
"Heh, Kau pikir mama tidak bisa membayar nya?" potong Hanah dengan melototkan mata nya kepada Ryhan.
"Bawa dan simpan saja uang mu, Uang mama masih cukup untuk membeli mall ini" ucap Hanah dengan memundurkan tangan Ryhan yang menyodorkan kartu kredit yang ada di tangan Ryhan tersebut.
"Hey, Sudahlah jangan melamun lagi, Kau tidak lihat istri mu ini kelaparan? Cepat bawa dia untuk mencari makan nanti mama akan menyusul" ucap Hanah kembali dan menunggu hasil dari banyak nya belanjaan nya.
"Jika seperti ini nampak jelas sekali jika aku ini anak pungut" teriak Weny dengan kesal nya.
"Sayang, Kenapa kau berbicara seperti itu? Kau adalah anak mama dan papa, Ayo kita cari makan bersama ayo" ajak Wuqi akan anak nya yang merajuk.
"Iya Weny, Kau juga ikut sayang bersama mereka, Mama menunggu ini sebentar" ucap Hanah dengan senyum nya menatap anak nya tersebut.
"Yasudah ayo" ajak Weny dan langsung keluar dari toko tersebut dan menuju ke tempat makan yang paling enak di sana dengan Ryhan yang merekomendasikan nya.
Setelah selesai makan mereka semua langsung keluar dari mall dengan beberapa pelayan yang berada di sana mengambil seluruh barang barang yang mereka beli yakni kebutuhan bayi namun tidak terlalu lengkap. "Ma bukan nya ini sedikit berlebihan? Ini sangat banyak" ucap Nana saat melihat beberapa keranjang yang di bawa oleh beberapa pelayan di belakang mereka.
"Tidak ada yang terlalu banyak untuk cucuku, Ayo masuk" ucap Hanah.
"Mama tidak membeli apapun untukku namun membelikan banyak sekali barang bayi untuk cucu mama yang masih belum lahir, Hmp" Weny nampak merajuk dan membuang pandang nya dari ibu nya hingga membuat Nana menatap ke belakang.
"La..."
"Kau sudah besar dan bisa membeli keinginan mu sendiri" jawab Hanah yang memotong ucapan Nana.
Ryhan langsung menyalakan mesin mobil dan langsung melajukan nya dengan kecepatan sedang kembali ke rumah keluarga Weny. "Mobil tadi lagi?" guman Ryhan yang melihat mobil dan plat yang sama mengikuti mobil yang di tumpangi nya.
Ryhan menambah laju kecepatan mobil dengan menatap ke kaca yang bisa melihat tempat duduk wanita nya dan wanita nya terlihat tenang tenang saja saat mobil melaju dengan kecepatan tinggi.
Hingga beberapa saat mobil terparkir tepat di halaman rumah Hanah dan Ryhan langsung turun dari mobil tersebut dan menatap ke gerbang. "Kau melihat apa nak?" tanya Wuqi saat melihat Ryhan menatap ke belakang.
"Melihat mobil itu" jawab Ryhan dengan senyum nya menunjuk ke mobil yang di bawa pelayan.
"Oh" Wuqi mengangguk mngerti mendengar jawaban tersebut.
"Kalian ingin langsung pulang atau menginapdi sini malam ini?" tanya Hanah.
"Kami pulang saja ma lagi pula Nana masih ada urusan di rumah" jawab Nana akan pertanyaan tersebut.
"Em, Baiklah" jawab Hanah yang nampak kecewa akan jawaban dari Nana yang sudah lama tidak menginap di rumah nya.
"Jika begitu kami permisi langsung pulang saja" pamit Nana dengan mencium punggung tangan Hanah dan juga Wuqi secara bergantian begitupun dengan Ryhan.
"Masukkan seluruh barang barang di mobil itu ke mobil mereka" ucap Wuqi.
"Baik tuan" jawab penjaga dan memindahkan seluruh barang barang yang ada di mobil mereka ke mobil Ryhan. Ryhan dan Nana masuk ke dalam mobil dan bersiap hendak pulang.
"Jika suami mu menyiksa mu katakan kepada mama" bisik Hanah hingga membuat Ryhan menatap tajam ke arah nya.
"Hari ini semua orang menyebalkan, Selalu saja mengatakan jika aku menyiksa mu" ucap Ryhan dengan wajah kesal nya saat sudah cukup jauh dari rumah Weny.
Nana nampak tertawa kecil saat mendengar ucapan suami nya dan setelah itu menatap ke luar jendela tanpa menjawab percakapan tersebut. Ryhan menghentikan mobil nya tepat di depan rumah nya dan membalikkan tubuh nya menatap wanita nya yang tidak menjawab ucapan nya.
"Apa wajah setampan ini biasa nya menyiksa wanita nya hingga banyak yang mengatakan aku menyiksa mu?" tanya Ryhan dengan menatap tajam wajah wanita nya yang juga saat ini menatap nya saat dia mendekat.
"Mungkin saja bukan? Namun...."
"Berarti kau juga merasa tersiksa selama ini?" tanya Ryhan dengan wajah menyedihkan mencoba mencari kebenaran dari pertanyaan nya tersebut.
"Apa aku sekejam itu menyiksa wanita ku sendiri?" tanya Ryhan yang kembali menatap lekat wajah wanita nya tersebut.
Nana yang sedikit ketakutan awal nya langsung tersenyum kecil dan memegang kedua pipi suami nya tersebut. "Tidak sayang, Kau sama sekali tidak menyiksa ku, Kai tadi terlalu cepat memotong ucapan ku dan mengambil kesimpulan sendiri, Mereka juga tau jikalau kau menyiksa ku pasti aku nampak selalu murung namun aku bukankah bahagia saat ini?" tanya Nana dengan senyum nya yang mengembang menatap suami tercinta nya tersebut.
"Benar kau bahagia? Jika tidak bahagia katakan saja, Aku akan mengubah cara membahagiakan mu dan mencari cara lain" ucap Ryhan.
"Aku bahagia dengan cara kau sendiri, Kau jangan berpikir untuk mengubah cara mu bersikap kepada ku karna itu akan membuatku sedih, Kau hanya perlu selalu bersama ku dan tidak akan meninggalkan ku itu pasti akan membuatku semakin bahagia di tambah anak kita sebentar lagi akan hadir di kehidupan kita" jelas Nana dengan senyum yang mengembang bahagia akan kehadiran lelaki yang mewarnai kehidupan nya setelah kepergian kakak nya.
Ryhan terdiam, Dia masih saja memasang wajah menyedihkan nya menatap istri nya tersebut hingga membuat Nana kebingungan bagaimana cara untuk membuat suami nya agar tidak mengeluarkan ekspresi seperti itu lagi menatap nya hingga dia teringat dengan perkataan mama Rania dan pertanyaan nya yang terhenti tadi malam.
"Em masalah perkataan mama Rania kemarin, Apa itu ben...."
"Yasudah ayo kita turun, Kita sudah sampai" potong Ryhan dengan senyum manis nya yang langsung terubah saat Nana melontarkan pertanyaan bodoh itu menurut nya.
Ryhan membukakan pintu mobil nya dan turun dari mobil dan berjalan ke arah pintu mobil istri nya hingga membuat Nana tersenyum saat bisa mengubah wajah menyedihkan itu kembali tersenyum meskipun sedikit terpaksa. "Bawakan seluruh barang yang ada di mobil" ucap Ryhan kepada beberapa penjaga yang ada di dekat mobil nya.
"Baik tuan" jawab penjaga tersebut. Ryhan membukakan pintu mobil bagian istri nya dan Nana langsung turun dari mobil tersebut dengan Ryhan yang menggandeng pinggang nya dan mereka berjalan masuk ke dalam rumah dan masuk pula ke kamar mereka.
"Barang barang itu letakkan di kamar itu" ucap Ryhan yang juga sudah menyiapkan kamar untuk anak nya yang terletak di depan kamar nya.
"Baik tuan" jawab penjaga tersebut.
.
.
.
.
.
.