nya tersebut.
"Aku gagal Ryhan, Aku gagal, Hiksss" Nana menangis tepat di dalam pelukan suami nya sedangkan Ryhan memeluk erat wanita yang tengah membutuhkan nya itu.
"Mau ribuan kalipun kau jatuh kau masih bisa bangkit, Jatuh karna kerikil bukanlah masalah besar yang menghambat mu mengambil berlian di depan, Kau bisa, Kau kuat dan kau dan kau pantang menyerah" ucap Ryhan. Nana tidak menjawab nya dan mengencangkan suara tangis nya hingga membuat Ryhan membuang nafas panjang dan menoleh ke arah nya.
"Hem menangislah sesuka hati, Aku tidak akan melarang mu" ucap Ryhan yang tidak tau ingin mengatakan apa lagi.
Hiksssss, Hikssss
Nana terus saja menangis, Mulai dari menangis hanya mengeluarkan air mata tanpa suara sekarang menjadi meraung menangis. Sedih akan butik nya yang terbakar, Rumah yang sejak kecil di tempati nya sudah hangus terbakar.
Ryhan langsung merangkul bahu wanita nya dan memeluk nya dengan tangan yang mengusap punggung wanita nya tersebut. "Aku benar benar gagal Ryhan Hikssss" ucap Nana dan kembali menangis dengan menggenggam erat baju suami nya.
"Em" Ryhan hanya bisa berkata itu.
"Menasehati nya sekarang pun aku percuma lebih baik menenangkan nya saja" guman Ryhan dan menepuk nepuk bahu istri nya menggunakan jari jari tangan nya agar istri nya itu tenang.
Suara tangisan yang perlahan menghilang membuat Ryhan merenggangkan pelukan nya dan melihat istri nya dan ternyata wanita nya sudah tertidur. "Kau tidak perlu hawatir dengan bahan bahan ataupun harta lain nya, Aku akan mengganti semua nya" guman Ryhan dan mencium kepala wanita nya dan langsung menggendong nya membawa nya menuju ke ranjang.
"Tapi kau bekerja seperti ini pasti sangat lelah, Apa lebih baik kau tidak usah bekerja lagi?" tanya Ryhan dengan menatap lekat wanita nya tersebut.
"Tidak aku akan tetap bekerja, Aku akan kembali semangat, Tabungan ku masih ada sedikit dan cukup untuk memulai semua ny kembali" jawab Nana yang tidak terima akan hal tersebut.
Ryhan terdiam dan menatap lekat wajah sembab wanita nya tersebut. "Kau tidak yakin dengan ku?" tanya Nana dengan menatap lekat wajah suami nya tersebut.
Ryhan masih saja diam hingga beberapa detik dia langsung melebarkan senyuman nya dan langsung memeluk wanita nya tersebut. "Jelas saja aku yakin kepada mu bisa melakukan semua nya, Kau ini wanita hebat dan pantang menyerah jadi aku akan selalu mendukung keputusan mu" jawab Ryhan dengan senyum nya dan tangan yang mengusap kepala wanita nya tersebut.
"Em" Nana kembali mempereratkan pelukan nya denganair mata kembali menetes dan suara yang di tahan oleh nya.
"Hey jika menangis suara nya jangan di tahan, Dada mu akan sesak jika menahan nya" ucap Ryhan dengan mengusap punggung wanita nya tersebut.
"Aku tidak menangis lagi" jawab Nana dengan mengapus bekas air mata nya.
"Tidak usah berbohong, Jika belum puas menangis menangis lah lagi tidak ada yang melarang mu" ucap Ryhan dengan memundurkan kedua bahu wanita nya dan sangat terlihat jelas mata bakup, Hidung yang memerah dan juga wajah sedikit basah.
"Kau tidak berniat untuk membujukku agar tidak menangis?" tanya Nana yang sedari tadi tidak mendapatkan bujukan melainkan suruhan untuk menangis.
"Tidak karna kau berhak menangis, Jikapun iya aku membujuk mu kau nanti pasti juga akan menangis lagi, Jadi menangis sekarang sampai hati mu tenang, Aku tidak akan membujuk ataupun meninggalkan mu, Aku selalu di sini" jelas Ryhan dengan senyum nya.
"Hiksssss" Nana kembali memeluk suami nya dengan menangis kembali juga.
"Aku bersyukur memiliki mu, Kau selalu ada bersama ku dalam keadaan apapun, Kau tidak marah ataupun menuntut agar aku menjadi kehendak mu, Kau selalu mendukung keinginan ku, Kau selalu memberikan semangat di saat saat aku merasa usaha ku gagal, Kau selalu ada bersama ku, Hiksssss" ucap Nana yang menangis histeris di pelukan lelaki nya.
"Omong kosong apa itu? Pembicaraan yang melarat kau ucapkan sungguh tidak masuk akal, Aku benci dengan ucapan itu" ucap Nana dan memeluk erat tubuh itu.
"Ryhan benar benar tidak membujuk nya sama sekali" ucap Hanah yang ikut meneteskan air mata saat Nana yang menangis histeris di pelukan Ryhan.
"Kenapa Ryhan tidak membujuk nya dan malah menyuruh nya untuk menangis? Bukankah jika orang sedang menangis harus nya di bujuk?" tanya Febri pula yang langsung melontarkan pertanyaan itu tanpa memikirkan tempat dan orang sekitar nya yang langsung menatap nya.
"Ryhan membiarkan Nana menangis pasti memiliki alasan yang tidak ketahui" jawab Anggi dengan wajah datar nya dan berjalan ke arah sofa yang ada di ruang utama.
"Sudahlah jangan mengintip lagi jika kalian tidak mau di usir oleh pemilik rumah" ucap Anggi dan mengambil Devan yang baru saja di bawa oleh pelayan melintas di hadapan nya.
"Sayang kau nampak tidak nyaman ya dengan suasana seperti ini?" tanya Anggi dengan meletakkan Devan di pangkuan nya.
Bibir tipis anak lelaki itu langsung tertawa saat melihat Anggi. "Kau tertawa melihat paman?" tanya Anggi yang gemas melihat mulut itu terbuka di tambah masih belum memiliki gigi.
"Menggemaskan sekali kau ini" ucap Febri yang mengusapkan ciuman nya kepada Devan yang berada di pelukan Anggi.
"Berikan aku menggendong nya" ucap Febri dengan mengambil Devan dari Anggi tanpa penolakan Anggi memberikan nya.
Febri nampak bermain dengan Devan hingga membuat Devan mengeluarkan suara tawa nya dan kaki yang berusaha berdiri namun masih lemah hingga membuat nya terus terjatuh di atas paha Febri. "Menggemaskan sekali kau anak kecil" ucap Febri yang gemas akan Devan yang memang menggemaskan itu.
Weny yang sedari tadi memperhatikan Febri langsung tersenyum saat Febri dapat menghibur Devan dengan mudah dan membuat nya tertawa.
"Pasti dia sudah tidur" guman Ryhan saat tidak mendapatkan pergerakan apapun dari tubuh wanita nya dan juga sudah tidak mendengar isakan lagi juga dari wanita nya tersebut.
Ryhan melonggarkan pelukan nya dari wanita nya untuk melihat apakah wanita nya masih terjaga, Menangis atau sudah tidur. "Sudah ku duga" guman Ryhan dengan senyum nya saat melihat wanita nya yang sudah tertidur.
Ryhan perllahan langsung menggendong wanita nya tersebut untuk menuju ke ranjang. Dengan sangat perlahan dia membaringkan tubuh kecil yang kelelahan itu di atas ranjang.
.
.
.
.
.
.
.