
Andra tidak melanjutkan omong kosong nya lagi dan membuka kotak tersebut.
"Papa, Nana memberikan nya kepadaku tadi kenapa malah kau yang membuka nya?" ketus Merri saat melihat suami nya pula yang hendak membuka kotak yang di berikan menantu nya.
"Untuk papa dan juga mama kata Nana tadi" jawab Andra dengan wajah datar nya dan membuka kotak tersebut. Merri mendekatkan tubuh nya ke dekat suami nya dan melihat apa isi di dalam kotak yang di berikan Nana kepada nya dan juga suami nya.
"Hah? Apa ini?" tanya Andra dengan mengambil amplop coklat di dalam nya. Merri mengambil amplop putih yang di bawah nya dan terlhat itu dari rumah sakit.
"Shit" umpat nya hingga membuat Andra menatap ke arah nya karna dia mendengar umpatan istri nya tersebut. Andra setelah itu menatap ke arah anak dan menantu nya dan terlihat wajah yang cukup gembira tergambar jelas di wajah Nana.
"Mama, Mama, Mereka sudah menerima mu dan memberikan kesempatan kedua untuk mu, Aku harap kau tidak mengecewakan mereka dan aku akan selalu mengawasi gerak gerik mu" guman Andra dan kembali melihat ke kotak dan terlihat ada testpack di dalam nya.
Wajah paruh baya itu langsung tersenyum bahagia saat melihat testpack yang bergaris dua dan mengambil nya. "Kau benar benar hamil sayang?" tanya Andra yang sangat senang mendapatkan konfirmasi langsung dari anak dan menantu nya.
"Lihat mama" ucap Merri dan mengambil alih testpack tersebut dan benar saja testpack itu positif.
Merri yang awal nya memasang wajah kesal langsung tersenyum mencoba tenang dengan hati nya yang kesal. "Ah sayang kau benar benar hamil?" tanya Merri dengan wajah senang tidak percaya dengan apa yang di lihat nya saat ini.
"I-iya" jawab Nana yang masih sedikit takut.
"Ah mama senang sekali" ucap Merri dan langsung memeluk menantu nya tersebut dengan sangat erat.
"Lebih baik kandungan mu gugur saja, Tidak usah menyusahkan ku" guman Merri dengan wajah kesal nya.
"Mama benar benar senang sekali sayang" ucap Merri kembali yang senang dan gembira saat mendapatkan kabar kehamilan menantu nya tersebut.
"Mama" Ryhan langsung melepaskan ibu nya saat melihat wajah istri nya yang memerah hingga pelukan ibu nya tersebut terlepas dari istri nya.
"Kau tidak apa apa?" tanya Ryhan dengan mengusap dahi wanita nya tersebut. Nana langsung menggelengkan kepala nya menandakan jika dia tidak apa apa.
"Mama akukan sudah bilang jangan memeluk nya terlalu erat, Mau hamil atau tidak nya dia mama tetap tidak boleh memeluk nya dengan erat bisa bisa dia kehabisan nafas nanti" ucap Ryhan yang sedikit kesal akan ibu nya yang tidak mau mendengarkan ucapan nya tadi.
"Maaf nak, Mama terlalu senang saat mendengar kabar ini dan berarti mama akan segera memiliki cucu dari kalian" jawab Merri dengan senyum yang mengembang dan nampak sangat tulus hingga Ryhan dan Nana sama sekali tidak curiga dengan isi pikiran dan hati nya.
"Biarpun seperti itu mama juga harus memikirkan Delina yang akan kehabisan nafas jika di peluk seperti tadi" balas Ryhan dan kembali melindungi istri nya dari ibu nya.
"Mama kembalilah duduk seperti semula" ucap Andra dan menarik baju istri nya agar kembali mindur dan duduk di samping nya.
"Sayang kehamilan mu ini harus segera di rayakan" ucap Andra dengan senyum nya.
"Mama bilang jangan karnakan istrimu ini masih lemah, Jika di adakan acara takut nya Nana nanti tidak akan kuat dan akan membahayakan kedua nya" ucap Merri dengan senyum nya. Tanpa memasang wajah gugup ataupun takut di curigai membuat Ryhan dan Nana percaya akan ucapan palsu itu.
"Tapikan itu adalah cucu kita dan Ryhan dan juga Nana harus mengadakan pernikahan dan langsung saja pesta penyambutan hamil nya Nana" balas Andra.
"Iya pa, Mama tau, Tapi jika ingin berpesta Nana harus menggunakan banyak tenaga dan sedikit istirahat nya nanti, Mama takut dia dan cucu kita kenapa kenapa" jawab Merri dengan wajah nampak hawatir menatap suami nya tersebut.
"Lagi pula di laksanakan setelah Delina melahirkan juga tidak apa apa, Aku awal nya ingin menentang ucapan Mama tari, Tapi jika ingin berpesta besar aku juga akan menolak, Delina membutuhkan banyak istirahat agar kandungan nya kuat dan aku tidak mengizinkan untuk mengadakan pesta besar" jelas Ryhan dengan wajah datar dan nampak serius sedangkan Nana yang masih belum terlalu nyaman dengan Merri hanya diam saja menerima apapun keputusan yang di dapatkan.
"Ryhan, Mama mu tidak mau kalian mengadakan pesta karna tidak mau seluruh dunia tau jika kau sudah menikah dengan Nana agar dia mengelabui seluruh dunia nanti nya jika Nana adalah perusak hubungan mu dan juga Dira yang di inginkan mama mu menjadi istri mu, Tapi papa tidak menyukai Dira, Papa hanya mau kau bersama dengan Nana selama nya, Papa akan pastikan jika kalian hidup dengan tentram tanpa gangguan dari mama kalian" guman Andra saat mendengar penjalasan anak nya yang menentang ajakan nya tadi.
"Baiklah papa tidak akan memaksa, Sekarang sudah siang ayo kita turun makan siang bersama" jawab Andra yang nampak pasrah mengikuti keputusan anak nya.
"Baik, Ayo sayang" Ryhan mengajak istri nya itu turun ke bawah menuju ke dapur dengan menaiki lift tidak menggunakan tangga yang cukup tinggi itu.
Merri nampak tersenyum saat satu rencana nya berhasil. "Dengan tidak mengenali wanita jalan itu ke publik aku bisa lebih mudah memutuskan hubungan kedua nya dan tidak melibatkan kekacauan apapun" guman Merri dengan senyum nya.
"Mama tidak mau ikut?" tanya Nana.
"Ah iya sayang" jawab Merri dan menyusul anak, Menantu dan juga suami nya yang sudah berada di lift dan lift membawa mereka ke bawah.
"Mama, Selagi aku masih ada di dunia tidak ada satupun yang berhak mengusik dan mengganggu kesejahteraan rumah tangga anak bungsu ku termasuk kau" guman Andra yang bisa melihat raut wajah bahagia dari istri nya saat mengetahui rencana nya berhasil satu.
Saat lift berhenti mereka berempat langsung keliar dari lift dan berjalan menuju ke dapur. "Mama akan masak sebentar ya sayang, Kau mau makan apa?" tanya Merri dengan mengusap kepala menantu nya tersebut.
"Ah tidak usah tante..."
"Eh mama dong sama seperti Ryhan, Begitupun kau memanggil papa" potong Andra dengan senyum nya seakan akan tengah mengejek istri nya.
.
.
.
.
.