Dear D

Dear D
Episode 145



"Astaga kepala ku kenapa tiba tiba sakit seperti ini?" tanya Nana kepada diri nya sendiri dengan wajah yang memerah akibat menahan sakit di kepala nya.


"Nana" teriak Fany saat melihat Nana yang nampak lemah.


"Ah" Nana yang sangat lemah saat ini langsung terduduk.


"Kau kenapa?" tanya Fany dengan memegang kedua bahu wanita itu mencoba mengajak nya kembali berdiri.


"Kepala ku sakit" jawab Nana akan pertanyaan Fany tersebut.


"Kita ke rumah sakit ya?" tanya Ten yang cukup hawatir akan wanita itu.


"Tidak usah, Pekerjaan ku banyak hari ini, Tolong bimbing aku ke meja ku saja" jawab Nana dengan nada lemah nya akan pertanyaan Ten.


"Kau lihat tadi karyawan baru sudah nampak lemah hanya beberapa minggu di sini?" tanya salah karyawan yang berbicara sambil berjalan.


"Siapa? Maksud mu Nana?" tanya karyawan lain.


"Iya"


"Kenapa dia?"


"Di lobi menuju kemari Fany dan Ten nampak bersama nya dan aku dengar dia sakit"


Ryhan yang mendengar itu langsung berlari menuju istri nya hingga membuat kedua karyawan yang sedang mengobrol itu kebingungan. "Kenapa dengan pak Ryhan?" tanya karyawan tersebut saat melihat Ryhan yang langsung berlari tanpa mereka sadari jika Ryhan mendengar percakapan mereka.


Ryhan menatap ke dekat lift dan benar saja istri nya tengah terduduk lemah dan terlihat Ten hendak membantu. Ryhan kembali melanjutkan lari nya dan berjongkok tepat di hadapan istri nya tersebut. "Kau kenapa?" tanya Ryhan dengan memegang kedua tangan istri nya yang tengah di pegang oleg Fany.


"Ini pasti karna kau memakan makanan pedas dan juga makanan mama yang tidak enak itu kemarin" ketus Ryhan akan istri nya yang namlemah itu.


"Ini kepala ku yang sakit bodoh bukan perut ku" ketus Nana balik saat mendengar ucapan yang tidak masuk akal suami nya.


Fany terpaksa memundurkan tubuh nya begitupun dengan Ten saat melihat Ryhan yang langsung menyosor. "Sudahlah percuma berdebat dengan ku, Kita pulang saja, Wajah mu pucat" ucap Ryhan dan langsung melepaskan jas yang di kenakan nya dan meletakkan nya di paha istri nya dan langsung menggendong wanita nya tersebut.


"Hah?" Fany semakin di buat bingung akan Ryhan dan juga Nana begitupun dengan Ten apa lagi dia belum sempat bertanya tentang beberapa malam lalu.


Nana tidak menjawab nya dan tidak memperdulikan sekitar dan menenggelamkan wajah nya di dada suami nya yang masih terbalut kemeja putih itu. Ryhan masuk ke dalam lift dengan masih saja menggendong istri nya tersebut. "Kenapa wajah mu bisa pucat seperti ini?" tanya Ryhan dengan tangan yang mengusap rambut wanita nya itu.


"Aku juga tidak tau, Rasa nya tubuh ku lemah sekali" jawab Nana dan kembali menenggelamkan wajah nya. Fany dan Ten yang masih bisa mendengar ucapan kedua nya semakin di buat bingung saat melihat kedua nya yang nampak sangat akrab hingga akhir nya lift tertutup dan membawa kedua nya turun ke bawah.


Saat lift terbuka Ryhan kembali melangkahkan kaki panjang nya tersebut keluar dari lift dengan langkah kaki nya yang besar membuat nya memerlukan waktu sebentar menuju ke mobil hingga dia masukkan istri nya tersebut ke dalam mobil sedangkan karyawan yang sedari tadi melihat Ryhan yang menggendong Nana nampak bingung, Tidak suka dan ada juga yang patah hati baik itu karna melihat Ryhan yang menggendong Nana atau melihat Nana yang di gendong Ryhan.


"Tuan, Nona kenapa?" tanya Jony yang mengikuti kedua nya dari belakang.


"Delina seperti nya sakit, Dia tidak akan lagi bekerja di sini dan aku akan jarang masuk, Kesehatan nya lebih penting dari apapun, Kau jaga perusahaan dan katakan kepada papa nanti, Aku akan kembalu ke apartemen menemani nya" jelas Ryhan dan langsung masuk ke dalam mobil.


"Baik tuan" jawab Jony. Ryhan langsung melajukan mobil nya dengan kecepatan sedang kembali ke apartemen nya.


"Jangan pikirkan tentang itu, Kau sekarang aku pecat" jawab Ryhan dengan wajah datar nya.


"Hah? Kenapa kau memecatku?" teriak Nana yang tidak terima di pecat oleh suami nya tersebut.


"Kau pokus saja ke mimpi mu yang mau menegakkan butik masalah biaya aku akan membantu" jawab Ryhan dan membelokkan setir mobil menandakan jalan berbelok.


"Tapi aku masih mau bekerja Ryhan, Aku baru beberapa minggu bekerja di kantor mu dan aku belum mendapatkan gaji" bantah Nana dan menghempaskan tubuh nya akibat kesal akan suami nya tersebut.


"Kita ke rumah sakit" ucap Ryhan yang hendak berhenti tepat di halaman rumah sakit.


"Aku tidak mau, Aku hanya kelelahan makanya aku sampai sakit kepala" jawab Nana dengan wajah kesal nya.


"Maka dari itu kita harus periksa ke dokter" balas Ryhan.


"Tidak, Cepat kembali pulang aku hanya membutuhkan istirahat, Cepat" ucap Nana dengan kesal nya dan memutarkan setir mobil yang mati itu.


"Iya iya" balas Ryhan yang pasrah dan kembali menyalakan mesin mobil nya dan kembali menuju ke apartemen mereka.


Ryhan menghentikan mobil nya tepat di bawah gedung apartemen yang mereka tempati tersebut. "Kenapa kau tidak mau ke rumah sakit? Kau takut di periksa?" tanya Ryhan dengan menatap lekat wajah istri nya tersebut.


"Kau kenapa memecat ku?" ketus Nana dan membuang pandang nya dari suami nya tersebut.


"Aku sudah bilang kepada mu, Kau pokus saja dengan mimpi yang perlu kau wujudkan itu mulailah apa yang seharus nya kau lakukan dan saat kau berpikir kau tidak boleh memikirkan hal lain kecuali itu, Jika kau memikirkan hal lain dan mimpi mu bersamaan nanti tidak akan ada yang kau dapatkan dan hanya membuat pikiran mu kacau saja, Masalah uang kau jangan hawatir, Aku akan membantu menambah modal untuk mu nanti, Aku selalu di sisi mu" jelas Ryhan dan mencium pucuk kepala istri nya dengan tangan yang mengusap punggung kepala nya.


"Ayo kita turun, Kau perlu istirahat" ajak Ryhan dengan senyum nya menatap istri nya tersebut. Nana tidak menjawab nya dan masih saja memasang wajah sedikit kesal nya tapi dia ikut turun dari mobil itu bersamaan dengan suami nya.


"Kau kuat jalan? Jika tidak sini aku gendong, Naik" ucap Ryhan dengan sedikit menundukkan tubuh nya agar istri nya naik ke punggung nya.


"Em" Nana mengiyakan nya dan langsung naik ke atas punggung lelaki nya tersebut dengan jas milik suami nya yang di ikat nya di pinggang nya.


"Shit bagaimana bisa Nana sampai hamil?" umpat Merri yang nampak kesal dan tengah berada di dalam kamar nya sendiri dengan Andra yang masih bermain dengan Zylan cucu nya.


"Jika dia hamil bagaimana cara nya aku memisahkan kedua nya?" tanya Merri dan mendudukkan tubuh nya dengan kasar di atas ranjang yang ada di dalam kamar nya.


.


.


.


.


.