Dear D

Dear D
Episode 82



"Tidak berharap akan ibu masih ada tapi sedikit mau bertemu dengan nya, Bagaimana wajah ibu? Apa dia mirip dengan ku atau tidak? Apa kau mengenali ibuku?" tanya Nana dengan menatap lekat wajah Ryhan.


"Untuk apa mengenali wanita yang sudah menyakiti mu? Jika bukan karna dia meninggalkan kalian mungkin ayah mu masih ada hingga saat ini begitupun dengan kak Rendi" guman Ryhan dengan wajah dan hati yang kesal.


"Hey kau ini aku bertanya kau malah diam" ucap Nana dengan wajah kesal nya dan kembali menatap keluar.


"Tidak, Dia sama sekali tidak mirip dengan mu, Aku juga tidak tau apa bentuk ibumu itu" jawab Ryhan dengan wajah datar nya dan langsung menyandarkan tubuh nya di sandaran sofa yang di duduki nya dan juga Nana.


"Bagaimana kau tau ibu tidak mirip dengan ku sedangkan kau tidak pernah bertemu dengan nya?" tanya Nana.


"Ryhan" teriak Merri dari luar pagar umah.


Brak


Merri menggedor dan mengguncang pegar rumah Nana dengan sangat kencang. "Ryhan keluar" teriak Merri kembali.


"Tuan, Nyonya ke rumah nona Delina bersama dengan nona Dira dan mereka menggedor dan mengguncang pagar rumah nona Delina" Opia yang selalu mengawasi rumah itu langsung mengirimkan pesan kepada Andra agar tidak terjadi kericuhan.


"Shit mereka kembali berulah" guman Andra saat melihat pesan dari Opia.


"Ke rumah ibuku" perintah Andra kepada sopir.


"Baik tuan" jawab sopir dan langsung melajukan mobil dengan kecepatan sedang menuju ke kediaman ibu Andra.


"Kau tidak perlu membahas ibu yang sudah meninggalkan mu itu, Dia meninggalkan ayah, kak Rendi dan juga kau, Sekarang kau malah memikirkan dia yang tidak memikirkan mu?" tanya Ryhan dengan wajah datar nya dan nada sedikit meninggi.


"Tapi dia tetap ibuku" jawab Nana


"Dia sudah meninggalkan kalian dan menelantarkan kalian, Dia tidak bertanggung jawab dengan kehidupan mu dan kak Rendi, Ayah menjadi ayah sekaligus untuk mu dan juga kak Rendi kau ingat? Jangan mengingat nya, Dia itu tidak penting" bentak Ryhan yang geram. Mengetahui siapa ibu dari istri nya dan kehidupan istri nya yang cukup kelam dari kecil dan sekarang istri nya membahas masalah tersebut membuat nya kesal dan marah.


Nana menundukkan kepala nya saat mendengar bentakan itu. Dia takut, Dia sedih di bentak seperti itu oleh suami nya sendiri.


"Kau tidak tau bagaimana perjalanan hidup mu sendiri karna tidak ada yang mau menceritakan nya kepada mu agar kau tidak membenci ibu mu yang jahat itu. Mereka juga tidak menceritakan nya kepada ku melainkan kepada nenek, Ayah mu yang baik itu selalu menangis kepada nenek tidak ada yang mengetahui itu kecuali kak Rendi yang selalu bisa mendengar dan aku yang selalu penasaran akan ayah mu dahulu. Aku takut kau akan membenci ibu mu tapi aku juga tidak suka kau membahas ibu mu di hadapan ku" guman lelaki itu. Hati yang hancur mengingat kembali pembicaraan dan air mata yang menetes dari mata ayah mertua nya membuat hati nya sakit.


Banyak kebenaran yang masih belum terungkap dan belum di ketahui oleh Nana. Kebenaran tentang siapa ayah nya dahulu, Kebenaran siapa ibu nya, Apa ibu nya masih hidup atau tidak. Kebenaran tentang hubungan kedua nya juga masih menjadi rahasia bagi siapapun.


Tangan kekar itu langsung meraih tubuh mungil itu. Di peluk dan di dekapkan oleh nya tubuh nya sambil satu tangan yang mengusap punggung Nana. "Sudahlah jangan memikirkan apapun. Pokuslah kepada mimpi mu agar mereka yang masih ada di dunia dan meninggalmu dahulu akan memohon meminta kembali kepada mu" ucap lelaki itu dengan nada rendah.


Ucapan yang tulus dari hati paling dalam. Keinginan kak Rendi yang belum tersampaikan kepada adik nya sekarang sudah di wakili oleh Ryhan. "Maafkan aku tadi membentak mu" bisik nya dan mencium dalam pucuk kepada wanita nya. Nana diam dia tidak menjawab ataupun membalas pelukan dari suami nya. Pikiran yang berpikir entah kemana membuat nya diam dan mencerna ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut suami nya.


"Aku menyakiti hati mu?" tanya Ryhan. Nana langsung menggelengkan kepala nya dan langsung membalas pelukan dari suami nya.


Pelukan balasan. Itu diinginkan oleh kedua nya. Kadang satu memeluk dan satu tidak.


"Apa lagi yang kalian lakukan di sini hah?" bentak Andra yang baru saja sampai di alamat rumah orang tua nya.


Merri dan juga Dira langsung menoleh ke belakang. Mata kedua nya membulat saat melihat Andra tepat berada di belakang kedua nya. "Kalian mencari keributan lagi? Apa tidak puas dengan keributan yang kalian lakukan beberapa minggu lalu?" ketus Andra dengan melototkan mata nya menatap Dira dan Merri secara bergantian.


"Tante" Dira berlindung tepat di belakang Merri akibat takut akan Andra yang marah.


"Aku sudah bilang tidak akan berhenti sebelum anakku kembali" jawab Merri dengan nada yang tidak kalah meninggi.


"Percuma, Ryhan tidak akan kembali jika aku mau menjodohkan nya dengan wanita ini" tegas Andra dengan menunjuk kepada Dira yang berlindung tepat di belakang istri nya.


"Hah, Mungkin aku benar benar sudah mencintai nya, Perasaan peduli ini sedari kecil sekarang sudah berubah menjadi cinta, Rasa takut kehilangan nya pun juga begitu. Takut hati nya kembali terluka, Takut ada yang menyakiti nya, Takut dengan segala hal yang menyangkut diri nya. Itu hukan takut melainkan rasa cinta yang terlalu dalam, Aku baru sadar akan hal itu" Mata yang terpejam memikirkan perasaan yang di rasakan nya sejak dahulu dan baru di sadari nya saat ini. Bertepatan pada hari, Detik, Tanggal, Tahun ini dia sadar jika dia bukan hanya peduli sebagai seorang teman ataupun peduli akibat amanah kak Rendi melainkan memang rasa cinta yang sudah tumbuh sejak dahulu.


"Aku benar benar tidak ingin hati, fisik dan juga batin nya terluka. Aku mencintai nya" guman Ryhan kembali dan mempererat pelukan. Dia menghujani pucuk kepala wanita itu dengan ciuman, Rasa sayang dan cinta yang baru di sadari oleh nya membuat nya berani melakukan hal tersebut.